Suami Manja Dokter Zi

Suami Manja Dokter Zi
Pemilik Rahasia


__ADS_3

Pak Indra sedang bersiap ke kantor. Pertemuan singkat waktu itu menyisakan kesedihan tersendiri dalam hatinya. Zevin si putra tunggal tidak pernah pulang ke rumah utama selama dua minggu ini. Dalam hati kecil pak Indra masih menginginkan Nazia, tapi karena tahu wanita yang melahirkannya adalah Ibu Mira keinginan itu di tepisnya jauh-jauh.


Tidak hanya pak Indra ibu Felisya juga terlihat murung akhir-akhir ini, rasa penyesalan dalam hatinya sangat dalam. Seharusnya ibu Mira lah mendampingi suaminya sebagai istri.


"Mama kenapa?" Tanya pak Indra setelah duduk di meja makan.


"Mama sedih, Pa. Melihat Mira pasti sangat terluka karena aku yang menjadi istrimu."


Pak Indra tertegun sejenak, kenapa dulu tidak memikirkan rasa sakit hati ibu Mira?  Batal menikahinya, padahal mantan calon istrinya itu tidak tahu apa-apa. Adilkah untuknya?


"Sudahlah, Ma. Itu hanya masa lalu. Aku juga tidak ingin terlibat dengan keluarga mereka lagi." Ujar pak Indra.


"Tapi bagaimana dengan putra kita ? Dia pasti terluka karena terlalu mencintai Nazia."


Pak indra menyuapi makanannya tanpa menjawab. Ia pun bingung harus seperti apa ? Di balik tembok kakek Ardian mendengar percakapan anak dan menantunya itu tertunduk lesu.


"Kakek kenapa di situ?"


"Zev, kamu pulang , Nak." Ibu Felisya sumringah senang.


"Iya, Ma. Aku merindukan mama. Kakek ayo kita sarapan !"


Kakek Ardian mengangguk dengan sigap ibu Felisya mengurus anak dan ayahnya itu. Pak indra melirik sejenak kepada putranya lalu melanjutkan makannya.


"Indra jangan pergi ke kantor dulu" Kata kakek Ardian.


Pak indra mengangguk menyetujui, mereka melanjutkan sarapan dengan tenang. Selesai sarapan mereka semua duduk di ruang keluarga. Pak Ardian duduk di sofa memperhatikan wajah anak, menantu dan cucunya. Pria lanjut usia itu cukup lama terdiam.


"Ayah mau bicara apa?" Pak Indra buka suara.


Kakek Ardian berdiri lalu berlutut di hadapan pak Indra. Menyatukan kedua tangannya menatap sendu pada wajah menantunya itu.

__ADS_1


"Kakek ! Apa yang kakek lakukan?" Zevin berdiri ingin membantu sang kakek untuk berdiri.


"Duduklah, Nak." Sahut kakek Ardian.


Zevin kembali duduk tapi tidak tenang dan kebingungan. Tidak hanya dia, pak Indra dan ibu Felisya juga merasakan hal yang sama.


"Ayah ada apa?" Tanya ibu Felisya tak mengerti.


"Indra, Feli. Maafkan ayah, maafkan pria tua ini. Maafkan kekhilafan ayah." Suara serak kakek Ardian terdengar bergetar. Kepalanya menunduk melihat ke atas karpet.


"Maksud ayah apa?" Tanya pak Indra menyentuh bahu mertuanya itu lalu membawanya duduk di sofa.


"Nak, ayah bersalah padamu dan juga Heru" Kata kakek Ardian terisak pelan.


"Katakanlah ayah apa yang terjadi ?Kesalahan apa yang ayah maksud?" Tanya ibu Felisya lembut.


Kakek Ardian melepaskan kaca matanya mengusap buliran air mata yang mengalir di pipi keriputnya. Berat rasanya beban rahasia yang disimpannya selama ini. Hari ini ia bertekad memberitahukan kebenaran yang ia simpan sendiri. Pertemuannya dengan keluarga Nazia malam itu secara tidak langsung mencambuknya untuk bicara jujur.


Kakek Ardian memasang kembali kaca matanya lalu berkata. "Dua puluh sembilan tahun silam, ayah telah memfitnah Heru. Dia tidak bersalah, Ayah yang memanipulasi data agar Heru terlibat korupsi. Benar itu tanda tangan aslinya karena ayah yang menyelipkan di antara dokumen yang harus di tanda tanganinya. Memang benar ada korupsi perusahaan tapi bukan dia pelakunya. Tapi direktur keuangan yang ayah laporkan sendiri ke polisi. Tanpa sepengetahuan kamu karena ayah mengaturnya sebagai pengunduran dirinya"


"Ke—kenapa ayah melakukan itu?" Tanya pak Indra lemah.


"Iri, ayah iri padanya karena dia selalu bersamamu bahkan dia berperan besar dalam hidupmu. Di tambah lagi kamu akan menikahi Mira. Ayah tidak terima karena Felisya juga mencintaimu. Ayah tidak sanggup melihatnya menangisi mu setiap malam" Jelas kakek Ardian.


Ibu Felisya tak mampu berkata-kata. Ia hanya menangis di pelukan Zevin.


"Kenapa iri ? Aku menyayangi ayah dan Om Heru sama besarnya. Dan perasaan Feli, aku tidak tahu karena awalnya aku memang menyukai Mira. Maafkan aku Ayah.... Gara-gara aku, ayah melakukan kejahatan itu" Ucap Pak Indra merasa bersalah.


"Ayah yang minta maaf, Nak ! Karena keegoisan ayah kamu menghukum orang yang tidak bersalah"


Suasana tiba-tiba hening masih berusaha mempercayai kebenaran yang baru saja mereka dengar,  mengejutkan lagi orang terdekat melakukan kejahatan itu.

__ADS_1


Menyesal itu pasti di rasakan pak Indra, bayangan wajah sedih Ibu Mira di masa lalu teringat kembali. Dimana saat itu, ibu Mira memohon padanya bukan untuk pernikahan yang telah di batalkan pak Indra. Tapi untuk mempercayai ayahnya.


Ibu Mira meninggalkan gedung pernikahan setelah melepaskan kebaya pengantinnya saat itu dan tergesa-gesa dengan tatapan hampa melihat Indra menyetujui menikahi ibu Felisya


Bisa di katakan hancur kehidupan Ibu Mira, karena Indra juga merampas aset milik pak Heru untuk menggantikan dana yang tidak di korupsinya itu.


Mata pak Indra merah dan berkaca-kaca mengingat kejadian itu. Hari ini teringat kembali kalimat yang pernah dilontarkan Zevin putranya. Andai dia lebih sabar dan mencari tahu sebelumnya maka kejadian ini pasti sudah terungkap.


Pak indra menghembus nafas berat lalu berkata "Menyesal sudah tidak berguna, lebih baik memperbaikinya."


"Kamu benar ! Feli antar ayah menemui Mira. Ayah ingin minta maaf" Ucap kakek Ardian.


Ibu Felisya mengangguk. "Iya ayah, ayo Zev kita ke rumah Nazia"


"Iya, Ma."


"Kalian duluan saja aku ada urusan sedikit."  Pak indra bergegas keruang kerjanya.


Usia yang tak lagi muda membuat perasaan pak Indra sedikit sensitif. Dadanya sesak ada bongkahan sesal yang mendalam dirasakannya. Ada goresan luka yang membekas di hatinya tanpa di ketahui semua orang.


Pak Indra mengambil guci antik di rak bukunya. Ia mengusap pelan penuh perasaaan. Guci itu adalah pembelian pak Heru. Karena sejak muda pak Indra menyukai barang antik. Mereka ingin menghadiri lelang barang antik di salah satu tempat. Karena usia yang masih muda pak Indra tidak di perbolehkan untuk ikut. Tanpa sepengetahuannya pak Heru ikut lelang itu dan memenangkannya. Guci itu di berikan kepada pak Indra sebagai hadiah ulang tahunnya.


Pak Indra menumpahkan guci itu di atas meja. Keluarlah kunci kecil. Ia membuka laci meja yang telah puluhan tahun ia kunci rapat tak pernah sekali pun ia membukanya.


Pak Indra mengambil kotak hitam yang terbungkus rapi di dalam laci. Air matanya seketika tumpah melihat cetakan namanya dan ibu Mira di lembaran undangan pernikahan.


"Maafkan aku telah menyakitimu, aku bersalah Mira. Aku bodoh !" Isak pak Indra. Tangannya membuka kotak kecil yang terdapat cincin pernikahan. "Cincin ini masih aku simpan ! Aku pernah membencimu karena kamu putri paman Heru. Aku jahat membuang pemilik cincin ini ." Gumamnya bercampur tangis.


Suaranya parau. Presiden direktur perusahaan besar ini sangat rapuh, kebenaran dari masa lalunya merenggut kewibawaannya sesaat. Pak indra mengambil foto usang yang ada dirinya, pak Heru dan pak Ardian. Tangisnya pun pecah menatap foto sebelah kanannya nampak masih gagah dan muda.


Aura yang begitu kuat, tegas dan dingin. Asisten kepercayaan turun temurun. Pak Heru mendampingi tuan Jaya semasa mudanya dan di usia matangnya, ia harus mendampingi pak Indra. Tapi sangat di sayangkan ketika usia yang hampir setengah abad dihabiskannya di jeruji besi sampai ia menutup mata.

__ADS_1


"Maafkan aku paman, aku jahat padamu dan Mira. Aku manusia tak tahu diri" Pak indra menumpahkan rasa bersalahnya melalui air matanya.


Pikirannya tak karuan, apa masih ada maaf ibu Mira untuknya?


__ADS_2