
Seorang presiden direktur perusahaan ternama. Tengah duduk larut dalam lamunannya. Pertemuannya kemarin dengan Nazia menyisakan penasaran yang amat dalam pada dirinya. Dia adalah Pak Indra pengusaha sukses sejak masih muda, memiliki jiwa peduli pada sesamanya. Selalu bersikap hangat pada siapa saja.
Wajah Nazia selalu terbayang di kepalanya. Wanita muda pemilik mata indah, senyum menawan, suara lembut begitu menggelitik di hati Pak Indra.
"Nazia si pemilik mata indah. Tidak hanya itu dia juga punya suara yang lembut." Pak Indra bergumam sendiri.
"Papa bicara dengan siapa?" Suara ibu Felisya mengejutkan pak Indra.
Ibu Felisya mendudukkan tubuhnya di sofa sambil membuka kotak makanan yang telah dibawanya. Pak indra pindah duduk di samping istrinya.
" Bicara Sendiri, Ma." Pak Indra terkekeh.
" Benarkah ?" Ibu Felisya tersenyum.
" Iya, tidak orang lain disini hanya papa"
Pak indra makan siang di temani ibu Felisya. Setiap hari beliau selalu makan makanan yang selalu di antar istrinya. Awal mulanya pak indra menikah tanpa cinta pada istrinya, namun kegigihan ibu Felisya memberikan kasih sayang. Akhirnya pak Indra bisa mencintai istrinya.
"Ma, bagaimana jika kita mengundang keluarga Nazia untuk makan malam minggu depan?" Tanya Pak Indra tiba-tiba.
"Ide bagus, Pa ! Mama akan persiapkan semuanya, putraku pasti senang. Kita ajak juga ayah"
"Papa setuju." Ucap Pak Indra.
Aku benar-benar penasaran padanya
Sepasang paru baya itu menikmati makan siang mereka sambil membicarakan si putra tunggal.
...----------------...
Semua orang sudah bangun. Suasana masih terasa canggung. Rasa kecewa dan amarah bercampur jadi satu. Sampai saat ini belum ada yang tahu apa maksud Sherin melakukan hal itu.
"Kenapa kamu membocorkan semua nya?" Bisik Sherin kepada Hadi.
"Karena kamu menipuku !"
"Kamu akan membusuk di penjara !" Kata Sherin sinis.
"Dan kamu terseret bersamaku" Hadi tersenyum tipis.
Satu persatu mereka mendudukkan tubuhnya di kursi meja makan. Sherin kembali terdiam ketika melihat kursi meja makan telah terisi semua. Nampak Lezat makanan di atas meja tapi seperti krikil masuk ke dalam tenggorokan.
__ADS_1
Sherin merasakan tubuhnya lemas dan sedikit lelah. Makanan yang ditelannya tak hanya seperti kerikil melewati tenggorokannya tapi juga hambar tanpa rasa.
Mereka sarapan dalam diam hanya suara garpu dan sendok beradu dengan piring. Alby dan Jimmy pertama meninggalkan meja makan.
Satu jam berlalu usai sarapan, semua orang di minta berkumpul kembali. Alby duduk di kursi tunggal ingin mengetahui alasan Sherin melakukan itu.
"Katakan kenapa kamu melakukan semua itu?" Tanya Alby datar.
Sherin menunduk sambil memilin baju nya gugup. "A—aku hanya ingin mengalihkan perhatianmu dari Nazia. Aku ingin kamu sibuk dan tidak ada waktu untuknya. Aku sakit hati ke pulanganku dari luar negeri hanya untukmu. Tapi, saat aku ingin mencari mu, kalian baru saja memulai hubungan. Aku tidak terima semua itu. Aku masuk ke perusahaan papa dan aku melihat celah pada seseorang yang aku anggap bisa membantu. Yaitu pak Anton ayah angkat Hadi. Aku mengenal dia saat aku berkunjung ke rumah Hadi." Sherin terisak mengungkapkan alasannya.
Alby tertawa kesal. "Akibat perbuatan mu aku mengalami kerugian besar ! Kamu hampir menghancurkan ku !Jadi, itu alasan mu sering ikut pertemuan di kantorku bersama papa Toni?" Ucapnya sedikit membentak.
"Maafkan aku, Al. A—aku tidak menyangka jika efeknya sebesar itu" Sherin bersimpuh di kaki Alby.
"Kamu tahu ? Aku menilaimu sangat baik sebelum pernikahan ini. Aku senang melihatmu berkecimpung di dunia bisnis dengan begitu kita akan sama-sama berbisnis. Bahkan aku merendahkan Nazia karena tidak bisa memberikan pengaruh besar pada perusahaanku. Tapi aku salah ! Dia lebih berharga dari itu semua. Mungkin dia memang bukan seorang pebisnis tapi dengan dia berdiri di samping ku. Mungkin akan semua mudah terlewati." Kata Alby sekaligus mengungkap penyesalannya.
Jimmy tersenyum tipis
Sekarang anda tahu siapa yang pantas berdiri di sisi anda. Selamat ! Ambisi menghancurkan anda tuan
Jiwa jahat dalam hatinya bersorak senang.
Alby melangkah mundur. "Kematian pak Anton ! Apa itu juga perbuatanmu?"
Hadi tak berani mengangkat kepalanya. Kesalahannya sangat terlihat dan terbukti.
Tamparan keras mendarat di wajah Sherin dari Erika. "Kamu tahu sejak kecil aku tidak menyukai mu. Karena sifat iri mu itu !"
Ibu siska merangkul tubuh Sherin untuk membantu nya berdiri. "Jaga sikap mu, Erika !"
Erika tersenyum sinis. "Bawa putri anda pergi dari sini !"
Sherin kembali bersimpuh di depan Alby. "Maafkan aku, Al. Maafkan aku" Tangisnya pecah di hadapan semua orang.
Hadi sudah di seret kekantor polisi karena membunuh ayah angkat sendiri. Jimmy merekam pengakuan Sherin tentang perbuatan Hadi yang mencampurkan racun di makanan Pak Anton.
Pak Toni duduk di sofa dengan wajah penuh penyesalan. "Papa memang menginginkan Alby sebagai menantu. Tapi tidak dengan cara seperti ini Sherin."
Di sudut ruangan ibu Anggi menitikkan air mata sedih. Ketika tahu istri putra kesayangannya membuat perusahaan yang Alby bangun hampir mengalami kebangkrutan.
Sherin tersungkur di lantai tak sadarkan diri. Semua orang terkejut kecuali Alby dan Jimmy mereka berdua bersikap biasa saja.
__ADS_1
"Telpon dokter keluarga" Titah pak Reza.
"Dia sedang keluar kota" Seru ibu Anggi.
"Ke rumah sakit" Ujar ibu Siska.
Sopir segera menyiapkan mobil. Alby mau tidak mau menggendong tubuh Sherin masuk ke dalam mobil. Dengan kecepatan penuh Jimmy membawa mobil ke rumah sakit menggantikan sopir pribadi pak Reza.
Sherin di larikan ke IGD. Alby dan Jimmy menunggu di luar dan disusul yang lainnya duduk di kursi tunggu. Menunggu dua puluh menit keluarlah seorang perawat.
"Keluarga nona Sherin." Panggil perawat.
"Saya ibunya." Jawab ibu Siska cepat.
"Silahkan masuk dokter ingin bicara pada anggota keluarganya"
Ibu Siska masuk kedalam ruangan mengikuti perawat. Di Sana sudah ada dokter yang menunggu di kursinya.
"Selamat pagi Nyonya, silahkan duduk" Sapa Dokter jaga.
"Selamat pagi dokter bagaimana keadaan putri saya?" Tanya Ibu Siska cemas.
"Nona Sherin, hanya pingsan dan tekanan darahnya rendah hal ini bisa terjadi pada wanita hamil" Jelas dokter.
"Hamil !" Ucap Ibu Siska bersamaan dengan Alby yang menyusul masuk.
"Benar Nyonya, dari hasil pemeriksaan Nona Sherin hamil. Untuk lebih jelasnya kita rujuk ke dokter kandungan" Ujar dokter IGD.
"Baiklah kalau begitu kami akan menunggu di luar"
Di luar anggota keluarga langsung mengerubungi ibu Siska.
"Bagaimana, Ma?" Tanya pak Toni.
"Sherin hamil, Pa." Ibu Siska tersenyum.
"Hamil, anak siapa?" Gumam Alby.
"Apa maksudmu, Alby ?!" Bentak pak Toni.
"Maaf sebelumnya, selama kami menikah aku tidak pernah menyentuhnya. Untuk lebih jelasnya kita tanyakan setelah dia di periksa."
__ADS_1
Berita kehamilan Sherin bukan menjadi kabar bahagia tapi malah menyisakan tanda tanya besar setelah pengakuan Alby.