Suami Manja Dokter Zi

Suami Manja Dokter Zi
Bonchap 2


__ADS_3

Pagi datang membawa sinar sedikit mendung, hingga dinginnya menusuk ke tulang. Di atas kasur king size Zevin dan putranya masih terlelap. Dua pria berbeda usia ini hanya terlihat kepalanya saja, tubuh mereka tertutup selimut hingga batas leher.


Posisi keduanya sama miring hingga tidur saling berhadapan. Bayi usia tiga bulan itu memiliki kebiasaan baru yaitu bangun di subuh hari dan tidur lagi menjelang pagi.


"Kamu lucu sekali, Nak !" Nazia mencium lembut pipi gembul Zayyan


"Aku juga sayang harus adil." Rengek si bayi besar siapa lagi kalau bukan Zevin.


Nazia terkekeh lalu mendaratkan banyak ciuman di wajah suaminya.


"Aku mencintaimu." Bisiknya lembut.


Zevin merona dan berbinar, hanya mendengar ucapan cinta dari istrinya. Dadanya berdebar kencang. Nazia tipe wanita jarang mengungkapkan kata cinta tapi, lebih kepembuktian dari kata cinta itu sendiri.


Jika di kamar kediaman Family Z ini sedang bermanja-manja di pagi hari maka lain hal di rumah tetangga sebelah.


...----------------...


Kediaman Alra (Alby&Rada)


Alby masih belum sepenuhnya sadar dari tidurnya. Ia harus menuruti kemauan sang istri yang ingin makan udang segar langsung dari pasar.


"Ayo sayang ! Kamu berangkat ke pasar belikan udang segar di sana. Aku tidak bisa pergi karena tidak tahan berkumpul dengan orang  banyak" Bujuk Ralda.


Alby membuka mata lebar agar kantuknya hilang. "Di toko sayur saja ya." Ia membalas membujuk.


"Tidak mau ! Aku maunya di pasar." Paksa Ralda.


"Baiklah, aku ke kamar mandi dulu." Alby tersenyum pasrah.


Kehamilan Ralda di usia kesatu bulan ini, ngidamnya semakin menjadi saja. Alby mau tidak mau harus mengabulkannya. Tak lupa Jimmy pun ikut andil, bahkan dia harus menggunakan masker saat bertemu nyonya mudanya itu karena, Ralda tak menyukai wajah Jimmy.


Berbeda hal dengan Jo, istri Alby ini selalu manis pada bodyguard tampan itu. Hal itu membuat Alby menahan kesalnya jika Ralda suka meminta Jo untuk tinggal lebih lama. Meski begitu Ralda tak pernah melewati batasannya sebagai istri karena ia hanya senang dengan Jo yang berkepribadian hangat. Berbeda dengan Jimmy yang selalu salah dalam membawa pesanannya. Hal itu membuat Ralda jengkel pada pria menuju tua itu.


Alby sudah siap pergi ke pasar bersama Jimmy, walau masih mengantuk tapi ia tetap mendampingi pergi.


"Anda yakin tuan muda, kita akan pergi ke pasar ?" Jimmy memastikan lagi.


"Iya Jim, dia akan tahu jika kita berbohong." Alby menyandarkan kepala di kursi.


Sesampainya di sana. Lampu pasar  sangat terang tiap lapaknya. Orang-orang mulai berjejal memilih sayur, daging dan ikan. Pengunjung lebih dominan ibu-ibu.


Alby melangkahkan kakinya menuju penjual udang meski merasa tidak nyaman karena baru pertama kali tapi ia tetap melakukannya demi istri dan calon buah hatinya.


Setelah membeli sebanyak dua kilogram, Alby dan Jimmy  bermaksud kembali pulang.


"Hanya ini, tuan?" Jimmy melihat kantong plastik di tangan Alby.


"Iya, ayo pulang !"


Di rumah, Ralda sudah menunggu kedatangan suaminya itu di ruang keluarga. Tak lama terdengar deru mobil di depan rumah. Alby turun dengan langkah penuh semangat memasuki rumahnya.


"Kamu sudah bangun" Alby tersenyum melihat istrinya menunggu di ruang tengah.

__ADS_1


"Iya Kak. Sini udangnya, Mandilah ! Aku sudah menyiapkan pakaianmu." Ralda mengambil alih kantong plastik udang itu.


Alby menurut saja segera bergegas masuk ke kamar. Sementara itu, Ralda meminta asisten rumah tangga mereka mengolah udang itu dengan masakan asam manis. Jimmy juga tengah bersiap di kamarnya.


Setelah semua siap mereka berkumpul di meja makan untuk sarapan.  Ralda mengambilkan makanan untuk Alby.  Sementara Jimmy dan Jo, mereka mengambil sendiri. Alby dan Jimmy mencari udang yang mereka beli tidak ada di sajikan.


"Sayang udangnya mana?"


Ralda tersenyum lalu mengambil piring berisi udang di dapur. "Ini, kalian bagi satu-satu" Ucapnya sembari meletakkan piring itu.


"Ha? Cuma tiga ekor ?" Alby menatap piring berisi tiga ekor udang itu.


"Iya, kalian makanlah ! Aku mau ke rumah sebelah dulu, hari ini aku ingin sarapan bersama kak Zev." Ralda membawa mangkuk berisi udang asam manis lumayan banyak.


"Apa?! "


Jimmy dan Jo terkekeh melihat ekspresi Alby. Hanya mendapatkan satu ekor saja. Ralda acuh melenggang pergi ke rumah sebelah.


"Dia jahat sekali ! Pria aneh itu menang banyak pagi ini, oh ! udang galahku." Alby meratapi udang  asam manis yang sudah berpindah ke tetangga sebelah.


Tawa Jimmy dan Jo pecah seketika saat Alby melihat miris udah tersisa satu ekor di dalam piring.


...----------------...


Kantor JG Group


Berkutat dengan setumpuk pekerjaan, tanpa terasa memasuki jam makan siang. Zevin merenggangkan otot tubuhnya. Di ponselnya alarm makan siang telah berbunyi. Nazia sengaja menyetel alarm agar suaminya itu tidak melewati jam makan siang. Karena Nazia sendiri bisa saja sibuk jadi tidak bisa menelpon Zevin.


Pintu ruangan Zevin di ketuk dari luar. "Masuk !" Titahnya sembari merapikan meja.


"Di luar saja, bersiaplah !"


"Baik Tuan, permisi." Haris menutup pintu kembali dengan pelan.


Saat Haris bersiap, Erik datang menghampiri. "Makan di mana kata tuan Zev?"


"Di luar."


Tak lama, Zevin ke luar dari ruangan. "Ayo berangkat !" Ajak nya melangkah menuju lift.


Haris dan Erik mengangguk lalu mengekor Zevin memasuki lift presdir. Haris merupakan idola baru di kantor itu. Setelah Ralda mengundurkan diri, ia resmi menggantikan posisi istri Alby itu.


"Kita kemana, tuan?" Tanya Erik selalu menempatkan diri dengan baik jika ada orang lain bersama mereka.


"Resto Vian." Jawab Zevin duduk di belakang.


Erik mengangguk lalu menginjak pedal gas tak perlu waktu lama mereka tiba di resto Vian. Sebelum memesan makanan Zevin berbicara empat mata dulu dengan Vian. Sedangkan di meja Erik dan Haris menunggu sembari memegang ponsel masing-masing.


"Ada apa?" Vian mempersilahkan Zevin duduk di sofa dalam ruangan nya.


"Aku perlu bantuanmu."


Vian menyandarkan tubuhnya di dinding sofa. "Apa yang bisa ku bantu?" Tanyanya tersenyum dapat menebak jika Zevin meminta bantuan berarti temannya itu tak mempercayai orang lain.

__ADS_1


"Begini, beberapa bulan belakangan Erik selalu mendapatkan kiriman paket berupa barang-barang kesukaannya. Erik sudah mencari tahu tapi tidak mendapatkan hasil. Orang itu tahu letak Cctv basemen kantorku." Cerita Zevin.


"Menurutmu, apa dia wanita atau laki-laki?" Tanya Vian


"Wanita, dia sempat menulis surat untuk Erik saat sakit kemarin. Aku takut ini berdampak buruk nanti. Karena sampai saat ini orang itu tidak menunjukkan dirinya. Aku curiga dia resepsionis di kantorku. Erik merasa risih dengan kiriman hadiah darinya." Jelas Zevin.


Vian mencerna ucapan Zevin lalu berkata. "Dia tahu letak Cctv di basemen kantor."


"Iya, bahkan Cctv tersembunyi."


"Boleh aku lihat rekamannya?" Tanya Vian.


"Ini di ponselku." Zevin memberikan ponsel.


Vian melihat rekaman Cctv itu dengan teliti. "Untuk masalah Cctv basemen tidak mencurigakan karena letaknya memang terlihat. Tapi untuk Cctv tersembunyi nampaknya di retas." Jelas Vian.


"Apa, Di retas? Jadi dia seorang peretas?!" Zevin nampak terkejut.


Vian mengangguk lalu melangkah mengambil laptopnya. "Biar kuperiksa sistem keamanan dokumen kantormu."


Sementara menunggu Vian, Zevin keluar lebih dulu agar Erik dan Haris tak menunggunya untuk makan siang.


"Kalian pesan dan makanlah, aku makan di dalam bersama Vian."


"Baik tuan."


Zevin kembali masuk ke dalam menemui Vian. "Bagaimana?" Tanyanya cemas.


"Aman, semua masih seperti sebelumnya. Aku akan menambahkan keamanannya lagi. Khusus untuk Jaya Group" Jawab Vian.


Zevin bernafas lega. "Syukurlah ! Jadi, apa dia peretas handal?"


Vian menggeleng. "Tidak, dia hanya pemula, aku mendapatkannya. Dia orang kantormu sendiri mungkin, dugaanmu benar. Kita lihat di  kamera dashboard mobilmu."


Erik melihat Zevin dan Vian keluar menuju parkiran hanya diam saja, ia berfikir pasti ada hal serius di bahas mereka.


"Aku tidak terpikirkan kamera ini" Sesal Zevin.


"Ayo kita lihat." Ajak Vian. Suami Rayya ini mulai membukanya dan melihat rekaman yang ada di kamera itu.


"Benar dia !" Celetuk Zevin.


Ketika melihat Maura mengendap menggunakan jaket menutupi bagian kepalanya menaruh kotak hadiah untuk Erik di atas meja penjaga basemen. Nampak Maura melihat ke segala arah sebelum meletakkannya.


"Dia resepsionis mu?"


"Benar, namanya Maura. Dia wanita yang ramah dan suka tersenyum. Aku bisa melihat jika dia benar memiliki perasaan untuk Erik." Balas Zevin.


"Jangan percaya dulu kita tidak tahu niat sebenarnya. Syukur jika memang dia benar hanya menyukai Erik.  Tapi kita patut curiga  kalau dia mata-mata. Walau kemampuan meretas jauh di bawahku. Dia masih pemula. Tapi yang aku cemaskan jika dia bekerja untuk orang lebih pandai darinya." Ungkap Vian.


"Kamu benar, lalu bagaimana dengan keamanan data perusahaanku. Meski ada tim IT tapi aku tetap cemas." Ujar Zevin.


"Semua aman, aku akan selalu memantaunya jangan khawatir. Dan untuk wanita itu minta Erik untuk menyelesaikannya."

__ADS_1


"Baiklah, aku akan bahas nanti bersama Erik. Terimakasih telah membantuku." Ucap Zevin.


__ADS_2