
Bulan sudah nampak sempurna di atas langit. Cahayanya menerangi gelapnya malam. Tidak pada hati empat anak manusia di ruangan yang berbeda. Mereka merasakan hatinya buram tanpa ada setitik cahaya.
Alby yang tengah di kuasai amarah dan cemburu. Sedikit pun penjelasan dari Nazia tidak didengarkannya. Ia percaya pada foto yang dikirim Sherin beberapa jam lalu.
"Tuan muda akan saya cari tahu siapa pria yang bersama nona Zia itu."
"Tidak perlu, Jim. Aku percaya pada apa yang aku lihat. Tidak habis pikir saja dia mengkhianati ku." Alby mendesah pelan.
Jimmy beralih duduk di sofa.
"Anda yakin Nona Zia berkhianat ? Sepengetahuan saya dia wanita setia. Enam bulan ditinggal tunangannya ke perbatasan dia bisa bertahan dengan kesetiaan sampai maut memisahkan mereka."
"Jim, manusia bisa berubah. Hati seseorang tidak ada yang bisa menyelaminya." Balas Alby tanpa mengalihkan pandangan.
Jimmy berdiri dari sofa. "Tenangkan diri anda, berpikirlah jernih. Saran saya dengarkan dulu penjelasan nona jika kita sudah pulang. Permisi" Ucapnya meninggalkan kamar.
Alby menatap luar jendela kamarnya . Dari ketinggian gedung itu, ia dapat melihat ramainya kota. Lampu kerlap-kerlip bak bintang di langit dan kendaraan yang bergerak padat merayap. Setelah menerima foto itu dia tidak bisa menguasai emosinya. Ingin rasanya langsung membuat perhitungan pada laki-laki yang memeluk kekasihnya.
Getaran ponselnya mengalihkan pandangan Alby dari jendela. Ia melangkah malas meraih ponsel di atas kasurnya. "Iya, Pa" Jawabnya lesu.
"Bagaimana sudah stabil?"
"Sudah. Terimakasih untuk bantuan papa, besok aku akan menemui om Toni langsung untuk berterimakasih karena sudah membantu menemukan pengkhianat itu." Kata Alby.
"Syukurlah ! Al, setelah kamu kembali ada hal serius yang ingin papa sampaikan pada mu"
"Iya pa, besok pagi aku dan Jimmy akan pulang." Alby beralih menatap ke arah luar.
"Baiklah papa tutup telponnya"
Alby meletakkan ponselnya. Tiba-tiba terpikirkan pada pengkhianat atau yang di kurungnya di rumah tua. Ia ingin tahu secara langsung apa maksud pria tua itu berkhianat di perusahaannya.
...----------------...
Sherin tertawa puas, dirinya dapat menebak jika Alby dan Nazia sedang bertengkar karena foto yang dikirimnya itu. Sedikit demi sedikit usahanya akan menghasilkan.
"Al, akan menjadi milikku dan akan tetap seperti itu."
"Papa mengganggu mu?" Tanya Pak Toni.
"Masuklah." Sherin membuka lebar pintu kamar nya.
Pak Toni duduk di sofa kamar putrinya itu. Ia mengamati wajah Sherin dengan seksama. Bahagia itu yang tertangkap di benaknya.
"Kamu menyukai, Alby ?"
Sherin menjatuhkan tubuh di kasur.
"Papa sangat tahu bagaimana aku menyukai, Al. Sejak kecil, aku hanya ingin dia jadi suami ku" Ujarnya menegaskan pada sang ayah.
Pak Toni tersenyum lebar.
"Bagus ! Papa butuh pria sepertinya untuk mengembangkan perusahaan kita"
"Maksud papa?"
Pak Toni berdiri dari sofa dengan wajah bahagia "Bersiaplah ! Kamu akan menjadi nyonya Alby. Papa dan om Reza akan mengatur perjodohan kalian berdua"
"Benarkah ? Terimakasih, Pa ! Aku sangat bahagia." Sherin berhamburan memeluk pak Toni.
Sherin tersenyum senang tidak perlu susah payah memisahkan Nazia dan Alby. Karena pada akhirnya pria itu juga akan jadi miliknya.
...----------------...
Zevin mengistirahatkan tubuhnya di atas kasur. Enam hari sudah di kota orang sudah seperti satu bulan saja rasanya. Hari ini Zevin juga mendapatkan kabar jika ada seorang pria bersama Nazia di dermaga, ia sengaja meminta seseorang untuk menguntit Nazia dari kejauhan dan melaporkan kegiatan yang menurutnya janggal.
Zevin menatap langit-langit kamar. Ingin rasanya segera pulang dan melihat secara langsung siapa pria itu ? Bisa saja bertanya lewat telpon pada Nazia tapi hal itu akan membuat wanita itu curiga nantinya.
"Siapa pria ini? Mereka sangat akrab sekali. Aku tidak pernah melihatnya." Gumam Zevin memutar vidio yang dikirim orang suruhannya. Merasa lelah laki-laki itu akhirnya terlelap. Masuk kedalam dunia mimpinya.
...----------------...
Nazia telah bersiap pagi ini untuk pergi ke rumah sakit. Seperti biasa mereka sarapan bersama, karena Ivan belum hafal jalanan kota itu. Jadi Nazia mengantarnya terlebih dulu ke restoran tempatnya bekerja.
__ADS_1
"Ma, kami berangkat." Nazia berpamitan di ikuti oleh Ivan.
Hari ini Ivan pertama kalinya mengunjungi restoran cabang miliknya. Ia sengaja lari dari rumah karena ayahnya ingin dia menggantikan posisinya.
Bukan maksudnya membangkang tapi memang bidangnya berbeda. Ivan seorang koki tidak berniat pada profesi sang ayah. Mobil Nazia berhenti di depan restoran milik Ivan.
"Terimakasih Zizi sayang, makan siang nanti kemarilah, aku akan memasak menu baru dan kamu harus mencicipi nya terlebih dulu." Ucap Ivan sebelum keluar dari mobil.
"Iya, jika perlu sesuatu hubungi aku. Jangan berbelanja sendiri kalau kamu tersesat aku malas mencari mu." Canda Nazia sambil Membantu menurunkan barang-barang.
"Jahat !" Mata Ivan memerah dan berkaca-kaca.
"Sensitif sekali. Jangan sedih aku hanya bercanda, kalau kamu hilang aku akan mencari mu" Nazia menangkup wajah Ivan dengan telapak tangannya.
"Janji !" Ivan memberikan jari kelingkingnya.
"Aku janji ! Masuklah aku juga akan pergi"
"Terimakasih, aku sayang Zizi" Ucap Ivan sumringah.
"Aku juga menyayangi mu masuklah !" Nazia juga membuka pintu mobilnya.
Tidak jauh dari sana seseorang telah merekam aksi mereka berdua.
"Hati-hati." Ivan melambaikan tangannya.
Mobil Nazia melaju pelan karena restoran milik Ivan jalannya searah dengan rumah sakit tempatnya bekerja.
"Selamat pagi, Ay." Sapa Nazia sambil menaruh tas ranselnya di atas meja.
"Pagi, Zi. Bagaimana kondisi hati mu saat ini?"
"Buruk." Jawab Nazia tersenyum getir.
"Maksud mu?"
"Alby tidak mempercayaiku. Dia menyuruh orang untuk menguntit. Hasil laporan orang itulah membuat Alby marah padaku dan tidak mau mendengarkan penjelasanku" Ujar Nazia.
"Penjelasan apa yang kamu ingin berikan pada Alby?"
"Kemarin anak asuh mama datang. Dia sudah seperti saudaraku. Dulunya kami bertetangga ayahnya adalah sahabat papa, ibunya meninggal setelah melahirkannya. Jadi, dia di asuh oleh mama sampai berusia 10 tahun. Mereka akhirnya memutuskan untuk pindah ke kota asal mereka. Dan kemarin dia mencariku lalu kami bertemu di dermaga. Pertemuan itulah yang diketahui Alby dari mata-matanya. Dia meneleponku sangat marah, tapi ia tidak mau mendengarkan penjelasanku"
Rayya menepuk pundak sahabatnya itu. "Bukan salahmu, dia yang tidak mau mendengarkan penjelasanmu. Nanti jika dia sudah datang kamu jelaskan lagi"
Nazia mengangguk pelan sambil melihat jam di tangannya waktu praktek pikirnya. Mereka berdua berpencar menuju ruangannya masing-masing.
...----------------...
Di tempat lain Alby sedang menuju gudang tempatnya menyekap pengkhianat tua itu. Sebelum pulang ia berniat menemuinya dan menggali informasi atas perintah siapa ia berkhianat ?
Jimmy dan Alby berhenti di halaman bangunan tua dan kumuh, di sana orang-orangnya berdiri menyambut tuannya yang telah datang.
"Di mana dia ?" Tanya Alby pada salah satu bodyguard nya.
"Di dalam tuan muda"
"Bagus ayo antar aku kesana !"
Derap langkah mereka menggema di dalam ruangan itu, hanya mendengarkan suara sepatunya saja sudah membuat orang bergidik ngeri. Mereka berhenti di salah satu kamar tempat pria itu di kurung. Alby berdiri lalu memerintahkan Jimmy membangunkannya.
Jimmy membalik perlahan tubuh pria tua itu. Ia terkejut mendapati cairan mirip buih di mulut pria itu. Tubuhnya juga kaku dan dingin.
"Ada apa, Jim?"
Jimmy berdiri lalu mengalihkan pandangan nya pada Alby.
"Tuan, dia meninggal"
"APA ! Meninggal ? Tidak mungkin, kemarin dia masih sehat dan bugar." Ujar Alby tidak percaya.
Jimmy mengambil nampan makanan yang jatuh di sisi kasur. Dipungutnya makanan itu menggunakan sendok baru. "Tuan sepertinya dia di racun. Lihatlah kulit nya membiru."
Alby mendekat lalu memperhatikan dengan teliti. "Kamu benar, Jim. Tapi siapa yang masuk ke tempat ini?"
__ADS_1
"Penyusup ! Dia tidak bekerja sendirian tuan. Ada orang lain di belakang nya"
Alby semakin tidak mengerti. Kenapa akhir-akhir ini ia selalu mendapat masalah. Sebelumnya pengkhianatan karyawannya sendiri lalu bangunannya ambruk dan sekarang pria yang di nyatakan pengkhianat itu tewas keracunan.
"Tuan bagaimana selanjutnya?" Tanya Jimmy.
"Kubur dia dan cari tahu siapa penyusup itu. Apa yang di inginkan nya dari ku?" Balas Alby.
Jimmy mengatur orang-orangnya untuk mengurus jenazah pria tua itu. Selesai dengan urusannya, Jimmy menyusul Alby yang terlebih dulu keluar dari ruangan itu.
"Tuan penerbangan anda satu jam lagi ayo kita pergi"
Alby mengangguk. "Ayo ada urusan penting juga yang menunggu." Ucapnya Melangkah lebar menuju mobil.
...----------------...
Sesuai janjinya Nazia mengajak Rayya pergi ke restoran milik Ivan. Di perjalanan gadis itu mencoba menelpon Alby, tapi sayang ponsel kekasihnya sudah tidak aktif.
"Bagaimana tersambung?" Tanya Rayya sambil mengemudi.
Nazia menggeleng lemah.
"Tidak aktif, aku merasa Alby sudah berubah tidak seperti dulu."
"Mungkin dia didalam pesawat. Tunggulah beberapa saat lagi"
Mobil Nazia berhenti di depan restoran. Mereka berdua masuk bersama. Di sana sudah ada Ivan yang menunggu. Rayya di buat terkejut dengan sosok Ivan yang diceritakan Nazia jauh dari dugaannya. Dalam bayangannya Ivan adalah pria kekar dan tegap, ternyata pria jangkung itu lebih gemulai walau pun tampan. Bodoh pikirnya sampai Alby mengabaikan penjelasan Nazia.
"Dia siapa, Zi?" Tanya Ivan lembut.
"Kenalkan dia Rayya. Aku memanggil nya, Ay. Dia sudah menikah dan memiliki bayi perempuan"
Ivan melangkah mendekat.
"Hai wanita ! Perkenalkan namaku Ivan." Ucapnya mengulurkan tangannya.
Rayya terkekeh unik pikirnya.
"Rayya ! Kamu bisa memanggilku sama seperti. Zi"
Ivan memperhatikan Rayya dari atas sampai bawah. "Usia ?"
Rayya mengangkat alisnya tanda tidak mengerti tapi tetap menjawab.
"28 tahun"
"Kamu lebih tua dariku 3 tahun. Tidak baik aku memanggil namamu secara langsung. Aku akan memanggilmu kakak." Ivan melenggang masuk ke dapur meninggalkan Rayya yang tak berkedip.
Nazia terkekeh. "Bagaimana. Unik, 'kan? Jangan memberitahu, Zev." Ada senyum usil di bibirnya.
"Dia lebih muda darimu 2 tahun tapi tubuhnya tinggi sekali." Rayya tertawa
Nazia mengangguk lalu mengajak Rayya duduk di sofa ruangan Ivan. Tak lama pria berhati wanita itu datang membawa nampan makanan.
"Ayo cicipi menu baruku." Ivan meletakkan satu persatu piring makanan.
Rayya dan Nazia mengangguk dan mereka bertiga makan siang bersama. Setelah beberapa makanan datang di antar karyawan.
Ponsel Nazia bergetar dengan cepat ia merogoh tasnya ingin tahu siapa menelpon nya. Setelah dilihatnya ternyata Zevin melakukan panggilan Vidio. Gadis itu menggeser tombol hijau menjawab telpon.
"Kalian sedang makan siang ?"
"Iya. Kamu sudah makan?" Nazia bicara sambil menyuap makanannya.
Zevin tersenyum. "Belum sebentar lagi. Besok aku pulang, hari ini aku makan bersama teman-teman disini"
"Kami selesai, sepertinya langsung kembali ke rumah sakit. Hati-hati dalam perjalanan mu." Nazia membalas senyum.
"Baiklah sayang, Jaga dirimu baik-baik, akan aku matikan telponnya"
Nazia mengangguk. Ivan datang dari dapur membawa makanan penutup. Mereka bertiga mencicipinya bersama.
"Kami langsung kembali ke rumah sakit"
__ADS_1
"Hati-hati jemput aku saat kamu pulang. Sebelumnya kita belanja terlebih dulu." Ujar Ivan sambil membereskan meja.