
Hari libur satu hari dalam seminggu yang selalu ditunggu banyak orang termasuk Zevin dan Nazia. Di rumah mereka, pasangan suami istri ini sedang membersihkan halaman belakang tempat tanaman hias milik Nazia. Ponsel Zevin bergetar disaku celananya.
"Iya, Pa."
"Reza, sudah dibawa ke kantor polisi dua hari yang lalu."
"Iya Pa. Aku tahu maaf tidak memberitahu papa, aku pikir lebih cepat lebih baik." Balas Zevin.
"Tidak masalah, Nak. Kapan kita mengunjunginya? Dan bagaimana dengan putranya?"
" Tenang Pa, Alby Sudah kuberitahu lebih dulu, bagaimana kalau besok kita ke sana?" Jawab Zevin sekaligus bertanya.
"Baiklah, kita bertemu di sana."
"Iya ." Zevin memutuskan telpon.
...----------------...
Di rumahnya pak Indra mengomel sendiri baru saja ia ingin menanyakan kabar menantu dan calon cucunya. Tapi telpon sudah diputuskan oleh Zevin.
"Kenapa, Pa?"
"Putramu itu, Ma. Aku baru saja ingin menanyakan kabar menantu dan calon cucu kita, tapi telponnya sudah dimatikannya." Jawab pak Indra kesal.
Ibu Felisya terkekeh. "Jika merindukan mereka, kenapa tidak datang ke rumahnya?"
"Benar juga, ayo bersiap ! Kita ke rumah, Zev. Aku tidak sabar untuk bicara pada calon cucuku agar mengerjai papanya itu." Pak Indra tersenyum jahat.
Ibu Felisya mengangguk lalu bersiap tak lupa beliau juga menyiapkan beberapa camilan dan makanan yang telah masak untuk dibawa ke rumah putranya.
...----------------...
Di kediaman Zevin, pasangan suami istri itu sudah selesai merapikan tanaman hias milik Nazia. Mereka juga memanen buah di halaman rumah yang sudah matang.
"Sayang, aku mau buahnya." Zevin memberikan keranjang buah pada Nazia.
"Baiklah, tunggu di ruang tengah." Nazia berlalu ke dapur.
Zevin berbaring di sofa bersama Erik, sambil menonton televisi. Di tengah perbincangan mereka tiba-tiba masuklah seorang wanita tinggi semampai dengan pakaian terbuka memperlihatkan bagian dada dan pahanya.
"Dokter, Zev." Sapa wanita itu tersenyum manis.
Erik dan Zevin reflek melihat ke arah wanita itu. Tapi tidak lama Zevin langsung mengalihkan pandangannya. Dalam hatinya sangat marah dari mana wanita itu tahu alamat rumahnya. Tidak cukupkah membuatnya membuang satu kemeja kesayangannya. Bahkan ia begitu sedih melihat kemeja pembelian istrinya itu disentuh oleh wanita lain.
Wanita itu adalah Sania yang beberapa hari lalu mengikuti Zevin. Tanpa rasa malu ia melenggang masuk lalu duduk di sofa dekat Zevin. Matanya tak berkedip melihat wajah pria yang sudah mencuri hatinya itu.
"Dokter, Zev. Aku bawakan beberapa camilan, bagaimana kabarmu ? Kulihat jarimu mengenakan cincin, tapi di mana istrimu?" Sania meletakkan plastik ke atas meja. Sambil melirik ke arah Zevin dan mencari keberadaan wanita lain di rumah itu.
Merasa diperhatikan, Zevin merubah posisinya untuk duduk. Pria itu tak menjawab perkataan Sania. Wanita itu tersenyum genit tak menghiraukan tatapan Erik yang tajam padanya. Ia juga tak bisa membaca keadaan yang dingin karena kedatangannya.
"Apa kamu sengaja memakai cincin ? Agar orang lain mengira dirimu sudah menikah padahal, dirimu masih lajang." Sambung Sania sengaja bergeser lebih dekat pada Zevin. "Jujurlah padaku jika kau masih lajang." Sania terkekeh pelan.
Ia bahkan lupa dengan sikapnya tempo hari di rumah sakit. Ia sengaja meraba dada Zevin saat memeriksa kakinya waktu itu. Padahal, Zevin sudah memperingati atas ketidaksopanannya.
lagi - lagi Zevin tak menjawab, matanya tak melirik sedikit pun ke pada Sania. Ia fokus melihat ke layar televisi tanpa menanggapi perkataan wanita itu.
Merasa sangat muak mendengar ocehan Sania, Zevin mengalihkan pandangannya pada Erik. "Panggil pak Dirman ! Kenapa ada orang asing bisa masuk ke rumahku dengan bebas." Nada suaranya begitu dingin penuh amarah.
"Baik, Tuan." Erik meraih interkom untuk memanggil pak Dirman penjaga pos pagar masuk rumah Zevin.
"Dokter, Zev. Kamu tidak mengenalku? Aku bukan orang asing ! Aku pasienmu Sania Latika." Seru Sania tak terima .
Nazia datang dari arah dapur membawa piring berisi buah, Sania segera berdiri ia mematung melihat wanita yang tengah berjalan ke arah ruang tengah. Hanya memakai baju rumahan dan rambut di cepol ke atas tanpa make up namun sangat cantik. Nazia terheran kenapa ada Sania di rumahnya? Zevin sudah menceritakan jika ada pasien wanita yang berlaku tidak sopan padanya. Bahkan Zevin memberitahukan pasien itu pada istrinya saat ia keluar dari rumah sakit.
Sania tersenyum sinis lalu melangkah ingin meraih piring dari tangan Nazia. "Biarkan saya yang memberikannya pada dokter, Zev ! Urus saja suamimu itu." Ia menunjuk ke arah Erik.
Nazia berhenti seketika, terbitlah senyum manis di bibirnya. Ada kesalahpahaman di sini saat Sania mengira Erik adalah suaminya. Wanita ini lah yang menggoda Zevin saat di rumah sakit, suaminya itu sampai sedih karena dirinya kecolongan diraba wanita itu walau berlapis kemeja dan jas dokter tetap saja Zevin kecewa pada dirinya sendiri. Kemeja yang ia pakai saat itu sudah diberikannya pada pak Dirman. Jas dokternya juga ia tinggalkan di rumah sakit tak pernah ia sentuh lagi.
__ADS_1
Nazia menggeser tubuh Sania agak menjauh dari sofa setelahnya ia duduk di sisi Zevin dan berkata.
"Saya akan memberikan buah ini pada suami saya, tapi kenapa anda yang ingin mengambil piring ini? Siapa anda ?" Tanyanya sedikit dingin.
Zevin tersenyum lalu mengarahkan tangan Nazia untuk menyuapinya. Sementara Sania kembali duduk dengan raut wajah kesal bercampur terkejut, karena tak ditanggapi Zevin sama sekali bahkan pria itu tidak melihat ke arahnya. Padahal, ia sudah memberikan tampilan terbaik saat akan datang ke rumah itu dan wanita yang disangkanya istri Erik, adalah istri dokter Zevin.
Tak lama pak Dirman datang bergabung. "Anda memanggil saya tuan, Zev?" Ucapnya gugup.
"Hm." Jawab Zevin. Ia terus mengunyah buah yang disuapi istrinya sesekali ia balas menyuapi Nazia. Tanpa menghiraukan yang lain, ia bahkan bersandar manja di tubuh istrinya.
"Dari mana asal tamu asing ini? Kenapa bisa bebas masuk ke dalam rumah ini? Pak Dirman pasti tahu, Nyonya Zev tidak suka ada orang asing di rumah ini dan tuan Zev sendiri tidak akan pernah memasukan orang lain ke rumah ini tanpa ijin dari istrinya terlebih dulu. Terlebih orang itu tidak memiliki kepentingan." Kata Erik dingin, ia menatap tajam pada pak Dirman.
"Ma—maafkan saya tuan ! Ini salah saya, harusnya saya konfirmasi dulu pada tuan Erik."
"Katakan alasannya ! Kenapa tamu ini bisa masuk tanpa malu duduk di sini ? Tanpa sopan santun, ia ingin mengambil piring buah dari tangan nona, Zi. Pak Dirman juga tahu jika Tuan, Zev. Tidak akan pernah mudah menerima makanan atau minuman dari orang lain selain istrinya, apa lagi orang itu memberikannya dengan maksud tertentu." Kata Erik sengaja memperjelas kalimatnya melalui pak Dirman.
"Nona ini mengatakan kalau dia salah satu pasien dokter, Zev. Dia datang kemari dengan alasan ingin berkonsultasi." Jelas Pak Dirman.
Erik mengalihkan pandangannya pada Sania. "Nona, anda pasti tahu jika ingin berkonsultasi dengan dokter adalah di rumah sakit saat jam kerja. Lalu, kenapa anda datang kesini ? Dengan pakaian seperti itu? Bahkan alamat rumah ini tidak banyak yang tahu."
Sania meremas sisi roknya. Ia benar-benar gugup berhadapan dengan Erik yang sempat diremehkannya keberadaan pria itu tadi. "Saya sengaja datang ke sini, dan mengikuti mobil dokter, Zev. Saya hanya ingin kenal lebih dekat dengan dokter, Zev. Saya pikir dia berbohong mengenai pernikahannya." Jawab Sania tanpa rasa bersalah menatap penuh damba pada Zevin.
Sementara Zevin, hanya mendengarkan pembicaraan itu tanpa ingin menyela. Ia percaya jika Erik bisa mengatasinya bahkan, ia sangat menikmati buah yang sejak tadi di makannya.
Nazia meletakkan piring di atas meja hingga menimbulkan bunyi nyaring. "Sekarang anda sudah mengenalnya bukan ? Dia suami saya. Silahkan dihafal wajah saya ! Jadi, jika anda bertemu lagi dengan suami saya. Maka anda akan ingat saya pemilik bersertifikat pria ini !"
Zevin refleks mengecup bibir istrinya saking bahagianya mendengar Nazia menegaskan kepemilikannya. Zevin menenggelamkan wajahnya di dada Nazia karena tak ingin orang lain melihat rona wajahnya. Sania menatap kesal pada Nazia. Ingin rasanya menjambak istri Zevin itu.
"Nona, anda tahu letak pintu rumah ini ? lihat masih terbuka !" Ucap Erik dingin.
Sania bergegas pergi dengan perasaan dongkol usaha pendekatan dengan Zevin gagal total. Ia keluar dari rumah besar itu di ikuti pak Dirman.
"Tunggu !"
"Apa ?!" Sahut Sania kesal.
Erik melangkah mendekat lalu berbisik di telinga Sania dan berkata. "Jangan pernah kembali ke sini lagi ! Jika sayang dengan karir anda. Berhenti mengganggu dokter Zev dengan cara murahan seperti ini ! Karena, dia tidak akan melihat pesona wanita mana pun selain istri dan ibunya ! Bentuk tubuh anda tidak menggoda tapi lumayan untuk di ajak berolahraga di atas ranjang. Namun tidak akan pernah bisa menggoda dokter Zevin karena tubuh istrinya lebih indah dibanding anda ! " Ia menarik pintu mobil Sania dan mempersilahkannya masuk ke dalam lalu menutupnya keras sampai Sania terkejut di kursi kemudi tak lupa melemparkan camilan yang dibawa wanita itu ke dalam mobil.
"Cih, bahkan aku tak berselera dengan tubuh yang telah dijamah banyak orang itu !" Sambung Erik melihat mobil Sania telah menjauh.
Setelah Sania keluar Zevin menarik tubuh istrinya untuk duduk saling berhadapan. "Sayang maafkan aku, ada orang asing masuk ke dalam rumah kita tanpa ijinmu." Ucap Zevin sedih.
Nazia tersenyum. "Tidak masalah, bukan kesalahanmu ! Dia saja yang terlalu agresif sampai mendatangi rumah kita."
Nazia mendaratkan ciuman di bibir Zevin. Lihat wajahnya memerah karena senang. Ia tak membuang kesempatan untuk membalas ciuman istri nya.
Usai memberikan peringatan pada pak Dirman, Erik langsung menyambut ke datangan pak Indra. Tak disangka mobil Alby juga menyusul di belakang.
"Di mana anak itu?" Tanya pak Indra keluar dari mobil.
"Di ruang tengah, Tuan." Jawab Erik. Ia melihat Alby keluar dari mobil bersama Jimmy.
"Wah ada om Indra rupanya." Sapa Alby.
"Kamu di sini?"
"Iya, aku hanya berkunjung." Balas Alby.
Tak lama Ibu Felisya dan Ralda juga keluar dari mobil. Alby tak berkedip melihat tampilan Ralda mengenakan pakaian rumah. Sangat cantik dan sederhana.
"Ehm, apa kita akan terus berada di sini?" Seru Jimmy.
"Ayo kita masuk, walau tuan rumah tidak tahu kedatangan kita. Pasti anak itu tengah bermanja pada menantuku." Kata pak Indra melangkah mendahului masuk kedalam.
Ibu Felisya tertawa. "Biarkan saja, Pa. Ayo Nak, Al ! Nak Jimmy kita masuk. Erik bantu Ralda membawa barang di mobil." Ia sudah tidak canggung lagi karena sudah berkenalan dengan Alby dan Jimmy.
Erik langsung menghampiri Ralda dan membantu mengeluarkan barang bawaan mereka, tak mau ketinggalan Alby juga mendekat.
__ADS_1
"Biar aku bawa sebagian" Alby merubah gaya bahasanya.
"Tidak perlu tuan, biar Erik saja."
"Tidak masalah." Alby membawa kotak makanan.
Erik melayangkan tatapan menyelidik pada Alby dan dibalas dengan senyuman dari pria itu. Jimmy tak ambil bagian ia segera menyusul pak Indra dan Ibu Felisya.
"Ternyata benar dugaanku, anak ini selalu menempel pada menantuku." Kata pak Indra geram.
Zevin yang berbaring di pangkuan istrinya itu, berdecak kesal.
"Papa mengganggu saja."
"Tidak boleh seperti itu."
"Selamat siang dokter, Zev." Sapa Jimmy.
"Selamat siang pria menuju tua, kalian di sini ? Mana si tuan muda?" Zevin mencari keberadaan Alby.
"Aku di sini !" Alby masuk bersamaan dengan Erik dan Ralda.
Zevin terkekeh. "Cara pendekatan yang baik."
Alby melotot, ia meletakan kotak makanan di atas meja. Lalu ikut duduk bergabung. Pak indra menarik tangan Zevin untuk berpindah tempat.
"Bagaimana kabarmu dan calon cucu papa?" Tanya pak Indra duduk di sisi Nazia.
"Baik dan sehat, Pa."
"Syukurlah, jika ada keluhan atau Zev tidak menurutimu katakan pada papa." Balas pak Indra.
Zevin menatap sinis, Ia kemudian berpindah ke sisi ibu Felisya. Lihatlah calon ayah ini bermanja-manja pada ibunya.
"Hei jangan bermanja-manja pada istriku !" Ucap pak Indra.
Zevin tersenyum pada pak Indra
"Ini mamaku, Pa. Siapa suruh papa dekat-dekat istriku."
"Zi, menantuku !" Balas pak Indra tak mau kalah.
"Zi istriku, Pa. Jika papa duduk di sana bagaimana aku bisa bermanja-manja dengan istriku ? Sebagai gantinya aku bermanja pada mama."Zevin tersenyum penuh kemenangan.
"Hanya papa yang boleh bermanja pada mamamu ! Calon cucu kakek ! Ayo kita balas papamu itu ! Lihat dia menempeli Nenekmu. Bahkan tidak malu dilihat teman-temannya." Pak Indra mengusap pelan perut Nazia.
Kata-kata pak Indra disambut tawa oleh yang lainnya. Mereka terhibur dengan sikap konyol Zevin dan Pak Indra.
"Ah, perutku mual sayang." Ide jitu mengatasi kecemburuan Zevin.
Nazia langsung berdiri pelan menghampiri suaminya yang tengah mengusap perutnya. "Mau minum teh hangat?" Tanyanya lembut juga ikut mengusap perut suaminya.
"Tidak sayang, sini duduk di sampingku ! Biar tidak mual lagi." Zevin menepuk sofa. Ia tersenyum puas pada pak Indra.
Andai papa bisa seperti pak Indra.
Alby dan Jimmy senang melihat keharmonisan keluarga Indra.
"Kamu mau makan apa sayang?" Tanya ibu Felisya pada Nazia.
"Aku masih kenyang, Ma. Tadi makan buah."
"Ki, makanan yang tadi dibawa taruh di piring ya." Kata Ibu Felisya.
"Baik Nyonya." Kiki meletakan gelas minuman satu persatu-satu.
Alby dalam diam mengawasi Erik dan Ralda yang duduk berdekatan, ada rasa tak senang di hatinya ketika melihat Erik dan Ralda begitu akrab.
__ADS_1
Apa hubungan mereka?
Gerak - gerik Erik dan Ralda tak luput dari pandangan Alby.