Suami Manja Dokter Zi

Suami Manja Dokter Zi
Hanya Mimpi


__ADS_3

Jarum jam berputar,  Nazia mendengar isak seseorang terganggu dalam tidurnya.


"Sayang, kamu kenapa?" Nazia duduk di tepi kasur. Zevin nampak masih sesegukkan sudut matanya berair. 


Nazia merasa perutnya kontraksi . Ia pergi ke kamar mandi lebih dulu baru membangunkan Zevin kembali. Usai dari kamar mandi Nazia kembali duduk di tepi kasur. Ia melihat jam di atas nakas menunjukkan jam 4 pagi.


"Sayang, bangun." Nazia menepuk pelan pipi Zevin.


Terdengar suara lembut wanita memanggil namanya, Zevin refleks membuka matanya. Ia segera duduk dan memeluk tubuh Nazia dengan Erat.


Tangis Zevin pecah. "Sayang, ka—kamu bernafas lagi? Jangan tinggalkan aku lagi ya. Aku takut... sangat takut." Ucapnya menangis.


Nazia menepuk punggung suaminya menyalurkan rasa tenang. "Aku baik-baik saja. Ceritakan kenapa?" Ia melonggarkan pelukannya. Tapi Zevin semakin menarik tubuhnya enggan untuk melepaskan istri nya.


"Sayang, syukurlah kamu bernafas lagi. Apa bayi kita juga bernafas? Ta—tadi jantungmu dan dia tidak berdetak lagi. A—apa yang terjadi? Kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" Cerca Zevin bercampur tangisnya.


Nazia kini faham mungkin suaminya itu bermimpi buruk. "Sayang aku sesak, minum dulu ya." Ucap Nazia.


"Sesak ?!" Zevin refleks melonggarkan pelukannya. Ia meraba ke sana kemari mencari stetoskop dan CTG.


"Apa yang kamu cari?" Tanya Nazia heran.


"Stetoskop dan CTG" Jawab Zevin.


Sepertinya Zevin belum sepenuhnya sadar, Nazia meraih wajah suaminya dan menangkup kedua tangannya ke pipi Zevin dan berkata. "Sayang kamu hanya mimpi. Aku baik-baik saja." Ucapnya tegas.


Zevin tersadar, ia merasakan hangatnya telapak tangan istrinya, Zevin memejamkan matanya sejenak Air matanya kembali tumpah. "Mimpi itu seperti nyata. Aku tidak bisa menerimanya, jika benar terjadi." Ucapnya lemah.


"Percayalah semuanya baik-baik saja. Sekarang minum dulu ya." Nazia meraih gelas air putih di atas nakas.


Zevin menerima nya lalu meminum nya hingga habis. Setelah nya, ia mengambil stetoskop dan CTG. "Berbaringlah sayang. Aku harus memastikan keadaanmu."  Ucapnya serak sembari menghapus air matanya.


Nazia menurut saja agar suaminya tenang. Zevin lega kondisi istrinya  baik-baik saja. Tak lupa ia juga memeriksa tekanan darah Nazia dan yang terakhir, ia memeriksa detak jantung bayinya.


Detak jantung bayinya terdengar nyaring dan normal. Zevin bernafas lega sungguh mimpi buruk itu membuatnya hampir gila.


"Terimakasih Tuhan." Ucap Zevin.


Nazia duduk kembali, ia merasakan kontraksi nya lagi. "Sayang, dengarkan aku jangan panik ya. Ada yang ingin kukatakan. Yang tenang percayalah semuanya baik-baik saja." Ucap Nazia hati-hati. 


Zevin membenarkan posisi duduknya lalu menatap wajah Nazia dengan serius. Ia dapat melihat raut wajah Nazia seperti menahan sakit dan mengatur nafas.


"Katakan sayang" Desak Zevin.


Nazia mengatur nafasnya dan berkata perlahan. "Kita ke rumah sakit sekarang ya, aku sudah mengeluarkan ciri-ciri untuk melahirkan . Tapi kontraksi nya masih jarang-jarang dan belum terlalu sakit."


Tubuh Zevin menegang.


"Iya sayang." Ucapnya dengan sedikit gemetar.


"Kamu sudah berjanji jangan panik." Tegas Nazia.


Zevin mengangguk dan berkata


"Iya, aku mencuci muka lebih dulu." Di balas anggukan dari Nazia.


Tanpa sepengetahuan Nazia, suaminya itu memencet tombol alarm di sisi kasur. Beberapa detik kemudian


Pintu di ketuk dari luar. "Masuk " Titah Nazia. Bertepatan dengan Zevin keluar dari kamar mandi.


"Ada apa, Zi?" Tanya Ivan masih dengan wajah bantalnya.


Ia masuk bersama Erik dan Kiki, mereka masing-masing masih menguap.

__ADS_1


"Erik siapkan mobil, istriku mau melahirkan !" Titah Zevin.


"APA ?! MELAHIRKAN !" Teriak Erik, Ivan dan Kiki bersamaan.


Sesaat kemudian Erik tersadar.


"Iya Kak." Ia bergegas keluar menuju garasi mobil.


"Saya akan bawakan barang bawaan Nyonya." Kiki meraih koper yang telah disiapkan Nazia jauh hari.


"Aku akan mengabari Mama." Ujar Ivan melangkah pergi ke kamarnya.


"Tunggu !" Kata Nazia menghentikan langkah Ivan.


"Kenapa, Zi?" Tanya Ivan.


"Telpon mereka setelah pagi saja, sekarang masih jam empat. Kamu boleh tidur lagi." Ucap Nazia.


"Baiklah." Balas Ivan langsung pergi ke kamarnya.


Zevin menuntun Nazia untuk keluar kamar. Di ruang tengah Erik dan Kiki menunggu.


"Rik, kamu kembali tidur lagi. Besok kamu harus ke kantor. Kamu juga Ki." Ucap Nazia sesekali mengatur nafas jika mulai kontraksi.


"Tapi—" Ucapan Erik terputus. Karena Zevin mengangguk menyetujui permintaan Nazia.


"Terimakasih sudah menyiapkan mobilnya. Ayo berangkat." Ucap Nazia.


"Hati-hati" Balas Erik dan Kiki.


Zevin membuka mobil untuk istrinya terlebih dulu. Nazia duduk dengan tenang di dalam mobil.


"Kamu baik-baik saja?" Tanya Zevin. Sembari memasang sabuk pengamannya.


"Iya, membuatnya saja tidak heboh ! Kenapa membangunkan semua orang karena ingin mengeluarkannya?" Ucap Nazia kesal.


"Maaf sayang, efek mimpiku  masih menghantuiku tadi."


Nazia mengelus perutnya karena merasakan pergerakan bayinya.


"Kamu tahu sayang? Saat kehamilanmu menginjak ke tujuh bulan. Hampir tiap waktu aku takut, aku sebagai dokter hanya bisa melihat raut wajah tegang para suami saat mengantarkan istrinya bersalin. Tapi semenjak tiga bulan belakangan ini, aku merasakan ketegangan itu tiap waktu. Aku berusaha menenangkan diriku selama ini. Ternyata itu tidak berhasil buktinya aku terbawa mimpi dan panik tadi." Cerita Zevin.


"Tidak perlu takut sayang, percayakan pada Tuhan dan dokter yang menanganiku." Ucap Nazia.


...----------------...


Mobil Zevin berhenti di basemen rumah sakit khusus dokter. Ia meminta penjaga di sana membawa kursi roda untuk Nazia.


"Kita  ke UGD dulu ya." Ujar Zevin.


Nazia mengangguk. Sampai di sana, dokter jaga sigap membantu Nazia dan memeriksanya. Lalu mereka menelpon Dokter Farida yang  menangani Nazia.


"Sekarang pindah ke ruangan bersalin ya." Ucap perawat.


"Iya."


Zevin kembali mendorong kursi roda Nazia menuju ruang bersalin. Di sana Dokter  Farida sudah menunggu.


"Hai Dokter, Zi. Kapan mulai kontraksinya?" Sapa Dokter Farida.


"Satu jam lalu sekitar jam tiga . Aku sudah mengeluarkan ciri untuk melahirkan" Jawab Nazia.


"Baiklah, ayo kita periksa pembukaan dulu." Ucap Dokter Farida.

__ADS_1


Zevin membantu Nazia berbaring di atas brankar. "Sayang aku menelpon Yudha dulu ya."


" Iya."


Dokter Farida mengecek pembukaan setelahnya lalu  berkata. "Masih lama, Zi. Kamu pasti tahu kalau proses umumnya antara 6-12 jam bahkan lebih. Semoga saja kamu melahirkan jam 10 nanti ya. Jadi tidak lama menahan sakitnya." Tutur Dokter Farida.


"Terimakasih Dokter Farida." Ucap Nazia.


"Bagaimana ?" Tanya Zevin masuk kembali


"Masih lama sayang, perkiraannya mungkin jam 10 pagi  atau lebih. Baru aku melahirkan" Jawab Nazia.


"Kamu bisa istirahat di kamar rawatmu dulu Zi, nanti jika sudah waktunya kamu melahirkan kesini lagi. Kamu juga masih bisa mandi dan makan." Seru z Farida.


" Terimakasih Dokter Farida." Ucap Zevin membantu Nazia turun dari ranjang. 


Zevin membawa Nazia keruangan VIP kamar khusus keluarga Indra. Nazia memang belum merasakan kontraksi yang sering.


"Sayang tidur lagi  ya." Ucap Nazia


Zevin menggeleng dan berkata.


"Kamu saja, aku tidak ngantuk lagi." Ia mengusap pinggul Nazia karena terasa kontraksi lagi.


Nazia memejamkan matanya. Ia mencuri kesempatan disela tidak kontraksi itu untuk istirahat. Sementara Zevin setelah mengusap pinggul istrinya ia membuat teh hangat untuknya sendiri.


Zevin duduk di kursi melanjutkan mengusap pinggul Nazia lagi setelah membuat teh. Istrinya nampak gelisah jika kontraksinya terasa.


...----------------...


Rumah Sakit ZK


Matahari telah menampakkan sinarnya. Di ruang inap Nazia, suaminya itu tak terlelap sama sekali. Ia selalu siaga di samping istrinya. Begitu pun Nazia  tak tidur hanya  menutup matanya rapat.


"Sayang mandi dulu ya,  biar kamu segar." Ucap Zevin.


"Iya, kamu juga mandi. Di koper aku sudah siapkan pakaianmu." Balas Nazia.


Zevin membantu Nazia mandi dengan telaten, ia mengeramas rambut istrinya itu. Penuh kesabaran ia menggosok tubuh Nazia dengan sabun tak hanya itu, ia juga mencuci pakaian dalam istrinya yang terkena noda darah. Meski Nazia melarangnya tapi Zevin mengacuhkannya. Ia bertanggung jawab atas darah yang dikeluarkan Nazia, setelah persalinan istri mnya nanti baru Zevin mengirim pakaian itu ke rumahnya.


Setelah membantu Nazia memakai baju, Zevin mengeringkan rambut istrinya dengan penuh cinta. Tanpa mereka sadari tiga pasang orang tua menatap haru pada mereka.


"Bagaimana kondisi, Zi." Tanya Pak Indra mengejutkan Zevin dan Nazia.


"Kalian di sini " Balas Nazia senang melihat ke enam orang tuanya itu ada di sana.


"Masih lama, Pa." Balas Zevin.


Di sana ada Pak Indra bersama Ibu Felisya, dan Ibu Mira bersama Dokter Radit. Lalu Pak Bram dan Ibu Sherly.


"Zev. Sekarang kamu mandi, Nak. Biar Mama yang mengeringkan rambut, Zi." Ujar Ibu Mira.


Nazia mengangguk mengiyakan. Zevin memberikan handuk kecil itu pada Ibu Mira.


"Jam berapa perkiraan Dokter, Zi?" Tanya Dokter Radit.


" Jam sepuluh, Pa. Mungkin lebih karena ini anak pertama." Ujar Nazia.


Tak lama seorang perawat datang mengecek tekanan darah dan detak jantung bayi. Satu jam sekali pemeriksaan itu dilakukan. Usai mandi, Zevin meraih piring makanan dan duduk di tepi kasur.


"Sayang makan dulu ya " Zevin mengarahkan sendok ke mulut istrinya.


"Makannya sama kamu juga." Balas Nazia. Ia yakin Zevin tidak akan makan nantinya.

__ADS_1


"Kita makan berdua" Ujar Zevin tersenyum.


Dua anak manusia ini makan saling suap dalam sepiring. Para orang tua melihat nya jadi ikut tersenyum. Tak lama Rayya datang menemui Nazia. Ia salut pada Zevin yang sigap pada istrinya itu.


__ADS_2