
Zevin tak bersemangat beberapa hari ini. Ia memilih tidak datang ke rumah sakit, hari-harinya menyelinap masuk ke dalam kantor pak Indra. Langkah Zevin terbatas karena identitasnya yang tidak di ketahui karyawan papanya. Saat ini sekretaris pak Indra tidak berada di tempat, jadi membuat dirinya sedikit kesulitan.
Zevin menunda ke ingin tahuannya tentang masalah yang melibatkan kakek Heru di kantor pak Indra. Ingin rasanya pulang bertanya kepada kakeknya, Tapi Zevin masih enggan untuk pulang ke rumah.
Semenjak surat pengunduran diri itu di kembalikan Zevin. Sampai saat ini Nazia juga belum ingin datang ke rumah sakit, terpaksa Zevin membuat surat cuti untuknya. Karena memang selama ini Nazia tidak pernah ambil cuti yang lama. Pasien Nazia langsung di arahkan ke dokter Lina dan dokter Hendra
Ponsel Zevin bergetar di sisi bantalnya. Tertera nama Erik di sana.
"Bagaimana ?"
"Semua sudah siap, Tuan. Anda bisa praktek sore hari di rumah praktek nona Zi. Lisensi anda sudah keluar papan nama juga sudah di pasang di sana. Serta jam prakteknya sama seperti milik nona, Zi "
"Bagus ! Kamu memang bisa di andalkan, Rik." Ucap Zevin tersenyum. Pria itu berguling-guling senang di kasur kamar pribadi Vian.
"Anda kenapa, Tuan ?"
"Haa ? Ti—tidak. Sekarang ayo kita cari tahu kasus korupsi dua puluh sembilan tahun lalu di kantor papa" Ucap Zevin.
"Kasus lama tuan sepertinya sedikit susah "
"Aku hanya ingin tahu saja, apa benar kakek Heru melakukan itu atau tidak ?" Kata Zevin.
"Kita ketemu saja tuan, tunggu saya di apartemen anda."
"Baiklah."
Zevin bergegas pulang dari restoran Vian. Di perjalanan ia teringat jika akan memulai praktek sore tersenyum sendiri.
...----------------...
Alby merasa bingung karena kiriman bunganya tidak sampai pada Nazia. Kurir yang mengantarnya mengatakan jika Nazia tidak ada di tempat. Alby memijat pelipisnya karena tidak tahu gadis itu pergi kemana.
Ia baru teringat jika ada seseorang yang ditempatkannya untuk memantau Nazia tanpa sepengetahuan Jimmy. Alby bergegas mengambil ponselnya di atas meja.
"Kenapa Nazia tidak datang ke rumah sakit ?" Tanya Alby setelah telpon terjawab.
"Saya belum tahu pasti tuan, mungkin Nona Zia cuti."
"Di mana posisinya?" Tanya Alby.
"Di danau, Tuan."
"Baiklah." Alby mematikan telpon. Setelah mendapatkan informasi, pria itu langsung bergegas membereskan meja nya. "Jim, aku pulang sendiri" Kata Alby melalui interkom.
"Baik tuan hati-hati"
Sesaat Jimmy heran kenapa Alby pulang cepat ? Biasanya akan menghabiskan waktunya di kantor hingga sore.
Alby segera meninggalkan kantor dan akan mencari Nazia di danau. Dia tidak akan membuang kesempatan untuk bertemu. Hatinya sudah yakin untuk memperbaiki hubungan yang telah putus itu.
Mobil Alby melaju dengan kecepatan rata-rata. Senyumnya selalu mengembang sempurna. Dadanya berdegup kencang bak remaja jatuh cinta, ia mulai memikirkan kalimat apa yang akan diucapkannya dipertemuan ini, agar Nazia tidak mengabaikannya seperti beberapa waktu lalu.
Mobil Alby berhenti di pinggir danau. Dari kejauhan ia bisa melihat Nazia berdiri di ujung dermaga menghadap ke laut. Dari belakang saja begitu cantik dengan rambut tergerai indah sepinggang di tiup angin. Celana jeans panjang dengan atasan kaos putih serta di balut jaket rajut warna senada. Ia menghembuskan nafasnya pelan untuk mengurangi kegugupannya.
Alby melangkah pelan dengan perasaan masih gugup dan susah payah mengatur jarak langkahnya agar sampai ke sana. "Sendiri ?"
Melihat siapa yang berdiri di sampingnya, Nazia berpaling untuk pergi dari sana. Tapi Alby sigap menangkap pergelangan tangannya. "Tunggu ! Aku ingin bicara padamu." Ucapnya menatap lekat. "Zia beri aku kesempatan untuk bicara denganmu" Lanjutnya lagi.
__ADS_1
"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi tuan muda, masalah di rumah sakit sudah selesai. Saya juga sudah melupakan perbuatan istri anda"
"Jangan menyebutnya istriku ! Aku bukan membicarakan dia tapi masalah kita." Kata Alby sedikit kesal.
"Apa anda lupa ? Nyonya Sherin adalah istri anda. Seluruh media meliput acara pernikahan kalian dari penjuru manapun di kota ini. Semua orang tahu jika anda sudah menikahinya. Lalu... Kenapa melarang saya menyebut dia istri anda?" Pertama kalinya Nazia bicara panjang lebar.
Alby menghela nafas panjang. "Aku menyesal." Ucapnya dengan kepalanya tertunduk ke bawah.
"Jangan menempatkan saya dalam masalah ! Saya tidak ingin seluruh manusia di kota ini menghujat saya karena berdua di tempat sepi bersama suami orang lain. Saya tak sehebat anda yang bisa membungkam media dengan uang" Kata Nazia tanpa ekspresi.
"Zia kamu berhak marah padaku. Aku minta maaf padamu. Aku bersalah dan aku menyesal" Ucap Alby mengangkat kepalanya.
Nazia merasakan ponselnya bergetar di saku jaketnya. "Iya, Zev ! Ada apa?" Tanyanya dengan suara berubah lembut.
"Aku lapar tapi tidak selera makan, karena terpikirkan permasalahan orang tua kita "
"Kamu mau makan apa?" tanya Nazia.
"Kamu dimana, sayang ?"
"Di danau." Jawab Nazia.
"Tunggu aku di sana ! Aku berada di jalan searah"
"Baiklah." Balas Nazia mengabaikan permintaan maaf Alby. Lalu melangkah ke daratan meninggalkan pria itu yang mematung di sana.
Alby tersadar Nazia sudah beberapa langkah menjauh. "Zia tunggu !" Ia memanggil sambil berlari lalu meraih pergelangan gadis itu.
"Lepaskan saya, Tuan ! Kita tidak ada permasalahan apapun. Jadi untuk apa anda minta maaf?"
"Zia, aku cabut kata-kataku waktu itu, jangan bersikap seperti ini padaku." Lirih Alby. Ada kesedihan di wajahnya. Sekarang baru merasakan bagaimana sulitnya untuk mendapatkan Nazia. Kesempatan yang mudah dulu telah di sia-siakannya.
"Zev." Nazia tersenyum.
Alby dan Zevin saling tatap sejenak. Mata dokter tampan itu beralih pada tangan Alby yang memegang pergelangan tangan Nazia.
"Lepaskan tanganmu !"
Alby tersenyum tipis. "Apa hak mu melarangku ?!" Tanyanya menantang masih menggenggam tangan Nazia.
"Dia gadisku !" Tekan Zevin beralih melihat lekat pada Nazia dan melepaskan tangan Alby yang melekat.
"ZEV !!!"
Tubuh Zevin terpental kebelakang sudut bibirnya mengeluarkan darah.
"Dari kemarin kamu selalu menghalangiku untuk bertemu Nazia !" Alby melayangkan tinjunya lagi. Namun sayang tubuhnya yang terhuyung ke pinggir pagar dermaga kepalan tangan Zevin tepat di perutnya.
"Kamu pria beristri tidak pantas menemui wanita yang bukan istrimu terlebih itu mantan kekasih mu !" Zevin memukul kedua kalinya.
Alby mengusap bibirnya yang berdarah. "Aku akan menceraikan Sherin dan kembali pada Nazia."
" Kamu pikir Zi mau ?" Zevin menarik kerah baju Alby.
"Hentikan, Zev ! Ayo kita pulang" Kata Nazia menengahi.
Zevin mendorong kasar tubuh Alby. Lalu menarik tangan Nazia meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Alby tak terima lalu berteriak. "Aku akan mendapatkan mu lagi, Zia !!"
Zevin dan Nazia tidak menggubris teriakan Alby, mereka tetap melangkah menuju mobil Zevin. Karena memang Nazia tidak membawa mobil.
"Bibirmu terluka, Zev." Lirih Nazia terisak sedih dan cemas, tangannya mengusap sudut bibir Zevin yang berdarah.
Jantung dokter tampan ini berdetak lebih cepat dan juga wajahnya merah merona. "Jangan menangis, aku baik-baik saja. Kita ke Apartemen ku" Ucapnya mengusap air mata Nazia.
Tanpa aba-aba gadis itu memeluk tubuh Zevin. "Maafkan aku, kamu terluka gara-gara aku." Ia berucap sambil menangis.
Zevin membalas pelukan Nazia dengan senang hati. "Bukan salahmu. Aku tidak suka dia menyentuhmu setelah mencampakkan mu dulu. Jangan menyalahkan dirimu" Ucapnya seraya mengecup lembut pucuk kepala Nazia.
Ingin rasanya Zevin berlari sambil berteriak meluapkan rasa bahagianya saat ini, karena selama mengenal Nazia hari ini pertama kali dokter cantik itu memeluknya terlebih dulu. Selama ini Zevin yang selalu membawa Nazia ke dalam pelukannya.
Saat perjalanan pulang dari restoran Vian ke apartemennya. Zevin mendapat laporan jika Alby menemui Nazia di dermaga. Nazia ingin menghindar tapi Alby menahannya. Zevin langsung putar arah menjemput gadisnya. Dengan beralasan lapar tidak selera makan.
Dalam perjalanan hanya diam tanpa berbicara. Nazia masih merasa bersalah melihat Zevin terluka, sementara dokter ini berusaha menetralkan dirinya. Sesekali ia menggoyangkan rahangnya yang terasa kaku.
Setelah Tiba di Apartemen, Nazia langsung masuk ke dalam ruang kerja Zevin mengambil peralatan medis dan obat-obatan.
"Aku tidak parah, Zi." Zevin terkekeh
"Biarkan aku mengobati mu atau aku terus mencemaskanmu"
"Apa yang terjadi ? Maafkan saya tidak berada di tempat" Tanya Erik keluar dari kamar. Pria itu kadang menginap di tempat Zevin.
"Tidak ada hal serius, lni salah satu cara pria berbicara."
Nazia membersihkan luka Zevin sambil mengompres pipinya yang nampak bengkak.
"Aaw...Pelan-pelan, sayang." Rintih dokter tampan itu.
"Iya maaf."
Zevin menatap lekat wajah Nazia yang mengkhawatirkannya. Hati Zevin sangat bahagia ketika gadis itu merawat dirinya.
"Tuan, saya tinggal dulu nanti kita bicarakan kelanjutan di telpon tadi" Kata Erik sambil berdiri.
"Duduk !"
"Saya, tuan ?" Tanya Erik.
"Iya, tetap di situ"
"Kenapa?" Tanya Erik.
"Takut aku khilaf" Zevin tersenyum.
Mendengar Zevin menggodanya Nazia tersipu, pipinya merona lalu bergegas ke dapur membawa kotak dan baskom bekas mengobati luka Zevin. Nazia berinisiatif memasak karena Zevin sebelumnya mengatakan lapar.
Zevin dan Erik berpindah ke ruang kerja. "Bagaimana, Apa bisa kita tahu masalah korupsi itu?" Tanyanya sambil duduk di sofa.
"Sangat sulit, Tuan ! Sepertinya anda harus bertanya sekali lagi pada kakek anda. Pada waktu itu kakek Ardian adalah sekretaris tuan Indra. Dan kakek Heru asisten pribadi ayah anda" Usul Erik.
"Kamu benar ! Aku akan pulang besok membujuk kakek untuk menceritakannya, karena dari cerita tante Mira dia yakin kakek Heru tidak bersalah." Kata Zevin.
Pintu ruang kerja Zevin di ketuk dari luar ternyata Nazia mengajak makan. Zevin bersikap manja di meja makan. Sampai Erik bermuka masam, bagaimana pun juga, ia butuh perhatian seorang wanita. Tapi si tuan muda sengaja membuatnya iri.
__ADS_1
Usai makan Nazia berpamitan untuk pulang tapi giliran Zevin menahannya dengan alasan pusing setelah di pukul Alby. Nazia terpaksa bertahan tidak akan membiarkan Zevin sakit seorang diri.
Akhir-akhir ini, Nazia tidak bisa menolak jika Zevin meminta bantuannya. Mungkin dia lelah menghindar karena pria itu selalu punya cara untuk bertemu dengannya.