
Rumah Sakit Z.K
Nazia dan Rayya baru saja menyelesaikan praktek mereka, keduanya tengah berbincang di sofa. Hingga tak menyadari kedatangan dokter Yudha. Pria itu tersenyum dari kursinya saat melihat Nazia bercerita begitu antusias. Di kehamilannya yang menginjak dua bulan ini, ia terlihat bertambah cantik.
Tatapan Dokter Yudha tak dapat didefinisikan dengan mudah. Ada sedih, senang dan kecewa di dalamnya. Dokter Yudha mampu menutupi semua itu dengan senyum khas miliknya.
"Kapan kau masuk?" Rayya baru menyadari jika tak hanya dirinya dan Nazia saja di dalam ruangan itu.
"Sudah beberapa menit yang lalu, kalian asyik bercerita sampai tidak menyadari aku masuk begitu saja."
"Maaf kami tidak melihatmu masuk." Ucap Nazia tulus.
"Tidak masalah, ayo makan siang !" Ajak dokter Yudha.
"Ayo."
Hari ini Nazia tidak makan siang bersama suami tercintanya karena Zevin sedang mengunjungi lokasi proyeknya yang hampir selesai. Pagi buta dia sudah berangkat bersama Erik, karena tidak ingin menantunya menyetir sendiri ke rumah sakit. Pak Indra mengutus sopir pribadinya untuk menjemput Nazia dan mengantarkannya ke rumah sakit.
Nazia , Rayya dan dokter Yudha duduk satu meja. Mereka memilih makanan masing-masing. Tak lupa perhatian-perhatian kecil dari dokter Yudha untuk Nazia, meski pun enggan dan canggung tapi Nazia tetap menghargainya, ia tidak ingin menyinggung perasaan orang lain.
"Zi, boleh bicara berdua setelah makan siang." Kata dokter Yudha penuh harap.
Rayya dan Nazia saling pandang sejenak demi suaminya yang suka cemburu lembut. Lalu Nazia berkata.
"Maaf dokter Yudha, jika bicara hanya berdua aku tidak bisa. Kamu pasti mengerti posisiku." Ia berucap dengan nada sangat lembut.
"Aku mengerti ! Baiklah setelah ini ada yang ingin kuberitahukan pada kalian khususnya kamu, Zi." Ujar dokter Yudha tersenyum. Nazia dan Rayya mengangguk menyetujui
Mereka menghabiskan makan siang tanpa bicara lagi, sejauh ini selera makan Nazia tidak berubah dari sebelumnya. Hanya Zevin yang selalu cerewet dan banyak maunya.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" Tanya Nazia menyeka mulutnya menggunakan tissue menyudahi makannya.
Dokter Yudha tersenyum lalu melepaskan kaca matanya dan merubah tatanan rambutnya. Ia beralih melihat pada Nazia ingin tahu reaksi wanita itu, Benar saja Nazia memfokuskan penglihatannya pada wajah dokter Yudha. Wajah yang tampan tertutup tatanan rambut yang berbelah samping selama ini, lalu sorot mata tegasnya tertutup kacamata putih miliknya yang selalu menempel cantik di wajahnya. Nazia seperti pernah melihatnya tapi di mana? Dan kapan?
Lengkungan senyum yang berciri khas menampilkan gigi gingsulnya. Nazia semakin yakin jika ia pernah melihat dokter Yudha, tapi ia lupa. Apa mereka saling mengenal sebelumnya?
Rayya juga ikut terpesona melihat tampilan dokter Yudha, senyum lebar yang belum pernah ia lihat. Bahkan ketampanan suaminya tidak apa-apanya dibandingkan dokter Yudha.
Kapan lagi bisa menikmati ketampanan pria, jika tidak saat seperti ini.
Rayya masih enggan mengalihkan pandangannya.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanya Nazia masih memperhatikan wajah dokter Yudha.
"Kamu pasti lupa padaku."
Nazia mengangguk.
__ADS_1
"Iya maaf, jadi... Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Ucapnya lirih.
"Iya, aku belum sempat mengucapkan terimakasih yang benar padamu dipertemuan terakhir kita." Ucap Yudha menatap lekat bola mata indah milik Nazia.
Nazia terkejut. "Untuk apa kamu berterimakasih? Apa yang sudah kulakukan untukmu?" Tanyanya heran.
Yudha tersenyum lagi.
"Karena kamu sudah menolongku dan mama. Terimakasih karena hari itu kamu dan tante Mira memecahkan tabunganmu untuk membantu biaya pengobatan mama." Terdengar kalimatnya begitu tulus.
"Kak Pras !" Lirih Nazia. Matanya berkaca-kaca karena terharu.
"Iya ini aku, Zi ." Dokter Yudha senang bercampur haru karena Nazia bisa mengingatnya.
"Kenapa tidak memberitahuku jika kamu adalah kak Pras? Bagaimana kabar Tante? Dan kemana saja kamu setelah malam itu?" Cerca Nazia mengusap buliran air mata di pipinya.
"Maaf, aku hanya memastikan jika kamu benar-benar Nazia yang aku cari."
"Sejak kapan kamu tahu bahwa aku orang yang kamu cari?"
"Saat aku akan pindah ke rumah sakit ini. Dulu aku juga kuliah di tempat yang sama denganmu. Tapi aku tidak mengenalimu, setelah beberapa orang alumni menceritakan tentang peristiwa kecelakaan tunanganmu waktu itu, aku jadi penasaran lalu mencari tahu tentangmu dan mencari rumah sakit tempatmu bekerja." Jelas Yudha.
"Lalu di mana, Tante ?"
Yudha menundukkan wajahnya sebelum menjawab pertanyaan Nazia. Nampak sekali jika pria ini menyimpan cerita pilu sendiri. Ia menghela nafas berat lalu berkata.
"Setelah mama dibawa ke rumah sakit malam itu, orang suruhan nenek datang membawa paksa aku untuk pergi dari rumah sakit. Mereka mengetahui tempat tinggal aku dan mama yang baru. Setelah papa meninggal, keluarga nenek tidak ada yang menyukai mama. Maka dari itu, mereka hanya membawaku tapi tidak dengan mama. Dua hari setelahnya, begitu ada celah aku lari dari rumah Nenek dan pergi menemui mama di rumah sakit. Aku mencoba mengisi pulsa di ponsel mama dengan uang tabungan milikmu yang disimpan tante Mira di dompet mama. Beruntung nomor paman masih bisa dihubungi, aku memberitahukan keberadaan kami. Paman datang setelah menempuh perjalanan satu hari penuh. Tapi Tuhan berkehendak lain, mama meninggal di rumah sakit setelah kedatangan paman. Mulai saat itu aku diadopsi oleh paman dan tinggal bersamanya ." Cerita Yudha.
"Iya, beberapa jam setelah kedatangan paman, mama menghembuskan nafas terakhirnya. Karena tidak ingin Nenek mengambilku lagi. Paman langsung membawa kami pulang ketempatnya dan memakamkan mama di sana, uang dari tabungan itu sangat membantu biaya perjalanan kami dan biaya rumah sakit mama. Walau pun paman membantu kujuga saat itu." Kata dokter Yudha terkekeh. Ia sangat ingat uang tabungan milik Nazia itu yang digunakannya untuk membayar rumah sakit serta biaya perjalanan pulang membawa jenazah ibunya.
"Kenapa kamu bisa kuliah di tempat yang sama denganku?" Tanya Nazia. Ia sudah seperti wartawan memberondongkan banyak pertanyaan pada dokter Yudha.
"Karena paman menikah dengan wanita dari kota ini, makanya aku juga pindah dan masuk ke kampus itu. Aku mencarimu di rumah lama tapi tidak menemukanmu atau pun tante Mira, tetangga memberitahuku kalian pindah rumah. Aku tidak tahu jika Nazia Mishall satu kampus denganku adalah orang sama dengan teman masa kecilku. Setelah aku yakin kamu memang Zi yang kucari, akhirnya aku menerima rekomendasi dari rumah sakit sebelumnya." Jawab dokter Yudha
"Harusnya kamu memberitahuku lebih awal, mama pasti senang jika tahu dokter Yudha adalah kak Pras, anak laki-laki tangguh di zaman itu." Ucap Nazia ingat betul bagaimana perjuangan Yudha merawat ibunya dan sambil sekolah lalu berjualan kue milik tetangga.
"Mauku memang begitu, tapi fakta yang merubah pikiranku. Setelah aku berkerja di sini ternyata kamu adalah calon istri orang lain, aku takut jika calon suamimu salah faham jadi aku memutuskan untuk diam saja, tapi setelah kuperhatikan dokter Zev bukan tipe pria kasar dan cemburu buta. Jika istrinya berteman dengan dokter pria makanya aku berniat memberitahumu lagi." Jelas dokter Yudha.
"Ternyata kalian dipertemukan di usia sedewasa ini ya." Seru Rayya sejak tadi hanya fokus mendengarkan cerita dokter Yudha dan Nazia.
"Iya, Ay. Aku malah tidak mengenali kak Pras. Dia nampak berbeda dari waktu SMP."
"Ternyata kalian sibuk bernostalgia sampai mengabaikanku." Zevin datang dari arah belakang Nazia.
"Sayang !" Nazia terkejut.
Zevin tersenyum lalu mengecup lembut kening istrinya. "Aku mendengar semuanya. Ternyata istriku memiliki hati yang baik sejak kecil. Aku jadi iri padamu dokter Yudha bisa melihat bagaimana tumbuh kembang istriku di waktu kecil. Apa dia imut ? Bagaimana rupanya?" Zevin tersenyum membayangkan wajah istrinya dimasa anak-anak.
__ADS_1
Nazia mencebik kesal.
"Untuk apa kamu ingin tahu seperti apa rupaku masa SMP?" Ia menatap garang suaminya.
" Hanya penasaran sayang, apa kamu secantik ini?" Zevin terkekeh.
"Dia lebih cantik dan juga gemuk. Tapi sifatnya tidak berubah sama seperti ini." Sahut Dokter Yudha terkekeh melihat wajah kesal Nazia.
"Benarkah ? Aku semakin iri harusnya kamu jangan sering melihatnya waktu kecil. Itu bahaya karena kamu bisa jatuh cinta padanya." Ujar Zevin menatap lekat wajah istrinya yang memerah.
Dokter Yudha terkekeh.
Aku memang jatuh cinta pada Zi lebih lama darimu, tujuanku mencarinya adalah untuk menikahinya. Tapi kamu mendahuluiku ! Andai Zi tidak bahagia, maka sejak bertemu dengannya aku pasti merampas paksanya darimu. Tapi faktanya dia bahagia bersama mu jadi, biarkan saja CINTA TAK TERLIHAT ini kusimpan rapat di hatiku.
"Jadi ibumu sakit apa saat itu?" Tanya Zevin.
"Kanker rahim stadium akhir." Jawab Dokter Yudha sedih.
"Aku salut padamu bisa sesukses sekarang ini. Aku akan mendukungmu untuk menambah cabang toko roti milikmu." Kata Zevin. Perkataannya menyisakan tanda tanya dibenak tiga orang itu.
"Toko Roti? Apa Yudha punya toko Roti?" Tanya Rayya antusias
Nazia mengangguk membenarkan pertanyaan Rayya dan menatap suaminya seolah meminta jawaban.
"Iya, toko roti langgananmu sayang ! tempat Haris bekerja adalah milik dokter Yudha."
"Benarkah ? Aku tidak tahu, roti di sana sangat enak." Puji Nazia.
"Tak hanya rotinya yang enak penjualnya juga tampan !" Sindir Zevin.
Dokter Yudha terkekeh.
"Haris adalah anak panti, ia berasal dari panti asuhan Heru Janitra."
Nazia tersedak mendengar nama panti asuhan itu. Zevin mengusap punggung istrinya lembut.
"Kamu tahu sayang?"
"Iya, aku tahu cinta." Balas Zevin tersenyum.
"Tapi dari mana kamu tahu toko itu milikku?" Tanya dokter Yudha memberikan tatapan menyelidik.
"Aku tahu karena tidak sengaja melihatmu berbincang dengan Haris, saat itu aku membeli roti di sana. Kamu tidak mengenaliku, tapi aku mendengar percakapan kalian."
"Jadi kau menguping?" Tanya Yudha kesal.
"Aku tidak menguping ! Kamu saja yang berbicara sepeti toa nyaring sekali !" Kesal Zevin.
__ADS_1
Rayya dan Nazia tertawa, Zevin juga merasa lega karena keberadaan dokter Yudha tidak menjadi duri di rumah tangganya. Sekarang ia tahu hubungan dokter Yudha dan istrinya di masa lalu yang telah diceritakan Erik sebagai teman masa kecil istrinya.
MAAF HANYA UP SATU BAB UNTUK GANTI YANG HARI KEMARIN