Suami Manja Dokter Zi

Suami Manja Dokter Zi
29 Tahun Silam


__ADS_3

Setelah kejadian kemarin malam Nazia tidak lagi menampakkan dirinya di rumah sakit. Surat pengunduran dirinya sudah sampai di rumah sakit. Nazia menuruti permintaan sang ibu untuk tidak bekerja di rumah sakit milik keluarga Indra Jaya.


Ibu Mira banyak berdiam diri setelah pertemuan itu. Ada luka yang mendalam terpatri di dalam hati nya. Nazia dan Ivan ikut bersedih walau mereka belum tahu permasalahannya. Nazia juga tidak melakukan praktek sore hari karena ingin menemani sang ibu. Di kamarnya ibu Mira menatap dalam dan sendu pada bingkai foto mulai pudar di makan usian, ada foto hitam putih tercetak lumayan besar di dalamnya.


"Aku bertemu dengannya, Ayah." Ibu Mira mengusap air mata nya.


Ada kepedihan dalam air mata itu, tak seorang pun yang bisa menggambarkan rasa sakitnya. Dari balik pintu Nazia dan Ivan bisa melihat kesedihan di wajah Ibu Mira.


"Ma." Sapa mereka berdua.


Ibu Mira tersenyum lalu mengusap sisa air matanya. "Duduklah."


Nazia dan Ivan mendudukkan tubuh mereka di atas kasur ibu Mira. Lalu bersebelahan memeluk pelita hidup mereka itu.


"Ma, ayo makan !" Ajak Ivan.


Tante Mira mengangguk pelan menyetujui, ia juga menyesal lebih dari dua belas jam mengabaikan anak-anaknya.


...----------------...


Zevin menggenggam erat surat pengunduran diri Nazia. Hatinya sakit saat mendapati wanita pujaan hatinya itu tidak berada di rumah sakit hari ini. Dengan langkah tergesa-gesa Zevin masuk keruangan lalu mengambil tas kerjanya.


"Kamu kemana, Zev ?"


Zevin menghentikan langkahnya lalu menghembus nafas berat. Mungkin sudah saatnya menceritakan semuanya pada Rayya, bagaimana pun juga dia butuh teman untuk bertukar pikir.


Zevin duduk ke sofa di ikuti Rayya. Ia memberikan surat pengunduran diri milik Nazia. Mata Rayya membulat sempurna setelah mengetahui Nazia mengundurkan diri. Zevin menghela nafas lalu mulai menceritakan semuanya pada Rayya termasuk identitas yang disembunyikannya selama ini. Rayya mendengarkan dengan serius cerita Zevin sampai selesai.


"Aku akan menutup mulutku mengenai identitasmu dan untuk permasalahan keluargamu tanyakan kepada orang tuamu."


Zevin menunduk. "Aku sudah menanyakannya ,Ay. Tapi tidak ada yang menjawab."


"Kalau begitu pergilah temui, Zi. Bujuk dia agar menarik kembali surat pengunduran dirinya."


"Kamu benar ! Tadinya aku berniat untuk pergi ke sana." Balas Zevin.


"Pergilah hati-hati"


Zevin tersenyum tipis lalu beranjak dari sofa untuk keluar dari ruangan itu. Zevin mengendarai mobilnya dengan kecepatan rata-rata. Ia memutuskan akan bertanya pada ibu Mira, ada masalah apa sebenarnya di antara para orang tua itu ?


Mobil Zevin terparkir di depan rumah ibu Mira, perasaannya gugup saat turun dari mobil dan memencet bel rumah. Baru kali ini Zevin merasakan gugup dan takut saat berkunjung ke rumah Nazia.


"Kak Zev ! Ayo masuk."


"Iya, Zi. Ada di rumah?"


"Ada kak di ruang tengah." Ivan menutup pintu kembali.


Zevin melangkah masuk bersama Ivan menghampiri Ibu Mira dan Nazia.


"Tante ! Zi." Sapa nya tersenyum


"Duduk, Zev" Balas Ibu Mira hangat. Zevin mengangguk ada rasa canggung yang tidak pernah di rasakan sebelumnya.


"Kamu sudah makan?"


Zevin menggeleng pelan sambil menatap lekat wajah gadisnya. Ia merindukannya. "Ayo ikut aku ! Kamu harus makan dulu " Sambung Nazia lagi.


"Tidak, Zi ! Aku kesini ingin membicarakan tentang pengunduran dirimu." Kata Zevin

__ADS_1


Nazia melihat surat itu lalu berkata. "Mama melarang aku bekerja di rumah sakit milik keluargamu."


"Tapi kenapa?" Zevin ingin tahu alasannya.


Ibu Mira berpikir tidak seharusnya  membuat anak-anak muda itu bingung. "Makan dulu, Nak. Nanti tante ceritakan."


"Benarkah ? Baiklah, ayo, Zi !" Zevin kembali semangat. Nazia mengajak pria itu ke dapur lalu menyiapkan makanan untuknya. Dengan teliti Zevin memperhatikan gerak gerik Nazia. "Zi..." Panggilnya. Nazia menghentikan pergerakkan tangannya saat mengambilkan makanan. "Dengan atau tanpa persetujuan papa dan mama ! Aku tetap akan menikahi mu, aku tidak rela kamu jadi milik orang lain. Bukalah hatimu untukku lagi." Sambung Zevin.


Nazia melanjutkan mengambil lauk tanpa menjawab, lalu memberikan pada Zevin. Pria itu memakan makanannya dengan lahap. Tak hanya itu, ia juga memang lapar namun sebelumnya tidak berselera. Zevin melewati makan malam dan sarapannya karena terpikirkan permasalahan yang terjadi.


Usai Zevin makan mereka berempat berkumpul di ruang tengah. Ibu Mira mulai menceritakan masa lalu yang telah di kuburnya bersama jasad sang ayah.


...----------------...


Kilas Balik


Dua puluh sembilan tahun silam...


Di perusahaan besar seorang presdir tampan bernama Indra Jaya berkepribadian hangat selalu menjadi inspirasi kebanyakan orang. Karena kehilangan orang tua di usia muda menjadikan sosok Indra muda memiliki kepribadian yang baik, dia hidup mandiri dan di didik keras agar menggantikan sosok ayahnya yang telah tiada. Dua tahun setelah kepergian sang ayah. Indra juga kehilangan sang ibu karena kecelakaan.


Indra di didik oleh asisten almarhum sang ayahnya dengan ketat dan tegas. Asisten pribadi Almarhum pak Jaya yang bernama Heru bertekad menjadikan Indra seperti tuan besarnya itu. Didikan dan ilmu ia berikan pada pemuda yang akan menggantikan posisi sang ayah sebagai presiden direktur nantinya.


Tak hanya itu Indra juga memiliki sekretaris sang ayah yang bernama Ardian. Seorang sekretaris yang selalu membantunya. Pak Heru dan Pak Ardian bersahabat baik, mereka bahu membahu membantu si tuan muda agar terampil dan kuat. Maka dari itu Indra sangat menyayangi kedua orang yang berjasa dalam hidupnya ini.


Indra jatuh cinta pada putri Asistennya itu yaitu Mira putri pak Heru. Cinta kasih yang mereka jalani mulus tanpa ada hambatan. Sampai pada akhirnya tibalah mereka pada hari sakral yang di dambakan setiap pasangan.


Satu jam sebelum pernikahan , hal yang tidak terduga terjadi. Indra mendapatkan laporan jika pak Heru menggelapkan dana perusahaan berjumlah sangat besar.


Indra murka lalu batal menikahi Mira. Orang kepercayaannya telah mengkhianatinya. Pak Heru berusaha membela diri dengan tidak mengakui kejahatan itu. Tapi bukti begitu kuat tanda tangan dan cap basah tertera di atas kertas tempat pelarian dana itu.


Tanpa merasa iba Indra memerintahkan orang-orangnya menyeret pria tua itu ke kantor polisi bahkan tak memperdulikan air mata Mira yang memohon agar mempercayai ayahnya. Tak hanya itu demi menutupi malu pada seluruh tamu undangan, Indra menyetujui usul pak Ardian untuk menikahi putrinya Felisya.


Dengan perasaan luka Mira meninggalkan tempat pelaksanaan pernikahan itu. Baju kebaya dan riasan yang di pakainya sudah ia lepaskan. Kakinya gemetar melangkah menyusul sang ayah ke kantor polisi.


Dalam tangis ayah dan anak itu saling menguatkan. Tuntutan Indra tidak main-main. Pak Heru menjalani hari-hari tuanya di dalam jeruji. Pengacara yang yang ia sewa tidak bisa memenangkan perkaranya karena bukti benar-benar kuat.


Pak Heru hanya bisa pasrah begitu juga Mira belajar menerima kenyataan jika bahagia itu gagal menjemputnya. Indra menarik aset milik pak Heru untuk menggantikan dana korupsinya.


Mira terpaksa meninggalkan rumah mewahnya. Lalu pindah ke rumah kecil dari situlah perjuangannya di mulai. Sempat ia memohon pada Indra agar mencabut tuntutannya tapi bukan keringanan yang didapatnya tapi caci dan maki dari Indra.


Baru menjalani  kurungan  enam bulan dari Vonis yang ditentukan  Pak Heru jadi pesakitan sampai akhir nya ia meninggal dunia masih status sebagai seorang tahanan . Mira terpuruk, sekali lagi cobaan dahsyat menghampirinya. Hari bulan dan tahun ia lalui seorang diri dengan hati yang suram.


Kilas balik selesai


...----------------...


"Saat terberat mama mu  Hendrik datang." Sahut ayah Ivan. Ikut bergabung di ruang tengah.


"Papa."


"Om Radit." Nazia gegas mengulurkan tangannya


"Jadi om Radit papanya, Ivan?" Tanya Zevin.


"Iya." Jawab dokter Radit.


Matanya mengarah pada ibu Mira yang baru saja menyelesaikan ceritanya. Wanita paru baya itu masih cantik sama seperti dulu. "Apa kabar, Mir ?" Tanya dokter Radit tersenyum hangat.


"Kurang baik." Jawab Ibu Mira sedikit tersenyum.

__ADS_1


Pak Radit melihat pada Nazia. "Kamu sangat cantik, Nak ! Pantas saja Dokter Zev menggila."


"Papa sudah kenal sama kak Zev?" Tanya Ivan.


"Dokter Zev rekan kerja papa, sebenarnya kemarin papa ingin mengenalkan kalian berdua tapi, kamu malah lari kesini." Balas dokter Radit.


Ivan bersembunyi di belakang ibu Mira. Nazia mencuri pandang pada Zevin, ia terfikir perkataan dokter Radit. Jika dokter senior itu tahu perasaan Zevin padanya itu tandanya pria ini tidak main-main dengan perasaannya. Nazia merasa bersalah karena terlalu lama mengabaikan perasaan Zevin.


"Kamu kenapa?" Tanya Zevin


"A—aku, tidak apa-apa. Aku ke dapur dulu membuatkan minuman" Ucap Nazia gugup.


Zevin tersenyum tipis belum pernah ia melihat Nazia salah tingkah. Siang itu tak hanya dokter Radit yang datang tapi pak Bram dan ibu Sherly juga bergabung mereka sudah tahu cerita pertemuan Ibu Mira dan pak Indra.


Dalam hati kecil Ibu Mira masih mempercayai jika almarhum pak Heru tidak bersalah.


"Tante maafkan papa yang memilih mama sebagai istrinya." Ucap Zevin tulus.


Ibu Mira tersenyum hangat. "Tante tidak menyesali jika bukan tante yang menikah dengan papamu, tapi yang tante sesalkan adalah ketidak percayaan Indra pada kakek Heru. Bahkan hari pemakamannya pun dia tidak datang. Papamu seorang yang cerdas tapi dia tidak berniat mencari tahu kebenaran nya"


Zevin menunduk lesu. "Andai papa tidak gegabah dan mau mencari tahu mungkin kakek Heru bisa bebas"


"Harusnya kamu bersyukur karena tante Mira tidak jadi menikah dengan papamu, dengan begitu Zizi tetap ada untukmu." Sahut dokter Radit. Menepuk pundak Zevin.


"Om benar jika papa dan Tante menikah waktu itu aku dan Zi terlahir sebagai saudara." Ucap Zevin.


"Belum tentu juga ! karena yang terlahir belum tentu wujudnya kakak dan Zizi." Sambung Ivan.


Nazia tersenyum tipis meletakkan gelas jus di atas meja.


Dokter Radit menatap lekat wajah ibu Mira. Pria tua itu berkata. "Menikahlah dengan ku Mir"


Tiga anak muda itu terperangah mendengar lamaran dadakan dari dokter Radit. Ibu Mira tersenyum malu, ia sudah tahu jika kedatangan dokter Radi kali ini memang ingin melamarnya. Karena kepergian ibu Mira dua minggu lalu bersama Vino sudah bertemu dengan dokter Radit.


"Jangan bercanda, Dit !" Balas ibu Mira.


"Aku tidak bercanda lihat anak-anak kita mereka membutuhkan kamu dan aku." Ujar dokter Radit.


"Om mendahuluiku." Seru Zevin.


"Tidak ! Om sudah menyimpan perasaan ini selama dua puluh enam tahun sempat menguburnya beberapa tahun tapi kembali datang lagi" Jelas dokter Radit.


"Maksud, Om ?" Tanya Nazia.


Dokter Radit tersenyum. "Om dan papa mu mencintai wanita yang sama, tapi wanita itu lebih memilih Hendrik papa mu sebagai suaminya, pria biasa dan sederhana. Om berlapang dada menerima keputusannya itu dan menghadiri pernikahan mereka. Setelah kelahiran mu om pulang dan bertemu dengan almarhumah istri om, dia wanita baik sama seperti mama mu. Om kembali kesini atas bujukan papamu karena Ivan tidak ada yang merawatnya"


Ivan sesegukkan disisi ibu Mira. "Menikahlah ma dengan papa ! Aku ingin punya kedua orang tua yang lengkap walau mama bukan ibu kandungku, tapi aku menyayangi mama dan Zizi seperti mama dan saudara kandungku"


Ibu Mira tersenyum mengangguk setelah dapat persetujuan Nazia.


"Terimakasih, Ma." Ivan memeluk ibu Mira dengan rasa bahagia.


"Bagaimana denganku, Om?" Tanya Zevin.


"Maaf Nak, om tidak bisa berbuat apa-apa." Jawab dokter Radit.


Pak Bram dan Ibu Sherly sejak tadi menyimak ikut membuka suara. "Zev, papamu bukan lawan yang bisa dihadapi begitu saja, hanya ada satu cara cari tahu kebenaran masalah dua puluh sembilan tahun silam. Kakekmu dan kakek Heru teman baik pasti beliau tahu kakek Heru bersalah atau tidak, jika memang kakek Heru tidak bersalah maka ada kesempatan mu bersama Nazia. Tapi, jika kakek Heru benar melakukan nya maka dengan sangat berat kamu harus melupakan cintamu itu. Karena Indra tidak akan sudi menerima Nazia" Ucap Pak Bram.


Zevin menunduk sejenak sambil berfikir, wajahnya terangkat melihat kepada Nazia. "Aku tidak rela jika, Zi. Jadi milik orang lain. Meski pun papa nanti menentang nya aku akan tetap memilihnya."

__ADS_1


__ADS_2