Suami Manja Dokter Zi

Suami Manja Dokter Zi
Sherin


__ADS_3

Alby sengaja datang langsung ke rumah sakit. Selain rindu, ia juga merasa bersalah karena jarang menjawab telpon kekasihnya. Dua minggu itu sangat menguras waktu dan pikiran pria itu, karena bangunan yang baru saja di bangunnya terkena masalah.


Kelicikan dari orang dalam perusahaannya agar dapat keuntungan besar, maka bagian operasional konstruksi membangun gedung milik Alby seadanya. Bangunan itu ambruk, beberapa karyawannya terluka. Dapat dipastikan Alby mengalami kerugian yang sangat banyak, karena proyek itu sangat besar, beberapa rekan bisnisnya ikut bekerja sama di sana.


Alby dan Nazia berhenti di salah satu restoran. Mereka makan malam di sana. Alby menarik kursi untuk kekasihnya terlebih dulu, lalu memanggil salah satu pelayan restoran untuk memesan makanan.


"Kak Jimmy kemana?" Tanya Nazia.


"Masih di luar kota."


"Ada masalah di perusahaan mu?" Tanya Nazia lembut.


Alby mengangguk. "Iya, mungkin beberapa hari lagi aku akan kembali ke sana." Balasnya hanya fokus pada ponsel.


Nazia mengangguk lalu pelayan datang mengantar makanan. Mereka  makan dalam diam. Di sudut ruangan sepasang mata sedang mengawasi mereka berdua dengan tatapan penuh benci pada dokter cantik itu.


"Al, setelah ini kamu mau menemani aku mencari hadiah untuk bayinya, Ay?


Alby tersenyum sambil menyeka mulutnya menggunakan tissue. "Dia melahirkan ? Baiklah kita cari hadiahnya sama-sama. Apa jenis kelamin bayinya?" Tanyanya antusias


"Perempuan." Nazia tersenyum senang.


"Pasti menggemaskan."


Nazia hanya tersenyum. Alby memang suka anak kecil, contohnya pada keponakannya, ia sangat senang jika disuruh menjaganya. Alby sangat sayang pada keponakannya itu, bahkan Erika kerap kali kena marah jika memarahi anak nya.


Makan malam selesai, Alby dan Nazia pergi ke salah satu Mall yang tidak tahu kepemilikannya siapa. Karena Alby mengaku bukan milik keluarganya. Mall itu sangat besar para pekerjanya terarah dengan benar.


Mereka berdua memilih pakaian bayi perempuan, saling tertawa gemas melihat baju-baju mungil itu. Nazia telah memilih beberapa pasang baju dengan model dan warna yang berbeda-beda. Sementara Alby menjatuhkan pilihan pada sepatu kaos yang lucu-lucu.


"Aku yang akan membayarnya." Ucap Alby.


"Baiklah, walau aku menolak kamu tetap memaksa."


Sepasang kekasih itu mengantri di kasir, setelah giliran mereka selesai. Nazia bermaksud mengajak Alby pulang karena sudah merasa gerah sepulang dari rumah sakit kekasihnya itu langsung menjemputnya.


"Al "


Suara itu menghentikan langkah Alby dan Nazia. Mereka bersama menoleh ke sosok wanita yang berdiri di sebelah kanan mereka


"Sherin ! Kamu di sini?"


"Iya, Al ! Aku berbelanja keperluan untuk bekerja besok. Aku ikut papa di perusahaan." Jelas Sherin atas keberadaannya di sana.


"Benarkah ? Itu artinya kamu akan menggantikan papa mu suatu saat nanti." Ucap Alby sumringah.


Sherin mengangguk dan tersenyum. "Benar ! Aku akan belajar dulu dari bawah."


"Aku yakin kamu bisa, bagaimana sudah dapat yang kamu cari?" Alby seolah lupa dengan keberadaan kekasihnya.


"Belum, aku baru sampai."


"Ayo, Al. Kita pulang." Sela Nazia mengeluarkan suara. Setelah diam menyimak pembicaraan kekasihnya dan Sherin.


"Tunggu ! Al. Bisakah, kamu menemani ku belanja sebentar?" Sherin bergelayut manja di lengan Alby. Pria itu seperti kebingungan di posisi itu. Satu sisi Sherin temannya dan sisi lain ada Nazia kekasihnya. "Ayolah, Al ! Hanya sebentar. Zia kamu biasa, 'kan? Pulang naik taksi." Sambung Sherin tanpa rasa bersalah.


Nazia menatap datar pada Sherin dan Alby tanpa bersuara. Masih ingin mendengar keputusan kekasihnya. Bisakah, kekasihnya itu tegas ?


Alby bergeming. Masih memilih antara kekasih atau teman masa kecilnya. Sherin memasang wajah manjanya, Alby menjadi tidak tega lalu mengalihkan pandangannya pada Nazia seolah meminta persetujuan wanita itu.


"Zi, akan pulang bersama ku !"


"Zev !"


Zevin melangkah mendekat dan menatap dingin pada Sherin dan Alby, lalu tersenyum tipis. Sejak tadi ia sudah memperhatikan tiga orang itu. "Kamu tidak bisa memilih antara teman dan kekasih mu, Al ?" Ia melontarkan pertanyaan yang mengandung ejekan.


Alby mendengus kesal membalas tatapan Zevin dengan tajam. "Jangan ikut campur urusan ku !"


Zevin terkekeh sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya. "Sayangnya jika urusan menyangkut, Zi. Akan jadi urusan ku juga !" Ucapnya dengan santai tapi bermakna tegas.


"Siapa dia, Al?" Tanya Sherin. Menatap tidak senang pada Zevin.


"Dia temannya Zia. Namanya Zevin"


Nazia kembali melihat tangan Sherin masin melingkar manis di lengan Alby. Pria itu sepertinya belum menyadari jika kekasihnya ini sudah menahan kesal sejak tadi.

__ADS_1


"Hai kenalkan nama ku, Sherin."


"Saya tidak bisa menyentuh wanita lain tanpa ijin dari wanita yang saya cintai !" Sindir Zevin tanpa membalas uluran tangan Sherin.


Alby merasa tersinggung lalu melepaskan tangan Sherin dari lengannya. Nazia tetap diam tidak berniat bersuara. Biarlah Alby menyadari apa kesalahannya.


"Ayo, Al ! Sebentar saja." Desak Sherin.


"Tapi aku harus mengantar Zia pulang." Alby berusaha menolak.


Nazia mengalihkan pandangan pada Zevin yang sejak tadi sudah memasang wajah tidak bersahabat pada Alby.


"Kamu ada keperluan?"


Zevin mengangguk. "Aku mencari hadiah untuk bayi, Ay." Jawabnya dengan nada lembut. Sorot matanya juga menghangat.


"Aku juga, ini sudah dapat." Nazia menunjukkan belanjaannya.


Alby menatap tidak suka pada Zevin karena berdiri terlalu dekat pada Nazia. Seperti biasa sifat cemburunya kadang tidak beralasan dan sering memicu pertengkaran kecil untuk dirinya dan Nazia.


"Siapa wanita ini?" Tanya Zevin dengan tatapan menyelidik.


"Dia teman ku sejak kecil. Di kota ini dia tidak memiliki teman selain aku. Maka dari itu, dia meminta bantuanku menemaninya belanja karena besok dia akan bekerja di kantor papa nya." Jelas Alby.


Sherin tersenyum senang atas penjelasan Alby. "Ayo Al ! Hanya sebentar dan Zia juga ada teman nya disini." Ia memasang wajah manja dan kembali memeluk lengan Alby.


Nazia semakin memanas. "Pergilah ! Aku pulang bersama, Zev." Putusnya bicara dengan tegas.


Alby tersentak tak menyangka jika pilihan Nazia akan pulang bersama Zevin bukan naik taksi. "Zia aku membatasi mu untuk bergaul dengannya. Jangan melanggar aturan yang aku buat !" Ujarnya kesal.


Zevin tersenyum tapi masih membiarkan Nazia bicara. Ia ingin menyaksikan bagaimana Alby menghadapi gadis itu jika sedang marah.


"Lalu mana batasan mu ?" Sorot mata Nazia beralih pada Sherin.


Alby menyadari posisi Sherin lalu menarik tangannya dari pelukan wanita itu. "Maafkan aku zia." Ucapnya meraih tangan Nazia ke genggamannya. Sherin kembali merengek dan Alby tidak tega  membiarkan teman kecilnya itu belanja sendiri. Pria itu menarik nafas perlahan. "Zia pulanglah naik taksi, aku menemani Sherin sebentar. Hanya hari ini."


Perasaan Naiza rasa diremas saat kekasihnya lebih memilih menemani wanita lain dari pada mengantarnya pulang.


Zevin menarik lengan Nazia ke sisinya. "Zi, pulang bersama ku !" Tegasnya langsung membawa dokter cantik itu pergi.


...----------------...


Nazia dan Zevin kembali memasuki toko perlengkapan bayi namun berbeda tempat. Mereka berdua memilih kembali pakaian bayi untuk  hadiah Zevin. Mereka sudah seperti suami istri yang berburu perlengkapan bayi.


"Kalian pasangan suami istri yang manis." Seru ibu hamil di sebelah Nazia.


"Iya benar ! Kalian pasangan yang serasi." Puji ibu yang lain tersenyum.


"Tuan, istri anda sangat cantik  boleh saya menyentuh wajahnya agar bayi saya juga cantik sepertinya." Pinta ibu tengah hamil besar.


Zevin terdiam sejenak


Istri ?


"Silahkan Nyonya. Istri saya memang sangat cantik, semoga nanti bayi kami seperti wajahnya." Zevin tersenyum lebar. Tangannya terangkat menyentuh perut Nazia.


Gadis itu jadi salah tingkah antara malu dan gemas kemudian membiarkan pipi nya di usap. Wanita hamil itu sangat senang dan berbinar.


"Terimakasih Tuan, Nyonya. Semoga kebahagiaan selalu datang untuk kalian berdua." Ucap ibu hamil itu.


"Terimakasih." Balas Nazia tersenyum


Zevin dan Nazia saling pandang dan tersenyum lucu. Setelah memilih yang menurut mereka bagus. Zevin mengantri dan Nazia berdiri di sisinya.


"Nyonya, hamil anak pertama ya?" Tanya ibu di belakang Nazia.


"Iya Nyonya, doakan istri saya sehat sampai kelahiran bayi kami." Bukan Nazia menjawab tapi Zevin.


Wajah dokter tampan itu sangat bahagia bukan hanya satu dua kali orang mengatakan Nazia istri nya. Tapi sudah puluhan kali. Ia pun berharap doa orang-orang itu akan jadi kenyataan.


Nazia menunduk malu, ada pria seperti Zevin tanpa canggung membenarkan kata-kata orang dibelakangnya. Zevin selesai membayar belanjaannya lalu mengajak Nazia meninggalkan tempat itu.


Tanpa di duga Zevin melihat pada Alby dan Sherin yang akan pulang juga dari sana. Ia mengalihkan pandangan Nazia agar tidak melihat Alby dan Sherin. Nazia hanya diam tanpa bicara. Zevin yakin wanita ini kepikiran pada Alby dan Sherin.


"Jangan dipikirkan !" Seru Zevin memecahkan kesunyian mereka berdua.

__ADS_1


Nazia menyandarkan kepalanya di kursi tanpa menjawab Zevin, ia memejamkan hanya matanya.


...----------------...


Menempuh perjalanan beberapa menit, mobil Zevin berhenti di depan rumah Nazia.


"Zi, bangun kita sampa.i" Zevin menggerakkan tangan Nazia.


Gadis itu tidak bereaksi, Zevin memutuskan menggendong nya. Namun Sebelum itu, ia sudah memencet bel agar ibu Mira membuka pintu rumah. Dengan hati-hati Zevin meletakkan gadis itu di atas kasur. Ibu Mira membawa belanjaan Nazia ke dalam kamar nya.


"Terimakasih, Zev ! Sudah mengantarkan, Zi." Ibu Mira menatap lekat mata dokter itu.


Zevin meraih kedua tangan ibu Mira dan berkata "Tante aku akan tetap bersama, Zi. Sampai dia benar-benar bahagia sesuai janji ku pada almarhum Om dan Abel. Ini bukan hanya sekedar janji tapi cintaku yang besar pada, Zi."


"Semoga kalian bisa bersama. Nak ! Dan Zia bisa melihat cinta mu."


"Iya tante aku pamit dulu." Ucap Zevin.


Ibu Mira mengantarkan dokter tampan itu sampai depan pintu. Ibu Mira kembali masuk ke kamar putrinya dan membangunkannya untuk membersihkan tubuhnya. Selama ini ia tahu jika Zevin mencintai putrinya tapi ibu Mira memilih diam karena setiap melihat wajah Zevin ia teringat dengan wajah orang dari masa lalunya.


...----------------...


Zevin dan Nazia semua berkumpul di ruangan Rayya memberikan hadiahnya masing-masing. Alby begitu senang melihat bayi mungil dan cantik itu di atas kasur.


"Zi, kapan aku boleh pulang?"


"Sore juga boleh ! Kamu dan putri mu sangat sehat." Jawab Nazia.


"Kalau begitu aku pulang sore saja" Balas Rayya senang.


Nazia menoel-noel pipi gembul bayi itu dengan gemas. Zevin tengah memperhatikan jadi teringat kepada para ibu tadi malam yang mendoakan mereka berdua.


"Ay, kamu tahu saat aku dan, Zi. Mencari hadiah ku ? Ada ibu hamil ingin sekali menyentuh wajah, Zi. Agar tertular cantik, bahkan mereka mengira dia istri ku dan sedang hamil." Kata Zevin sambil melirik reaksi Alby.


Benar saja kuping pria itu memanas, dia juga masuk ke toko perlengkapan bayi tadi malam, tapi tidak ada orang mengira mereka pasangan suami istri.


"Benar begitu Zia?" Tanya Alby kesal.


Nazia menoleh sebentar lalu beralih melihat bayi itu kembali. "Benar ! Bagiku itu sudah biasa karena selama ini kebanyakan orang menduga kami adalah suami istri dan mereka tidak segan mendoakan kebahagian kami berdua." Ucapnya santai dan panjang lebar.


Alby semakin cemburu. Andai tadi malam ia tidak menuruti Sherin pasti Zevin tidak memiliki kesempatan untuk dekat pada Nazia.


Rayya bisa melihat wajah Alby sudah merah karena kesal. "Al, tidak perlu di tanggapi, itu hanya pendapat orang saja faktanya kamu adalah kekasih, Zi." Ia mencoba menengahi.


Alby tersenyum. Sudah seperti Jimmy saja pikirnya bisa menenangkannya. Zevin tersenyum puas melihat wajah masam Alby.


Nazia mengambil posisi duduk di sebelah Vian yang sedang fokus pada ponselnya. Kecewa masih merajai hatinya atas kejadian tadi malam.


"Zia duduk disini ! Vian suami Rayya. Kamu tidak boleh sedekat itu! " Ucap Alby sejak tadi merasa diacuhkan.


"Yang penting aku tidak bergelayut manja dengan milik orang lain." Sindir Nazia.


Alby salah tingkah lalu tak bisa berkata-kata lagi. Ia tahu jika kekasihnya itu sedang marah. Zevin melirik dari sudut mata nya menyaksikan perang dingin antara Nazia dan Alby.


Rayya masih belum mengerti mencoba bertanya dari sorot matanya pada Zevin. Tapi, sayangnya pria itu tidak ingin membahasnya.


Alby membiarkan kondisi sedikit panas itu dingin sejenak. Ia berdiri dan melangkah ke sisi ranjang bayi. "Siapa nama nya?" Tanya nya. Mengangkat bayi itu untuk menggendongnya


"Vira Oktaviana." Sahut Vian.


Alby mengangguk lalu duduk di sofa sebelah Nazia. "Kamu mau menggendongnya?" Tanyanya menoleh pada kekasihnya itu.


Dokter cantik itu hanya diam tanpa menjawab. Zevin memperhatikan dari seberang sofa lalu tersenyum sendiri. Alby memberikan baby Vira pada Rayya dan kembali duduk disebelah kekasihnya.


"Zia maafkan aku atas kejadian tadi malam. Janji tidak ku ulangi lagi." Alby meraih kedua tangan Nazia ke genggamannya


"Al, kamu harus tegas jangan memiliki pondasi yang rapuh, karena di situlah orang lain melihat titik lemah mu."


Alby diam sejenak mencerna kata-kata kekasihnya. "Aku mengerti ! Kamu mau memaafkan ku?


Nazia menatap dua bola mata Alby lekat. "Aku memaafkan mu kali ini, jika terulang lagi maka biarkan aku mundur. Karena aku tidak berhati baik untuk menyaksikan sesuatu yang memicu pengkhianatan !"


Alby terdiam. "Tapi kamu juga dekat dengan Zevin." Ucapnya tidak ingin di pojokan


Nazia tersenyum tipis. "Aku sudah menjauhinya atas permintaan mu. Asal kamu tahu Zevin tidak serendah yang ada di pikiran mu ! Walau dia dekat dengan ku tapi tubuhnya tidak sembarangan menyentuh ku !"

__ADS_1


__ADS_2