Suami Manja Dokter Zi

Suami Manja Dokter Zi
Pilihan Alby


__ADS_3

Alby duduk di dalam mobil kesayangannya menuju kantor. Tidak di pungkiri jika saat ini ia merindukan kekasihnya. Tapi apalah daya emosi dan cemburu masih membelenggu di hatinya, sehingga ia lebih memilih untuk menyimpan rasa rindunya itu dari pada harus menemui Nazia  terlebih dulu. Tatapannya lurus menembus kaca jendela mobil, entah apa yang ada di pikirannya saat ini ?


Saat larut dalam lamunannya. Tiba-tiba benda pipih di dalam saku celananya bergetar. Alby meraih ponselnya dari dalam saku, sambil menyandarkan tubuhnya. Ia membuka pesan masuk itu. Tubuh yang bersandar nyaman di kursi tadi seketika tegak setelah melihat pesan tersebut.


"Jim, kita ke kantor papa !" Titah Alby mengurungkan niatnya ke kantor.


Jimmy putar balik menuju kantor Pak Reza. Matanya masih mengawasi tuannya yang sedang melamun. Kenapa tiba-tiba Alby membatalkan rencana ke kantornya ? Lalu pesan apa yang di terima pria itu hingga air mukanya berubah?


"Tuan Muda maaf jika saya lancang, pesan apa yang di terima tuan sampai membatalkan pergi ke kantor ?" Tanya Jimmy membuka suara.


"Vidio Nazia bersama pria itu."


Jimmy menghela nafas panjang atas sikap Alby yang mudah percaya.


"Sebaiknya anda bicarakan baik-baik dulu. Sebelum mengambil keputusan."


Alby mendesah pelan. Ia ingat perkataan Sherin jika dirinya tidak cocok bersama Nazia. Wanita dari kalangan biasa itu hanya akan jadi benalu di kehidupannya nanti.Alby mendapat pesan kembali di ponselnya


💌Sherin : Seperti itukah ? wanita yang kamu jadikan kekasih.


...----------------...


"Maaf, Pa. Tadi malam aku langsung tidur saat tiba di rumah." Ucap Alby setelah tiba di ruangan Pak Reza.


"Tidak apa-apa. Bagaimana, sudah dapat informasi dari orang itu?"


"Belum, pria itu sudah meninggal, ada penyusup masuk ke gedung itu. Salahnya tidak ada Cctv di sana" Balas Alby sambil menyandarkan tubuhnya di sofa


Pak Reza mengangguk paham.


"Apa kamu mencurigai seseorang?


Alby nampak berfikir sejenak lalu berkata. "Tidak ada, Pa."


"Papa rasa ada yang ingin menjatuhkan mu ! Jika proyek itu gagal maka kamu akan mengalami kerugian lalu dengan sendirinya para pemegang saham yang ikut bergabung di proyek itu akan menarik sahamnya kembali. Dan papa tidak bisa membantu banyak karena usaha yang papa jalani tidak sebesar milikmu. Untuk menggantikan kerugian itu. Otomatis kita akan jatuh bangkrut." Kata Pak Reza panjang lebar.


Alby menegakkan tubuhnya di kursi.


"Papa benar ! Tapi kita tidak tahu siapa pelakunya."


"Kita cari tahu perlahan."


"Iya." Alby menyahut dengan intonasi rendah.


Suasana menjadi hening Pak Reza dan Alby larut dalam pikiran masing-masing. Saat ini keadaan memang sedikit kacau. Alby masih berfikir, bekerja untuk siapa pria yang meninggal di rumah tua itu?


"Al, apa kamu punya kekasih ?"


Alby mengangguk. "Iya. Dia seorang dokter." Wajahnya berubah murung mendengar pertanyaan sang ayah.


Pak Reza memperhatikan raut wajah putranya. Dapat di tebak jika hubungan keduanya sedang kurang baik. "Latar belakangnya?" Tanyanya ingin tahu.


"Dari keluarga sederhana."


Pak Reza tersenyum tipis. "Tinggalkan dia !"


Alby tersentak. "Maksud papa?" Terkejut atas permintaan ayahnya.


Pak Reza menghela nafas. "Al, coba kamu pikirkan dengan baik. Apa yang bisa ia berikan untukmu ? Sekarang keadaan perusahaan mu sedikit kacau. Mungkin, saat ini bisa kita atasi tapi tidak untuk selanjutnya. Dan kamu butuh dukungan yang besar. Papa berniat menjodohkan mu dengan Sherin. Ketika dua perusahaan ini bergabung, kamu memiliki kekuatan untuk memperbaiki segalanya. Karena Om Toni pasti membantumu. Sherin juga cantik dan baik. Kalian berteman sejak kecil. Papa rasa kalian cocok." Jelasnya panjang lebar.


Alby diam sejenak lalu berkata. "Akan aku pikirkan" Ia berdiri dari sofa meninggalkan ruangan Pak Reza.


...----------------...


Nazia kembali bekerja seperti biasa setelah mengantar Ivan ke restoran. Ponselnya bergetar di atas meja kerjanya, tertera nama Alby yang menelpon. Wajahnya berbinar senang dengan penuh kebahagiaan menjawab telpon itu.


"Iya, Al. Kamu sudah pulang ?" Jawab Nazia lembut


"Hm kemarin pagi."


"Kenapa tidak mengabari aku ? Al, akan aku jelaskan semuanya. Ayo kita bertemu." Kata Nazia penuh harap


"Iya kirim alamatnya."


Nazia menatap layar ponselnya . Hatinya bertanya apa Alby tidak rindu padanya ? Ada apa dengan kekasihnya ? Apa penjelasan tidak penting untuknya ?


"Kenapa?" Suara Rayya mengejutkan Nazia.


"Alby mengajak bertemu."


"Baguslah ! Semoga hubungan kalian cepat membaik." Balas Rayya menyemangati.

__ADS_1


Mereka lanjut bekerja tanpa terasa hari sudah siang. Nazia menunggu di salah satu cafe sebelumnya, ia mengirim alamatnya pada sang kekasih


...----------------...


Di kantor, Alby baru saja menyelesaikan pekerjaannya, teralihkan karena pesan masuk di ponselnya. "Jim, ayo kita ke kafe biasa. Zia menungguku." Ucapnya gegas bersiap.


"Iya, Tuan." Mereka meninggalkan kantor milik Alby. Sejak pagi tadi pria itu jarang bicara. Jimmy memperhatikan tuan mudanya dari kaca depan. "Tuan ada yang mengganggu pikiran anda?" Tanya nya penasaran.


"Jim, bagaimana jika aku menikahi Sherin ?" Alby Tidak menjawab tapi melemparkan pertanyaaan


"Maksud anda ?"


Alby mengalihkan pandangannya pada Jimmy. "Papa menjodohkan aku dengan Sherin, dari pernikahan ini aku mendapatkan keuntungan untuk perusahaan."


"Bagaimana dengan nona Zia, Tuan?"


"Dia berselingkuh dariku. Apa yang bisa di pertahankan ? Selepas itu juga dia tidak bisa membantuku apa-apa jika terjadi sesuatu di perusahaan." Jawab Alby dengan sedikit merendahkan posisi kekasihnya.


Jimmy mencengkram kuat setir mobil menyalurkan emosinya. Ia kecewa atas jawaban Alby. Pria ini tidak berubah itu yang diyakini Jimmy. Haruskah, ambisinya mengalahkan rasa sayangnya pada Nazia?


"Keputusan ada di tangan anda !" Jawab Jimmy pendek.


Jika anda benar-benar melakukannya, dan ternyata nona Zia tidak pernah berselingkuh dari anda. Lalu suatu hari nanti anda akan menyadarinya. Saya, orang pertama jadi penghalang anda untuk mendapatkan nona Zia ! Dia terlalu berharga untuk anda sakiti


Mobil Alby berhenti halaman cafe. "Tunggu di parkiran." Titahnya sebelum keluar.


Jimmy mengangguk lalu meninggalkan Alby yang masih berdiri. Pria itu melangkahkan kakinya masuk ke dalam kafe. Di meja dekat kaca sudah ada Nazia menunggu.


"Bagaimana kabar mu ? Apa semuanya baik-baik saja?" Tanya Nazia lembut dan tersenyum.


Alby kembali teringat pada foto dan Vidio yang dikirim Sherin. "Sepertinya kamu sangat bahagia bersama selingkuhan mu itu !" Ujarnya bicara dengan nada datar.


Nazia terdiam, senyum di wajahnya menghilang seketika. Rasa bahagia karena pertemuan ini berubah jadi rasa kecewa. "Al, dia bukan selingkuhan ku. Dia anak asuh mama. Sejak kecil dia juga tingg—"


"STOP ! Jangan membuat penjelasan untuk membela dirimu, Nazia ! Kalau bersalah lebih baik kamu mengakuinya!" Potong Alby cepat.


"Apa hanya secuil saja percaya mu padaku, Al ?" Tanya Nazia dengan suara bergetar.


"Setelah aku pikir-pikir, antara kita tidak ada kecocokan lagi ! Aku memang mencintaimu tapi karena pengkhianatan mu, pandanganku berubah !"


"A—apa maksud mu, Al?" Tanya Nazia terbata. Dadanya sesak kenapa permasalahannya menjadi serius ?


Alby mengalihkan pandangannya dari Nazia dan berkata. "Aku di jodohkan dengan Sherin ! "


Alby membalas tatapan kekasihnya dengan datar. "Iya ! Setidaknya dengan menikahi Sherin perusahaan ku semakin membesar. Hubungan kita tidak dapat di lanjutkan lagi ! Bersikaplah seperti awal pertemuan kita jika bertemu suatu saat nanti. Lupakan tentang  kita. Mari tidak saling kenal kembali." Tegasnya tanpa ragu.


Kedua tangan Nazia mengepal kuat di bawah meja. Ia merasakan sakit  hati. Ada sakit yang berbeda di dalam sana, yang mana mirip sebuah benang masih menyisakan helaian yang terpotong setelah menjahit.  Dari pernyataan Alby itu tandanya, ia tidak berarti apa-apa. Dapat di pastikan Harta dan kedudukan lebih berharga dari pada dirinya. Tubuh Nazia terasa lemas, baru saja dirinya bahagia ingin melepas kerinduan di pertemuan ini. Namun ranjau yang tajam telah menusuknya terlebih dulu.


Nazia mengusap air matanya perlahan, tatapannya berubah datar dan dingin. "Pergilah ! Maaf jika aku bukan terlahir dari keluarga kaya, dan aku juga tidak tahu jika materi adalah segalanya untuk orang kaya sepertimu."


Alby berdiri lalu keluar dari kafe. Di parkiran, Jimmy sudah menunggunya. Alby mendudukkan tubuhnya di  dalam mobil. Sakit rasanya tapi keputusan sudah diambilnya. Apapun alasannya, ia harus menjalaninya.


Dari dalam Mobil Alby dan Jimmy melihat Nazia memasuki mobilnya. Karena sudah sore gadis itu ingin pulang ke rumah.


"Jim, ikuti mobil Nazia ! Aku penasaran seperti apa pria selingkuhannya itu!" Kata Alby tanpa sesal.


Jimmy hanya mengangguk lalu menginjak pedal gas. Beberapa menit kemudian mobil Nazia berhenti di depan restoran. Gadis itu keluar dari mobil dengan wajah sembab.


Ivan melihat Nazia ingin masuk langsung menyambanginya. Ia memperhatikan wajah nya yang merah dan sembab. Masih ada sisa air mata di bulu matanya yang lentik. "Kamu menangis ? Ceritakan ada apa ?" Tanyanya sambil menyeka sisa air mata di sudut mata Nazia.


"Kita pulang saja dulu"


Ivan mengangguk lalu mengapit lengan Nazia melangkah menuju mobil. Di mobil miliknya Alby kembali  memanas saat Ivan bergelayut manja di lengan mantan kekasihnya itu.


"Zi, ada apa ? Jangan dipendam masalahmu. Ayo ceritakan  !" Ujar Ivan menghentikan langkah Nazia ingin masuk mobil. Dokter cantik itu masih mengusap air mata yang membandel keluar tanpa ijinnya.


"Akan aku ceritakan nanti setelah sampai rumah. Aku merindukan bantalku." Nazia memaksakan senyum.


"Aku juga merindukan beruang ku." Balas Ivan sambil melangkah ingin membuka pintu kiri kemudi. "AAHH " Teriak Ivan menyentuh sudut bibirnya yang pecah. Tubuhnya terjungkal ke tanah.


Mendengar suara Ivan kesakitan. Nazia keluar dari mobil. "Ivan !" Pekiknya melihat pria itu tersungkur.


"Ini hukuman untukmu telah menyentuh milik ku !" Alby kembali menghantam tubuh Ivan. Ya, laki-laki inilah yang meninju wajah Ivan.


"HENTIKAN !"


"Kamu membelanya ?!" Ucap Alby kesal dengan nafas memburu.


"Anda tidak berhak memukulnya." Nazia membantu Ivan berdiri. Seperti yang di ucapkan Alby tadi ia bersikap tidak mengenalnya.


"JANGAN MEMBELA PRIA INI, ZIA !" Teriak Alby ingin meraih kerah baju Ivan. Namun Nazia terlebih dulu berdiri di depan Ivan. Tanpa sengaja gadis itu terdorong ke tanah.

__ADS_1


"ZIZI / NONA !"


"Aaa." Lirih Nazia mengusap sikutnya yang terasa sakit. Ivan tertatih menghampiri Nazia dan membantunya duduk. Sikutnya berdarah karena tergesek di atas paving.


"Tuan muda hentikan ! Anda menyakiti nona." Jimmy menahan tubuh Alby.


"Kamu mengorbankan tubuhmu untuk pria itu, NAZIA !" Teriak Alby penuh amarah. Ia mendorong tubuh Jimmy lalu melangkah menarik pergelangan  Nazia.


"SAKIT ! LEPASKAN !" Nazia meronta menarik tangannya.


"Ikut aku !" Alby menyeret  Nazia. Namun, tiba-tiba tubuh pria itu terhuyung ke depan.


"Tinggalkan tempat ini tuan ! Jangan menyentuhnya ! Kami bisa memperkarakan anda karena menyerang mereka terlebih dulu, rekaman Cctv di halaman ini sudah di tangan kami." Seorang laki-laki tidak di kenal bersuara dengan nada dingin.


Alby terkekeh. "Jangan ikut campur urusanku ! Dia gadisku  !" Ujarnya bicara menunjuk ke arah Nazia.


"Jaga lidah anda tuan ! Jangan sampai menjadi fitnah ! Kita tidak saling mengenal, atas dasar apa anda menyatakan saya wanita anda ?  Jangan mengotori tangan anda untuk menyentuh orang seperti kami." Tegas Nazia dingin.


Jimmy terkejut bercampur kecewa. Jika tahu sebelumnya Alby telah menyudahi hubungan mereka. Maka ia akan meminta pria tidak di kenal itu memukul tuannya yang bodoh itu.


Alby diam sejenak lalu meninggalkan tempat itu menuju mobilnya dengan perasaan kesal dan sakit.


Jimmy mendekat pada Nazia dan Ivan. "Nona, Tuan ! Saya minta maaf atas kejadian ini, saya benar-benar menyesal tidak dapat menahan tuan Alby." Ucapnya merasa bersalah.


"Jangan meminta maaf atas kesalahan orang lain Kak Jimmy." Seru Nazia kecewa.


Jimmy mengangguk. Lalu menatap sejenak pada pria berpakaian serba hitam di sebelah Nazia. Matanya tertuju pada logo baju pria itu. Kemudian ia menyusul Alby yang telah menunggunya di mobil.


"Nona kita ke rumah sakit." Ucap pria tak di kenal itu.


Nazia menggeleng. "Tidak perlu tuan kami akan pulang."


"Baiklah, saya akan mengikuti mobil anda dan memastikan kalian sampai di rumah dengan selamat."


"Iya, terimakasih sudah membantu kami." Ucap Nazia tulus.


Pria itu membantu Ivan untuk masuk ke dalam mobil dan Nazia mengemudi. Mereka meninggalkan restoran. Pria tadi mengikuti Nazia dari belakang. Di perjalanan ponsel pria itu bergetar, ia memasang Bluetooth handsfree lalu menjawab telpon itu.


"Kirimkan vidio di kafe tadi"


"Baik tuan. Tunggu sebentar lagi, saya sedang mengantarkan nona, Zi pulang kerumahnya." Jawab laki-laki itu santai.


"Apa yang terjadi ?"


"Maafkan saya tuan Nona, Zi. Tergores di sikutnya. Ia terjatuh saya terlambat karena mengatur pengunjung restoran agar tidak mengambil foto atau vidio pertengkaran." Jelas Laki-laki ini.


"Bertengkar ? Aish !! Baiklah terimakasih pastikan mereka sampai ke rumah. Temui aku dan tunjukkan rekamannya nanti."


"Baik, Tuan."


Sementara di mobil Nazia. Ivan meringis kesakitan. Wajah tampannya lebam dan sudut bibirnya berdarah. Serta perutnya terasa kram.


"Maafkan aku."


"Jangan pernah kembali pada pria seperti itu lagi, berjanjilah ! Maaf aku tidak bisa melindungi mu" Ucap Ivan terisak.


"Jangan menangis ! Aku tidak akan kembali padanya."


Ivan menghapus air matanya lalu beralih melihat pada Nazia.


"Kamu pasti sakit hati. Maaf kehadiranku menjadikan hubungan kalian berakhir."


Nazia menggeleng kepalanya.


"Seiring waktu akan sembuh sendirinya. Bukan salahmu, dia saja yang tidak percaya padaku. Dalam kehidupan ini aku merasakan dua kehilangan yang berbeda." Ujarnya tersenyum tipis


"Maksud mu ? Ayo Jelaskan !"


"Pertama aku kehilangan kekasihku karena kematian dan kedua aku kehilangan kekasihku karena keegoisannya dan memiliki rasa percaya yang dangkal padaku."


"Sepertinya kita perlu liburan." Usul Ivan setelah berpikir.


"Tidak perlu, kita hanya membutuhkan hiburan bukan liburan." Ucap Nazia sedikit tersenyum.


Ivan menegakkan tubuhnya. Lalu tersenyum. "Baiklah setiba di rumah obati luka ku terlebih dulu."


Nazia mengangguk. Ia kembali cerdas sangat menyesal jika membuang air matanya terlalu lama menangisi pria seperti Alby.


...----------------...


Jimmy dan Alby kembali ke rumah masing-masing. Di unit apartemennya, Jimmy duduk di atas kasurnya sambil mengecek e-mail yang masuk. Ia kembali teringat pada pria asing yang tiba-tiba ada di sana.

__ADS_1


"Siapa sebenarnya anda Nona Zia ? Kenapa logo pengawal keluarga Indra ada di baju pria itu ? Apa hubungan anda dengan keluarga Indra, Nona?" Gumam Jimmy. Ia mengetik sesuatu di ponselnya untuk mencari tahu tentang keluarga Indra Jaya. "Apa nona putri dari keluarga Indra ? tapi aku sudah mencari tahu latar belakangnya. Dia anak kandung tuan Hendrik dan Nyonya Mira." Sambung Jimmy. Ia menegakkan tubuhnya setelah pencariannya ditemukan. Jimmy membacanya dengan teliti. "Benar saja informasi yang aku tahu. Keluarga Indra hanya memiliki putra tunggal yang selama ini tidak pernah di ketahui wajahnya seperti apa ? bahkan istri tuan Indra pun tidak pernah muncul di media. Dan tidak mungkin juga pria bernama Ivan itu anaknya tuan Indra, sepertinya usia pria itu lebih muda dari Nona Zia. Mungkin hanya kebetulan dia di sana atau dia kerabat nona Zia yang bekerja pada keluarga Indra."


__ADS_2