
Kediaman Zevin Kavindra
Penghuni rumah besar itu baru saja menyelesaikan makan malam mereka. Saatnya berkumpul di ruang tengah untuk bercengkrama sejenak. Di rumah besar itu tak hanya Zevin dan Nazia. Namun ada juga Erik dan Ivan.
Kedua pria ini ikut bergabung di ruang tengah. Ivan dan Erik memilih duduk di atas karpet lebih nyaman lesehan menurut mereka.
"Zi , sejak tadi kuperhatikan kamu seperti ada yang dipikirkan." Ivan menoleh ke pada Nazia di atas sofa.
Nazia menyandarkan tubuhnya di dinding sofa. "Baiklah, aku akan menceritakannya."
"Lebih baik seperti itu, dari pada kamu menyimpannya sendiri." Ivan memutar arah duduknya untuk menghadap Nazia.
"Tadi siang aku bertemu pak Reza, asistennya langsung yang menemuiku beberapa hari yang lalu. Dia ingin membeli tanah kosong yang ada di jalan S." Cerita Nazia.
Zevin menegakkan posisi duduknya.
"Pak Reza ! Siapa dia, Rik?" Ia Melihat pada Erik.
"Dia ayah Alby."
"Benar tuan, Pak Reza adalah ayahnya tuan Alby." Tambah Erik.
"Kamu jawab apa sayang?" Tanya Zevin. Ia sungguh penasaran dengan pertemuan istrinya dan pak Reza.
"Aku jawab tidak menjual tanah itu, tapi dia memintaku memikirkannya lagi." Nazia melihat pada suaminya.
"Bagus ! Tanah itu jangan sampai terjual, kamu tahu ? Letak tanah itu sangat strategis untuk membangun hotel atau pusat perbelanjaan." Ungkap Zevin. Ia bisa mengerti maksud pak Reza.
"Benarkah ? Aku tidak tahu niatnya apa? untuk membeli tanah itu. Aku tahu harga tanah itu mahal." Nazia tak mengerti jika tanah itu bernilai tinggi di dunia bisnis.
"Benar sayang, mungkin itu alasannya ingin membeli tanah itu." Zevin tersenyum sambil mengurai rambut panjang istrinya.
"Apa mungkin Alby yang meminta nya?" Seru Ivan. Ia curiga dengan Alby yang tiba-tiba berubah.
"Itu yang kupikirkan sejak tadi."
"Jangan dipikirkan lagi ! Nanti Erik mencari tahu. Apa ada hubungannya dengan Alby atau tidak ? Tanah itu tidak akan dijual karena aku sudah punya rencana untuk itu." Ucap Zevin.
"Benar Nona, anda tidak perlu terpikirkan masalah ini. Nanti saya akan cari tahu." Sambung Erik
Nazia mengangguk. Dirinya memang setuju dengan usul Zevin tempo hari yang akan membangun usaha kecil untuk usaha pribadi mereka berdua. Selain warisan dari tuan Indra, Zevin juga akan memiliki usaha sendiri, tepatnya membuka lapangan kerja untuk beberapa orang yang berbakat dan cerdas. Saat ini mulai terbentuk sudah rancangan manajemen kepengurusan kantornya.
Bahkan rencananya itu disambut antusias oleh orang-orang yang telah direkrutnya. Zevin telah mempersiapkan semuanya jauh hari. Ia membatasi jumlah orang-orang yang akan bekerja padanya nanti dan itu pun orang yang benar terpercaya.
"Sudah larut, ayo kita istirahat."
"Ayo." Nazia berdiri dari tempatnya duduk.
"Tuan apa jadi nonton bola malam ini?" Tanya Erik menoleh.
"Tentu, bangunkan aku jam 2 nanti ya." Zevin bergegas menyusul istrinya yang lebih dulu melangkah.
"Baik tuan." Erik ikut berdiri untuk pergi ke kamarnya.
"Aku juga, Kak." Seru Ivan. Pria gemulai itu melenggang masuk ke dalam kamarnya.
...----------------...
Di saat semua masih terlelap tiba-tiba ponsel Nazia bergetar di atas nakas, dengan perlahan ia membuka matanya sambil meraba ponselnya. Di setengah kesadarannya, Nazia membaca nama yang tertera di ponselnya.
__ADS_1
"Iya, ada apa?" Nazia berusaha bangun sempurna.
"Maaf dokter, Zi. Membangunkan anda sepagi ini. Pasien anda yang bernama Sherin akan melahirkan. Tapi tekanan darahnya naik dan pembukaannya juga belum bertambah."
"Baiklah, saya akan segera datang." Balas Nazia meletakkan ponselnya lalu mencepol rambutnya ke atas. Dirinya mencuci muka terlebih dulu lalu bersiap.
Ia memberikan kecupan lembut di kening suami nya sebelum pergi, Nazia melihat jam di pergelangannya menunjukkan jam 4 pagi. Ia setengah berlari menuju pintu keluar. Nazia menyetir sendiri untuk pergi ke rumah sakit.
Setelah sampai Nazia memarkirkan mobilnya di basemen. Ia berlari kecil langsung masuk ke ruang IGD.
"Bagaimana kondisinya?" Tanyanya meletakkan tas kerjanya di atas meja.
"Masih seperti tadi, tekanan darahnya masih naik." Jelas seorang perawat, tak lupa ia juga memberi tahu apa saja tindakan yang sudah di ambil.
Nazia mengangguk lalu menghampiri Sherin yang ditemani ibu Siska dan pak Toni.
"Selamat pagi semuanya."
"Selamat pagi dokter, Zi." Balas ibu Siska dan pak Toni.
"Jam berapa kamu merasakan kontraksinya?" Tanya Nazia mengelus perut Sherin dengan lembut.
"Jam tiga aku sudah merasakan sakit." Jelas Sherin meringis merasakan kontraksi kembali.
"Baiklah, sekarang tenangkan dirimu. Jangan takut ! Bayangkan sebentar lagi kamu melihat bayimu lahir, jangan tegang ya ! Kita lihat nanti jika tekanan darahmu masih naik dan pembukaannya tidak bertambah baru kita ambil langkah lain. Tenang ya."
"Terimakasih dokter, Zi." Ucap Ibu Siska.
"Kita pindahkan ke ruang bersalin ya, sampai di sana kamu bisa mandi dulu. Terus makan, nikmati tiap prosesnya. Sakit memang tapi rasa itu cepat tergantikan nanti." Ujar Nazia mencoba memberikan semangat pada pasiennya ini.
"Baiklah, aku harus kuat demi anakku." Balas Sherin semangat. Tapi tak dipungkiri jika rasa takut itu ada.
...----------------...
Pria ini menggeliat di atas kasur, ia membuka mata perlahan sambil meraba-raba kasur sebelahnya.
Kosong !
Zevin membuka matanya lebar. Ia melihat jam di atas nakas menunjukkan jam 6 pagi. Ia bingung biasanya usai membantu Kiki menyiapkan sarapan pagi. Nazia akan duduk di tepi kasur membaca buku sambil menunggu suaminya itu bangun.
"Sayang !"
Sepi tidak ada jawaban. Ia menyingkap selimutnya lalu membuka kamar mandi.
Zevin membuka pintu tidak ada istrinya di sana. Ia langsung keluar dari kamar dan menuruni anak tangga untuk ke bawah. Ia juga tidak mendapati istrinya di sana hanya ada Ivan dan Erik di meja makan.
"Di mana istriku?" Zevin mulai kebingungan.
"Ha? Istri ? Kak Zev aneh istri sendiri tidak tahu !" Ucap Ivan tengah menikmati susu hangatnya.
"Iya, Van ! Zi tidak ada di kamar." Zevin merasa cemas.
"Coba di telpon, Tuan."
Zevin melangkah menuju lift untuk naik ke lantai atas. Sampai di kamar ia meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Nazia.
Sementara di rumah sakit, jam terus berputar Sherin semakin kesakitan. Tapi pembukaan tak kunjung bertambah bahkan tekanan darahnya masih tetap sama. Nazia meminta pak Toni untuk ikut keruangannya.
"Pak Toni ayo ikut saya."
__ADS_1
"Baiklah." Pak Toni langsung mengikuti Nazia keluar dari ruangan.
Ponsel Nazia bergetar, ia merogoh saku bajunya. "Iya sayang." Jawabnya sambil melangkah.
"Di mana kamu?"
"Di rumah sakit, Sherin mau melahirkan." Nazia membuka pintu ruangannya dan mempersilahkan pak Toni masuk.
"Baiklah, aku bersiap dulu."
"Kamu sarapan dulu dan tolong bawa baju ganti untukku." Ucap Nazia.
"Kita sarapan di kantin rumah sakit saja."
"Sebentar lagi ada operasi, hati-hati di jalan." Nazia memutuskan panggilan telpon.
Nazia menyimpan ponselnya lalu berkata. "Pak Toni, tekanan darah Sherin hanya turun sedikit. Pembukaan juga belum bertambah, jadi saya sarankan untuk caesar saja. Apa Sherin ada makan sesuatu?"
"Saya serahkan pada dokter Zi saja yang mana baiknya. Sherin belum makan apapun." Balas pak Toni.
"Baiklah minta dia berpuasa dulu. Nanti perawat kami menyampaikan apa saja dilakukannya sebelum operasi"
"Iya saya akan sampaikan."
"Kami akan mempersiapkan operasi sekarang karena dokter yang akan membantu juga sudah datang. Bapak selesaikan dulu proesedurnya nanti ada perawat yang mengantar bapak. Lebih bagus lagi jika didampingi suaminya." Ucap Nazia.
"Saya akan pikirkan" Balas pak Toni pamit keluar dari ruangan Nazia.
Nazia serta perawat menyiapkan operasi untuk Sherin setelah pak Toni menanda tangani surat persetujuan.
Sherin di bawa masuk ke dalam ruangan operasi tak lama masuklah Nazia dan tim dokter yang terlibat dalam operasi caesar.
Pak Toni dan ibu Siska duduk di kursi depan ruang operasi, perasaan mereka berdua campur aduk melihat putri semata wayang mereka bertaruh nyawa di atas meja operasi tanpa didampingi suami atau pun ayah kandung cucunya.
"Apa aku terlambat?" Tanya Alby tersengal karena berlari di lorong rumah sakit.
"Tidak, operasinya masih berlanjut. Terimakasih sudah mau datang." Ucap pak Toni. Ia memang menelpon Alby beberapa menit lalu.
Alby tidak menjawab, ia memilih diam duduk di kursi tunggu. Pikirannya berkecamuk langkah, apa yang akan di ambilnya setelah ini ? Dia sengaja datang setelah mendapat telpon. Bagaimana pun juga Alby masih berstatus suami Sherin. Apa yang dikatakan orang jika saat persalinan seperti ini dia tidak datang? Beberapa bulan lalu saja dirinya dan Sherin mulai menjadi bahan gosip karena ia tak pernah mendampingi Sherin selama kunjungan ke dokter. Syukur saja Jimmy dengan cepat menekan berita itu hingga tidak berjalan lama.
Kehidupan Alby memang kadang menjadi sasaran empuk media karena dia merupakan pebisnis muda yang sukses. Apa pun yang terjadi, media masa sangat senang memburunya. Tapi tak di pungkiri saat ini ia senang karena sebentar lagi akan mengajukan gugatan perpisahan. Lama menunggu proses persalinan caesar akhirnya selesai.
"Keluarga Nyonya Sherin !"
"Saya ibunya." Jawab ibu Siska.
"Mari ikut saya keruang bayi."
"Baiklah, tapi bagaimana kondisi putri saya?" Tanya ibu Siska.
"Nyonya Sherin sedang dalam perawatan, semuanya baik-baik saja. Bayinya normal dan sehat ini cucu anda berjenis kelamin perempuan."
Ibu Siska menitikkan air matanya melihat sosok mungil di dalam gendongan perawat itu. Pak Toni tersenyum melihat cucu perempuannya.
Perawat segera membawa bayi Sherin lalu disusul oleh ibu Siska. Alby memang penyuka anak kecil langsung mengekor ibu Siska. Sementara pak Toni tetap menunggu di depan ruang operasi.
"Anda ingin melihatnya?" Tawar seorang perawat. Ia melihat Alby dan ibu Siska berdiri di balik kaca.
"Masuklah !" Ucap Ibu Siska.
__ADS_1
Alby mengangguk, setelah memakai baju steril ia masuk menuju box bayinya Sherin. Matanya memerah melihat bayi mungil tak berdosa itu, tangannya tergerak mengusap pipi lembutnya .
"Maafkan aku, karena tidak bisa menerimamu di kehidupanku. Ada yang lebih berhak atas dirimu dan ibumu. Tapi percayalah aku sayang padamu. Tumbuhlah jadi anak perempuan yang baik." Gumam Alby. Ia tersenyum tipis melihat bibir merah bayi itu bergerak-gerak.