
☘Villa☘
Zevin dan Nazia telah tiba di Villa. Sesuai keinginannya, Nazia berendam air hangat. Tak lupa ia mengobati sudut bibir Zevin yang terluka, sebelum pergi ke kamar mandi.
Mereka keluar kamar lalu menuju meja makan. Di sana Erik sudah menunggu. Ibu Nani dan pak Danu langsung bersimpuh di depan Zevin dan Nazia meminta maaf atas sikap putrinya tadi pagi.
"Maafkan, Lilis. Nak!" Ucap Ibu Nani dan Pak Danu.
"Bibi, lupakanlah ! Sekarang kita makan malam dulu." Balas Nazia.
"Maafkan kami Nak, untuk makan malam. Kami merasa tidak pantas satu meja dengan kalian. Setelah perlakuan putri kami yang tidak baik." Jawab Pak Danu. Wajahnya sedih dengan sorot mata bersalah.
"Baiklah ! Aku tidak akan memaksa." Ujar Nazia tersenyum.
Ibu Nani dan Pak Danu berpamitan pergi kebelakang. Seperti biasa Nazia mengambil makanan untuk Zevin.
"Kamu membawa mereka ?" Tanya Zevin. Yang dimaksud olehnya adalah para pengawal keluarga Indra.
"Iya Tuan ! Maaf tanpa ijin dari anda. Tapi semua sudah saya perhitungkan. Ada Nona Zi di samping anda berbeda saat anda sendiri. Saya hanya jaga-jaga saat anda menghadapi musuh. Maka bisa saja nona yang akan diserang." Jelas Erik. Raut wajahnya terlihat serius dan tegas.
"Cerdas ! Terimakasih, Rik." Ujar Zevin bangga.
Erik tersenyum, mereka melanjutkan makan malam sampai dengan selesai. Ibu Nani datang lagi membersihkan meja makan. Nazia dan Zevin berpamitan masuk ke kamar karena sangat lelah. Erik juga kembali ke kamarnya melanjutkan pekerjaannya.
Sambil menonton televisi di atas kasur, Zevin bermanja-manja pada istrinya. Berbaring di pangkuan Nazia. Ia menikmati tiap belaian lembut tangan sang istri. Impiannya sejak lama berbaring di pangkuan sang pujaan hati. Bersenda gurau berdua menghabiskan waktu tanpa batas.
"Aku mau kebawah sebentar." Ucap Nazia.
"Mau apa?" Tanya Zevin.
"Aku mau membuat teh hangat cuacanya dingin sekali." Jawab Nazia.
"Baiklah cinta, jangan lama-lama." Ujar Zevin. Mengalihkan kepalanya dari pangkuan Nazia.
Nazia mengangguk lalu berdiri dari atas kasur. Zevin mematikan lampu kamar setelah istrinya keluar.
Di balik tembok, Lilis sejak tadi mengawasi Zevin dan Nazia secara diam-diam. Setelah melihat Nazia sampai di dapur. Lilis tak membuang kesempatan. Ia menyelinap masuk ke dalam kamar Nazia.
Ia melihat siluet Zevin berdiri didekat balkon. Dengan penuh keberanian Lilis memeluknya dari belakang. Si empu tubuh tersentak mendapatkan pelukan di tubuhnya.
"Kak, Zev. Aku menyukaimu sejak lama. Aku menunggumu bertahun-tahun. Tapi kenapa kau menikahi wanita itu ? Mungkin kamu tidak mengenalku. Itu semua salah ayah dan ibu melarangku menemui. Ayo kak Zev tinggalkan wanita itu ! Menikahlah denganku." Kata Lilis panjang lebar. Ia menghirup aroma parfum Zevin begitu dalam. Tangannya semakin erat mengunci tubuh pria pujaan hatinya itu.
"Apa yang kamu lakukan di kamar ku ?!" Nazia menghidupkan lampu kamar. Entah sejak kapan ia masuk dan berdiri di sisi kasur.
Lilis tersenyum lalu menoleh ke asal suara. "Memeluk suamimu ! Sudah kukatakan. Aku menyukai kak, Zev." Ia tersenyum penuh kemenangan. Tangannya masih enggan melepaskan pelukannya.
Nazia duduk di atas kasur sambil menghirup tehnya. Tidak ada raut keterkejutan di wajahnya. Bahkan ia begitu santai menikmati tehnya.
"Kamu mengkhianatiku sayang?" Tanya Nazia lembut.
"Tidak, mana mungkin aku mengkhianati istriku yang cantik ini. Perjuanganku tidak mudah Cinta !" Jawab Zevin dari arah kamar mandi.
Lilis terkejut karena suara Zevin berasal dari kamar mandi dan semakin dekat pada Nazia di belakangnya. Ia berbalik matanya terbelalak melihat Zevin memeluk Nazia begitu mesra di atas kasur. Lalu siapa yang ia peluk saat ini?
"Berbaliklah !" Titah Nazia. Nada suaranya seperti biasa.
Pria dipelukan Lilis langsung berbalik. Wajahnya lebam dan bengkak, Lilis menarik tangannya dan menjauh dari pria itu.
"Ka—kau ! Ke —kenapa disini ?!" Tubuh Lilis gemetar dan gugup.
__ADS_1
"Kejutan !" Sahut Nazia. Ia bertepuk tangan pelan sambil tersenyum.
"Ka—kalian menjebakku ?!" Kata Lilis semakin tak karuan.
"Kamu menyukainya?" Nazia tersenyum lagi. Sementara Zevin hanya jadi penonton di balik tubuh istrinya. Bahkan teh buatan Nazia sudah berpindah setengahnya di dalam perutnya.
"Kurang ajar !! Kamu berani denganku ! Kak Zev lihat tingkah istrimu mengurung pria lain di kamarnya." Ucap Lilis. Berusaha mempengaruhi Zevin.
"Sejak tadi memang pria itu ada disini bersembunyi di balkon !" Sahut Zevin acuh. Ia semakin gemas pada istrinya. Ia bahkan tidak melihat lawan bicaranya hanya sibuk mencium pipi Nazia.
"Erik ! Bawa dia kebawah panggil kedua orang tuanya ! Agar mereka mendengarkan secara langsung pengakuan putrinya ini." Kata Nazia.
Erik langsung masuk. Entah di mana posisinya tadi. Saat disebutkan namanya langsung datang.
"Apa kamu semacam Jin ? Tiba-tiba datang saat namamu dipanggil." Seru Zevin.
"Anda benar tuan dan Jin inilah yang akan memberikan pelajaran untuk hama-hama kecil ini." Erik tersenyum sinis pada Lilis.
Beberapa pengawal langsung menyeret Lilis dan pria yang berperan sebagai Zevin untuk pergi ke lantai bawah. Lilis berteriak memberontak.
"Lepaskan aku ! Aku tidak tahu siapa pria ini. Kalian menjebakku !" Lilis meronta. Namun kalah kuat dengan pengawal yang menyeretnya.
Di ruang keluarga, Nazia dan Zevin duduk disalah satu sofa. Dalam keadaan begini pun Zevin masih saja posesif dan manja. Tangannya sejak tadi melingkar di tubuh Nazia. Ia tak banyak bicara hanya mencuri kesempatan untuk mencium dan bermanja-manja pada istrinya.
"Ada yang bisa dibantu, Nak?" Tanya ibu Nani.
"Iya Bi. Tapi sebelumnya maafkan kami memberikan sedikit kejutan untuk kalian berdua." Jawab Nazia santai.
Pak Danu dan Ibu Nani beralih melihat pada putrinya yang tertunduk lalu berpindah pada pria di sampingnya. Perasaan ibu Nani dan Pak Danu menjadi tidak tenang.
"Erik tunjukkan rekaman cctv-nya !" Kata Nazia.
Lilis gelagapan, ia tak menyangka jika perbuatannya terekam CCTV. Dia tidak pernah tahu jika Villa itu di lengkapi kamera CCTV. Erik memutar kejadian beberapa waktu lalu sampai mereka bersama keluar dari kamar.
"Mereka menjebakku !" Ucap Lilis tak terima.
"Tepat sekali ! Aku menjebakmu, sama seperti kamu membayar preman ini untuk menghadang kami. Lihatlah wajah suamiku membuktikan kejahatan mereka, saksinya adalah para pengawal keluarga Indra." Jelas Nazia panjang lebar. Ia juga menunjukkan sudut bibir Zevin sedikit lebam.
"Maafkan kami, Nak. Ini salah kami yang tidak mampu mendidik Lilis dengan baik." Ujar pak Danu dan Ibu Nani menunduk sedih.
"Bukan salah Paman dan Bibi. Tapi dia yang tidak tahu arti bersyukur dan berterimakasih." Sahut Zevin. Setelah lama diam akhir ia mengambil bagian untuk bicara.
"Silahkan hukum kami, Nak. Sekali lagi. Kami minta maaf atas ketidak nyamanan kalian berdua di Villa ini. Sebagai bentuk rasa sesal kami. Malam ini juga kami akan keluar dari Villa ini." Ucap Pak Danu.
"Ini keputusan paman. Baiklah ! Dan untuk kau kepala preman. Jangan pernah menginginkan istriku lagi. Atau tempat produksi kecebongmu itu akan dimusnahkan ! Susul teman-temanmu di hotel gratis sana. Dan untukmu ikut dengannya juga." Kata Zevin panjang lebar. Matanya memberikan tatapan dingin pada Lilis.
Lilis meraung menangis karena para pengawal Zevin dan Erik membawa mereka ke kantor polisi. Ibu Nani dan Pak Danu hanya bungkam tak mampu berbuat apa-apa.
"Bibi, Paman. Maafkan aku. Langkah ini harus kuambil agar putri kalian mendapatkan efek jera. Biarkan ia merenungi kesalahannya di sana. Agar ia lebih berpikir menggunakan akal sehatnya sebelum bertindak. Andai dia kalian ijinkan bertemu denganku sejak kecil. Mungkin dia tidak terobsesi denganku. Karena mengharapkan orang dalam diam itu menyiksa sekali. Hanya sebagian orang yang mampu menahan godaan agar tidak memaksakan kehendak pada orang lain. Dan aku pribadi tidak memilih derajat untuk berteman asalkan dia membawa pengaruh positif untukku." Ucap Zevin.
Pak Danu dan Ibu Nani mengangguk setuju. Benar yang dikatakan Zevin. Beberapa kali Lilis ingin bertemu secara langsung dengan Zevin untuk bermain bersama. Tapi Ibu Nani dan Pak Danu sering melarangnya. Karena beralasan Zevin putra pak Indra Jaya. Mereka takut jika Lilis membawa masalah untuk Zevin.
Nazia berdiri dari sisi Zevin lalu membawa tubuh Ibu Nani dan pak Danu duduk di sofa.
"Maafkan aku jika masalah ini diperpanjang. Karena apa yang dilakukan Lilis mengancam jiwa orang lain. Ini tidak akan lama, sampai dia benar-benar menyadari perbuatannya. Tapi jangan juga ditinggalkan sendirian. Seringlah mengunjunginya dan memberikan pengertian positif untuknya. Agar dia tidak mengulanginya lagi." Kata Nazia lembut.
Ibu Nani tersenyum pada Nazia. Pantas saja pikirnya Zevin begitu mencintai istri lnya. Tak hanya cantik. Tapi juga baik hati. Wanita yang ramah dan lembut.
"Terimakasih, Nak. Maaf bulan madu kalian jadi berantakan ." Balas ibu Nani menggenggam tangan Nazia.
__ADS_1
"Tidak masalah, Bi. Apa kalian yakin ingin keluar dari Villa ini?" Tanya Nazia.
"Iya, Nak. Sebenarnya sejak lama kami memang ingin kembali ke kampung halaman. Tapi belum ada kesempatan bertemu Tuan Indra. Karena setiap beliau kunjungan ke kota ini hanya sebentar." Jelas Pak Danu.
"Baiklah Paman. Untuk malam ini menginaplah disini. Besok pagi pengawal akan mengantar kalian ke kampung. Segala keperluan kalian akan diurus mereka untuk menetap di sana. Apa tempatnya jauh?" Kata Zevin.
"Tidak, Nak. Hanya dua jam naik mobil." Jawab ibu Nani.
"Kalau begitu biarkan kami ikut mengantar kalian besok." Sahut Nazia.
"Benarkah? Baiklah kalau begitu. Sekarang ayo kita beristirahat." Ujar Ibu Nani senang.
Zevin dan Nazia mengangguk. Setelah pak Danu dan Ibu Nani meninggalkan ruangan itu. Zevin menggendong Nazia untuk kembali ke kamar mereka.
"Ayo sayangku, kita lanjutkan kemesraan yang tertunda." Ucap Zevin bersemangat.
...----------------...
Kilas Balik
Nazia menghampiri Zevin dan Pengawal yang melumpuhkan enam orang itu. Zevin dibuat ketar ketir melihat istrinya semakin mendekat.
"Sayang kamu kenapa meminta menyisakan satu. Dia sudah tidak berdaya. Apa kamu benar-benar siluman macan tutul.?" Kata Zevin.
"Aku punya rencana. Mungkin aku tidak memiliki kepintaran bela diri. Tapi aku punya cara agar permasalahan ini tidak berlanjut." Jawab Nazia. Wajahnya nampak serius.
"Apa rencanamu?" Tanya Zevin.
"Boleh aku bicara padanya." Balas Nazia menunjuk pria di tangan salah satu pengawal.
"Baiklah, jangan lama-lama. Jika tidak, matanya kucongkel untuk dijadikan kelereng." Balas Zevin.
Para pengawal menahan tawa. Bisa-bisanya Zevin mengancam disaat seperti ini. Nazia mendekati pria itu lalu berkata.
"Siapa menyuruhmu? Ah Tidak, apa kamu ingin bekerja sama denganku? Kau pasti dibayar untuk menghadang kami." Ujar Nazia.
Pria itu mengangguk dari pada mati konyol di tangan pengawal yang memegang tubuhnya lebih baik mengakuinya. "Lilis yang membayar kami. Dia berjanji akan menikah denganku untuk jadi istri ke tiga" Menutupinya pun percuma begitu pikirnya. Karena ia tidak akan lolos begitu saja dari tangan pengawal Zevin.
"Bagus ! Sekarang mari kita bermain di atas permainannya." Ucap Nazia.
"Asal lepaskanaku !" Ujar pria itu mencoba bernegosiasi.
"Tidak janji ! Sesuai dengan hasil kerjamu." Ujar Nazia.
Pria itu terdiam sejenak lalu berkata
" Baiklah " Pasrah pilihan terbaiknya dari pada pulang tinggal nama.
Pengawal Zevin membawanya pulang ke Villa. Bersama Nazia mereka menyusun rencana untuk menjebak Lilis. Karena Nazia yakin wanita itu pasti datang malam ini.
"Cinta, apa dari siluman macan tutul sekarang kamu menjelma jadi rubah betinan? Aku hampir tidak mengenalimu." Ucap Zevin.
"Maafkan aku. Ini hanya sedikit pembalasan, aku lelah membiarkan orang-orang menyakitiku semaunya. Biarkan kali ini aku membalasnya dengan caraku !" Ujar Nazia.
"Hanya untuk hari ini ! Karena aku tidak mau kelembutan istriku. Terkikis oleh emosinya. Setelah ini dan seterusnya aku yang akan membalasnya. Tapi jika aku jauh darimu. Kamu boleh melawan untuk membela dirimu." Ujar Zevin menatap lekat pada Nazia.
"Tenanglah, aku tidak akan lepas kendali." Balas Nazia lembut.
Senyum hangat, sorot mata yang indah, suara lembut dan mendamaikan . Itulah yang membuat Zevin tergila-gila pada istrinya. Dan dia tidak ingin kehilangan itu semua.
__ADS_1
Erik bertugas memasang CCTV di kamar utama. Lalu preman itu diminta bersembunyi di balkon kamar. Nazia sengaja memancing Lilis agar masuk ke kamar mereka. Karena keterangan dari pengawal mereka. Lilis sejak tadi sudah mengawasi mereka. Tanpa melempar umpan yang banyak. Mangsa itu datang sendiri hanya cukup mengarahkannya saja agar jatuh kedalam lubang jebakan.
Kilas Balik Selesai