Suami Manja Dokter Zi

Suami Manja Dokter Zi
Bukan Istimewa


__ADS_3

Cuaca cukup mendung di kota itu. Hingar-bingar kendaraan terlihat jelas dari kaca sebuah kafe kecil dan sederhana yang di dalamnya ada dua pria dengan wajah datar tak bersahabat.


Zevin melipat kedua tangannya bersandar di kursi. Menatap tajam pada pria yang menjadi rivalnya selama ini. "Untuk apa mengajakku bertemu disini ? Aku sedang sibuk." Ucapnya datar tanpa ekspresi.


"Jauhi Nazia !" Titah Alby tanpa basa basi. Ia meletakkan cangkir cappucino nya di atas meja.


Zevin tersenyum tipis terdengar lucu perintah Alby padanya. "Kenapa aku harus menjauhinya?"


"Aku mencintai Zia, hanya aku yang boleh dekat dengannya." Alby tersenyum melemparkan pandangan sinis pada lawan bicaranya.


"Kamu yakin mencintainya? Bukankah, kamu sudah melepaskannya dan juga sadarlah kamu pria beristri."


"Aku akan menceraikan Sherin setelah dia melahirkan."  Alby kembali menyesap cappucino hangatnya.


Suasana hening sesaat, Zevin juga ikut menyesap kopi miliknya merasakan sensasi hangat masuk ke tenggorokannya. "Tidak ada alasan, aku harus menjauhi istriku sendiri !"


"Istri ?" Alby terkejut campur tak percaya. Darahnya berdesir tak karuan.


"Iya ! Zi. Istriku kami sudah menikah." Zevin tersenyum tipis sambil memutar cincin tunangan di jari manisnya.


"Tidak mungkin !" Alby tidak percaya. Wajahnya memerah karena kesal, ia melihat cincin yang sedang dimainkan Zevin, tanpa sadar tangannya meremas gelas di genggamannya.


"Apa yang tidak mungkin ? Semua akan jadi mungkin jika benar-benar menginginkannya."


"Aku tidak percaya ! Karena Zia pasti masih mencintaiku. Aku yakin itu." Ucap Alby penuh percaya diri.


"Cek sendiri, pernikahan kami sudah terdaftar." Zevin beranjak dari kursi meninggalkan Alby dengan segala keterkejutannya. Ia masuk ke dalam mobilnya lalu mencengkram setir mobil dengan kuat. Dirinya geram karena Alby dengan percaya dirinya menyebut Nazia masih memiliki perasaan padanya.


Tak lama Alby juga menyusul masuk ke dalam mobilnya sendiri. Zevin menginjak pedal gas terlebih dulu melaju. Alby masih penasaran lalu mengikuti Zevin. Ia menyalip mobil Zevin dan berhenti di depannya. Spontan dokter tampan ini juga menginjak pedal rem, ia terkejut karena mobil Alby berhenti tiba-tiba di depannya. Cukup sepi jalan yang mereka lintasi. Zevin turun dari mobil karena Alby juga turun dari mobilnya.


"Ada apa lagi?" Tanya Zevin malas karena pria itu tiba-tiba memotong jalannya. Terpaksa dokter tampan ini membawa tubuhnya ke luar dari mobil.


"Jangan mencoba membohongiku ! Tidak mungkin kamu menikahi Zia." Alby mencengkram kerah baju Zevin.


"Berhenti mengejar istriku !" Zevin menepis.


"Apa yang kamu janjikan pada Zia?" Alby membalas mendorong dada Zevin.


"Tidak ada ! Aku bukan pria yang mudah mengucap janji." Zevin membalik tubuhnya untuk kembali ke mobilnya.


Alby melayangkan tinjunya ke wajah Zevin. "Nazia milikku ! Kau tidak pantas bersamanya !" Tegasnya tersenyum tipis melihat bibir dokter tampan itu berdarah


"Dari segi mananya aku tidak pantas? HAH !" Teriak Zevin membalas pukulan Alby.


Mereka saling balas pukul sampai keduanya lemas dan terkapar di rumput, wajah dan tangan mereka  dipenuhi luka lebam dan berdarah.


"Tinggalkan Zia ! Kamu tidak bisa membahagiakannya. Penghasilanmu tidak mampu mencukupi kebutuhannya." Ujar Alby dengan nafas tersengal.


Zevin terkekeh lemah. "Zi, sudah terbiasa hidup sederhana sekali pun. Aku miskin dia tidak akan terkejut itulah istimewanya istriku."


"BERHENTI MENYEBUTNYA ISTRIMU !" Teriak Alby sambil menahan sakit tapi tidak bangun dari posisinya.


Zevin hanya diam lalu mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan bukti jika pernikahannya sudah terdaftar di ponsel Alby.


"Lihatlah di ponselmu. Jadi berhentilah mengganggu, Zi ! Karena sampai kapan pun, aku tidak akan melepaskannya karena aku bersusah payah mendapatkannya." Zevin memaksa bangun lalu berjalan tertatih menuju mobilnya.


"SIAL !" Alby meremas ponselnya lalu ikut bangun dan melangkah pelan menuju mobilnya sendiri.


Dua orang itu sama-sama meninggalkan tempat itu dengan tubuh sempoyongan. Tak di pungkiri jika mereka sama-sama merasakan sakit di sekujur tubuh nya karena baku hantam yang tak jelas.


Memang benar, jika pernikahan Zevin dan Nazia sudah terdaftar karena semua sesuai prosedur sebelum pernikahan. Zevin mengurusnya dengan baik. Selesai cincin pernikahan nanti mereka akan melangsungkan pernikahan dan resepsi nya.


...----------------...


Nazia sedang berada di apartemen Zevin karena pria itu memintanya datang. Tapi, setelah lama menunggu Zevin belum juga pulang. Nazia berniat pergi namun saat membuka pintu, ia di kejutkan dengan kedatangan Zevin yang  berantakan. Kemeja lusuh dan sobek, wajah lebam penuh luka serta tubuh sempoyongan di papah penjaga keamanan gedung.


"Ap—apa yang terjadi ? Kenapa bisa seperti ini?" Nazia menangkup wajah Zevin dengan telapak tangannya yang gemetar.


"Maaf nona, dokter Zev tidak mampu naik sendirian."


"Terimakasih, Pak. Bantu saya membawa nya ke kamar." Nazia terisak dalam keterkejutannya.


Dengan setengah kesadarannya Zevin melihat wajah Nazia yang cemas dan menangis. Pria paru baya itu membaringkan tubuh Zevin dengan perlahan. Lalu setelah nya meninggalkan kamar.


"Kamu kenapa, Zev ? Siapa yang melakukan ini?" Suara Nazia pelan hampir tak terdengar.


Ia meraih ponsel lalu menelpon Erik untuk datang. Sambil menunggu , Nazia mengganti kemeja calon suaminya itu. Ia menyeka tubuh Zevin mengunakan handuk dan air hangat sambil mengoleskan salep di tempat yang memar.


Terdengar ringisan pelan dari bibir Zevin yang membengkak. Pintu terbuka nampak Erik dengan wajah cemas menghampiri kasur.


"Apa yang terjadi, Nona?"


"Tidak tahu, Rik. Ayo bantu ganti celananya, pakaikan yang pendek saja biar mudah membersihkan kakinya. Aku menunggu di luar." Ujar Nazia.


Erik mengangguk lalu mengganti celana Zevin. Sempuluh menit kemudian Nazia masuk kembali dan membersihkan kaki pria itu.


"Zev...Bangun minum obat nya dulu." Nazia mengelus lembut pipi Zevin.


Pria itu mengerjab lalu tersenyum.  Ia menerima obat dan meminum nya tak lama tertidur kembali. Nazia pergi ke dapur untuk memasak tak lupa mengabari Ivan jika dirinya tidak pulang karena merawat Zevin yang sedang sakit. Sebenarnya juga ada alasan lain, karena Nazia ingin tahu apa yang terjadi ? Erik menghampiri Nazia dan duduk di meja makan.


"Bagaimana keadaan tuan Zev?" Tanya Erik sambil menuang air kedalam gelas.

__ADS_1


"Tidur, aku memberinya obat pereda nyeri. Menurutmu apa yang terjadi, Rik ?"


"Tidak tahu nona. Selama ini tuan Zevin belum pernah mengalami ini semua." Jawab Erik meletakkan kembali botol air dingin kedalam kulkas.


"Nanti aku tanyakan setelah dia bangun." Ucap Nazia seraya mematikan kompor.


"Nona, saya pulang agak malam. Bisakah anda menemani tuan sebentar?" Ujar Erik.


"Baiklah... aku akan menginap disini, aku tidak tega meninggalkan dia dalam keadaan seperti itu."


"Terimakasih Nona, anda bisa menempati kamar tamu." Balas Erik.


"Makan dulu semua sudah siap." Ujar Nazia meletakkan mangkuk sayur yang baru selesai dimasaknya.


Erik mengangguk lalu mengambil piring di temani Nazia duduk menghabiskan makanannya dengan lahap.


"Saya berangkat, Nona." Pamit Erik.


Nazia mengangguk sambil membereskan piring bekas makan Erik. Usai mencuci, ia masuk kembali ke kamar. Terlihat Zevin seperti menggigil kedinginan, Nazia menempelkan punggung tangannya ke kening.


"Ya Tuhan kamu demam, Zev !" Nazia mengambil peralatan medis.


Suhu tubuh Zevin meninggi, karena terlalu lemas Nazia terpaksa memasang infus, dan menyuntikkan beberapa cairan obat yang diperlukannya.


Nazia menelpon Ivan untuk datang ke apartemen Zevin dan membawa baju ganti untuknya. Ia menekan perut Zevin terdengar pria itu meringis, Nazia menyingkap bajunya terlihat kulit perut Zevin memar, sewaktu membersihkan tubuhnya tadi belum terlihat. Nazia mengompres nya lalu mengoleskan salep, ia semakin berfikir apa yang terjadi sebenarnya? Hampir empat puluh menit terdengar suara bel di luar.


"Kak Zev sakit apa, Zi?" Tanya Ivan yang baru datang.


"Kamu lihat sendiri dia demam tinggi." Jawab Nazia menutup pintu kembali.


Ivan mengikuti Nazia masuk kedalam kamar Zevin. Matanya terbelalak melihat kondisi pria itu yang babak belur.


"Ya Tuhan kamu kenapa kak Zev ? Apa Zizi melakukan KDRT ? Kemana  wajah tampanmu?" Ivan heboh dan sedikit berteriak.


"Syutt, jangan berteriak ! Nanti dia bangun. Zev pulang dalam keadaan begitu." Jelas Nazia. Tangannya merapikan anak rambut Zevin yang sedikit menutupi wajahnya.


"Apa kak Zev di rampok?" Ivan membulatkan matanya lalu naik ke atas kasur meringkuk disisi Zevin.


"Entahlah ! Aku mau mandi, sekarang kamu masak bubur untuknya, kita tanyakan setelah dia bangun." Ucap Nazia sambil melangkah masuk ke kamar mandi.


"Baiklah." Jawab Ivan patuh melenggang menuju dapur.


Lima belas menit kemudian, Nazia sudah selesai mandi dan wajahnya sudah lebih segar. Wangi aroma sabun dan shampo miliknya yang dibawa Ivan tadi menyeruak ke dalam hidung Zevin yang mulai bangun.


Pelan-pelan mata Zevin terbuka mencari sumber aroma itu. Setelah melihat, ia tersenyum.


"Sayang..."


"Sudah berkurang, terimakasih sudah merawatku." Zevin mencium telapak tangan Nazia.


"Jangan banyak bergerak ! Kamu hutang penjelasan padaku."


"Iya, sayang." Jawab Zevin  berusaha duduk.


Nazia refleks berdiri membantu tanpa sadar tubuh bagian depannya dekat dengan wajah Zevin. Aroma tubuhnya begitu wangi, tidak membuang kesempatan Zevin langsung menarik  tubuh gadisnya itu dan membenamkan wajahnya di dada Nazia.


"Hei, apa yang kamu lakukan?"


"Aku merindukanmu, sayang."  Zevin memejamkan mata sambil bicara. Ia dapat mendengar detak jantung Nazia yang cepat.


"Kamu makan dulu ya Ivan pasti sudah selesai memasak bubur nya." Nazia mengusap lembut pundak Zevin.


Pria itu mengangguk tak lama Ivan masuk datang membawa nampan bubur. Nazia menyuapi Zevin dengan hati-hati.


"Apa yang terjadi, Kak?" Tanya Ivan duduk di tepi kasur.


"Aku bertemu Alby kami saling pukul."


"Lalu kakak tumbang ? ternyata pertandingan di menangkan Alby." Ejek Ivan.


"Hei, aku tumbang bukan karena itu ! Tapi memang kondisi tubuhku kurang sehat hari ini." Jelas Zevin terlihat kesal.


"Aku akan menemuinya." Kata Nazia meletakkan mangkok yang telah kosong kedalam nampan.


"Jangan, sayang ! Aku tidak mau dia merebutmu dariku. Dia meminta aku meninggalkanmu. Aku mohon jangan temui dia aku takut, Zi."  Zevin menjadi panik lalu menarik Nazia kedalam pelukannya.


"Kamu percaya padaku?"


"Aku percaya, sayang." Jawab Zevin. Mata mereka bertemu sesaat sambil menyelami perasaan masing-masing.


"Maka dari itu biarkan aku menemuinya."


"Untuk apa ? Kalau dia berniat jahat padamu, bagaimana?" Zevin merasa cemas. Sebenarnya tak rela jika Nazia berduaan dengan Alby.


"Tenanglah, satu jam lagi aku kembali. Van, temani Zev sebentar."


Nazia langsung menarik tas dan mengambil kunci mobil tak lupa membawa ponselnya. Zevin berteriak memanggilnya tidak dihiraukan dengan langkah lebar Nazia menuju pintu apartemen. Ia menghubungi Jimmy agar menyampaikan pada Alby jika dirinya ingin bertemu.


...----------------...


Di tempat lain Alby berbinar senang karena Nazia memintanya bertemu. Tak lupa memesan satu buket bunga kesukaan mantan kekasihnya.

__ADS_1


"Jim, aku berangkat sendiri." Ucap Alby. Senyum di wajahnya semakin lebar.


"Silahkan tuan hati-hati di jalan."


"Iya, kamu istirahatlah ! Besok kita lanjut lagi di kantor !" Balas Alby sambil melenggang pergi.


Nazia sudah menunggu tiga puluh menit di dalam kafe tempat janji temu mereka. Belum lagi ponselnya tidak hentinya bergetar karena Zevin selalu menelponnya.


"Maaf membuatmu lama menunggu." Ucap Alby tersenyum.


"Tidak masalah silahkan duduk."


Nazia melihat wajah Alby serupa dengan wajah Zevin walau pun telah memudar.


"Ini untukmu." Alby meletakkan bunga yang dibawanya.


"Puas baku hantamnya?" Tanya Nazia. Raut wajahnya terlihat sangat kesal.


"Maaf... aku terbawa emosi." Balas Alby. Matanya menatap sendu pada wanita di seberangnya.


"Al, di antara kita sudah selesai." Ucap Nazia pertama kali menyebut nama Alby setelah sekian lama.


"Belum, Zi ! Aku menyesal karena melepasmu. Beri aku satu kesempatan lagi bersamamu, aku akan membuktikan semuanya, aku  tidak akan menyia-nyiakan kamu lagi." Ucap Alby dengan wajah memohon.


"Kesempatan itu tidak bisa kuberikan padamu lagi karena saat ini, aku jadi milik orang lain."


"Aku yakin perasaanmu pada  Zevin hanya sesaat Zia." Kata Alby.


"Kamu salah, Al ! Perasaanku nyata dan pada awal nya perasaanku memang pernah ada untuknya. Dia cinta pertamaku yang aku ceritakan waktu itu padamu dan sekarang dia  menjadi yang terakhir untukku" Jelas Nazia.


"Maafkan aku Zia, aku tidak sanggup melihatmu bersamanya. Kehilanganmu membuat aku sadar, kamu sangat berharga untukku, kembalilah padaku." Kata Alby   terdengar pita suaranya bergetar dan berat.


"Aku tidak istimewa, Al. Yang harus kamu perjuangkan. Aku dan dirimu berbeda, kita tidak sama. Lingkungan hidupmu, pergaulanmu, tidak bisa aku jangkau. Jadi, biarkan aku melangkah dengan kehidupanku sendiri. Dan kamu cobalah melangkah di lingkunganmu sendiri. Aku yakin Tuhan sudah menyiapkan seseorang yang pantas untukmu yang pasti bukan aku." Kata Nazia panjang lebar. 


Meski pun sebenarnya Zevin lebih dari segalanya tapi pria yang dicintai Nazia itu dapat mengimbangi  dirinya.


Alby terdiam matanya merah dan berkaca. Sekarang ia sadar luka yang diberikannya pada Nazia sangatlah dalam. Buktinya tidak ada kesempatan kedua untuknya. Padahal dia salah, sebelum menikahi Sherin dalam diam Nazia mengharapkan agar kembali. Tapi Alby benar-benar tidak menginginkannya sampai akhirnya Nazia menutup hatinya.


"Zia ayo temani aku makan." Ucap Alby berusaha tegar. Memecah keheningan yang sempat menyela mereka berdua.


"Baiklah."


Mereka berdua menghabiskan waktu dengan makan malam bersama diselip perbincangan ringan. Alby tersenyum canggung mendengar Nazia berceloteh.


"Al, sepertinya aku harus pulang." Nazia  Meraih bunga yang diberikan Alby.


"Aku antar."


"Terimakasih, Al ! Tapi aku bawa mobil sendiri."


"Baiklah hati-hati di jalan." Alby berdiri dari tempatnya duduk mengantarkan sampai ke parkiran.


Alby masih berdiri melihat mobil Nazia yang perlahan menjauh. Kemudian Ia bergegas masuk ke dalam mobilnya lalu menginjak pedal gas. Dadanya sangat sesak, air mata yang di tahannya sejak tadi akhirnya tumpah juga. Mobil Alby berhenti di taman tempatnya menyatakan cintanya dulu pada Nazia. Ia keluar dan melangkah menuju kursi tempat namanya dan Nazia terukir di sana. Tak hanya itu, tanggal mereka memulai hubungan pun ada di sana.


Ia meraba ukiran tulisan itu, bibirnya terkatup agar suara tangisnya tak terdengar. Alby menangis sepuasnya sambil menggenggam kotak cincin di tangannya. Ia meluapkan perasaannya melalui air mata.  Hari ini Nazia menegaskan jika tak mungkin kembali lagi bersamanya.


...----------------...


Zevin sudah gelisah menunggu Nazia. Wajahnya perlahan kembali seperti semula hanya tersisa lecet di kening dan di sisi bibirnya.


"Ayolah kak duduk." Ivan mulai pusing karena Zevin mondar mandir tak karuan.


"Zi,  belum pulang. Van ! Bagaimana jika terjadi sesuatu ? Dan bagaimana jika Alby melakukan sesuatu yang buruk?"


"Aku pulang."


Zevin melangkah cepat. "Kamu baik-baik saja?" Ucapnya menarik tubuh Nazia dan memeluknya erat.


"Aku baik-baik saja. Kenapa kamu turun dari kasur?"


"Aku mencemaskanmu, sayang. Makanya aku melepaskan infusnya." Zevin menangkup wajah calon istrinya itu dengan telapak tangannya.


Nazia mengajak Zevin duduk di sofa.


"Semuanya sudah selesai." Ujarnya meletakkan bunga pemberian Alby di atas meja.


"Sayang, bunga ini dari siapa?"


"Alby."


Zevin mendengus kesal. "Taruh saja di sini ! Ayo ke kamar, aku mengantuk." Mulai manja dan cemburu.


"Baiklah... aku tidur di kamar tamu, setelah kamu tidur nanti"


"Tidak mau ! Kamu tidur denganku. Janji, hanya tidur tidak melakukan hal di luar batas." Ucap Zevin mulai posesif bergelayut manja di lengan Nazia.


"Ayo masuk ! Van... kamu tidur di kamar tamu nanti. Erik pulang malam."


Ivan mengangguk. "Iya Zi sayang, kak Zev istirahatlah ! Aku masih ingin menonton."


"Jangan memanggil Zi seperti itu. Hanya aku yang boleh." Zevin masih menggerutu di depan pintu kamarnya.

__ADS_1


Ivan terkekeh senang menggoda Zevin adalah kebahagiaan tersendiri untuknya. Zevin sengaja mengajak Nazia tidur bersamanya karena tidak ingin calon istrinya itu memikirkan pertemuannya dengan Alby beberapa jam lalu.


__ADS_2