Suami Manja Dokter Zi

Suami Manja Dokter Zi
Trik Zevin


__ADS_3

Setelah sehat Sherin kembali pulang. Tapi, tidak ke rumah mertuanya atau apartemen Alby. Bahkan setelah pertengkaran dia dan Alby di rumah sakit. Pria itu tidak pernah lagi muncul ke sana di tambah lagi perawatan Sherin di ambil alih dokter Hendra.


Alby sama sekali tidak berniat lagi datang ke rumah sakit. Waktunya hanya di habiskan di kantor dan pulang ke rumah orang tuanya. Ia marah besar karena Sherin menyerang Nazia. Sejak saat itu seberapa pun usahanya untuk bertemu Nazia. Zevin selalu ada menjadi bodyguard nya.


...----------------...


Di rumahnya Nazia masih berleha-leha di atas kasur bersama Ivan. Karena hari libur mereka memilih bersih-bersih di rumah. Sambil menunggu kedatang ibu Mira mereka memasak bersama di dapur.


"Zi, Papa akan datang kesini beberapa hari lagi." Seru Ivan sambil membersihkan ikan.


"Benarkah ? Syukurlah aku merindukannya." Balas Nazia meracik bumbu.


Mereka berdua memasak sambil berbincang. Tanpa terasa semua makanan sudah siap. Nazia meraih ponselnya untuk menelpon ibu Mira.


"Sudah sampai mana, Ma?" Tanya Nazia setelah tersambung.


"Sebentar lagi sayang"


"Baiklah, hati-hati ! Katakan sama kak Vino." Nazia mematikan sambungan telpon.


Nazia keluar menyusul Ivan di halaman rumah. Mereka membersihkan halaman rumah. Lalu membuang daun bunga yang sudah layu. Nazia banyak menanam bunga untuk di bawa ke rumah prakteknya. Mulai besok sore dia sudah mulai prakteknya.


"Van, nanti sore kita pindahkan bunganya ke rumah praktek ya." Kata Nazia.


"Iya, a sudah sampai mana?"


"Sudah dekat."


Mereka berdua bekerja sama melakukan pekerjaan rumah. Dari jauh nampak mobil hitam mewah masuk ke jalan menuju rumah Nazia.


Ivan dan Nazia tidak memperhatikan itu, mereka masih fokus pada bunga yang akan mereka bawa nanti.


Pintu mobil terbuka, keluarlah seorang berperawakan tinggi memakai pakaian kasual berdiri bersandar di mobilnya. Ia tersenyum tipis melihat Nazia mengangkat pot bunga.


"Zia..."


Nazia mematung  mendengar namanya di sebut. Suara yang tidak asing namun sudah berbulan-bulan dilupakannya. Ia berbalik menghadap ke arah suara.


Nazia memasang wajah datar  dan dingin setelah tahu pemilik suara itu. Dia adalah Alby yang memberanikan diri untuk menemui Nazia secara langsung. Ia lelah selama ini hanya melihatnya dari jauh, kali ini Alby benar-benar membuang gengsinya. Setelah putus dari Nazia beberapa bulan lalu, ia tidak pernah berbicara langsung.


"Zia maafkan aku." Alby melangkah mendekat.


"Tuan, sepertinya sudah jelas kemarin di rumah sakit jika dokter kandungan untuk istri anda sudah di alihkan pada dokter Hendra."


Alby cepat menggeleng. "Bukan itu, aku kesini ingin minta maaf pada mu atas k—"


"Kejadian di rumah sakit, saya sudah melupakannya." Potong Nazia cepat.


Alby menghela nafas panjang. Ingin kembali bicara pada Nazia niatnya terputus karena benda pipih di atas meja tak jauh dari mereka bergetar mengalihkan perhatiannya.


Nazia bergegas meraih ponselnya. "Iya, Zev." Jawabnya lembut.


"Ke apartemen ku sekarang"


"Kenapa?" Tanya Nazia.


"Sepertinya aku demam, mama sedang di luar kota ikut papa. Ibu Nita pulang ke rumah nya."


"Baiklah, aku akan ke sana. Apa kamu sudah makan?" Wajah Nazia sedikit cemas.


"Belum"


"Aku segera ke sana." Nazia menutup telpon.


Alby mengepalkan tangannya kecewa. Bisa-bisanya Zevin menelpon saat dirinya ingin bicara pada Nazia. Sakit rasanya di abaikan wanita yang masih dicintainya itu.


"Tuan, sepertinya saya akan pergi." Pamit Nazia.


Alby mengangguk sambil tersenyum paksa. "Baiklah, lain waktu aku akan menemuimu lagi." Ucapnya lalu melangkah menuju mobilnya. "Aku akan mendapatkan mu lagi, mungkin saat ini kamu masih marah dan kecewa padaku. Tapi pelan-pelan akan aku hapus semua itu dari hatimu." Ujar Alby pelan di dalam mobil sesaat sebelum melaju meninggalkan halaman rumah itu.


Di balik jendela Nazia mengintip mobil Alby sudah pergi. Ia menghembus nafasnya lega. Kejadian di rumah sakit kemarin menyisakan ketakutan untuk Nazia. Ia takut jika Sherin lebih nekat dari pada kemarin jika tahu Alby datang kerumahnya.

__ADS_1


"Dia sudah pergi?" Suara Ivan mengejutkan.


"Iya." Jawab Nazia sambil melangkah ke kamar


"Syukurlah, ayo bersihkan tubuhmu kita makan dulu." Ajak Ivan.


"Iya, selepas itu aku akan ke apartemen Zevin dia sedang tidak sehat. Sampaikan sama mama nanti"


...----------------...


Zevin tidur di dalam selimutnya yang tebal setelah menelpon Nazia. Sebelumnya, ia menyuruh Erik untuk belanja bahan-bahan dapur. 


Nazia masuk ke dalam tapi tidak mendapati Zevin di ruang tengah. Ia melangkah menuju kamar. Tangannya dengan perlahan membuka gagang pintu. Matanya menangkap sosok yang mirip gundukan di atas kasur hanya rambutnya yang terlihat.


Nazia melangkah pelan menuju kasur lalu membuka selimut tebal milik Zevin. Sedangkan pria didalam selimut itu menahan gugup dan debaran di dadanya setelah menghirup aroma parfum milik Nazia menyeruak masuk kedalam selimut melalui sela-sela di ujung kepalanya.


"Zev..." Nazia menggerakkan tubuh tubuh Zevin. Ia menempelkan punggung tangannya di kening untuk merasakan suhu tubuhnya. "Hangat tapi bukan demam." Gumamnya


Zevin masih memejamkan matanya rapat. Nazia beranjak dari kasur lalu menyingkap gorden, agar cahaya masuk ke dalam kamar itu. Sudah jam sepuluh tapi Zevin masih di atas kasur.


"Kamu sudah datang?" Sapa Zevin serak.


Nazia menoleh kebelakang. "Iya, kamu sudah makan?" Tanyanya sambil duduk di atas kasur.


"Belum, aku kurang sehat." Zevin berguling di atas kasur lalu menaruh kepalanya di pangkuan Nazia.


"Zev ! Apa yang kamu lakukan?" Pekik gadis itu terkejut.


Zevin memejamkan matanya sambil membenarkan selimutnya. "Biarkan seperti ini dulu."


Kamu tidak tahu seberapa rindunya aku padamu


Lima menit lamanya pria itu tidur di pangkuan Nazia. Merasakan usapan lembut dari tangan wanita pujaan hatinya itu di atas kepalanya.


"Ayo mandi sana ! Akan aku siapkan airnya setelah itu makan ya. Nanti aku belikan susu jahe. Mungkin kamu masuk angin."


Zevin mengangguk dengan tidak rela karena memindahkan kepalanya dari pangkuan Nazia. Setelah semua siap pria itu masuk ke kamar mandi. "Ayo mandi bersama." Godanya sambil tersenyum.


"Menikahlah, Zev ! Supaya ada yang menemani mu mandi." Balas Nazia merapikan kasur.


"Aku tidak mencintaimu"


"Kalau begitu belajarlah mencintaiku." Balas Zevin.


"Aku sedang berusaha." Balas Nazia tanpa sadar. Zevin terdiam sejenak lalu melangkah mendekati gadis itu yang membelakangi pintu kamar mandi.


"Jadi kamu belajar mencintaiku?"


"Ha? Apa aku mengatakan itu." Nazia bingung sendiri.


Zevin menatap bola mata Nazia lekat. Tidak fokus itu yang terlihat di sana. Ia kembali masuk kedalam kamar mandi dengan perasaan kecewa. Nazia keluar dari kamar menyiapkan makanan untuk Zevin. Dua puluh menit ritual mandi. Akhir nya dokter tampa itu menyusul Nazia keluar dari kamarnya.


"Kamu masak apa?" Tanya Zevin duduk di kursi.


"Aku bawa makanan dari rumah."


Zevin memutar otaknya agar Nazia lebih lama di apartemennya. "Cinta, aku ingin makanan berkuah." Mimik wajahnya di buat semanja mungkin dan menunjukkan jika dirinya memang tidak sehat.


Nazia beralih melihat ke pada Zevin. "Baiklah, kamu tunggu saja di kamar atau di sofa itu" Tunjuknya ke depan televisi


"Aku disini saja menemani mu" Balas Zevin. Dia tidak ingin membuang kesempatan untuk berdua.


"Baiklah tunggu sebentar. Aku hanya memasak sayur saja, nasinya sudah masak"


"Iya, Erik tadi yang memasak nasi dia pergi ada urusan mendadak." Jelas Zevin.


Nazia berkutat di dapur selama empat puluh menit. Ia menyiapkan sup hangat untuk Zevin. Tak lupa ia juga menyajikan makanan yang dibawanya dari rumah.


"Makanlah !"


"Kamu tidak makan?" Tanya Zevin melihat Nazia melipat tangannya di atas meja.

__ADS_1


"Aku sudah makan"


Zevin menatap Nazia sejenak lalu berkata. "Suapi aku ! Lihat tanganku gemetar." Mengangkat tangannya sambil memegang sendok.


Nazia tersenyum tipis manja yang tidak pernah hilang begitu pikirnya, lalu mengambil sendok untuk menyuapi Zevin. Sendok demi sendok makanan meluncur bebas kedalam perut pria itu hingga habis.


"Mau minum obat?" Nazia membersihkan meja.


"Tidak mau, ayo keluar." Ajak Zevin.


"Kamu kurang sehat, Zev."


"Sayang, mungkin aku hanya masuk angin. Kamu ingin membeli susu jahe untukku, 'kan?" Ucap Zevin.


"Iya, tapi kamu bisa nunggu di sini aku sendiri yang berangkat"


Zevin berpindah duduk di sofa. "Tidak mau, ayo kita berdua saja." Tetap pada kemauannya.


Aku tidak membiarkan kamu pergi sendiri. Alby pasti menyuruh orang mengawasi mu sekarang. Buktinya tadi pagi dia berani datang ke rumah mu


"Baiklah."


Zevin sumringah senang. "Tunggu disini aku bersiap."


Setelah berdebat siapa yang menyetir mobil akhirnya mereka mulai mencari penjual susu Jahe. Nazia duduk manis di samping Zevin. Pria itu tidak membiarkan gadisnya menyetir mobil jika bersamanya karena pada dasarnya Zevin tidak sakit.


Setelah mendapat telpon dari Ivan yang memberitahukan Alby datang ke rumah mereka. Zevin langsung terpikirkan untuk menyuruh Nazia datang ke apartemennya. Trik jitu terbukti gadis itu datang menemuinya.


"Berhenti, Zev ! Itu penjual susu jahenya." Tunjuk Nazia pada gerobak yang mangkal pinggir jalan.


Jarang-jarang ada yang menjual susu jahe siang hari. Karena biasanya mereka buka pada malam hari. Mobil Zevin menepi mereka berdua keluar dari mobil.


"Susu jahe nya, Pak."


"Iya, Nona."


"Susu jahe buka siang juga ya."


"Iya nona karena sering sekali pelanggan mencari siang hari." Jelas penjual susu jahe.


Zevin memperhatikan susu jahe di dalam plastik di pegang si penjual. Bagaimana rasanya ? Begitu pikirnya. Ia diam tanpa bersuara memperhatikan interaksi penjual susu jahe dengan Nazia.


Setelah membayar mereka kembali ke mobil. Nazia menuangkan susu jahe ke dalam gelas yang dibawanya dari apartemen.


"Minumlah." Nazia memberikan gelas itu.


"Sekarang?" Tanya Zevin ragu.


"Iya, mumpung masih hangat Zev. Badan mu juga segar nanti."


Zevin mengambil gelas dari tangan Nazia, tidak langsung meminumnya tapi menghirup aroma susu bercampur jahe. Dari baunya saja sudah terasa pedas nya menurut.


"Ayo, Zev ! Tunggu apa lagi ?" Desak Nazia.


"I—iya sayang" Zevin mendekatkan bibirnya ke gelas. Ia meminumnya sedikit demi sedikit. Aneh rasanya di lidah tapi demi sandiwara kurang sehat yang dimainkannya, mau tidak mau Zevin meminumnya sampai habis. Pedas, panas bercampur  jadi satu dalam perut nya.


Nazia tersenyum melihat wajah Zevin sedikit merah. "Ayo kita pulang." Ajaknya lembut


"Tidak mau, kita ke rumah Vian saja. Tapi, sebelumnya kita beli buah dulu aku pengen makan buah."


Aku butuh buah


Nazia mengangguk. Mobil Zevin melaju menuju kediaman Rayya dan Vian. Mereka singgah di toko buah membeli buah lalu melanjutkan perjalanan.


Di rumah Rayya mereka di sambut oleh Vira si kecil menggemaskan. Nazia langsung ke dapur mengupas buah yang dibelinya. Zevin menceritakan dirinya yang meminum susu jahe pada Vian dan Rayya.


"Kamu akan segar nanti rasanya memang panas campur pedas" Ujar Vian.


"Kamu sering minum itu?" Tanya Zevin.


"Iya tapi malam hari, kalau aku merasa lelah atau kurang sehat" Jelas Vian.

__ADS_1


"Kadang juga ada orang minum siang hari karena masuk angin tidak mengenal waktu. Tapi jarang ada orang jual siang hari." Timpal Rayya.


Nazia datang membawa potongan buah dan memberikan garpunya pada Zevin. Ia tidak akan lagi beralasan kurang sehat jika tidak ingin minum susu jahe siang hari . Zevin senang karena Alby hanya sebentar menemui Nazia hari ini.


__ADS_2