
Waktu terasa begitu lambat saat keadaan menjadi genting, seperti itulah yang dirasakan kakek Ardian di dalam mobil. Beberapa kali beliau bertanya pada Zevin, apakah rumah Nazia masih jauh ? Zevin hanya membalasnya dengan senyuman hangat, tak di pungkiri saat ini sedang bahagia tanpa repot mencari tahu sekarang dengan sendirinya rahasia itu terbongkar.
Setiba di kediaman ibu Mira mereka disambut hangat oleh Nazia yang kebetulan membuka pintu. "Silahkan masuk." Ucapnya tersenyum canggung.
Ibu Felisya tersenyum hangat lalu menarik Nazia ke dalam pelukannya. "Maafkan tante, sayang." Ia menangkup wajah Nazia dengan telapak tangannya.
Zevin tersenyum senang. "Apa kamu memaafkan calon mama mertua mu ini ?" Ujarnya menggoda Nazia. "Aku juga mau di peluk, aku rindu." Sambungnya manja memeluk wanita pujaan hatinya ini.
Nazia tersenyum tipis, ia belum mengerti maksud kedatangan keluarga Zevin.
"Apa mama mu ada, Nak ?" Tanya kakek Ardian.
"Mama sedang ke pemakaman papa dan kakek."
"Zev, kita susul ke pemakaman saja. Kakek juga ingin mengunjungi makam, Heru." Ujar kakek Ardian.
"Kita berangkat semua." Seru dokter Radit baru sampai di depan pintu masuk. Ia bisa menduga ada pembicaraan serius sampai kakek Ardian datang ke rumah mereka. Beberapa hari yang lalu dokter Radit telah resmi menikahi ibu Mira.
Zevin meminta Nazia ikut bersamanya satu mobil. Tapi Nazia menolak, ia lebih memilih ikut mobil dokter Radit dan Ivan. Sedikit kecewa di rasakan karena Nazia menolaknya andai tidak ada orang lain. Zevin pasti sudah menggendong Nazia untuk masuk kedalam mobilnya. Di tambah lagi kehadiran ibu Felisya dan Kakek Ardian, pasti Nazia merasa canggung. Ia pun belum bisa menebak apa yang terjadi nanti setelah mereka bertemu dengan ibu Mira.
...----------------...
Ibu Mira berdiri di antara makam suami dan ayahnya, cuaca sedikit mendung dan gerimis. Hari ini dokter Radit tidak bisa menemaninya karena mengurus hal penting sebelum keberangkatan ibu Mira tadi. Wajahnya sedikit sembab kenangan lama yang menyakitkan itu hadir kembali setelah pertemuannya dengan pak Indra dua minggu lalu. Ibu Mira telah selesai menabur bunga di makam pak Hendrik dan pak Heru. Belum berniat pulang ibu Mira berdiri menatap lekat nisan sang ayah.
"Maafkan aku"
Suara baritone yang lama tak terdengar mengejutkan Ibu Mira. Ia menoleh ke asal suara nampak pak Indra berdiri disisinya. Pria tua itu tersenyum pada ibu Mira.
"Untuk apa kamu datang kesini ? Bukankah, urusan kita sudah selesai ? Ayahku sudah mempertanggung jawabkan kejahatannya ! " Kata Ibu Mira dingin.
Pak Indra melangkah lebih maju berjongkok di samping makam pak Heru, tangannya menyentuh nisan yang berusia puluhan tahun itu. "Paman, maafkan aku. Maafkan anak yang tidak tahu diri ini, maafkan kebodohanku. Jika tidak ada paman mungkin aku tidak bisa seperti sekarang ini." Ungkapnya penuh penyesalan. Bahunya bergetar bisa di pastikan saat ini pak Indra sedang menangis. Hari ini pertama kalinya ia menginjakkan kakinya ke tanah makam itu. Hari pertama ia melihat gundukan tanah yang berusia dua puluh sembilan tahun lamanya.
Cukup lama pak Indra di posisinya berjongkok menunduk dalam tangis tanpa suara, hanya tubuhnya yang bergetar. Pria yang pantas di sebut kakek itu masih bugar dan sehat karisma seorang Indra Jaya masih kuat sampai detik ini.
"Cukup membual nya ? Silahkan tinggalkan tempat ini !"
"Maafkan aku Mira. Aku bersalah padamu. Tidak ada yang bisa aku lakukan selain meminta maaf, menyesal juga tidak mengembalikan apapun. Tapi aku bisa memperbaikinya." Ucap pak Indra tulus. Dengan posisi masih berjongkok.
Ibu Mira tak menggubrisnya lalu melangkah ingin meninggalkan tempat itu. Tapi pak Indra lebih dulu menarik pergelangan tangan ibu Mira.
"Lepaskan !"
"Kamu boleh membenciku tapi maafkan aku" Pak Indra melepaskan tangan ibu Mira.
"Aku tidak membencimu. Aku tidak terluka karena kamu membatalkan pernikahan itu. Tapi aku kecewa karena kamu tidak mempercayai ayahku !"
"Maafkan aku semua salahku, harusnya aku bersabar dan mencari tahu. Sekarang aku tahu semuanya. Ayah Ardian menceritakan semua nya." Ucap Pak Indra.
Dia langsung menceritakan semua yang ia tahu kepada ibu Mira. Bendungan air mata kedua insan yang terpisah lama ini tak tertahan lagi, setelah cerita pak Indra selesai tangis ibu Mira semakin pecah.
__ADS_1
"Maafkan paman, Nak"
Ibu Mira dan Pak Indra terkejut melihat keluarga mereka ada di sana. Dokter Radit maju mendekati ibu Mira lalu merangkulnya mesra.
"Kenapa paman lakukan itu ? Aku bahkan menyayangi paman sama seperti ayah"
Pria lanjut usia itu terisak lalu berjongkok ke pinggir makam pak Heru sama persis seperti yang di lakukan pak Indra tadi.
"Maafkan aku ! Maafkan sahabatmu yang hina ini ! Aku menyesal, aku kecewa pada diriku sendiri. Aku bersalah Heru. Maafkan aku, dua puluh sembilan tahun aku terhukum dalam penyesalanku. Tiap menit aku tidak merasa tenang tersiksa atas kesalahanku." Ucap kakek Ardian parau.
Zevin melangkah membantu kakeknya berdiri. "Kakek, kontrol emosi kakek nanti tekanan darah kakek naik." Ujarnya mengusap pundak sang kakek.
Cukup lama mereka diam karena ibu Mira masih menangis kecewa. Pikirannya berkecamuk saat ini. Sikap seperti apa ? Yang harus di ambilnya. Walau jauh-jauh hari ia sudah memikirkan semuanya tapi kebenaran yang baru didengarnya hari ini menyisakan kecewa di hati ibu Mira.
Tubuh dan tangan renta, lelaki tua sahabat pak Heru itu duduk kembali mengusap nisan yang bertuliskan tanggal kematian. Ada rindu dan penyesalan yang terpancar di matanya, di saat terakhir pak Heru baik dirinya sendiri atau pun pak Indra tak ada yang berkenan datang ke pemakaman mengantarkan pak Heru ke peristirahatan terakhirnya.
"Aku orang jahat Heru, aku kejam di hari terakhirmu. Aku tidak berada di sisimu. Bahkan mengantarkanmu untuk istirahat disini pun aku tidak. Maafkan aku Heru." Isak kakek Ardian.
Suara serak dan bergetar begitu menyentuh hati saat kakek Ardian meluapkan isi hatinya selama ini. Hari ini beliau mengungkap rasa bersalahnya pada sang sahabat. Kenangan suka dan duka yang mereka lewati selama muda sirna begitu saja hanya dengan satu kata iri hati.
Ibu Mira mengusap air matanya pelan. Ia menatap lekat wajah Zevin. Dokter tampan itu bisa di katakan titik lemah ibu Mira. Bagaimana pun ia tak boleh egois karena Zevin selama ini selalu ada untuk mereka. Pria itu seperti terkirim sebagai pengganti sang papa yang melepaskan ibu Mira.
Jika saling membalas dendam dan membenci tidak akan pernah habisnya, maka solusinya adalah mengalah dan membuang egois agar hidup lebih tenang. Ujian dan permasalahan hidup bermacam rupa. Karena ibarat pepatah mengatakan semakin pohon tumbuh tinggi maka semakin kencang pula angin meniupnya. Begitu juga ujian hidup yang di hadapi dari tingkat terendah sampai tertinggi.
Masa lalu tetap tinggal di belakang, semua tidak akan kembali sempurna walau maaf terucap. Tapi jika hati memang tulus untuk memulai sesuatu yang baik maka hasilnya pun akan indah dan menyempurnakan serpihan kisah masa lalu yang sempat terpotong.
Semua orang tercengang setelah beberapa saat terdiam. Ibu Felisya tiba-tiba gugup ia melangkah pelan bersama Nazia dan Ivan mendekat kepada Ibu Mira dan yang lainnya.
"Ma—maafkan aku Mira, aku tidak tahu jika semua ini dilakukan ayah. Tapi jujur dalam hatiku tidak ada niat merebut Indra darimu" Ucap ibu Felisya menitikkan air mata.
Ibu Mira diam sesaat matanya masih menelisik wajah Zevin, dua bola matanya menaruh harap yang besar untuk memaafkan keluarganya. Selama ini ibu Mira sudah berfikir tenang dan matang. Ia hanya menunggu Indra dan keluarganya menunjukkan rasa sesalnya dan mengucap permintaan maaf itu dengan tulus.
"Lakukan apa yang ingin kamu lakukan, aku mendukung mu" Bisik dokter Radit.
"Jangan pamer kemesraan kalian disini" Seru pak Indra.
"Kenapa ? Mira istriku sekarang !"
Pak Indra melemparkan pandangannya kearah lain. Wajahnya menunjukkan kalau dia sedang kesal.
Apa papa cemburu? Iih tidak sadar usia ! Jangan sampai papa mengalami cinta lama bersemi kembali. Tapi syukurlah om Radit bergerak cepat ! Aku tidak mau mama di madu dan buruknya aku dan Zi menjadi saudara tiri. Siapa suruh melepaskan wanita secantik tante Mira.
Cibir Zevin dalam hati.
Ibu Mira sedikit melangkah menghampiri kakek Ardian dan berkata. "Paman, sebelum ayah meninggal beliau sudah memaafkan orang yang memfitnahnya siapa pun dia. Begitu juga aku" Ujarnya menggenggam hangat tangan kakek Ardian.
"Terimakasih, Nak. Terimakasih, hanya itu yang mampu aku ucapkan" Ujar kakek Ardian menangis haru.
Suara tangis haru seorang lansia memang terdengar pilu di telinga hingga membawa yang lainnya ikut menangis.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan aku?" Ujar pak Indra dengan tatapan penuh harap.
"Aku pikir-pikir dulu !" Sahut ibu Mira.
Wajah pak Indra mendadak sedih. Sekarang ibu Mira tahu tujuh puluh lima persen sifat Zevin di turunkan pak Indra. Sekarang terjawab sudah jika Zevin mirip pak Indra dari wajah dan sifatnya.
Pak Indra mendekat pada Nazia menatap lekat wajah dokter cantik itu. "Nazia Mishall, pemilik mata indah dan suara lembut serta kecantikan alami. Pertanyaanku terjawab. Semua ini kamu wariskan dari ibumu. Dari awal aku sudah tertarik padamu. Baiklah ! karena aku pernah melepaskan ibunya maka aku harus mendapatkan putrinya !"
Zevin terkejut begitu pun yang lainnya. "Apa maksud papa?" Tanyanya tidak terima dengan apa yang baru di katakan papanya
Pak indra tersenyum jahat. "Mulai hari ini papa resmi jadi rival mu. Jadi, bukan hanya pengusaha muda yang bernama Alby itu saja menjadi rival mu"
"Papa sadar dengan apa yang papa ucapkan ?! Zi, itu lebih pantas jadi putri papa !!" Nada Zevin sedikit meninggi.
"Papa tidak perduli"
Zevin mengepalkan tangannya lalu melihat pada ibu Felisya yang terlihat murung. "Ma, jangan dengarkan papa. Pasti dia mengigau"
Ibu Felisya tersenyum lalu beralih pada ibu Mira. "Kamu memaafkan ku?"
Ibu Mira mengangguk. "Sejak awal aku sudah penasaran pada Zevin. Tapi aku tidak berani bertanya"
"Jangan membenci putraku" Ucap ibu Felisya penuh harap.
"Aku menyayangi, Zev. Sama seperti Zi dan Ivan."
Zevin melangkah ke arah Nazia. "Ayo sayang kita pulang !"
"Zi, pulang sama papa !" Seru pak Indra.
"Apa maksud papa?" Tanya Zevin datar dan kesal
"Papa yang mengantar Zi pulang." Jawab Pak Indra juga ikut memanggil Zi pada Nazia.
"Zizi pulang bersama kami Om" Seru Ivan.
Pak indra memicingkan matanya. "Kamu pulanglah bersama papa dan mamamu. Om ingin jalan-jalan sama, Zi"
Zevin semakin marah lalu melangkah meninggalkan tempat itu. Nazia jadi tidak enak hati, ia berniat menyusulnya tapi pergelangan tangannya di cekal pak Indra.
"Biarkan dia ! Ayo kita pulang aku yang mengantarkan Nazia. Dan kalian pulanglah sopir ada di depan untuk mengantar kalian" Ucap pak Indra kepada ibu Felisya dan kakek Ardian.
"Ta—tapi bagaimana dengan Zev? Dia pasti marah"
"Biarkan saja " Jawab pak Indra.
"Jangan macam-macam pada putriku !" Dokter Radit memperingatkan.
Pak Indra tersenyum tipis. "Hai mantan calon istriku ! aku tidak mengembalikan putrimu jika tidak ada maaf untukku" Ucapnya menarik tangan Nazia untuk mengikutinya.
__ADS_1