
Di Ruang kerjanya, Sherin tertawa senang tidak sia-sia usahanya mengikuti Alby ke rumah sakit, restoran hingga ke Mall. Dia bisa melihat raut kesal Nazia saat Alby memilih menemaninya belanja dari pada mengantarkan kekasihnya pulang.
Alby pria ambisius perusahaannya adalah prioritas pertamanya. Sherin dapat menebak jika saat ini Nazia dan Alby jarang bertemu, kesempatan itulah yang akan di gunakannya untuk masuk kedalam hubungan Alby dan Nazia.
...----------------...
Pak Reza— ayah Alby dan Ibu Anggi tengah duduk diruang tengah sambil menemani cucu perempuan mereka bermain. Alby baru saja tiba di rumah dengan wajah lelah dan kusut, ia menjatuhkan tubuhnya di sofa setelah memberikan ciuman lembut pada keponakannya.
"Kamu kenapa, Nak?" Tanya ibu Anggi.
"Hanya lelah." Alby memijit pangkal keningnya.
"Al, istirahatlah ! Setelah makan malam temui papa di ruang kerja."
"Iya, Pah." Jawab Alby lemas sambil berdiri lalu pergi ke kamarnya.
Ibu Anggi masih bingung permasalahan apa di hadapi putranya ? Hingga akhir-akhir ini sering pulang larut malam. Pak Reza lalu menceritakan permasalahan Alby pada istrinya. Ibu Anggi sangat khawatir jika tidak bisa menemukan jalan keluar secepat nya maka perusahaan Alby mengalami kerugian yang sangat besar.
"Bagaimana, Pa?"
"Tenang, Ma. Biar papa bicarakan dengan Alby. Semoga saja dana yang kita miliki bisa membantunya sedikit." Ujar pak Reza
Ibu Anggi mengangguk. Ia sangat berdoa semoga perusahaan Alby tidak mengalami hal yang lebih buruk lagi. Dia sangat tahu perjuangan Alby mendirikan perusahaan nya itu dari bawah hingga menjadi seperti sekarang ini.
Di kamar, Alby sudah membersihkan tubuhnya. Ia duduk bersandar di atas kasur. Terdengar ponselnya bergetar tanda pesan masuk.
💌 Zia: Kamu sudah pulang? Bagaimana pekerjaan mu hari ini?
Alby hanya membacanya tanpa membalas. Ia meletakkan kembali ponselnya. Padahal mereka sudah berbaikan beberapa hari lalu. Tidak lama ponselnya berdering lagi.
"Iya, Sherin."
"Bagaimana, apa orang itu sudah ditemukan?"
"Belum, aku dan Jimmy sedang berusaha mencarinya." Balas Alby.
"Bersabarlah, pasti ada jalan keluarnya. Besok aku dengar para pemegang saham akan mengadakan rapat mengenai proyek itu."
"Iya, aku harus meyakinkan mereka proyek itu akan tetap berjalan dan aku akan mencari jalan keluarnya." Kata Alby.
"Al, kerugian mu bukan ratusan juta tapi milyaran dan belum lagi para karyawan yang meminta gaji mereka"
"Aku tahu, besok di bahas lagi." Alby memutuskan telpon.
Alby beranjak dari atas kasur untuk turun makan malam setelah mendengar asisten rumah tangganya memanggil. Tak lama benda pipih miliknya kembali bergetar.
__ADS_1
💌Zia : Istirahatlah ! Kamu pasti lelah.
Masih seperti tadi Alby hanya membacanya lalu meletakkan kembali ponselnya. Tak lama ia turun bergabung di meja makan bersama keluarga nya.
...----------------...
Nazia mencoba mengerti kesibukkan Alby. Ia juga merebahkan tubuhnya di atas kasur memejamkan matanya sejenak . Tiba-tiba ponselnya berdering, sigap gadis itu menjawab setelah tahu peneleponnya.
"Iya, Zev."
"Zi, besok pagi aku tidak datang ke rumah sakit, ada perjalanan dinas keluar kota selama satu minggu. Dokter di sana memintaku untuk membantunya"
"Baiklah hati-hati di perjalananmu, atur jam tidurmu, pola makan, dan istirahatlah jika lelah." Balas Nazia.
"Iya, kamu juga jaga dirimu. Aku tutup telponnya"
Nazia menggenggam ponselnya dan melangkah menuju jendela kamarnya menatap ketinggian langit. Merasakan angin malam menerpa tubuhnya. Gelap di atas sana pertanda hari akan turun hujan. Gundah yang dirasakannya saat ini, masalah apa yang sebenarnya di hadapi Alby ? Hingga menyita waktu dan perhatiannya. Sebegitu kecilkah perannya hingga Alby tak ingin berbagi?
"Kamu belum tidur?" Suara Ibu Mira membuyarkan lamunan putrinya.
"Belum mengantuk, Ma." Jawab Nazia masih berdiri disisi jendela.
"Apa yang kamu pikirkan?"
Nazia mendudukkan tubuhnya di kursi pinggir jendela. "Ma, apa dulu papa suka berbagi pada mama jika ada masalah?"
"Apa ada masalah antara kamu dan Alby?" Ibu Mira merapikan anak rambut putrinya yang tertiup angin.
"Tidak ada, Ma. Hanya saja beberapa hari ini Alby jarang menjawab teleponku dan membalas pesan."
"Apa dia memberi mu alasannya?"
"Hanya sibuk itu jawabannya."
Ibu Mira menepuk lembut pundak Nazia. "Sabarlah, ayo tidur sudah malam."
Gadis itu menutup jendela lalu beralih ke kasurnya untuk tidur. Berharap hari esok bisa mendapatkan jawaban dari permasalahan Alby. Ia sudah berusaha mencari tahu lewat internet tapi tidak ada berita mengenai perusahaan kekasihnya.
...----------------...
Matahari sudah naik separuh di atas langit. Menandakan jika hari menjelang siang. Sunyi Nazia rasakan di ruangan itu tanpa ada Zevin dan Rayya. Ibu menyusui itu tidak masuk bekerja karena si kecil Vira sedang tidak sehat. Ponselnya berdering ada panggilan telpon dari Alby.
"Iya, Al." Jawab Nazia.
"Zi, bisa bertemu di kafe depan rumah sakit?"
__ADS_1
"Bisa Al, tunggu aku di sana masih ada sedikit pekerjaan." Nazia senang akhirnya kekasihnya itu menghubunginya.
"Kita bertemu di jam makan siang saja."
"Baiklah."
Panggilan terputus, Nazia melanjutkan pekerjaannya kembali, tak lama ponselnya bergetar ada pesan masuk
💌 Zev : Jangan abaikan makan siang mu jika kesepian ambil kotak musik di laci meja ku.
Nazia tersenyum membaca pesan dari pria itu. Tangannya langsung mengetik untuk membalas pesan.
...----------------...
Zevin tengah berbincang dengan rekannya di hentikan karena getaran ponselnya. "Permisi ada pesan masuk." Ucapnya di balas anggukan oleh pria paru baya yang bernama dokter Radit itu.
💌 Zi : Kamu juga makan, tidur dan istirahat dengan benar.
Zevin tersenyum senang. Dokter Radit ikut tersenyum dasar anak muda cepat bawa perasaan begitu pikirnya.
"Dokter, Zev ! Besok lagi kita bahas. Mampirlah ke rumah akan saya perkenalkan dengan putra saya."
"Iya, dokter Radit nanti jika ada waktu senggang saya akan berkunjung." Balas Zevin ramah.
...----------------...
Nazia telah selesai dengan beberapa pekerjaannya. Saatnya bertemu Alby pikirnya. Ia bersiap untuk pergi ke cafe depan rumah sakit. Ponsel Nazia bergetar ternyata pesan dari Alby memberitahukan diri jika sudah berada di sana.
Nazia melangkahkan kaki penuh semangat untuk menemui kekasihnya. Setelah menyeberang jalan sampailah ia ke cafe tersebut.
Di Sana Alby telah menunggu, wajahnya nampak lelah. Nazia merasa iba mungkin permasalahan yang dihadapi kekasihnya sangat serius.
"Maaf telah membuat mu menunggu." Nazia menarik kursi nya.
"Aku juga baru sampai." Alby tersenyum.
Alby memanggil waiters untuk memesan makanan. "Zia, seperti yang kukatakan kemarin, besok aku pergi lagi keluar kota."
"Iya, berapa lama?"
"Mungkin, satu minggu atau lebih sampai urusan di sana selesai." Jawab Alby
Nazia dapat melihat raut gelisah dan stres di wajah Alby. Ingin rasanya tahu apa sebenarnya terjadi ? Tapi niat bertanya itu diurungkannya karena waiters datang mengantar makanan.
"Ayo makan !"
__ADS_1
Nazia mengangguk dan mencoba memakan makanannya meskipun pikirannya terganggu. Ponsel Alby berdering ia langsung meletakkan sendoknya di atas piring. Raut wajah Alby tak terbaca saat menjawab telpon Jimmy. Menyelesaikan makan siang dengan cepat Alby dan Nazia berpisah di kafe itu.
Mereka kembali bekerja. Sampai saat ini Alby belum berniat berbagi. Merasa sendiri Nazia membuka laci meja kerja Zevin, benar saja ada kotak musik di sana. Ia duduk di kursi lalu menghidupkan kotak musik itu. Nazia memejamkan matanya menikmati alunan musik yang terdengar sangat menenangkan.