
Cuaca pagi itu terasa dingin, cukup membuat perut cepat lapar. Nazia dan Erik memakan sarapannya sambil berbincang. Di atas ranjang Zevin membuka matanya perlahan. Melihat itu Nazia langsung berdiri dari tempatnya duduk bersamaan dengan Erik, mereka berdua menghampiri Zevin.
" Masih sakit?" Tanya Nazia lembut.
Zevin menggeleng dan tersenyum. Erik memutar setelan ranjang agar lebih tinggi memudahkan Zevin bersandar.
"Selamat pagi, Tuan."
Zevin melihat pada Erik dari atas sampai bawah. "Pagi, Rik. Kamu sudah mandi ? Kenapa pagi ini kamu jelek sekali ?"
"Haa ?? Sa—saya belum mandi nanti pulang ke rumah saja. Tadi malam tidak membawa baju ganti." Ujar Erik. Ia tersenyum tipis karena tampilannya tak jauh berbeda dengan Zevin.
"Pulanglah, mandi dulu ! setelah itu kamu belikan aku roti di tempat Haris bekerja minta yang agak gosong."
"Agak gosong ?!" Kata Erik dan Nazia bersamaan.
"Iya, pasti enak dan wangi ! Aku jadi tidak sabar." Zevin terlihat sangat bersemangat.
"Baiklah Tuan saya pulang dulu dan juga akan membeli roti yang anda maksud." Erik meraih jaket dan kunci mobil.
"Hm, hati-hati"
**P**ulang sana ! Kamu cukup lama berduaan dengan istriku sewaktu aku tidur
Zevin tersenyum tipis.
Nazia merapikan kotak makannya dan Erik. Lalu membantu Zevin ke kamar mandi.
"Tubuhmu masih sakit?"
"Sudah tidak lagi, mungkin hanya shock." Jawab Zevin.
"Aku seka tubuhmu dulu ya, setelah itu sarapan." Nazia menyiapkan baskom kecil dan handuk.
Usai bersih-bersih Zevin langsung sarapan, walau sakit tapi tetap bisa manja pada sang istri.
"Sayang belum morning kiss" Sumpah demi Erik yang jomblo wajah Zevin terlihat menggemaskan.
Nazia terkekeh lalu mencium seluruh wajah suaminya itu. Wajah Zevin memerah saking senangnya, kali ini ia juga membalas mencium wajah istrinya .
"Obat mujarab !"
Suara horor mengejutkan dua insan di dalam ruangan itu. Nazia dan Zevin bersama mengalihkan pandangan ke arah pintu.
"Ay, Vian !"
Rayya dan Vian tersenyum tanpa dosa setelah menonton acara manis pagi ini.
"Bagaimana kondisimu, maaf tadi malam kami tidak datang, karena Vira tiba-tiba rewel." Kata Raya.
"Tidak apa-apa, aku sudah membaik."
"Aku jadi tidak yakin kamu sakit, melihat adegan tadi kamu sepertinya baik-baik saja. " Goda Vian.
Zevin terkekeh.
"Kalian sudah sarapan? "
"Sudah, bagaimana hasil penyelidikannya?" Tanya Vian.
Zevin menggenggam tangan istrinya. "Untuk sementara mereka menduga mobilku disabotase." Ia tersenyum memberikan ketenangan untuk Nazia.
"Semoga dapat pelakunya."
"Zev, apa kamu menambah keamanan basemen rumah sakit? Karena kemarin penjaganya ada tiga" Seru Rayya.
"Tidak ada, Ay. Hanya dua karena basemen itu khusus dokter saja." Jawab Zevin.
Suasana tiba-tiba tegang mereka saling pandang sambil mencerna ucapan Rayya. Siapa orang yang di maksud Rayya?
"Selamat pagi semuanya." Sapa dokter Yudha.
"Selamat pagi."
"Bagaimana kondisimu dokter, Zev? Apa yang masih terasa sakit ?"
"Lumayan membaik. Bagian dadaku saja sedikit nyeri." Jawab Zevin.
"Kita akan melakukan pemeriksaan menyeluruh hari ini walau pun, kecelakaan yang di alami dokter Zev tidak terlalu parah. Tapi tetap kita harus memeriksanya." Ucap dokter Yudha. Pandangannya tertuju pada Nazia.
"Biar Zev yang memutuskannya."
"Apa ada muntah tadi malam?" Tanya dokter Yudha.
"Aman semua tidak ada yang serius, tidak perlu CT scan. Kamu atur rontgen saja untukku."
"Baiklah kalau memang nanti hasilnya baik kamu boleh keluar dan rawat jalan saja." Ujar dokter Yudha.
Sementara Zevin menerima rangkaian pemeriksaan, Nazia berbincang dengan Rayya dan Vian. Usai melakukan pemeriksaan dokter Yudha keluar dari ruangan Zevin, tak lama Rayya dan Vian juga pamit pergi.
"Kamu yakin rawat jalan saja?" Nazia mengusap bagian dada Zevin yang memar.
Zevin tak hentinya menatap wajah istrinya itu bahkan tangannya tak lepas menggenggam jari Nazia.
"Aku yakin sayang, aku mau dirawat di rumah saja."
Pintu terbuka nampak Erik membawa bungkusan roti yang dipesan Zevin.
__ADS_1
"Tuan ini roti pesanan anda." Ia meletakan bungkusan roti itu di atas nakas.
Zevin berusaha duduk sambil dibantu Nazia. "Iya, bagaimana, Rik ! Ada perkembangan ? Kemarin Rayya melihat ada petugas keamanan basemen tiga orang. Bukankah ? Kita tidak menambah orang."
"Pelakunya sudah ketemu, Tuan. Sekarang berada di kantor polisi. Orang yang dilihat dokter Rayya itu lah penyusup yang merusak rem mobil anda. Sebentar lagi polisi kesini." Jawab Erik sambil melepaskan jaketnya.
"Siapa yang menyuruhnya ? " Zevin nampak berfikir.
Erik mengambil satu buah jeruk di atas meja. "Jika anda ijinkan saya akan mencari tahu ini sendiri dan anda fokuslah untuk sembuh."
"Baiklah cari tahu saja." Titah Zevin. Ia nampak iri melihat Erik memakan buah jeruk.
"Anda mau, Tuan?" Erik menawarkan jeruknya.
Zevin mengangguk pelan lalu menerima buah jeruk itu.
"Manis !" Ia meminta kembali pada Erik.
"Sayang rotinya mau dimakan sekarang?" Nazia membuka bungkus roti.
"Iya sini." Zevin mengambil rotinya.
Dokter Yudha datang untuk membawa Zevin ke ruang radiologi di sana ia akan melakukan rontgen. Nazia mengikuti mereka berdua sementara Erik menunggu di dalam ruangan. Sepeninggalan Zevin dua polisi datang kembali ke rumah sakit.
"Selamat pagi."
Erik menoleh ke pintu.
"Selamat pagi, Pak. Silahkan masuk." Ia mempersilahkan tamunya duduk.
"Terimakasih, di mana dokter, Zev?" Polisi bertanya
"Sedang rontgen sebentar lagi kembali." Balas Erik.
"Baiklah, kami akan menunggu saja."
Erik menunggu lalu mengambil minuman kaleng yang dingin di dalam kulkas. Menunggu cukup lama, Zevin kembali ke dalam ruangan bersama Nazia.
" Selamat pagi dokter."
"Selamat pagi, bagaimana siapa pelakunya?" Balas Zevin.
"Dari hasil CCTV basemen rumah sakit, ada seseorang yang menyusup menyamar sebagai petugas keamanan basemen. Dia mengelabui dua petugas lainnya untuk melaksanakan niatnya. Walau dia sudah merusak cctv-nya, tapi wajahnya terekam dengan di CCTV tersembunyi luar basemen dan dua petugas keamanan di sana bisa mengenali ya." Jelas polisi.
"Di mana ketemu dia ?"
"Di terminal, ia berniat pergi. Setelah dapat info tentangnya kami langsung memblokir jalan untuk keluar kota." Jawab salah satu polisi.
"Setelah saya sembuh, saya akan ke kantor polisi untuk menemuinya."
"Tidak ada."
"Baiklah kami harus kembali ke kantor, semoga cepat sembuh selamat siang." Mereka berdua meninggalkan ruangan Zevin.
...----------------...
Kilas Balik
Satu hari sebelum terjadinya kecelakaan, nampak pria misterius memantau dari depan gedung rumah sakit. Pria itu mencari cela masuk ke dalam basemen.
Pria menunggangi motor besar itu seperti menunggu seseorang di depan pintu masuk basemen. Entah sadar atau tidak jika gelagatnya terekam kamera CCTV tersembunyi.
"Anda menunggu siapa?" Ucap Akmal kepala keamanan basemen. Ia menghentikan motornya.
"Saya karyawan baru, ingin masuk ke dalam tapi belum tahu seluk beluknya." Jawab pria itu. Ia menggunakan pakaian yang sama dengan pak Akmal.
"Ayo masuk bersama saya." Akmal memberikan tumpangan.
Pria yang mengaku bernama Rio itu mengangguk lalu duduk di belakang. Mereka bersama-sama masuk ke dalam, sementara motor miliknya dititipkan dikhusus parkiran pengunjung.
Setelah sampai ia juga berkenalan dengan rekan kerja Akmal. Mereka bersenda gurau dengan ramah.
Sambil berbincang Rio mengamati tiap plat mobil yang sudah terparkir pagi itu, matanya berhenti di plat mobil hitam yang sama dengan nomor di ponselnya.
"Itu mobil hitam di tengah milik siapa?" Tanya Rio.
"Itu milik dokter, Zev. Direktur rumah sakit."
"Bagus ya, aku suka mobil seperti itu" Balas Rio.
"Kamu benar aku juga suka , mobil dokter Zev tidak terlalu mewah seperti mobil dokter yang lainnya. Tapi dalamnya nyaman aku pernah masuk ke dalam mobil itu." Jelas Akmal antusias.
"Mobil lama tapi terawat. Sepertinya aku harus menabung agar bisa membeli mobil seperti milik dokter, Zev." Rio tersenyum pada Akmal.
"Aku juga menabung tapi belum cukup saja."
Sementara mereka berbincang rekan mereka yang satunya harus bolak balik keruang anak, karena putrinya sedang dirawat di sana.
"Di mana letak kantinnya?" Tanya Rio.
"Lorong ini masuklah nanti kamu bisa melihat di papan petunjuk."
Rio mengangguk, ia bergegas ke kantin dengan alasan ingin membeli kopi karena mengantuk. Hampir 25 menit ia datang dengan membawa dua tiga cup kopi hangat.
" Ayo minum !" Rio mempersilahkan Akmal dan rekannya.
"Terimakasih." Mereka menyesap kopi miliknya masing-masing.
__ADS_1
"Besok jika kamu datang lebih awal masuk saja, di sana ada finger print, kamu pasti sudah terdaftar bisa menggunakannya." Kata Akmal.
"Baiklah besok aku tidak lagi menunggu seperti tadi."
"Maaf aku tinggal dulu, istriku meminta datang ke ruang anak." Ucap rekan Akmal,
Akmal merasakan ngantuk luar biasa beberapa kali ia menguap hingga mata nya berair.
"Rio bisakah ? Kamu berjaga sebentar. Aku sangat mengantuk."
"Baiklah,"
" Aku tidak tahu kenapa mataku berat sekali." Akmal menelungkupkan wajahnya di meja.
"Tidurlah."
Setelah dirasa aman, ia memutuskan kabel yang berhubungan dengan CCTV basemen dan layar di atas meja mereka. Pria berkaca mata ini memang menyempurnakan penyamarannya hingga dokter-dokter yang baru berdatangan tidak menaruh curiga. Ia berkeliling terlebih dulu lalu masuk mendekat ke arah mobil Zevin. Menghabiskan waktu 15 menit ia kembali dan duduk di kursi nya lagi.
Tak lama rekan mereka kembali.
"Maaf aku ke tiduran di ruang anak." Ucap nya.
"Tidak masalah, bisakah ? Aku keluar sebentar. Aku harus ke rumah memastikan bibiku sudah makan atau belum, karena dia tidak akan makan tanpa aku." Kata Rio.
"Baiklah"
Rio mengangguk, ia keluar dari dalam rumah sakit seolah-olah sedang berkunjung ke sana. Pria itu berjalan santai menuju tempat motornya terparkir sesaat sebelum melajukan motornya, ia menelpon seseorang dan memberi tahukan pekerjaannya selesai.
Kilas Balik Selesai
...----------------...
Jam makan siang Ivan datang berkunjung membawa makanan dan salad buah. Pria itu makan siang di rumah sakit, Nazia dan Ivan duduk di sofa sambil menikmati salad buahnya sambil berbincang.
Kadang mereka tertawa dan saling menyuapi, Nazia tidak lagi seperti kemarin. Sekarang ia percaya jika suaminya baik-baik saja. Kedua saudara itu tidak menghiraukan seseorang yang tengah kepanasan karena cemburu di atas ranjang. Zevin tidak lagi fokus berbicara dengan Erik, matanya fokus pada Ivan yang tengah bermanja-manja dan saling menyuapi pada istrinya.
"Ahh"
"Kenapa sayang?" Nazia refleks berdiri dan menghampiri suaminya
Erik tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya. Bukannya cemas ia malah duduk di sofa bersama Ivan mengambil alih cup salad buah.
"Dadaku sakit sayang." Zevin menyadarkan kepalanya di dada Nazia.
Posisi Nazia yang memang berdiri memudahkan Zevin memeluk tubuhnya.
"Harusnya perawat menyuntik anti nyerinya lagi." Nazia mengusap pelan dada suaminya.
"Tunggu saja." Zevin semakin mengeratkan pelukannya. Bibirnya tersenyum senang tanpa sepengetahuan istrinya.
Ia masih menyadarkan kepalanya di dada Nazia
Zi milikku dan tubuh ini hanya aku yang boleh menyentuhnya, enak saja pria gemulai itu bemanja ria dengan istriku
Zevin menatap tajam pada Ivan yang tengah mengecek ponselnya.
Ibu Mira dan dokter Radit hampir tiap dua jam sekali menanyakan kondisi Zevin, begitu juga ibu Felisya dan pak Indra. Mereka belum sempat datang ke rumah sakit karena ada pekerjaan penting.
Hasil pemeriksaan menyatakan Zevin sangat baik, dadanya hanya mengalami memar tidak ada retak tulang atau semacamnya. Ia juga bisa pulang sore ini. Setelah kepulangan Ivan dan Erik, Zevin kedatangan tamu lagi.
"Selamat siang dokter, Zev." Sapa Alby tersenyum. Ia datang bersama Jimmy.
"Selamat siang Tuan muda, dari mana kalian tahu aku di sini ?"
Alby menghampiri Zevin.
"Dari Vian, saat kami makan siang tadi. Wah apa aku tidak salah lihat ? Kamu bukan seperti pasien tapi terlebih seperti pengunjung hotel lihat bajumu bukan memakai pakaian rumah sakit tapi memakai piyama tidurmu." Alby terkekeh.
Zevin tersenyum
"Aku tidak bisa memakai pakaian pasien"
"Anda pasien aneh dokter, Zev !" Seru Jimmy.
"Maksudmu?"
"Setelah saya lihat anda seperti bukan pasien sakit. Lihat selimut dan bantal anda pun sepertinya dibawa dari rumah." Ejek Jimmy.
"Ruangan ini di buatnya seperti hotel." Sambung Alby.
Zevin hanya tersenyum, tak lama Nazia juga masuk ke dalam ruangan itu.
" Al, kak Jimmy."
"Hai Zia."
"Kalian sudah lama? " Nazia mengambil minuman dingin.
"Belum juga," Jawab Alby. "Bagaimana kabarmu?" Tatapan lekat dari Alby membuat Zevin memanas lagi.
"Baik, Al. Ayo di minum." Nazia mempersilahkan.
"Di mana-mana menjenguk orang sakit bawa buah tangan" Sindir Zevin.
Alby tertawa.
"Maaf aku lupa, tapi setelah kuperhatikan kamu sudah sembuh."
__ADS_1