
Rumah Sakit Z.K
Nazia praktek seperti biasa, begitu juga dengan Yudha dan Rayya.
"Selesai praktek aku akan menjenguk kakek Ardian. Apa tante Mira akan datang?" Tanya Rayya.
"Iya, Ay. Masih dalam perjalanan. Nanti Ivan menjemput mereka di bandara." Balas Nazia tengah bersiap pergi ke poli kandungan.
"Kemarin Sherin datang, anaknya demam tinggi. Sekarang dirawat di sini."
"Benarkah ? Nanti sebelum ke ruangan kakek kita menjenguk anaknya dulu." Nazia menenteng tas kerjanya
"Iya, ayo kita ke poli." Ajak Rayya. Nazia mengangguk, mereka memulai praktek seperti biasanya.
Di ruang rawat kakek Ardian, dokter Yudha memulai serangkaian pemeriksaan pada beliau. Di sana juga ada Zevin dan kedua orang tuanya.
"Bagaimana hasil CT scan nya?" Tanya Zevin berdiri di sisi ranjang kakeknya. Di ikuti oleh pak Indra dan Ibu Felisya.
"Pembuluh darah Kakekmu pecah, ada pendarahan di otak beliau dan sudah menyebar. Andai pun kita lakukan operasi maka peluangnya hanya 25 % ini juga karena faktor usia, setelah operasi kondisi beliau akan tetap seperti ini dengan kata lain beliau dapat bertahan dengan bantuan peralatan medis." Jelas Yudha.
"Sudah kuduga, hasil diagnosamu sama denganku. Lalu apa pendapatmu?"
"Aku juga bingung, Zev. Karena operasi atau tidak. Tetap hasilnya akan sama saja." Jawab Yudha.
"Bagaimana jika kita rujuk saja keluar negeri." Seru pak Indra.
"Maaf Om, bukan saya mendahului Tuhan. Tapi kondisi Kakek tidak memungkinkan karena sudah lemah saya khawatir beliau tidak mampu menempuh perjalanan jauh." Ujar Yudha.
Zevin dan kedua orang tuanya terlihat bingung, keputusan apa yang mereka ambil. Dengan peluang yang hanya 25%. Pak Indra masih berharap ayah mertuanya bisa disembuhkan walau nantinya tidak sempurna seperti sebelumnya.
"Peluangnya sangat kecil sayang." Seru Nazia datang bersama Rayya
Yudha tersenyum pada Nazia.
"Keputusan ada di tangan kalian pihak keluarga kakek Ardian." Ucapnya lembut.
Nazia menghampiri Yudha.
"Terimakasih, Kak. Sudah merawat Kakek." Kalimat tulus yang selalu diucapkannya.
Yudha mengangguk lalu beralih melihat pada Zevin. "Bagaimana denganmu?"
"Bersiaplah ! Setidaknya kita berusaha dulu hasilnya biar nanti Tuhan yang menentukannya." Balas Zevin menghampiri istrinya lalu mengecup keningnya lembut. Selalu cemburu lembut ketika istrinya tersenyum pada orang lain.
Pak Indra merogoh ponselnya dan menekan nomor nama pak Ali asistennya. "Pak Ali, siapkan jet milik Zevin, kita ke Jerman satu jam lagi." Titahnya
__ADS_1
"Baik, Tuan."
Panggilan diputuskan Pak Indra, ia mendekap tubuh istrinya yang terlihat sedih. Nazia juga menghampiri ibu mertuanya memberikan usapan lembut di punggung tangan ibu Felisya.
Pintu terbuka.
Ibu Mira dan dokter Radit datang bersama Ivan, mereka langsung masuk melihat kondisi kakek Ardian. Mereka mengambil penerbangan pagi. Kondisi yang sama persis seperti beberapa tahun yang lalu melanggar aturan di ruangan ICU.
"Sabar Fel, usia senja memang mudah terserang penyakit." Ibu Mira memeluk besannya itu.
"Terimakasih, Mir. Papa akan dirujuk ke Jerman."
"Benarkah ?" Ucap ibu Mira seraya menerima pelukan putri tercintanya.
"Benar, Ma. Satu jam lagi." Sahut Zevin memeluk kedua mertuanya.
Dokter Radit melihat hasil pemeriksaan Kakek Ardian, sebagai dokter senior ia sering menangani pasien seperti Kakek Ardian.
"Saranku, batalkan saja rujukan itu. Karena kondisinya melemah." Dokter Radit melihat layar monitor di sisi ranjang pasien.
Zevin segera melepaskan pelukannya dari Nazia dan melangkah lebar bersama Yudha ke sisi ranjang.
"Papa Radit benar, detak jantung Kakek menurun." Seru Zevin.
"Kasian Kakek, Ma. Sudah lelah diperjalanan tapi juga menahan rasa sakitnya juga." Seru Nazia.
Semua orang bergelar dokter di dalam ruangan itu melihat pada Nazia.
"Aku setuju, jika saat ini dilepas alat-alat itu. Maka kita pasti bisa melihat perubahan dari Kakek Ardian." Ujar Rayya.
"Aku juga setuju lebih baik bertahan di sini, rumah sakit ini banyak memiliki dokter-dokter hebat termasuk putramu." Ucap dokter Radit pada pak Indra.
Setelah mendengarkan bagai macam pendapat dan masukan akhirnya ibu Felisya berkata. "Baiklah, kita tetap di sini. Karena kondisi ayah memburuk dari sebelumnya."
Ivan memilih diam, ia tidak mengerti pembicaraan para dokter itu yang ia tahu hanya bahan mentah makanan serta perabotan dapur. Tapi ia juga ikut menenangkan ibu Felisya dan pak indra.
Di sana tidak lagi ada pembicaraan mengenai rujukan untuk kakek Ardian. Sambil menunggu perubahan kondisinya, anak menantu serta kerabat kakek Ardian sedang makan siang bersama di dalam ruangan tunggu. Walau pun diliputi rasa sedih tapi mereka harus makan mengisi perut dan tenaga untuk menghadapi kemungkinan yang akan terjadi.
Zevin bersandar di tubuh Nazia, ia meletakkan kembali tangannya diperut sang istri. Semua orang hanya bisa menggeleng tersenyum tipis, kemanjaan suami Nazia itu tidak bisa terlupakan dalam kondisi apapun.
Ia menjatuhkan kepalanya di pundak Nazia, matanya lurus menatap wajah kakeknya di atas ranjang yang hanya bersekat kaca pembatas.Terlihat sekali jika ia takut kehilangan sang kakek.
"Zev, kemarilah. Kalian juga sepertinya kondisi kakek semakin menurun." Seru Yudha tak beralih dari sisi ranjang kakek Ardian.
Semua orang bergegas menghampiri kakek Ardian, ada aliran air yang keluar dari sudut matanya yang tertutup. Entahlah, apa yang beliau rasakan saat ini dalam tidak sadarnya pun. Bisa mengeluarkan air mata.
__ADS_1
Ibu Felisya mendekat dan mengusap pelan air mata ayahnya. "Ayah, jangan menangis. Aku sudah bahagia bersama suami dan putraku, jangan memikirkanku lagi. Jika waktunya ayah kembali maka pulanglah dengan damai tanpa beban lagi. Aku anak ayah meminta maaf yang sebesar-besarnya pada ayah selaku orang tuaku atas kesalahan yang sengaja atau pun tidak. Begitu sebaliknya aku sudah memaafkan jika ayah punya salah padaku. Te—terimakasih menjadi ayah dan juga ibu terbaik untukku." Tangis Ibu Felisya pecah dikalimat terakhirnya.
Tak hanya dia yang lain juga ikut menangis, suasana seperti itu tak dapat mereka hindari tidak terlarut dalam kesedihan. Semuanya saling mengucap maaf dan memaafkan pada kakek Ardian. Setelah itu terdengar bunyi nyaring dilayar monitor semua mata melihat ke sana.
"Kakek sudah tiada." Ucap Zevin menangis.
Nazia meraih suaminya kedalam pelukannya. Sekali lagi mereka kehilangan sosok yang dicintai, ini pukulan kedua untuk Zevin. Jika dulu kehilangan sahabatnya maka hari ini ia kehilangan kakeknya. Tangis mereka pun pecah di sana, pak Indra terduduk lemas di atas lantai. Pria yang telah mendampinginya selama ini meninggalkannya untuk selamanya.
Dokter Yudha mencatat tanggal dan jam kepulangan kakek Ardian, hanya dia yang tidak mengeluarkan air mata walau sebenarnya dirinya pun ikut bersedih. Selama mengenal keluarga Indra, Yudha diperlakukan sangat baik oleh keluarga itu.
Yudha menghampiri Zevin yang tengah membenamkan wajahnya di ceruk leher istrinya. "Tenangkan dirimu, lihat kedua orang tuamu membutuh kalian berdua." Ia menepuk pundak Zevin.
Zevin menatap lekat wajah istrinya dan dibalas senyuman dan anggukan dari Nazia. Pertanda apa yang dikatakan Yudha benar adanya. Zevin harus menjadi kuat agar bisa menguatkan pak Indra dan ibu Felisya.
Pak Ali, Erik dan Ralda datang bersamaan. Setelah mendapat telpon dari pak Ali jika, kakek Ardian akan dirujuk. Setelah menunggu satu jam belum ada konfirmasi dari pak Indra, pak Ali berniat menjemput ke rumah sakit tapi kenyataan yang dilihatnya pak Ardian telah berpulang lebih dulu.
"Tuan saya turut berduka." Ucap pak Ali duduk di samping pak Indra.
Pak Indra tersenyum tipis.
"Terimakasih pak Ali." Balasnya.
Zevin melihat kedatangan Erik langsung menghampirinya.
"Rik, liburkan karyawan selama tiga hari dari pusat sampai ke cabang." Titahnya.
"Baik tuan, maaf saya terlambat." Ujar Erik menyesal.
"Tidak masalah, bantu aku mengurus kepulangan kakek. Dan pak Ali saya minta tolong hubungi polisi lalu lintas minta bantuan untuk mengatur jalan." Titah Zevin.
"Baik tuan muda." Pak Ali bergegas merogoh ponsel.
Zevin menghampiri istrinya yang masih menenangkan ibu Felisya.
"Sayang, kamu dan yang lainnya pulang lebih dulu ya. Nanti Ivan yang mengantar kalian. Aku dan papa akan mengurus jenazah kakek." Ucapnya lembut lalu mencium kening istrinya.
"Iya, kalau begitu aku bersiap dulu. Kedua mamaku ikut pulang ya, papa Radit apa ikut pulang?" Tanya Nazia.
"Papa di sini, Nak." Balas dokter Radit enggan meninggalkan besannya yang tengah bersedih.
"Saya akan pulang bersama kak Zi dan yang lainnya." Seru Ralda.
"Bagus, kamu bantu istriku menyiapkan segalanya di rumah." Balas Zevin.
Setelah semuanya diatur dengan baik, maka jenazah kakek Ardian akan dibawa pulang di kediaman tuan Indra.
__ADS_1