
Matahari sudah terbit di timur, memberikan kehangatan pagi ini. Suasana Villa agak sepi membuat pengantin baru itu masih betah dalam selimut tebal mereka. Tapi tidak untuk prianya. Ia sudah terbangun sejak beberapa menit yang lalu. Tersenyum mengingat kegilaannya menghabiskan malam pertama bersama ratu hatinya ini.
Nazia memberikan pergerakkan kecil menandakan sebentar lagi akan bangun. Kelopak matanya masih sangat berat faktor lelah yang menguasai dirinya tadi malam. Selain itu, kesempatan untuk tidurnya pun berkurang dari biasanya.
"Apa semalam aku tidur dengan siluman macan tutul ?" ucap Zevin . Ia melihat bagian dada dan leher istrinya penuh dengan bekas merah.
Mata Nazia langsung membuka sempurna mendengar Zevin menyebutkan macan tutul.
"Maksudmu?" Tanyanya
"Apa kamu siluman macan tutul ?" Bukan menjawab. Tapi Zevin malah bertanya wajahnya juga terlihat serius.
"Dimana macan tutulnya? Jangan membuatku takut !" Nazia merapatkan tubuhnya pada Zevin.
"Di depanku !" Jawab Zevin tersenyum.
"Jadi maksudmu aku?" Nazia menunjuk dirinya sendiri.
Zevin mengangguk lalu meraih ponselnya di atas nakas dan membuka aplikasi kamera.
"Lihatlah !" Memberikan ponselnya.
Mata Nazia terbelalak melihat pantulan dirinya yang mirip macan tutul karena tanda kepemilikan berserak di leher dan di dadanya.
"Kenapa sebanyak ini ?!" Nazia memberikan ponsel dengan kesal.
"Bukankah ? Itu bagus sayang." Balas Zevin mengeratkan pelukannya.
"Bagus apanya ?! Yang ada aku tidak bisa keluar. Karena kulitku rusak olehmu!" Ketus Nazia.
Zevin terbahak, sejak kapan kulit istrinya itu bisa rusak. Dirinya semakin gemas, ia pun duduk menyingkap selimut dari tubuh polos istrinya itu.
"Maafkan aku cinta, nanti akan kubuat lebih rapi lagi dan beraturan. Sekarang kita mandi setelah itu, aku akan mengajakmu jalan-jalan." Kata Zevin. Sambil menggendong istrinya masuk ke kamar mandi.
Selesai mandi Nazia dan Zevin turun dari kamar mereka untuk sarapan. Nazia menutupi bagian tanda merah hasil karya suaminya itu dengan foundation.
"Selamat pagi. Bibi, Paman !" Ucap Zevin dan Nazia.
"Selamat pagi, Nak !" Balas ibu Nani dan Pak Danu.
"Ayo kita sarapan." Ajak Zevin.
Ibu Nani dan Pak Danu mengangguk. Seperti biasa Nazia mengambilkan makanan untuk Zevin terlebih dulu. Mereka sarapan bersama sambil diselipkan perbincangan ringan.
"Selamat pagi semuanya." Sapa Erik ikut bergabung.
"Pagi." Jawab Nazia.
"Ayo, Nak Erik sarapan dulu !" Ujar Ibu Nani mengambil piring kosong.
"Terimakasih, Bi." Balas Erik. Ia menarik kursi disebelah Zevin.
Entah sejak kapan Erik sudah tiba di Villa ini. Zevin menoleh pada Erik lalu berkata. "Kapan kamu sampai?" Nada suaranya seperti biasa tidak ada kekesalan di dalamnya.
"Tadi malam Tuan." Jawab Erik.
"Berapa lama kamu disini?" Tanya Zevin.
"Dua hari tuan, saya hanya memastikan keadaan tuan dan Nona." Jawab Erik tanpa menoleh.
"Seperti yang kamu lihat kami baik-baik saja" Balas Zevin.
Erik mengangguk tanda setuju atas ucapan Zevin. Beberapa menit kemudian mereka menyudahi sarapannya. Nazia dan Zevin tengah bersiap untuk pergi menghabiskan waktu hari ini di luar Villa. Erik tidak ikut ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikannya. Ia memilih tinggal di Villa. Mobil yang akan Zevin pakai telah disiapkan oleh Erik di halaman.
"Siap cinta ?" Ucap Zevin.
"Iya, ayo berangkat." Balas Nazia semangat.
Mereka berdua sama-sama membuka pintu mobil dan akan masuk kedalamnya.
" Kak, Zev !" Panggil seorang wanita.
Zevin dan Nazia sama-sama menoleh ke asal suara. Di belakang mobil ada seorang wanita berpenampilan sederhana, rambutnya dikepang dua menjuntai ke dadanya. Ia tersenyum pada Zevin matanya menatap penuh damba.
"Kamu memanggilku?" Zevin menunjuk dirinya sendiri.
Wanita itu mengangguk sambil tersenyum malu.
"Iya kak." Melangkah mendekat.
__ADS_1
Tanpa diduga, ia menghampiri Zevin dan ingin memeluknya. Namun suami Nazia ini refleks mundur kebelakang.
"Dia siapa sayang ?" Tanya Nazia lembut.
"Entahlah ! Aku juga tidak mengenalnya." Jawab Zevin heran.
"Dia siapa kak, Zev ?" Wanita itu memasang wajah datarnya melihat kepada Nazia.
"Istriku !" Jawab Zevin.
"I—istri ? Tidak mungkin ! " Wanita itu menggeleng sambil melangkah mundur.
"Siapa kamu ? Jangan menghalangi jalan kami." Ujar Zevin.
Wanita itu terisak tak percaya, bahwa Zevin benar sudah menikah. Sebelumnya dia menganggap cerita ibu Nani dan Pak Danu hanya bualan semata.
"Aku Lilis, Kak !" Lirih wanita ini.
"Maaf, aku tidak mengenalmu. Aku juga baru melihatmu hari ini." Kata Zevin.
"Aaahhhh ! Lepaskan !" Jerit Nazia.
"Sayang ! " Zevin berlari menghampiri Nazia dan menggenggam erat pergelangan Lilis.
Wanita itu naik darah mendengar perkataan Zevin yang tidak mengenalnya. Tanpa diduga Lilis berlari menjambak rambut Nazia yang terurai.
"Dia pasti ****** yang menjebakmu untuk menikahinya, 'kan ?" Kata Lilis. Tanpa melepaskan cengkramannya.
"Lepaskan rambut istriku ! Bisa saja aku berbuat kasar padamu. Tapi aku tidak ingin membuat istriku kesakitan. Selagi kuminta baik-baik, lepaskan !" Ujar Zevin datar.
"Tidak akan ! Aku tidak akan melepaskannya ! Kamu hanya milikku kak Zev. Aku mencintaimu !!" Kata Lilis berapi-api.
"Ha ? Apa wanita ini gila?!" Kata Zevin.
Mendengar keributan di luar ibu Nani dan Pak Danu keluar dari dalam. Mereka terkejut karena Lilis menjambak rambut Nazia.
"Lilis apa yang kamu lakukan ?!" Teriak pak Danu.
"Lepaskan istri, Nak. Zev !" Ujar Ibu Nani
Cengkraman tangan Lilis terlepas. Sudut bibirnya pecah kena tamparan Erik. Mata pria itu merah dan tajam. Zevin dan Nazia terperangah atas sikap Erik.
"Menyakiti Nona, Zi ! Kau akan berhadapan denganku. Satu lagi, tuan Zev bisa saja melakukan hal yang lebih keras dari ini ! Tapi dia masih punya hati yang baik untuk meminta melepaskan nona Zi dengan cara baik-baik. Namun tidak denganku !!!" Erik menghempaskan dagu Lilis dengan keras.
Zevin memeluk Nazia. Menyesal karena membiarkan istri tercintanya disakiti di depan matanya sendiri.
"Kepalamu pasti sakit." Zevin mencium berulang-ulang bekas jambak di kepala Nazia.
"Siapa dia?" Tanya Nazia.
"Ma—maafkan dia, Nak. Lilis putri kami." cicit ibu Nani.
Zevin dan Nazia terkejut. Pantas saja dia mengenal Zevin. Ternyata dia putri pak Danu dan Ibu Nani.
"Tapi aku tidak pernah melihatnya setiap berkunjung kesini." Ujar Zevin.
"I—itu karena kami melarangnya keluar. Nak, Zev." Jawab pak Danu.
Lilis hanya menangis sesegukkan. Sambil menyentuh bekas tamparan Erik di pipinya. Lihatlah Erik bahkan tidak merasa iba sedikit pun.
"Dengar ! Aku bisa saja berbuat kasar padamu atas apa yang kamu lakukan pada istriku, tapi aku masih memaafkanmu untuk saat ini. Jika kamu mengulanginya maka jangan salahkan aku jika berbuat sesuatu yang tak terduga olehmu." Kata Zevin tegas
Lilis berlari kebelakang sambil menangis. Tidak berniat untuk minta maaf atas semua yang terjadi. Zevin dan Nazia melanjutkan niat mereka untuk jalan-jalan walau suasana hati Nazia sudah kurang baik.
"Hati-hati Tuan , Nona." Ucap Erik.
"Iya Rik, terimakasih untuk hari ini." Balas Zevin.
Erik kembali masuk, setelah mobil Zevin keluar dari pekarangan Villa. Di mobil Zevin Sesekali melirik wajah istrinya.
"Maafkan aku sayang. Seharusnya aku menamparnya tadi sama seperti yang dilakukan Erik." Ucap Zevin merasa bersalah.
"Sebenarnya aku bisa membalasnya. Cengkeramannya tak sekuat Sherin. Tapi aku bingung dia siapa. Tiba-tiba menyerangku." Balas Nazia.
"Aku juga sama sepertimu. Bisa saja aku memukulnya. Tapi aku tidak ingin kasar pada wanita terlebih lagi, aku tidak mengenalnya. Lain kali aku tidak pandang lawan ! Hari ini terakhir orang lain menyakitimu di depan mataku." Kata Zevin.
...----------------...
Di rumah belakang
__ADS_1
Lilis masih sesegukkan tengkurap di atas kasur miliknya. Ibu Nani dan Pak Danu merasa kecewa pada Lilis yang berani berbuat kasar pada Nazia.
"Ibu kecewa !" Ucap ibu Nani.
"Aku mencintai kak Zev, Bu." Ujar Lilis.
"Kamu tahu Lis ! Nak Zev tidak mungkin membalas perasaanmu, terlebih lagi dia tidak mengenalmu dan dia juga sudah menikah. Andai pun dia masih sendiri, kamu tidak masuk kriteria sebagai istri seorang Zevin." Kata Ibu Nani.
"Tidak bu, hanya aku yang boleh menikah dengannya ! Wanita itu pasti ****** yang menjebaknya." Ucap Lilis tak terima.
"Jaga bicaramu Lis. Nak, Zi. Itu dokter kandungan. Dia wanita baik-baik. Tuan Indra tidak akan membiarkan putranya menikahi wanita sembarangan." Ujar Pak Danu emosi.
Lilis semakin menangis karena pipinya dua kali kena tamparan. Tak hanya itu kenyataan jika Nazia adalah wanita segalanya di atas dia membuatnya semakin terluka.
Kejadian lima belas tahun silam, mempertemukannya dengan Zevin. Saat itu Lilis hampir terseret ketengah laut saat bermain di pantai. Keluarga Indra yang tengah berlibur di Villa ini. Menghabiskan waktu untuk pergi ke pantai. Melihat Lilis yang hampir terseret ombak. Pak Indra berlari menyelamatkannya. Karena rasa terimakasih pak Danu dan Ibu Nani atas penyelamatan putri mereka, kedua pasangan suami istri itu menawarkan diri untuk merawat Villa milik Pak Indra.
Dalam diam Lilis sering memperhatikan Zevin jika datang ke Villa. Ia pun berharap jika suatu hari nanti bisa menjadi istri seorang Zevin. Hingga kabar kedatangan Zevin kemarin membuatnya lepas kendali. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk menemuinya secara langsung.
Selama ini ia cukup bersabar menahan diri agar tidak menemui Zevin. Karena larangan dari kedua orang tuanya. Ia pun sempat tak percaya jika Zevin datang untuk berbulan madu.
Amarahnya semakin menggebu saat melihat istri Zevin benar-benar ada. Nazia yang cantik, putih bersih membuatnya tak terima. Berbeda dengan dirinya hanya wanita pemalas dan mengharap yang instan dalam hidupnya.
Hari menjelang sore, setelah menghabiskan waktu di luar. Zevin dan Nazia akan kembali Villa.
"Bagaimana perasaanmu?" Tanya Zevin.
"Lebih baik dari tadi pagi. Sampai di Villa aku ingin berendam air hangat." Jawab Nazia.
"Siap ratuku." Balas Zevin.
Saling melempar candaan, tiba-tiba mobil mereka dihadang tiga buah motor yang berjumlah enam orang penunggangnya. Perawakan mereka begitu besar penuh tato.
Zevin menghentikan mobilnya. Ia harus menenangkan Nazia terlebih dulu. Karena istrinya itu nampak ketakutan.
"Siapa mereka ? Dan mau apa?" Tanya Nazia.
"Entahlah sayang, kamu tetap di mobil. Apa pun terjadi jangan keluar. Telpon Erik dan polisi jika terjadi sesuatu. Ingat, jangan keluar ! mobil ini paling aman untukmu. Mobil ini anti peluru." Jelas Zevin.
Nazia mengangguk pelan, para penghadang itu semakin dekat dengan mobil Zevin.
"Bagaimana ini?" Nazia semakin ketakutan.
"Tenang cinta, jangan takut ! Ingat pesanku, tetap di sini." Zevin mencium seluruh wajah istrinya lalu membuka pintu mobil.
"Hati-hati" Ucap Nazia.
Zevin mengangguk lalu menghampiri para pria bertubuh besar itu. Mereka menyeringai melihat Zevin semakin mendekat.
"Ada yang bisa saya bantu ?" Tanya Zevin basa basi.
"Pergi dari sini seorang diri ! Dan tinggalkan wanita itu bersama kami ! " Ucap salah satu diantara mereka.
"Rupanya kalian ingin istriku ! Cih kasian sekali saking tidak lakunya. Mengincar istri orang lain" Ejek Zevin.
Merasa terhina salah satunya melayangkan pukulan pada Zevin. Sialnya pria itu terjatuh sendiri karena Zevin bisa membaca pergerakannya.
"Wah, kau mabuk rupanya. Perlu kuajarkan teknik bela diri yang benar !" Ucap Zevin.
Zevin memukul pria itu. Perkelahian tidak dapat dielakan, dua sudah tumbang di tanah. Bukan mati, tapi hanya pingsan. Empat yang lainnya mulai menyerang Zevin bersamaan.
Tak dipungkiri Zevin pun terkena pukulan walau tidak mudah menjatuhkannya.
"Ternyata kau pandai juga !" Ucap salah satunya mengeluarkan sebilah pisau dari saku celananya.
Belum sempat menyerang, dirinya sudah dilumpuhkan oleh seseorang. Tubuh pria itu tersungkur ke tanah. Zevin melihat seragam mereka berlogo perusahaan Indra Jaya. Dia bernafas lega.
"Silahkan tinggalkan tempat ini tuan" Ucap para pengawal itu.
"Baiklah ! Terimakasih kalian datang tepat waktu." Ujar Zevin.
Mereka mengangguk. Tidak memerlukan waktu lama tiga sisa yang telah tumbang dapat dilumpuhkan pengawal Zevin.
"Tunggu !" Suara Nazia menghentikan pengawal itu memukul tengkuk ketua kelompok penghadang.
"Kenapa keluar dari mobil sayang." Ucap Zevin panik.
"Aku lelah berpura lemah ! Sisakan dia !" Titah Nazia.
Zevin dan para pengawal terperangah, wajah datar disertai tatapan dingin milik Nazia menyita perhatian mereka.
__ADS_1
"Baik Nona." Balas pengawal yang melumpuhkan ketua kelompok itu.
"Apa istriku sekarang benar-benar jadi siluman macan tutul?" Zevin bergumam pelan.