Suami Manja Dokter Zi

Suami Manja Dokter Zi
Secuil tentang Erik


__ADS_3

Beberapa tahun lalu...


Di tengah hujan yang lebat disertai petir menggema di penjuru langit. Tiba-tiba Mobil yang dikendarai seorang dokter tampan yang tak lain adalah  Zevin Kavindra dihadang oleh seorang pria tak dikenal. Beruntung, saat itu mobil melaju dengan pelan karena jarak pandang yang pendek jadi pria itu tidak tertabrak.


Zevin memperhatikan wajah pria yang menghadangnya penuh luka lebam dan berdarah bahkan, luka itu sepertinya baru saja didapatnya. Zevin sedikit ragu menurunkan kaca mobilnya takut jika pria itu berniat jahat padanya.


Pria itu mengetuk pintu jendela mobil lalu menangkup telapak tangannya


"Tuan tolong saya." Mohon pria itu sambil berderai air mata.


"Apa yang bisa saya bantu?" Tanya Zevin berhati-hati.


"Tolong Kakak saya." Ucap pria itu. Masih menangkup kedua tangannya berdiri di samping mobil.


Wajahnya pucat dan menggigil kedinginan, pelipis dan bibirnya masih mengeluarkan darah.


"Masuklah kedalam mobil." Kata Zevin. Ia masih waspada tapi cukup mampu melumpuhkan pria itu jika berniat jahat padanya.


"Terimakasih tuan." Pria itu berlari ke pintu samping.


"Siapa namamu?" Tanya Zevin. Seraya menjangkau handuk di kursi belakang.


"Nama saya Erik tuan, tolong saya. Kita tidak punya waktu lagi." Kata Erik terlihat sangat cemas.


"Baiklah ! Sekarang kita kemana? Gantilah baju dan celanamu lebih dulu di kursi belakang ada baju gantiku." Balas Zevin belum menjalankan mobilnya.


"Terimakasih tuan, kita ke club' Doni." Ucap Erik sambil berpindah ke belakang.


"Club' Doni?" Ulang Zevin. Ia merasa bingung kenapa harus ke club'?


"Kakak saya disana, dia dijual oleh paman saya. Tebus dia tuan ! Saya berjanji akan membayarnya. Nanti akan saya ceritakan semuanya." Jelas Erik. Ia menaruh harap besar pada pria yang baru dikenalnya itu.


"Baiklah ! Tunjukkan alamatnya." Kata Zevin seolah tidak tahu alamatnya. Tanpa berfikir panjang lagi ia menginjak pedal gas.


Setibanya di club' benar saja mobil paman yang membawa kakaknya Erik baru juga sampai.  Erik dengan tergesa-gesa membuka pintu mobil lalu berlari ke arah pamannya yang menyeret kakaknya.


"Paman hentikan ! " Teriak Erik.


"Cih, anak ini ! Kalian habisi dia !" Titah paman pada orang-orangnya.


Erik terlibat baku hantam, melihat itu Zevin turun dari mobil dan ikut membantu Erik.


"Tuan tolong kakak saya. Biar di sini saya yang mengatasinya." Ucap Erik. Ia sedikit berteriak sambil menangkis serangan lawannya.


Zevin mengangguk lalu berlari masuk ke dalam mengejar paman Erik. Wanita yang diseretnya menangis meronta minta dilepaskan.


"Tolong paman, jangan lakukan ini. Aku mohon lepaskan aku. Biar aku bekerja untuk mengganti biaya hidupku dan Erik selama ini." Ucap wanita itu. Ia menangis bersimpuh di kaki pamannya dan memohon.


"Kamu memang bekerja ! Tapi di sini, sekarang kamu temani pria itu !!" Tunjuk paman pada pria tua yang duduk di sofa.


"Jangan paman aku mohon !" Suara wanita itu sudah serak karena menangis.


Paman terhuyung ke depan jatuh tepat di atas meja pria yang akan membeli keponakannya itu. Seketika suasana menjadi ramai karena adanya keributan di sana.


"Siapa kamu ?!" Tanya paman. Ia berdiri sambil mengusap sudut bibirnya yang berdarah.


"Lepaskan dia !" Ucap Zevin. Sorot matanya menuju pada wanita yang tengah meringkuk di sudut dinding.


"Kamu ingin membelinya? Keluarkan dulu uangnya!!" Ucap paman sinis.


"Cih !! pria tua tak berakhlak !" Cibir Zevin. Ia memberikan tatapan hina pada pria paru baya itu.


Paman memanas lalu melangkah untuk memukul Zevin. Namun, pria jahat itu  kembali terpental lagi ke tempatnya semula.


"Jangan menguji kesabaranku !" Zevin memukul kembali paman.


Pria itu terhuyung bermaksud ingin membalas Zevin, tapi sebaliknya dia dijadikan samsak tinju oleh dokter tampan itu.


Mendengar keributan, pemilik club' keluar dari ruangannya. Matanya terbelalak melihat Zevin berdiri menarik kerah baju pamannya Erik.


"Zev, apa yang terjadi? " Pria itu berlari kecil mendekati Zevin.

__ADS_1


"Tahan pria ini ! Panggil polisi. Dia menjual keponakannya pada pria tua gendut itu. Bawa mereka ke tempat lain agar tidak berdampak pada club' ini."


"Baiklah, kalian bawa mereka." Titah pria yang bernama Doni itu.


Zevin melepaskan jaket yang dikenakannya dan memberikan pada wanita yang masih meringkuk di sudut dinding.


"Pakai ini, Ayo kita keluar ! Erik ada di sana." Zevin menutup tubuh kakaknya Erik dengan jaketnya


"Erik !"


"Ya, dia yang membawaku kesini." Jelas Zevin. Ia melihat ketakutan yang besar pada bola mata kakaknya Erik.


Wanita itu setengah berlari untuk keluar dari tempat itu. Namun, langkahnya terhenti melihat sosok yang disayanginya itu tergeletak di tanah. Sementara beberapa orang suruhan pamannya juga tergeletak tak jauh dari Erik.


"ERIK !!" Teriak Wanita itu. Ia histeris menangis melihat kondisi adiknya yang mengenaskan.


Zevin segera menghampiri mereka. Lalu mengangkat tubuh Erik kedalam mobilnya, hujan sudah berhenti suasana kembali normal.


"Ayo kita ke rumah sakit. Siapa namamu?" Zevin menutup pintu mobil belakang.


"Ralda tuan" Ucap wanita itu. Ia memangku kepala adiknya sambil sesegukkan.


"Namaku Zevin. "


Mobil hitam itu melaju ke rumah sakit. Ralda masih menangis di kursi belakang melihat kondisi Erik yang parah. Di perjalanan Zevin menelpon ke rumah sakit agar menyiapkan brankar dan menunggu di depan.


Sekian menit di perjalanan mobil Zevin berhenti di depan rumah sakit. Ia melambaikan tangannya pada perawat pria agar mengangkat Erik ke atas brankar.


"Dokter Zev ! Apa yang terjadi?" Tanya dokter piket di IGD


"Sulit dijelaskan dengan kata-kata. Kamu rawat dia dulu biar besok aku yang melanjutkan perawatannya." Zevin meninggalkan ruangan IGD


Ralda duduk di kursi tunggu dan diikuti Zevin. Tubuhnya masih gemetar tak dipungkiri saat ini ia juga kedinginan karena memakai pakaian kurang bahan itu.


"Ada yang sakit?"


"Tidak ada, terimakasih sudah membantu kami." Ucap Ralda. Air matanya kembali menetes.


"Sama-sama. Ganti baju dulu, kamu pasti tidak nyaman dengan pakaian seperti itu." Ujar Zevin melihat penampilan Ralda yang acak-acakkan.


"Di mobil ada baju wanita, jangan salah faham itu milik temanku. Dia sering menitipkan baju gantinya di mobilku." Kata Zevin.


"Baiklah !" Ralda berusaha menekan rasa takutnya.


Zevin mengantar Ralda ke mobilnya. Benar saja di sana ada baju wanita milik Rayya dan juga Nazia. Saat mereka berkunjung ke desa beberapa hari lalu, sepertinya dua wanita itu sudah lupa jika baju mereka ada di mobil Zevin.


Ralda dan Zevin kembali keruang IGD bertepatan dengan Erik akan dipindahkan ke ruang inap. Setelah memastikan Erik masuk ruang inap, Zevin meminta Ralda mengganti pakaiannya di kamar mandi.


"Kamu gantilah di kamar mandi, aku keluar dulu."


Setelah berganti baju, Ralda mengusap lembut wajah lebam adiknya itu. Air matanya kembali tumpah mengingat banyaknya penderitaan mereka berdua selama tinggal di rumah pamannya.


Pintu terbuka. Ralda cepat mengusap air matanya. Ia melihat ke arah pintu nampak Zevin datang membawa kantong plastik berisi makanan.


"Makanlah setelah itu istirahat." Zevin meletakkan plastik itu ke atas meja.


"Terimakasih tuan." Balas Ralda. Ia duduk di sofa lalu membuka kotak makanan yang ada di dalam plastik.


Zevin duduk di tepi kasur memperhatikan wajah Erik. Sepertinya pria itu muda satu tahun darinya.


"Terimakasih tuan ! Anda banyak membantu kami."


Zevin tersenyum melihat Ralda memakai baju Rayya. Jahat memang ! bukan baju Nazia yang diberikannya tapi baju Rayya.


"Apa yang sebenarnya terjadi ?" Tanya Zevin duduk di sofa. Ia berpindah duduk di samping Ralda.


"Saya dan Erik tinggal bersama paman, setelah ibu dan ayah meninggal. Paman orang pemalas, saya dan Erik dipaksa bekerja mencari uang sementara dia hanya berfoya-foya. Dia menuntut kami untuk mengganti biaya hidup selama kami tinggal bersamanya. Erik bekerja siang dan malam menjadi buruh kasar. Itu pun tak cukup memuaskan paman. Sampai akhirnya dia ingin menjual saya malam ini. Erik pulang lelah berkerja langsung adu mulut dengan paman. Merasa dihalangi Erik, paman menyuruh orang-orangnya memukul adik saya tanpa ampun." Cerita Ralda kembali terisak.


"Kamu bekerja?"


"Iya tuan, saya bekerja paruh waktu di kafe. Saya juga kuliah dengan mengandalkan bea siswa." Jawab Ralda.

__ADS_1


"Lalu Erik?"


"Dia juga kuliah tuan, tapi berhenti karena harus bekerja untuk paman."


Zevin mengepalkan tangannya kesal. Masih ada orang seperti itu di zaman sekarang.


"Istirahatlah, Lanjutkan makanmu, besok saya kembali lagi."


Ralda mengangguk. Zevin meninggalkan ruangan Erik. Ia mulai berpikir untuk Ralda dan Erik.


...----------------...


Pagi harinya, Zevin kembali bertugas di rumah sakit. Kali ini dia datang bersama pak Indra dan ibu Felisya, dia sudah menceritakan semuanya pada orang tuanya.


"Bagaimana perasaanmu? Apa masih ada yang sakit?"


"Sudah lebih baik tuan. Terimakasih sudah membantu saya." Ucap Erik.


"Saya periksa kamu dulu."


"Jadi anda seorang dokter?" Tanya Erik. Ia baru sadar jika Zevin memakai jas dokter.


"Iya, apa masih sakit sekali?" Zevin. menyentuh bagian kulit yang memar


"Saya merasa lebih baik, boleh saya pulang hari ini ? Jika lebih lama dirawat, saya tidak memiliki biayanya."


Zevin tersenyum .


"Tidak perlu dibayar, biar aku yang menyelesaikan administrasinya." Ucapnya menepuk pundak Erik.


"Terimakasih tuan, tapi bagaimana cara kami membalas kebaikan anda?" Ujar Ralda.


"Tetap bersamaku."


Kedua kakak beradik itu bingung dengan apa yang dimaksud Zevin.


"Kalian bingung ? Baiklah saya berikan bocoran. Tapi sebelumnya kalian berjanjilah padaku merahasiakan ini dari siapa pun." Kata Zevin.


"Baik tuan."


Zevin duduk di kursi sisi ranjang.


"Aku putra tunggal Indra Jaya, namaku Zevin Kavindra Jaya. Aku butuh seseorang untuk menggantikan peranku di rumah sakit ini sebagai direktur."


"A—apa ? Putra tuan Indra."


"Benar ! Kalian berdualah orang pertama tahu identitasku, selama ini aku sengaja menyembunyikannya." Jelas Zevin.


"Apa yang bisa kami lakukan untuk anda? Berterimakasih saja sepertinya tidak cukup untuk membalas kebaikan anda." Kata Erik.


"Ralda, kamu lanjutkan skripsimu. Setelah itu kamu bekerja di rumah sakit ini sebagai direktur dan Erik kamu ikut bersamaku, lanjut kuliahmu tapi terbang saja tidak perlu reguler karena kamu akan bekerja bersamaku. Aku sudah menyiapkan apartemen untuk kamu Ralda dan Erik akan tinggal bersamaku di rumah utama. Dia akan mendapatkan pendidikan dari orang kepercayaan papa sementara waktu." Ujar Zevin.


Kedua kakak beradik itu terperangah mendengar ucapan Zevin.


"Sekali lagi tuan terimakasih. Saya akan menuruti anda." Ucap Erik.


Sementara Ralda sudah menangis haru. Tak menyangka jika dirinya masih berkesempatan menjalani hidup yang baik.


Tak lama Pak Indra dan Ibu Felisya masuk ke ruangan Erik.


"Untuk menjadi orang terdekat putra tunggalku harus tangguh. Maka dari itu, kamu akan mendapatkan pendidikan langsung dari asisten pribadiku pak Ali. " Ucap pak Indra.


Erik tersenyum kaku masih tak menyangka hidupnya tersangkut pada keluarga Indra Jaya. Ibu Felisya duduk menghampiri Ralda.


"Kamu pasti bisa Nak, nanti Zevin mengajarimu perlahan-lahan." Ucap Ibu Felisya.


Setelah berkenalan dengan Erik dan Ralda. Pak Indra berpamitan untuk kembali ke kantor. Zevin juga ikut meninggalkan ruangan Erik.


"Aku keluar dulu. Ada tugas lebih penting menungguku." Ucap Zevin.


"Tugas apa tuan? Boleh kah saya membantu anda?" Tanya Erik.

__ADS_1


"Menemui calon istri orang !" Zevin. melangkah keluar sambil tersenyum.


Siapa lagi yang di maksudnya kalau bukan Nazia tunangan Abel.


__ADS_2