Suami Manja Dokter Zi

Suami Manja Dokter Zi
Alasan untuk bertahan


__ADS_3

Suasana seketika kacau saat Zevin menarik kopernya untuk pergi dari rumah ibu Mira, semua orang berdiri di belakang Nazia dan Vian. Zevin masih melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Rumah ibu Mira yang memanjang membuat pintu keluar itu terlihat jauh. Erik selalu setia mengikuti langkah Zevin untuk pergi, bahkan pria itu tak berniat menghentikan Tuannya.


"Selangkah lagi kamu maju ! Maka jangan pernah berharap bisa bertemu denganku. Aku bersumpah tidak akan mau mengenal seorang Zevin Kavindra !" Tegas Nazia. Sorot matanya berubah dingin dan datar suaranya juga terdengar lantang dan penuh keyakinan.


Zevin menghentikan langkahnya, berdiri mematung. Tapi tanpa ingin berbalik ke belakang. Penuturan Nazia yang baru di dengarnya mampu menghadirkan perasaan takut dan kecewanya bercampur menjadi  satu. Takut jika Nazia benar-benar melakukan sumpahnya itu. Kecewa karena tidak siap mendengar jawaban lamaran papanya pada Nazia.


"Katakan ! Satu alasan. Untuk apa aku tetap bertahan disini ?" Tanya Zevin tanpa mau menoleh.


"KARENA AKU MENCINTAI MU !"


Tubuh Zevin membeku sejenak, jawaban sejak lama ingin didengarnya kini terucap dari mulut Nazia. Matanya berkaca-kaca terharu, tapi ia belum ingin cepat mempercayainya siapa tahu kalimat itu hanya diterbangkan angin saja, lalu lewat untuk menyenangkan hatinya sesaat.


"Ka—kamu yakin ? Katakan sekali lagi." Ucap Zevin lemah. Koper di tangannya terlepas begitu saja.


"AKU MENCINTAIMU ZEVIN KAVINDRA JAYA"


Zevin berbalik dan tersenyum lalu membuka tangannya lebar-lebar, meminta Nazia berlari ke pelukannya. Seperti magnet gadis itu melangkah di pelukan Zevin. Rasa bahagia meliput keduanya. Di belakang mereka dua keluarga menyaksikan pernyataan cinta dari Nazia.


"Terimakasih...Aku mencintaimu, sayang." Zevin memeluk erat tubuh Nazia. Cukup lama mereka dalam posisi saling berpelukkan sampai suara dokter Radit memecahkan kesunyian.


"Ayo kembali duduk acara lamaran belum selesai."


"Aku tidak mau menikah dengan om Indra, Pa." Kata Nazia ketakutan.


"Jangan menolak !" Seru pak Indra melenggang menyusul dokter Radit.


"Ayo duduk dulu." Ajak Ibu Mira.


Zevin merasa tubuhnya sangat lemas sehingga melangkahkan kakinya saja ia susah. Rasa bahagianya melumpuhkan lututnya, hingga merasa tidak bertenaga. Karena cinta tak terlihat darinya selama bertahun-tahun, hari ini. Menjadi terlihat oleh wanita yang membuat


nya bersabar atas balasannya. Nazia membalas perasaannya.


"Rik, bantu aku ke sana tubuhku lemah seperti tidak bertenaga." Zevin melambaikan tangannya.


"Tidak jadi pergi, tuan ?" Ejek Erik. Wajahnya sangat menyebalkan setelah mengeluarkan kalimat ejekan itu.


"Pergi ? Jadi kamu ingin aku pergi !" Zevin kesal.

__ADS_1


"Untuk marah saja kamu bisa. Tapi melangkah kesini kamu tidak mampu." Ucap Vian.


"Tenggorokanku tidak perlu pakai tenaga jika untuk memaki."


"Di khayalan saya tadi, anda akan pergi jauh atau frustasi di kamar apartemen. Mengurung diri dan menghabiskan beberapa botol anggur, lalu meracau nangis di dalam kegelapan." Seru Erik berpangku tangan bersandar di dinding.


"Silahkan kecewa karena khayalan mu itu tidak menjadi kenyataan. Ayo cepat bantu aku !"  Zevin melangkah pelan.


Erik terkekeh lalu mendekat membantu Zevin melangkah bersama Nazia, setelah di ruang keluarga mereka duduk kembali.


"Huh, baru saja Nazia mengucapkan kata cinta, kamu sudah tidak berdaya bagaimana jika membuat cucu untuk papa?" Cibir pak Indra.


"Cucu ?"


"Iya cucu ! Kamu pikir papa melamar Zi untuk jadi istri papa?" Balas pak Indra kesal


Zevin mengangguk. "Iya, bukankah, Papa menyukai, Zi?"


"Papa menyukai, Zi.  Bukan untuk jadi  istri kedua. Tapi untuk dijadikan menantu dan kamu harus berterimakasih karena papa mengurung, Zi. Membuatnya menyadari ada cintanya untukmu." Jawab pak Indra menggebu. Ingin rasanya menghadiahkan putra tampannya itu dengan jitakan mautnya karena terlihat sangat bodoh.


Zevin terkekeh tanpa dosa setelah mencurigai papanya. Mana mungkin pak Indra menukar posisi ibu Felisya dengan Nazia yang pantas jadi putrinya.


"Jadi om sengaja mengurungku?"


"Iya, Nak." Jawab Pak Indra tersenyum hangat.


"Terimakasih, Pa."


"Harusnya kamu berguru pada, Om." Seru dokter Radit.


"Bagaimana, Zi. Apa kamu menerima lamaran Om Indra?" Tanya pak Bram.


"Tunggu om biar aku yang melamar, Zi." Sela Zevin.


"Itu lebih baik." Sahut kakek Ardian.


Zevin memperbaiki posisi duduknya lalu menghadap pada Nazia. Di tatapnya lekat dua bola mata indah itu dan berkata. "Sayang... maaf, aku belum sempat menyiapkan lamaran romantis untukmu. Tapi malam ini adalah malam bersejarah untukku, malam yang indah melebihi lamaran romantis .Walaupun terkesan dadakan dan konyol dari rencana papa. Malam inilah yang akan kita ingat sampai nanti rambut ini memutih. Nazia Mishall ! Maukah, kamu menikah denganku ?" Jantung Zevin berdetak lebih cepat menunggu jawaban Nazia. Meskipun tahu perasaannya terbalas tapi tak memungkiri jika Zevin takut Nazia berubah pikiran.

__ADS_1


Wajah Nazia semakin panas dan memerah tanpa ragu ia menjawab. "Iya... aku mau menikah dengan mu."


Tepuk tangan menggema di ruang keluarga rumah ibu Mira. Mereka saling merangkul dan memeluk disertai ucapan selamat. Kini Zevin kebingungan karena tidak mempersiapkan cincin lamaran.


"Ma, cincinnya mana?" Tanya Zevin. Menghentikan gumam-gumam bahagia sejenak.


Semua orang tertawa baru kali ini ada lamaran tapi tidak membawa cincin. Erik menghampiri Zevin dengan kerennya mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya.


"Ini tuan cincinnya." Erik memberikan kotak cincin berwarna maroon.


Zevin menerima kotak itu dari Erik. "Seperti kamu saja yang sedang lamaran."


Erik terkekeh mendengar perkataan atasannya itu.


"Bukalah!" Ucap Ibu Felisya.


Mata Zevin membulat sempurna lalu memeluk papa dan mamanya bergantian. Kebahagiaannya dua kali lipat setelah melihat dua bingkai cincin di dalamnya. "Terimakasih Ma, ini cincin  yang ada di sketsa ku." Ucapnya sumringah


"Papa memesan cincin itu sebulan yang lalu meminta mereka membuat seperti sketsa mu." Jelas pak Indra.


Zevin menyematkan cincin itu ke jari manis Nazia begitu pun sebaliknya.


Rayya dan Vian ikut bahagia malam ini. Akhirnya penantian sekian lama terbalas dengan indah. Cinta tak terlihat dari dua insan ini memang penuh cerita. Jika awal mula cinta Nazia yang tak di mengerti Zevin maka sebalik nya, saat Nazia menjatuhkan pilihan pada pria lain. Cinta Zevin yang tak di mengerti oleh Nazia. Bertahun-tahun menahan cemburu dan sakit hati karena wanita pujaan hatinya berlabuh pada hati yang lain maka Zevin memilih mencintai dengan caranya sendiri selama ini.


Karena sudah malam mereka saling berpamitan untuk pulang tapi tidak untuk Zevin ia merengek tidak mau pulang.


"Aku tinggal disini saja ya, Pa ! Ma." Ucap Zevin. Wajahnya memelas dan manja.


"Anak ini, kamu belum resmi jadi suami, Zi. Ayo pulang !" ibu Felisya menarik tangan putranya.


"Ma, aku masih merindukan, Zi. Siapa suruh mengurungnya selama satu bulan." Zevin masih belum beranjak dari sisi Nazia.


"Erik ! Ayo seret anak itu !" Seru pak Indra.


Zevin mau tidak mau menurut karena Erik sudah menarik tangannya. Ia melangkah malas keluar dari rumah.


"Sayang, aku pulang ya" Pamitnya pada Nazia. "Mertua mu itu jahat pada kita. Tanpa belas kasih memisahkan aku darimu." Sambungnya dramatis.

__ADS_1


"Iya hati-hati"


"Harusnya kamu menahanku, Zi ! Biar tidak pulang." Gerutu Zevin sambil masuk kedalam mobilnya.


__ADS_2