
Sesuai janji kemarin. Kini Alby memasuki kantor milik Zevin, ia datang untuk menjemput Ralda. Dengan langkah penuh semangat Alby memasuki lift presdir tidak ada yang berani menegurnya karena para karyawan tahu, dia tak hanya teman untuk Zevin tapi juga rekan bisnisnya.
"Kamu sudah selesai?" Tanya Alby setelah tiba di depan meja Ralda.
"Ah, iya . Aku pamit dulu pada tuan Zev." Ujar Ralda menggunakan bahasa seperti biasa di kantor.
"Iya."
Ralda perlahan mengetuk pintu ruangan presdir, sampai terdengar sahutan dari Zevin di dalam sana.
"Permisi Tuan, saya pamit pulang lebih dulu." Pamit Ralda.
"Iya hati-hati. Jika pria itu macam-macam rontokan saja giginya." Jawab Zevin sengaja meninggikan suaranya agar Alby mendengarnya.
Ralda menutup kembali pintu dan menghampiri Alby yang tengah menunggunya dengan wajah sedikit kesal, tega sekali Zevin menyuruh Ralda merontokkan giginya.
"Ayo Kak," Ajak Ralda lembut.
"Ayo." Alby meraih tangan Ralda kedalam genggamannya. Mereka berjalan bagaikan sepasang kekasih bergandengan tangan sampai di bawah.
Alby membuka pintu mobilnya terlebih dulu lalu berkata. "Silahkan tuan putri."
Ralda tersipu malu. Wajahnya merona merah atas perlakuan Alby. "Jangan berlebihan, Kak."
Alby hanya tersenyum, ia sangat senang melihat wajah malu-malu Ralda. "Aku ingin mengajakmu ke pantai, kita akan melihat sunset di sana. Kamu mau?" Alby bertanya sambil memasang sabuk pengamannya.
"Aku mau, sudah lama aku tidak ke pantai. Terakhir aku pergi bersama kak Zevin dan kak Zi. Itu pun aku berakhir sebagai fotografer." Keluh Ralda.
Alby terkekeh. "Hari ini kamu bukan sebagai fotografer lagi, melainkan model wanitanya." Ucapnya sembari tersenyum.
"Wah, harusnya aku memakai bikini!" Ujar Ralda antusias.
Mata Alby melotot. "Coba saja, kalau kamu berani !" Ia sedikit mengancam.
"Kalau aku berani, kamu mau apa?" Tantang Ralda masih tersenyum.
"Aku akan menghukum kamu !" Ketus Alby tak rela berbagi pemandangan indah dari tubuh Ralda dengan orang lain.
Ralda terbahak, rasanya menyenangkan melihat wajah kesal pria di sampingnya itu.
"Cantik." Celetuk Alby kembali tersenyum.
Ralda menghentikan tawanya lalu kembali seperti semula. Ia juga malu kenapa bisa tertawa sampai terbahak seperti itu.
"Aku suka melihatmu tertawa lepas seperti itu." Ujar Alby tersenyum. Lagi-lagi Ralda salah tingkah. Mobil Alby berhenti di salah satu butik. Ia meminta Ralda turun bersamanya.
"Ayo turun, ini butik milik Kak Erika. Kamu gantilah dengan gaun yang telah kubawa tadi di dalam paper bag" Kata Alby.
"Kenapa harus ganti baju?" Tanya Ralda tak mengerti.
__ADS_1
"Mana ada orang pergi ke pantai mengenakan pakaian kantoran." Jelas Alby.
Ralda tersenyum lalu mengangguk. "Baiklah, ayo antar aku ke dalam." Ucapnya senang.
Alby menggenggam tangan Ralda untuk masuk ke dalam butik milik Erika.
"Kak." Sapa Alby.
Erika menoleh pada asal suara. Ia tersenyum karena Alby jarang berkunjung ke butiknya.
"Ada apa, Al? Dan siapa ini? Cantik sekali." Balas Erika ramah.
"Dia ingin ganti baju, jadi aku mengajaknya mampir ke sini." Jelas Alby.
"Silahkan masuk saja ! Jangan sungkan, kenalkan aku Erika kakaknya Alby" Erika mempersilahkan sekaligus berkenalan.
"Aku Ralda, Kak. Terimakasih sebelumnya karena mengijinkan aku ganti baju di sini." Ucap Ralda lembut. Di balas anggukan Erika.
Setelah Ralda masuk, Erika menghampiri Alby dan berkata. "Kamu belum menjawab kakak, siapa dia?" Ucapnya sedikit berbisik. Ia takut jika Alby mengencani banyak wanita.
"Calon adik ipar kakak." Jawab Alby santai.
"Jadi dia orangnya ! Pilihan yang bagus, dia ramah." Puji Erika tersenyum.
"Aku ingin ke pantai." Kata Alby tersenyum.
Tak lama Ralda keluar dengan mengenakan gaun pembelian Alby. Sangat cantik dan pas di tubuhnya. Alby bahkan tak berkedip melihatnya.
"Hei kedipkan matamu. Kau ingin bintitan." Seru Erika membuyarkan rasa kagum adiknya.
Alby mengerjapkan matanya beberapa kali, hal itu terlihat lucu. Hingga Erika dan Ralda tanpa sadar tertawa.
"Kalian mentertawakanku !" Alby memasang wajah kesal menggemaskan
"Maaf." Ucap Ralda dan Erika bersamaan.
"Ayo kita jalan ! Nanti keburu senja." Alby kembali menggenggam tangan Ralda.
"Kak, kami pergi dulu. Terimakasih telah meminjamkanku tempat untuk ganti baju." Ucap Ralda.
"Sama-sama, kamu sangat manis, sana berangkatlah ! Hati-hati di jalan." Balas Erika nampak bahagia telah lama ia menyaksikan adik kesayangannya itu tidak menampilkan wajah konyolnya. Semoga kamu wanita yang akan membuatnya selalu tersenyum, kesalahannya yang telah mencampakkan Zia membuat Al terpuruk sangat lama
Tanpa terasa, mobil Alby telah sampai di lokasi pantai. Nampak pantai itu sedikit sepi. Tapi tak membuat mereka kehilangan semangat untuk menikmati sunset.
Alby dan Ralda saling bergenggaman tangan menuju bibir pantai. Ralda dibuat takjub ada semacam tenda tanpa atap, berhiaskan bunga kesukaannya tiap sudut tiang tenda.
"Kita ke sana." Ajak Alby.
"Kamu menyiapkan semuanya." Tanya Ralda.
__ADS_1
"Iya, khusus untukmu." Balas Alby tersenyum.
Mereka berdua berdiri di dalam tenda itu. Tampilan mereka sangat cantik rambut panjang Ralda berterbangan lembut diterpa angin pantai.
Alby mengambil bandana yang terbuat dari bunga-bunga tergantung di tiang tenda. "Pakai ini." Ia memasangnya di kepala Ralda. "Cantik !" Ucapnya lagi.
"Terimakasih, aku sangat suka. Dari mana kakak tahu aku suka hal seperti ini?" Tanya Ralda.
"Rahasia." Ucap Alby tersenyum.
Mereka terdiam beberapa saat menikmati suara deburan ombak yang menghantam daratan. Alby berusaha menekan rasa gugupnya lalu berdiri memegang kedua tangan Ralda berdiri saling berhadapan. Dan ia berkata
"Ra, mungkin ini terlalu cepat. Atau proses perkenalan kita cukup terbilang singkat hanya hitungan bulan. Tapi hatiku meyakini diperkenalan kita beberapa bulan ini cukup untuk kumengenal kamu. Ra, hari ini, di tempat ini. Aku ingin memberi tahumu tentang isi hatiku yang mungkin terdengar seperti sebuah lelucon. Aku menyukaimu sejak pertama kita bertemu. Aku jatuh cinta saat pertama kali menatap matamu. Jantungku langsung berdetak cepat saat menyentuh tanganmu. Aku berdiri di sini bukan memintamu sebagai kekasih tapi aku melamarmu menjadi istriku. Ra, kamu mau menikah denganku?" Ungkap Alby. Percayalah setelah kata-kata itu terucap ia sangat takut.
Ralda diam saja, ia memilih menatap lekat dua bola mata Alby. Mencari celah kebohongan di sana, namun sayangnya hanya ada ketulusan dari tatapan nya.
Alby kembali berkata . "Aku bukanlah pria baik, tapi aku ingin berubah baik menjadi yang terbaik. Mungkin kamu meragukanku atas masa laluku yang kurang baik, tapi percayalah Alby yang berdiri di depanmu ini adalah pria yang terlahir baru. Bukan Alby yang hidup di masa lalu. Sekali lagi, apa kamu mau menikah denganku ?" Tanyanya kembali. Alby telah berkeringat dingin. Ia akan menerima dengan lapang dada apa pun jawaban Ralda nantinya.
Setelah lama bungkam akhirnya Ralda membuka suaranya. "Semua orang memiliki masa lalu, entah baik atau tidak. Dan aku tidak berhak menghakimi seseorang hanya karena masa lalu yang tak berkaitan denganku. Semua orang berhak berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Terimakasih karena memilihku untuk menjadi pelabuhan terakhirmu. Kak, Al. Aku menerima lamaranmu." Jawab Ralda tersenyum.
"Be—benarkah ? Kamu tidak bercanda?" Tanya Alby belum yakin.
"Ya, aku mau menikah denganmu." Jawab Ralda mantap
Alby meraih tubuh Ralda dalam pelukannya. Dan menghamburkan ciuman penuh kasih sayang di pucuk kepala Ralda. "Terimakasih ! terimakasih ! Karena mau menerima pria tak sempurna ini." Suara Alby bergetar tak disangka ia menitikkan air mata haru.
"Kamu mungkin tak sempurna, tapi kamu yang terbaik untukku." Ucap Ralda.
Alby semakin mengeratkan pelukannya, ia sangat bahagia. Akhirnya perasaan cintanya terbalas dengan baik oleh Ralda.
"Tuan, kapan memakaikan cincinnya !" Suara misterius membuyarkan keromantisan dua insan yang tengah berpelukan itu.
Alby dan Ralda saling melepaskan rangkulan mereka, nampak ah Jimmy berdiri tak jauh dari tenda sambil memegang kamera dan Jo pengawal Ralda yang belum lama ini mendampinginya. memegang ponsel untuk merekam moments itu.
"Sorry, Jim. Terbawa suasana." Balas Alby tersenyum. Ralda menundukkan wajahnya malu. Karena ada jimmy dan pria yang sering mengikutinya di sana.
Alby mengeluarkan kotak putih berisi cincin, ia menyematkan cincin itu kejari manis Ralda dan begitu sebaliknya lalu Alby mengecup punggung tangan Ralda. Tanpa disangka sebuah helikopter melintas menaburkan kelopak bunga yang menghujani Ralda dan Alby.
Nampak sekali, si penabur bunga di atas sana cemberut mendapat tugas dadakan. Siapa lagi kalau bukan Zevin dan Ivan.
"Selamat untuk kalian berdua." Ucap Nazia dan Rayya entah dari mana tiba-tiba ada di sana.
"Kak, Zi ! Dokter Ay ." Pekik Ralda terkejut.
"Pilihanmu pasti terbaik." Ujar Nazia tersenyum.
"Terimakasih, Kak." Ujar Ralda terharu.
"Zia, terimakasih mengajarkanku, tentang arti mempertahankan" Ujar Alby tulus. Di balas anggukan Nazia.
__ADS_1