Suami Manja Dokter Zi

Suami Manja Dokter Zi
Ketakutan Sherin


__ADS_3

Dua hari di rawat di rumah sakit. Alby kembali beraktivitas. Pak Reza meminta anak menantu serta besannya untuk makan malam bersama. Namun, usul itu belum di setujui oleh Ibu Anggi dan Erika.


Sampai saat ini mereka berdua masih belum bisa menerima Sherin sebagai menantu dan ipar di keluarga itu. Apalagi Erika, kerap kali melihat Sherin keluar rumah dan bersenang-senang bersama beberapa orang. Entah itu temannya atau kerabatnya, ia sendiri tidak tahu.


Hari ini Alby menghadiri rapat pembahasan kerja sama dengan perusahaan Pak Toni ayah Sherin. Sesekali mertuanya itu memuji kepandaian Alby dalam berbisnis di depan rekannya.


"Papa tidak perlu berlebihan" Alby memaksakan senyum pada mertuanya itu.


"Itu kenyataan nya, Al. Buktinya kamu bisa mengatasi masalah proyek besar itu sampai selesai." Ungkap pak Toni.


"Iya semua sudah selesai hanya menunggu peresmian saja"


"Bagaimana kabar Sherin? Dia belum pernah pulang ke rumah setelah menikah" Tanya pak Toni. Saat mereka keluar dari ruang rapat.


"Tidak pernah pulang ? Bukankah, kemarin dia ijin menginap ke rumah papa selama tiga hari ? Aku memang tidak bisa mengantarnya karena aku sedang sibuk di kantor"


Pak Toni sedikit terkejut. "Kemana dia selama tiga hari itu?" Tanyanya nampak sedang berfikir.


"Nanti aku tanyakan di rumah, baiklah aku permisi dulu, sebentar lagi ada jadwal bertemu klien." Pamit Alby.


Di perjalanan, Alby Meminta singgah di restoran milik Vian. Di jam seperti itu Nazia pasti ada di sana begitu pikirnya. Rasa rindu yang terpendam membawa Alby datang ke tempat itu.


"Jim, kita singgah di restoran Vian" Alby menyandarkan tubuhnya di kursi.


"Baik, tuan." Mobil terus melaju dengan kecepatan rata-rata. Jimmy memarkirkan mobilnya dengan benar. Kemudian membuka pintu untuk tuannya. "Mari."


"Jim, apa Zia ada disini?" Alby menghentikan langkahnya.


Jimmy terdiam sejenak dan berpikir. Rupanya mampir ke tempat itu hanya untuk melihat Nazia. "Saya kurang tahu tuan. Karena kita sudah tidak lagi menempatkan seseorang untuk memantau nona Zia." Jujur laki-laki ini.


Alby mendesah pelan. "Ayo masuk ! pesankan minuman saja" Titahnya melenggang meninggalkan Jimmy.


Setelah sampai di sana benar saja, Nazia sedang makan siang bersama Rayya dan Zevin. Masih seperti sebelumnya, Alby hanya bisa melihat dari kejauhan.


Tak lama muncul Ivan ikut bergabung di sana. Ia berjanji akan ikut bersama Nazia untuk melihat rumah prakteknya.


"Kamu siap?" Ivan langsung menyeruput jus milik Nazia.


Mata Zevin hampir melotot. "Hei, kenapa kamu minum dari gelas. Zi !" Pekiknya tidak terima.


"Haus, Kak."


"Tapi tidak satu sedotan seperti itu !" Zevin memasang wajah kesal.


Ivan memberikan senyuman lebarnya kepada Zevin. "Dari pada kakak langsung dibibir"


"A—apa maksud mu?" Zevin tiba-tiba gugup dan merona.


Ivan semakin semangat menggoda Zevin. "Sini aku kasih tahu." Mendekatkan bibirnya ke telinga dokter tampan itu.


"Hei jangan mencium ku !" Pekik Zevin lagi.


Vian ikut geli lalu mengajak Rayya masuk kedalam ruangannya. Sementara Nazia bersikap tak mau tahu memegang ponselnya.


Ivan terkekeh. "Dari pada aku mencium kakak lebih baik aku mencium, Zizi" Ucapnya mengecup pipi Nazia sebelah kiri.

__ADS_1


"Beraninya kamu mencium, Zi !" Zevin semakin kesal.


Ivan bersikap tenang. "Aku sudah sering menciumnya dari sejak kecil." Ungkapnya bangga.


"Apa ?!" Zevin langsung berdiri lalu meraih tissue menggosok pipi Nazia.


Nazia merasa risih karena Zevin terus mengusap pipinya menggunakan tisu. Karena sejak tadi ia membalas pesan dari Vino, jadi tidak terlalu memperhatikan pembahasan Ivan dan Zevin.


"Kak, Zev ! Aku hanya mencium pipinya. Bukan bibirnya." Seru Ivan  tersenyum.


Zevin menghentikan tangannya lalu melihat kepada Ivan dengan tatapan menyelidik. Ia Melangkah pelan dan berbisik kepada pria itu. "Katakan apa yang kamu tahu?"


Ivan terkekeh. "Kakak mencuri ciuman Zizi saat dia tidur." Balasnya berbisik.


"Jadi kamu mengintip?" Alis Zevin hampir menyatu karena kesal bercampur malu.


"Sedikit ! Tapi tidak sengaja" Ivan tersenyum lebar.


"Simpan rahasia ini."


Pergerakkan Ivan dan Zevin mengalihkan pandangan Nazia.


"Apa yang kalian bicarakan?"


"Tidak ada yang penting, sayang." Zevin refleks menarik tubuhnya bergeser.


Ivan terkekeh melihat wajah panik Zevin. Sebenarnya Nazia sudah biasa mendapatkan ciuman di pipi dari Ivan. Karena pria gemulai itu akan mencium dirinya dan ibu Mira kapan saja ia mau. Rasa sayangnya benar-benar ditumpahkannya pada dua wanita yang memberikannya kasih sayang sejak kecil itu.


Ivan terlahir ke dunia tanpa sempat melihat wajah ibunya. Karena mengalami pendarahan Ibunya Ivan meninggal dunia setelah melahirkannya. Beruntung orang tuanya memiliki sahabat rasa saudara seperti ibu Mira dan pak Hendrik, yang bersedia merawat Ivan sampai berusia sepuluh tahun.


"Ayo." Nazia meraih tasnya lalu berdiri.


Zevin membayar makanan mereka terlebih dulu. Lalu mengikuti Nazia dan Ivan keluar dari restoran.


...----------------...


Setelah kepergian tiga orang itu Alby dan Jimmy juga memutuskan kembali ke kantor. Perasaan cemburu dan menyesal menjadikan Alby diam seribu bahasa. Di tengah sunyinya di dalam mobil. Ponsel Jimmy bergetar. Ia membiarkan begitu saja ponselnya bergetar tanpa berniat menjawabnya. Perhatian Alby teralihkan karena hal itu.


"Kenapa tidak dijawab, Jim?"


"Biarkan saja tuan, nanti akan saya telpon kembali"


Mereka kembali diam. Sampai mobil tiba di depan kantor. Jimmy membuka pintu kemudian mempersilahkan Alby keluar. Wajah tak bersemangat tergambar di wajah tuannya. Ada rasa kasian di hati Jimmy. Tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa karena semua sudah jadi pilihan Alby.


Jimmy menelpon kembali nomor orang yang menelpon nya tadi. "Bagaimana ?" Tanyanya setelah telpon tersambung.


"Semua sudah beres tinggal kamu tunjukkan kepada tuan Alby"


Jimmy segera bergegas masuk menyusul Alby. "Permisi tuan"


"Masuk, Jim. Ada apa?" Alby melihat ke arah pintu masuk.


"Tuan meeting dua jam lagi bersama manajer keuangan dan beberapa karyawan yang mengurus proyek yang telah rampung. Tapi sebelum itu saya ada janji pribadi dengan seseorang di luar. Saya ijin untuk menemuinya." Jawab Jimmy.


"Pergilah ! Pastikan sebelum meeting di mulai kamu sudah kembali"

__ADS_1


"Baik tuan terimakasih" Jimmy membungkuk lalu pergi meninggalkan ruangan Alby.


...----------------...


Selepas meeting Alby segera menghubungi ibu Anggi untuk menyetujui usulan makan malam dari pak Reza ayahnya.Dia sengaja pulang cepat bersama Jimmy agar segera sampai ke kediaman orang tuanya. Di perjalanan Alby banyak diam saja .


Di kediaman pak Reza telah berkumpul dua keluarga mengadakan makan malam. Sherin sengaja bermanja-manja untuk menarik perhatian Alby di depan orang tuanya. Entah kenapa pria itu hanya menurut saja hingga membuat Erika merasa geram.


Usai makan malam mereka berkumpul di ruang keluarga. Di mulai dengan berbincang tentang pekerjaan suami Erika. Semakin lama perbincangan itu semakin seru sampai pada akhirnya Alby membuka suara.


"Aku sudah menemukan dalang kekacauan di proyekku"


Semua orang beralih melihat pada Alby, dan meletakkan gelas teh mereka di atas meja.


"Siapa, Nak?" Tanya Pak Reza.


"Kalian pasti tidak menyangka, aku tidak menuduh tapi aku punya bukti yang kuat." Alby mengeluarkan map dan laptop.


"Katakan siapa orang itu" Sambung pak Toni tak sabar.


Alby tersenyum sinis. "Istriku sendiri !"


"Apa maksud mu, Al ? Kamu boleh membenciku. Tapi jangan membuat fitnah seperti ini" Sanggah Sherin dengan wajah sedih.


Pak Toni ikut emosi. "Jangan main-main, Al ! Sherin tidak mungkin melakukan itu !"


Alby memasang wajah datar. "Apa yang tidak mungkin ! Aku memiliki bukti ."


"Apa maksudnya semua ini?" Ibu Siska tak menerima tuduhan untuk putrinya.


"Al, jelaskan ! Kenapa kamu menuduh istri mu sendiri ?" Pak Reza ikut angkat suara.


Jimmy menghidupkan laptop.  Lalu bersiap memberikan rekaman Cctv dan pesan yang telah di dapatnya.


"Sherin telah meminta pak Anton untuk menggelapkan uang pembangunan itu. Tapi beliau tidak melakukannya. Dari pada menggelapkan dana, pak Anton memilih menurunkan standar material yang perusahaan gunakan. Dia membeli material tidak sesuai RAB nya." Jelas Alby.


Sherin diam membisu tubuhnya berkeringat dingin. Kegelisahan mulai terlihat di wajahnya.


"Selain itu Nona Sherin juga bersekongkol melenyapkan pak Anton bersama putra angkatnya. Nona Sherin sengaja memberi petunjuk pada Pak Toni waktu itu agar bisa menemukan pak Anton. Dengan begitu Tuan Alby akan merasa berhutang budi" Sambung Jimmy tanpa jeda. Sherin semakin terpojok.


Pak Toni langsung melihat kearah putrinya yang terlihat gugup. "Katakan Sherin apa semua ini benar?"


"I—itu tidak benar, Pah." Jawab Sherin menunduk.


"Kamu dengar, Al ! putriku tidak mengakui nya !!" Ujar ibu Siska marah.


Jimmy memutar rekaman Cctv pertemuan Sherin dan Hadi putra angkat pak Anton di club'  malam. Mereka tampak akrab di sana, bukan seperti orang yang baru kenal. Kemudian Jimmy memperlihatkan isi pesan Sherin dan pria itu.


Sherin sudah tak karuan melihat ponsel yang di pegang Jimmy seperti tidak asing baginya. Selang  Beberapa menit kemudian seorang pria diseret paksa oleh orang-orang Jimmy. Dia adalah Hadi pria itu akan menceritakan Bagaimana mereka menyepakati untuk memaksa pak Anton melakukan kejahatan itu.


Hadi mendapatkan keuntungan besar dari uang sisa pembelian material  yang telah di ambil paksa dari pak Anton. Saat itu ayah angkatnya itu tidak berdaya karena Hadi mengancam Pak Anton dengan menyandra istrinya.


Tidak hanya itu Hadi dan Sherin juga sudah lama kenal. Hadi datang lalu menceritakan semuanya. Di hadapan semua orang. Sherin hanya mampu tertunduk takut.


Tubuh pak Toni lemas di atas sofa. Melihat hal itu Alby menyudahi semuanya tapi ia melarang diantara mereka meninggalkan kediaman Pak Reza termasuk pria yang membantu Sherin.

__ADS_1


"Ini belum selesai" Ujar Alby meninggalkan ruang keluarga.


__ADS_2