Suami Manja Dokter Zi

Suami Manja Dokter Zi
Suami Manja


__ADS_3

Happy Weekend 🌹


Ada perubahan jadwal up !


...----------------...


Setelah mengantarkan pak Danu dan Ibu Nani. Zevin dan Nazia kembali ke Villa. Tak lupa Zevin memberikan modal usaha untuk mereka dan membelikan beberapa bidang tanah untuk Pak Danu sekeluarga.


Zevin dan Nazia menghabiskan waktu bulan madu mereka tanpa ada gangguan lagi. Erik kembali terlebih dulu. Karena Pak Indra membutuh kan nya.


...----------------...


Kantor Alby


Pak Reza mengamuk pada putra sematang wayangnya itu. Karena perusahaannya diakuisisi oleh pak Toni. Hubungan sahabat semulanya baik menjadi renggang dan bermusuhan. Pak Toni mendapati jika Pak Reza berlaku curang pada kerjasama mereka.


"Al, papa sudah katakan cepat kamu jatuhkan saham Toni ! Lihat apa yang dilakukannya. Dia mengambil perusahaan papa." Ucap pak Reza emosi.


"Bukan salahku ! Papa yang berkhianat padanya. Kerugian Om Toni tak sebanding dengan perusahaan papa yang hampir gulung tikar itu." Sahut Alby.


"Kamu keterlaluan, Al ! Ceraikan putrinya sekarang juga." Titah pak Reza.


"Tidak semudah itu, Pa. Sherin sedang hamil. Jika saja perkaranya mudah. Aku sudah menceraikannya sejak lama bahkan sebelum Zia menikah dengan Zevin." Balas Alby.


"Wanita itu lagi ! Dia tidak berguna, Al !!" Ujar Pak Reza.


"Cukup, Pa ! Jika papa mau, aku akan memberikan cabang dari perusahaanku. Silahkan Papa urus dan kembangkan." Kata Alby.


Pak Reza terdiam. Sekarang ia berpikir tidak salahnya menjalankan cabang perusahaan Alby putranya. Dengan begitu ia bisa membeli tanah kosong yang berukuran luas di jalan S untuk mendirikan restoran atau perhotelan. Sejak lama ia penasaran pada pemilik tanah itu. Karena tidak ada yang tahu  siapa yang mengurus tanah luas itu sekarang. Letak yang cukup strategis untuk membangun usaha di sana. Bisa dipastikan omzetnya sangat besar.


"Baiklah, Papa akan mengurus cabang yang kamu miliki." Ujar pak Reza mengalah.


Alby memanggil Jimmy melalui interkom. Tak lama pintu di ketuk.


"Masuk." titahnya


"Permisi tuan." Ucap Jimmy.


"Jim, kamu urus berkas pengalihan cabang milikku untuk Papa dan pindahkan direkturnya ke kantor pusat." kata Alby.


"Baik tuan." Jawab Jimmy.


"Satu minggu lagi semua sudah selesai." Ujar Alby.


"Iya Tuan. Saya permisi." Balas Jimmy.


Alby mengangguk dirinya benar pusing. Karena pak Reza menyalahkan dirinya atas kehilangan perusahaan milik ayahnya itu.


Pak Reza kembali pulang ke rumah. Sebelumnya ia menyempatkan diri untuk melihat tanah kosong yang diinginkannya.


"Cepat atau lambat tanah ini akan jadi milikku." Gumam pak Reza.


Pria paru baya ini masuk kembali ke dalam mobilnya. Dan melaju menuju kediamannya.


...----------------...


Kantor Jaya Group

__ADS_1


Pak Indra duduk di kursi kebesarannya. Memijit pelipisnya melihat dokumen di depannya. Pria paru baya ini terlihat lelah duduk berjam-jam di kursinya.


"Anda sakit tuan?" Tanya pak Ali.


"Tidak, mungkin hanya lelah." Jawab pak Indra.


"Kalau begitu saya buatkan anda minuman manis." Ucap pak Ali.


"Baiklah, panggilkan Erik." Kata Pak Indra.


"Iya tuan." balas pak Ali. Ia keluar dari ruangan presiden direktur kemudian memanggil Erik terlebih dulu, baru ia membuatkan minuman untuk pak Indra ke pantri.


Erik segera pergi keruangan pak Indra. Sebelum masuk ia mengetuk pintunya terlebih dulu.


"Masuk." Titah pak Indra dari dalam.


"Permisi tuan." Erik membuka gagang pintu.


"Iya, masuklah !"


Erik masuk dan duduk di sofa. Begitu juga dengan pak Indra beralih duduk di sofa berseberangan dengan Erik.


"Bagaimana kabar di Villa?" Pak Indra menyandarkan tubuhnya di sofa.


"Semua terkendali tuan. Pak Danu dan ibu Nani juga sudah mulai menggarap  tanah mereka untuk bertani." Jawab Erik.


"Baguslah, apa menantuku sehat?" Tanya pak Indra lagi.


"Nona Zi sehat tuan !"


"Pastikan tidak terjadi sesuatu yang buruk pada menantuku ! Dan apa Zev sudah setuju mengambil alih tugas Ralda di rumah sakit?" Tanya pak Indra.


"Syukurlah !" Pak Indra menghembus nafas lega.


Pak Ali membawa tiga gelas minuman, Pak Indra menyeruput teh manisnya begitu juga dengan Erik dan Pak Ali.


"Bagaimana dengan Ralda tuan?"


"Tempatkan dia disini sebagai sekretarisku. Aku yakin Ralda bisa, ia wanita cerdas dan cepat bisa. Karena Dinda akan mengundurkan diri. Anaknya sering sakit-sakitan sekarang ini." Jawab pak Indra.


"Nina ! Tuan Zev pasti sedih jika anak itu sakit. Karena Nina sangat dekat dengannya. Di apartemen mereka berdua sering bermain. Kadang tuan Zev sebagai kelinci percobaan Nina." Kata Erik. Ia tersenyum mengingat selama mereka tinggal di apartemen Nina sering merecoki dirinya dan Zevin


"Kalau begitu pak Ali, cari tahu penyakit  yang diderita Nina. Berikan pengobatan yang terbaik untuknya. Meski pun Dinda tidak bekerja lagi disini nantinya." Kata Pak Indra.


"Iya Tuan, secepatnya saya akan menanyakan pada Dinda." Ujar Pak Ali.


Erik dan pak Ali sangat bangga bekerja dengan tuan Indra Jaya. Pria hangat, baik hati dan selalu menghargai kinerja karyawannya. Jika terjadi kesalahan kecil beliau tidak pernah memarahinya. Dengan  sabar Pak Indra membimbingnya sampai benar-benar terlatih dan bisa.


Banyak karyawan pensiun karena faktor usia. Mereka sangat betah bekerja di kantor besar itu, selain mendapatkan imbalan yang besar. Santunan dari Jaya Group juga selalu diberikan dengan benar. Ribuan karyawan bekerja dengan hati yang senang. Tak hanya di kantor besar, bagian cabang Jaya group juga menerapkan hal yang sama. Hanya karyawan yang serakah bisa melakukan pengkhianatan di perusahaan ini. Karena dari pihak Jaya group mereka selalu memberikan yang terbaik pada karyawannya.


Kadang Pak Indra mendapatkan bingkisan kecil dari karyawannya. Tak pernah sekali pun, ia menolak atau membuangnya. Ia sangat menghargai pemberian orang lain. Tapi Pak indra juga bisa mengambil sikap tegas jika mengkhianati kepercayaannya. Contohnya pada kasus pak Heru. Walau pun tak sepenuhnya kesalahan dirinya.


...----------------...


Villa


Kota ini diguyur hujan sejak pagi tadi. Sudah tidak lebat tapi menyisakan gerimis dan memberikan efek sangat dingin. Cuaca seperti ini sungguh membuat orang-orang bermalas-malasan di tempat tidur.

__ADS_1


Seperti Nazia dan Zevin. Hari ini mereka tidak pergi keluar, pengantin baru itu menghabiskan waktu hanya di Villa saja. Sambil menonton televisi Zevin berbaring dipangkuan Nazia di atas kasur seperti biasanya. Selimut tebal miliknya ditarik hingga batas leher. Kadang ia memejamkan matanya menikmati tiap sentuhan dirambutnya. Nazia mengelus lembut rambut suaminya itu dengan mata fokus di depan televisi


Jika di luar rumah Nazia yang dimanja Zevin. Maka sebaliknya jika di dalam rumah. Zevin bak anak kecil yang tak ingin jauh dari Nazia. Sifat sebelum menikah yang tak terlihat adalah kemanjaan yang luar biasa ini. Dulu Zevin sering manja, namun ada batasannya. Tapi saat ini kasih sayangnya tercurah tanpa batas.


Ponsel Nazia bergetar di atas kasur. Zevin segera meraihnya sebelum tangan istrinya menjangkau ponsel itu.


"Siapa?" Nazia bersandar lagi di dinding kasur.


"Ay. Dia vidio call." Jawab Zevin. Menggeser tombol hijau di layarnya.


"Kenapa kamu masih tidur, Zev ?!" Suara Rayya terdengar heboh.


"Dingin, di sini hujan." Jawab Zevin seadanya.


"Dimana, Zi?" Tanya Rayya. Karena layar ponselnya hanya terlihat Zevin sedang memejamkan matanya.


Zevin memberikan ponsel pada Nazia.


"Ay, aku merindukanmu." Kata Nazia tersenyum.


"Cepat pulang aku kesepian." Balas Rayya.


"Bagaimana kabar disana?" Tanya Nazia.


"Aman dan terkendali. Kemarin aku bertemu Sherin. Dia ikut kelas hamil di sini." Jawab Rayya antusias.


"Syukurlah ! Ay, siapa di belakangmu?" Nazia melihat seseorang berdiri memunggungi Rayya.


"Ah, dia dokter Yudha. Sekarang dia satu ruangan sama kita. Karena ruangan lain penuh." Jelas Rayya.


Rayya dan Nazia semangat bercerita diponsel. Zevin mengintip layar ponsel istrinya. Matanya memicing melihat sosok di belakang Rayya, duduk di pinggir meja dengan berpangku tangan melihat pada ponsel Rayya.


Dia, kan. Dokter baru yang sering melirik istriku. Aku benci matanya ! Lihatlah berani sekali dia melihat Zi dari balik kaca matanya itu


Gerutu Zevin dalam hati. Ia kesal melihat Yudha melihat ke arah ponsel Rayya.


"Dia cantik !" Seru Yudha.


Rayya tersentak melihat Yudha memperhatikan ke layar ponselnya. Di seberang sana Nazia tersenyum kaku mendengar suara Yudha.


"Kamu benar ! Dia memang cantik. Usianya juga dibawah kita." Balas Rayya.


"Jika hanya melihatnya sekilas, mungkin orang beranggapan dia seorang mahasiswi. Andai dia belum menikah aku mau menjadikan dia istriku." Kata Yudha tersenyum.


Rayya tersenyum tipis, dapat dipastikan sebentar lagi Zevin merengek di seberang sana.


"Sayang, ayo makan siang aku lapar. Kiki pasti sudah selesai memasak." Kata Zevin sedikit nyaring.


Tebakan Rayya benar.


"Zi, kamu urus suamimu yang manja itu dulu ! Cepat pulang ya. Aku matikan dulu telponnya." Ucap Rayya.


"Iya."


Zevin tersenyum senang mengecup bibir Nazia.n"Ayo cinta kita turun." Menyingkap selimut dari tubuhnya.


"Ayo, jika kamu mengijinkan aku menemani Kiki di dapur pasti cepat selesai." Balas Nazia.

__ADS_1


"Seminggu ini waktumu khusus untukku sayang ! Setelah ini kita kembali sibuk." Ucap Zevin. Menggenggam tangan Nazia menuju meja makan.


Setelah Ibu Nani dan Pak Danu pulang ke kampung halaman, Kiki didatangkan Erik dari kediaman tuan Indra.  Untuk menggantikan ibu Nani di Villa selagi Zevin dan Nazia berada di sana.


__ADS_2