Suami Manja Dokter Zi

Suami Manja Dokter Zi
Mencari Ralda


__ADS_3

Kediaman Zevin Kavindra


Zevin kembali mencoba menelpon nomor Erik dan Ralda, namun tetap sama tidak ada jawaban.


"Sayang bersiaplah malam ini kamu tinggal di rumah papa dulu ya, aku akan mengantarmu ke sana. Karena sebentar lagi aku akan mencari Erik dan Ralda." Ujar Zevin memegang pundak istrinya.


"Iya, aku bersiap dulu."


Sementara itu Zevin meminta beberapa pengawal keluarga Indra ikut bersamanya untuk mengantar Nazia. Tiba-tiba ponsel Zevin bergetar matanya berbinar membaca nama Erik di layar ponselnya


"Kamu di mana Rik?" Tanya Zevin


"Tu—tuan, saya butuh bantuan anda. Kakak diculik, kami dicegat saat perjalanan pulang. Saya kehilangan jejak mereka."


Zevin mengepalkan tangannya geram. "Sabar jangan panik ! Kita bertemu di rumah papa sekarang !"


"Baik tuan, saya segera ke sana." Erik mematikantelpon.


Zevin menghampiri Naiza.


"Sudah siap sayang?"


"Iya ayo berangkat." Ajak Nazia.


"Apa pun yang terjadi jangan keluar dari rumah papa. Karena papa bisa melindungimu. Ralda diculik tapi kita belum tahu siapa yang menculiknya." Jelas Zevin.


"Baiklah." Ucap Naiza berusaha tenang meskipun dirinya sedang takut.


Mereka berangkat dengan didampingi beberapa pengawal keluarga Indra bersenjata lengkap. Tidak mudah pak Indra mengurus ijin kepemilikan senjata lengkap untuk para pengawalnya.


...----------------...


Kediaman Indra Jaya.


Zevin dan Nazia sampai dengan selamat dikediaman pak Indra. Di sana pak indra dan ibu Felisya menunggu kedatangan anak menantunya.


"Kalian sudah sampai? Ayo masuk sayang. Cuaca dingin sekali." Ibu Felisya membawa Nazia ke dalam.


"Iya, Ma." Balas Nazia.


"Sayang kamu langsung istirahat ya." Zevin mengantarkan Nazia ke dalam kamar.


"Kamu hati-hati." Balas Nazia.


Zevin mengangguk lalu segera turun dari lantai atas. Ia bergabung bersama kedua orang tuanya di ruang keluarga.


"Apa yang terjadi?" Tanya pak Indra.


"Erik dan Ralda dicegat di jalan pulang dan orang-orang itu membawa Ralda." Jelas Zevin.


"Ya Tuhan , bagaimana ini ? Kasian Ralda, Pa." Ucap Ibu Felisya cemas.


"Mama  tenang saja, aku akan mencarinya." Zevin memenangkan ibu Felisya.


"Sekarang di mana Erik?" Tanya  pak Indra.


"Perjalanan kesini. Pa" Jawab Zevin.


"Siapa yang menculiknya? Apa motifnya?  laporkan segera dengan polisi." Ucap pak Indra.


"Iya, Pa." Balas Zevin.


Tak lama terdengar deru mobil berhenti di depan rumah pak Indra. Zevin segera melangkah menuju pintu utama dan mengintip di jendela, terlihat Erik keluar dari mobil.

__ADS_1


"Erik !" Zevin membuka pintu.


"Tuan." Erik menutup pintu mobilnya.


Zevin dibuat meringis, setelah dekat ternyata wajah Erik babak belur. Ia juga melangkah dengan tertatih. Zevin segera memapah Erik untuk masuk.


"Erik !" Ucap pak Indra dan ibu Felisya terkejut dengan kondisi Erik.


"Zev, bawa dia ke kamar saja." Ujar ibu Felisya.


"Iya, Ma, "


"Harusnya kamu menelpon saja tadi minta dijemput. Bahaya membawa mobil sendirian dengan kondisi seperti ini." Seru pak Indra.


Erik hanya diam karena ia sangat lelah dan kesakitan. Zevin segera mengambil peralatan medisnya tak lupa ia mengganti pakaian Erik terlebih dulu. Mereka tidak ingin langsung bertanya tapi, merawat Erik terlebih utama. Zevin membersihkan luka-lukanya dan menyuntikkan anti nyeri untuk Erik.


"Ma, tidurlah sudah jam satu malam." Ujar Zevin.


"Iya, Nak."


Zevin dan pak Indra masih menunggu di kamar Erik. Mereka sengaja menunggunya bangun.


"Pa, aku akan bersiap !" Zevin ingin masuk ke dalam ruang kerja pak Indra.


"Baiklah, Nak. Apa kamu sudah lapor polisi?" Tanya pak Indra.


"Sudah, Pa. Mereka sedang melacak keberadaan Ralda." Balas Zevin.


...----------------...


Satu jam kemudian Erik menjadi lebih baik, Zevin membantunya untuk bangun. "Bagaimana apa masih ada yang sakit?" Tanya Zevin


"Saya merasa lebih baik, Tuan." Jawab Erik.


"Syukurlah, sekarang ceritakan bagaimana kalian bisa diserang, dan Ralda dibawa mereka." Ujar Zevin.


Erik mengangguk dan mulai bercerita.


...----------------...


Kilas Balik


Usai membantu Vian, Erik dan Ralda langsung berpamitan pulang. Erik melajukan mobil dengan kecepatan rata-rata.


"Kak, apa kakak yakin jika tuan Alby itu baik?" Tanya Erik mengisi keheningan mereka.


"Iya, dia sangat baik dan berlaku sopan pada kakak." Jawab Ralda.


"Syukurlah jika dia memang benar-benar berubah. Apa pun keputusan kakak, aku mendukungnya. Asal kakak bahagia." Ucap Erik.


" Kakak merasa dia telah berubah, tidak mungkin juga dia mendekati kakak hanya ingin mendapatkan kak Zi kembali. Kamu lihat kak Zi dan tuan Zev saling mencintai jadi, tidak ada alasan untuk mereka saling mencampakkan." Ujar Ralda.


"Semoga saja kak, karena aku tidak ingin kakak bernasib sama dengan nona, Zi." Ungkap Erik.


"Kita lihat saja dulu. Jika memang dia hanya ingin mendekati kakak dengan bermain-main, maka kakak rasa kamu dan tuan Zev tidak tinggal diam."


" Kakak benar aku tidak tinggal diam." Ucap Erik


Erik menginjak rem mendadak. Karena ada motor yang melintang di tengah jalan. Tak jauh dari sana ada mobil hitam terparkir. Jalanan nampak sepi karena sudah jam sebelas malam.


"Siapa mereka dan mau apa?" Tanya Ralda mulai panik.


"Jangan keluar dari mobil, apa pun yang terjadi." Ucap Erik.

__ADS_1


"Tapi mereka bahaya, lihat jumlah mereka banyak. Kasih saja apa yang mereka mau asal jangan mencelakakan kita." "Usul Ralda.


"Kita belum tahu mau mereka." Ujar Erik.


Mobil mereka telah terkepung, di sana berdiri delapan orang pria bertubuh besar menggunakan topeng.


Kaca mobil di ketuk.


"Keluar !" Ucap salah satu dari mereka.


"Kakak telpon polisi." Titah Erik


Kaca belakang pecah, dipukul salah satu dari mereka. Ralda semakin gemetar hingga ponselnya terjatuh ke bawah.


"Ja—jangan keluar." Ralda menahan baju Erik.


"Jangan takut kak, jika aku tidak keluar kita tidak tahu apa mau mereka. Lihat kaca belakang sudah pecah mudah untuk mereka masuk ke dalam mobil ini." Jelas Erik.


Ralda melepaskan tangannya dari baju Erik. "Hati-hati." Dibalas anggukan dari adiknya itu.


"Mau apa kalian ?!" Tanya Erik setelah keluar dari mobil.


"Serahkan wanita itu." Titah pria bertopeng yang tak jauh dari Erik. Pria itu mendorong tubuh Erik hingga terbentur dimobil.


"JANGAN MENYENTUH NYA !!" Erik memukul wajah pria di dekatnya.


Perkelahian tidak dapat dielakkan satu lawan delapan tak dapat imbang, perlahan pertahanan Erik mulai goyah luka yang didapatnya sudah banyak.


Ralda menangis histeris melihat Erik mulai kewalahan. Salah satu dari mereka memecahkan kaca mobil di sisi kemudi lalu membuka pintu dan menarik Ralda dari sana. Ia berteriak minta tolong pun, percuma karena keadaan memang sepi.


"Tolong, lepaskan ! Ambil saja barang berharga kami. Tapi lepaskan saya dan adik saya." Mohon Ralda sambil menangis.


"Jangan banyak bicara ! Ikut kami." Ralda digendong paksa dimasukkan di dalam mobil.


"LEPASKAN KAKAKKU !!" Teriak Erik. Ia tak mampu bergerak karena tubuhnya ditahan oleh beberapa pria bertopeng itu.


Mobil hitam itu melaju dengan cepat, sisanya menaiki motor  meninggalkan Erik dengan cepat. Sambil tertatih Erik mencoba mengejar namun terkecoh dengan beberapa pria yang menaiki motor.


Kilas Balik Selesai


...----------------...


Usai bercerita, Erik dan Zevin bersiap untuk pergi mencari Ralda.


"Ayo kita ke lokasi kejadian tadi." Ajak Zevin.


"Erik masih sakit, Zev !" Ujar pak Indra.


"Tapi, Pa. Kondisi Ralda kita tidak tahu." Balas Zevin.


" Nak, dengarkan papa. Jika mereka ingin memeras pasti mereka meneleponmu atau Erik untuk minta uang tebusan, dan jika mereka ingin mendapatkan keuntungan selain memeras maka mereka akan menghubungimu juga untuk membuat kesepakatan." Jelas pak Indra.


Zevin dan Erik terdiam, tak lama ponsel milik Erik bergetar  menandakan pesan masuk.


📱Jika ingin kakakmu kembali, maka katakan pada suaminya siapkan uang 500 juta ! Besok saya tentukan lokasinya.


Zevin dan Erik saling pandang setelah membaca pesan tersebut. Mereka seketika ingat perkataan Ralda beberapa minggu lalu.


"Erik minta polisi yang kuhubungi tadi untuk melacak keberadaan nomor ini. Papa benar ini pemerasan." Titah Zevin.


"Baik, Tuan."


Pak Indra tersenyum.

__ADS_1


"Berangkatlah, sambil jalan mencari informasi Ralda."


"Iya, Pa. Ayo Rik ! Kita pakai mobil yang lain." Titah Zevin. Di balas anggukan dari Erik.


__ADS_2