
Kediaman Indra Jaya
Hari ini Zevin mengenakan jas kantoran. Wajah tampannya semakin mempesona setelah memakai pakaian yang berbeda.
Nazia seakan tak rela jika hari ini suaminya akan datang ke kantor pusat, terlebih hari ini sangat berkharisma.
"Kamu kenapa sayang?" Zevin melingkarkan tangannya di pinggang Nazia.
"Kamu terlalu tampan hari ini, aku tidak rela jika orang lain melihatmu." Nazia selesai merapikan dasi di leher Zevin.
"Kamu posesif padaku ?! Terimakasih sayang, begini rasanya diposesif sama istri. Aku senang, serasa aku pria paling beruntung memiliki istri yang posesif padaku." Wajah Zevin tampak bahagia. Jarang sekali istrinya mengekpresikan perasaannya.
Nazia tersenyum. "Aku tidak suka milikku menjadi objek ketertarikan orang lain." Ujarnya mengecup singkat bibir suaminya.
"Kamu pasti tahu aku sayang, sebagus apa pun tampilan di luar sana aku selalu menjaga pandangan dan hatiku." Zevin mendaratkan ciuman penuh kasih sayang di kening Nazia.
"Ayo kita berangkat." Nazia menggandeng lengan Zevin.
Mereka berdua bersama-sama turun dari lantai atas. Di meja makan pak Indra dan yang lainnya sudah menunggu.
"Kamu tampan sekali, Zev." Puji ibu Felisya.
"Tentu saja dia tampan karena mewarisi gen ku." Sahut pak Indra.
"Tidak, ketampananku berasal dari diriku sendiri." Seru Zevin.
Pak Indra terkekeh
"Ingat pertemuanmu jam sepuluh."
"Iya, Pa. Aku mengantar Zi lebih dulu." Balas Zevin.
...----------------...
Rumah Sakit Z.K
Nazia dan Zevin tiba di rumah sakit. Ia mengantar istrinya sampai ke ruangannya.
"Jadwalmu apa hari ini sayang?"
"Di ruang kebidanan. Ay, juga ke ruang anak." Jawab Nazia.
"Baiklah nanti pulang kujemput, jangan kemana-mana untuk makan siang nanti minta Ivan kirim kesini." Zevin memeluk dan mencium istrinya.
Padahal dirinya hanya pergi ke ruang direktur tapi tingkahnya seperti akan pergi jauh saja.
"Selamat pagi dokter, Zev." Sapa dokter Yudha.
"Selamat pagi."
"Bagaimana kondisimu?" Dokter Yudha meletakkan tas kerjanya di atas meja.
"Sudah membaik, terimakasih sudah merawatku."
Setelah berbincang sedikit pada dokter Yudha, Zevin pergi keruangannya. Jas kantor yang sempat dipakainya ditinggalkannya begitu saja di mobil, ia tidak ingin menjadi objek tatapan memuja dari kaum hawa di rumah sakit miliknya, karena istrinya pasti akan sedih.
Zevin tengah fokus mengecek laporan rumah sakitnya, terdengar pintu ruangannya di ketuk dari luar.
"Masuk "
"Permisi dokter, Zev. Ada pasien baru masuk ruang VIP cidera kaki." Seorang perawat laki-laki memberikan berkas pasien baru.
"Baiklah saya akan ke sana." Zevin menutup kembali berkasnya.
Ia melangkah keruangan VIP bersama perawat itu. Setelah sampai di sana ia melihat seorang wanita terbaring di ranjang pasien.
"Permisi, anda pasien cedera kaki? " Suara Zevin seolah menghipnotis seorang wanita yang tengah menatapnya kagum.
" Be—benar kaki saya cidera saat latihan." Jawab wanita itu.
Dia adalah seorang model yang baru saja namanya melejit di dunia modeling. Wanita bernama Sania ini tidak berkedip memandang Zevin.
"Hasil pemeriksaan dari UGD kaki anda hanya cidera ringan. Untuk memastikannya lagi nanti kita lakukan Rontgen."
"Iya terimakasih, kalau boleh tahu siapa nama anda?" Tanya Sania tersenyum manis.
"Saya biasanya di panggil dokter, Zev. Silahkan beristirahat sejauh ini kesehatan anda selain cidera kaki semuanya baik. " Jawab Zevin. Raut wajahnya sudah berubah datar wanita di hadapannya ini terlihat menyebalkan.
"Boleh saya minta nomor ponsel anda? Jika ada apa-apa saya bisa menghubungi anda." Sania menggigit bibir bawahnya
__ADS_1
"Anda tinggal memencet tombol darurat di sebelah kepala bed maka dokter atau perawat jaga akan segera datang. Saya permisi." Zevin langsung melangkah keluar di ikuti perawat tadi.
" Ma, dia sangat tampan." Celetuk Sania.
"Dia memang tampan, apa kamu lihat ? jarinya mengenakan cincin, itu tandanya dia sudah menikah." Jawab mama Sania.
"Tidak masalah, para pria akan bertekuk lutut jika melihat tubuh seksi seorang wanita."
"Jaga bicara mu, San !" Bentak mama Sania
...----------------...
Kantor pusat J.G
Zevin telah tiba di kantor pusat, terlihat Erik sudah menunggunya di depan pintu. Kali ini resepsionis tidak menegur Zevin karena Erik sendiri yang datang menjemputnya.
"Apa aku terlambat?" Zevin merapikan jasnya di dalam lift.
"Tidak tuan, mereka juga belum datang."
"Di mana Papa?" Tanya Zevin.
"Tuan sedang berkunjung ke kantor cabang bersama pak Ali." Balas Erik.
"Baiklah kita mulai memberikan kejutan untuk mereka." Zevin terkekeh.
"Pasti seru, Tuan." Erik juga tertawa.
Lihatlah asisten dingin ini bisa tertawa bersama Zevin tapi tidak bisa tertawa bersama orang lain. Lift terbuka, Zevin dan Erik bersama melangkah keluar menghampiri Ralda.
"Selamat datang, Tuan." Sapa Ralda.
"Apa semua sudah siap?"
"Sudah Tuan, saya memilih ruangan meeting untuk pertemuan ini."
"Baiklah, aku masuk dulu ke dalam ruangan Papa." Zevin melangkah masuk ke dalam ruangan Pak Indra. Erik juga mengekor di belakangnya.
Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan jam sepuluh, mobil Alby juga sudah tiba di halaman kantor pusat JG. Mereka takjub melihat kemegahan gedung milik tuan Indra itu.
"Selama ini aku hanya melihatnya dari jauh. Ternyata sedekat ini sangat megah." Gumam Alby kagum.
Mereka berdua masuk ke dalam gedung menemui resepsionis.
"Selamat pagi Tuan ada yang bisa kami bantu?" Tanya resepsionis.
"Kami ada janji bersama Pak Indra."
"Baiklah, nanti staf kami yang akan mengantar anda." Balas resepsionis itu ramah.
"Terimakasih."
Tak lama datanglah seorang staf mengantarkan tamu kantor mereka keruangan pak Indra.
"Mari Tuan ikut saya." Staf itu mempersilahkan Alby dan Jimmy mengikutinya.
"Pelayanannya ramah ya tuan." Seru Jimmy.
"Kamu benar."
Staf di samping mereka hanya tersenyum mendengar pujian dari tamu mereka. Lift berhenti di lantai yang di tuju. Staf itu menghampiri Ralda.
"Nona mereka tamu hari ini."
"Terimakasih, kamu bisa kembali bekerja."
Alby dan Jimmy tak berkedip melihat Ralda tersenyum pada staf tadi. Bibir tipis, kulit putih dan bersih serta rambut panjang di ikat satu. Pakaian kantornya berbentuk stelan celana dan tubuh yang tidak terlalu tinggi sangat indah makhluk Tuhan yang satu ini.
"Ehm, perkenalkan saya Ralda sekretaris Tuan Indra." Kata Ralda mengembalikan Alby dan Jimm ke dunia nyata.
"Ah, saya Alby dan ini asisten saya Jimmy. Kami dari perusahaan Az Group." Alby memperkenalkan diri mereka.
Cantik sekali
"Baiklah Tuan silahkan ikut saya." Ralda melangkah lebih dulu menuju ruang meeting.
Alby dan Jimmy melangkah mengikuti Ralda, tatapan Alby tak lepas dari wanita di hadapannya ini. Setelah mengantar Alby dan Jimmy, Ralda kembali keluar memanggil Zevin dan Erik.
Di dalam ruangan meeting Alby dan Jimmy masih mengagumi ruangan itu mereka penasaran siapa yang mendesainnya.
__ADS_1
Suara hentakan sepatu mengalihkan perhatian Alby dan Jimmy di pintu masuk dari langkah kakinya terdengar tegas dan berwibawa.
Pintu terbuka.
Erik melangkah terlebih dulu masuk, Alby dan Jimmy tersenyum melihat kedatangan Erik.
"Silahkan, Tuan." Erik mempersilahkan seseorang masuk kedalam ruangan itu.
Zevin melangkah masuk disertai senyum manisnya. "Selamat datang di kantor Jaya group Tuan muda." Ia menyapa sambil melangkah.
Alby dan Jimmy terbelalak.
"Dokter, Zev !!" Pekik mereka berdua bersamaan. Wajah keduanya terlihat sangat terkejut.
"Iya saya." Zevin terkekeh.
"Kenapa anda di sini ?! Di mana putra Tuan Indra." Tanya Jimmy heran.
"Karena aku pemilik tempat ini dan aku lah putra Tuan Indra." Jawab Zevin masih dengan senyuman manisnya.
"Jangan bercanda, Zev !"
Zevin terbahak sesaat kemudian wajahnya berubah serius. "Perkenalkan namaku ZEVIN KAVINDRA JAYA putra tunggal Indra Jaya."
"Ha ?? Ja—jadi kamu benar putra tuan Indra?" Alby terbata tak percaya.
"Benar, Tuan Zev putra tuan Indra Jaya." Sahut Erik membenarkan.
Zevin tersenyum puas melihat wajah keterkejutan Alby dan Jimmy.
"Aku yang akan membantu mengurus proyek itu."
Alby menatap tajam Zevin.
"Kamu yakin? Bukankah ? profesimu seorang dokter."
"Tentu, kenapa tidak ?! Tuan Indra sendiri yang memintaku."
Cukup lama mereka membahas proyek kerja sama itu setelah mendapat kesepakatan yang baik untuk memulainya. Akhirnya mereka berbincang biasa tak lupa Ralda juga mencatat poin pentingnya.
"Kenapa kamu merahasiakan identitasmu?" Alby kembali menyesap minuman dinginnya.
"Aku sengaja, karena aku ingin bebas melangkah kemana saja."
"Selain aku dan Jimmy siapa lagi yang tahu?" Alby kembali bertanya untuk menuntaskan rasa penasarannya.
"Hanya beberapa orang penting saja. Di kantor ini pun, tidak ada yang tahu. Jadi untuk kalian berdua rahasiakan juga."
"Aku kira pewaris Tuan Indra adalah pria cacat atau buruk rupa. " Ejek Jimmy.
Zevin tertawa.
"Sekarang kamu sudah melihatkan bagaimana tampannya seorang putra Indra Jaya ! Aku tidak suka dikawal jika kemana-mana hanya Erik yang selalu bersamaku beberapa tahun ini, jika banyak orang tahu siapa aku? Maka Papa akan menyiapkan orang terbaik di Jaya Group untuk mendampingiku."
"Aku masih seperti bermimpi, ternyata rivalku selama ini seorang pewaris Jaya Group." Celetuk Alby.
"Setelah ini kita akan sering bertemu tuan muda." Balas Zevin tertawa.
"Zev, sekretaris Papamu apa benar dia?
" Ralda maksudmu? Benar dia sekretaris Papa yang baru, karena sekretaris lama sedang mendampingi putrinya berobat keluar negeri."
Banyak hal yang mereka bicarakan sehingga waktu pertemuan mereka mendekati jam makan siang.
"Zev, sepertinya kami pamit dulu ! "
"Baiklah , aku juga harus kembali ke rumah sakit menjemput istriku." Balas Zevin.
Alby mengulurkan tangannya lalu di ikuti Jimmy. Mereka bersama keluar dari ruangan itu, Alby kembali melihat ke arah meja sekretaris. Lagi-lagi makhluk cantik itu menarik perhatiannya, jika banyak wanita memberikan tatapan memuja padanya maka wanita yang satu ini terlihat mengabaikannya.
"Zev, sepertinya aku akan sering datang ke kantor Papamu ini." Ujar Alby.
"Kenapa?"
"Karena makhluk manis di sini memiliki magnet yang bisa menarikku." Alby menatap wajah cantik yang sedikit jauh dari mereka.
Zevin mengikuti arah pandangan Alby, kini ia mengerti maksud dari ucapan Alby.
"Makhluk itu memang manis, tapi asal kamu tahu ada anak singa berdiri di depannya yang siap mencabik lawannya. Jadi kuharap lumpuhkan dulu anak singanya baru bisa kamu mendekati makhluk manis itu." Ia tersenyum melihat kebingungan Alby.
__ADS_1