Suami Manja Dokter Zi

Suami Manja Dokter Zi
ZAYYAN ARKANA VINJAYA(END)


__ADS_3

Rumah Sakit ZK


Senja sudah berlalu, Zevin tersenyum puas selain kasur dan peralatan tidur. Yudha juga mengirim karpet dan membentangnya hampir memenuhi ruang inap Nazia.


Erik datang dengan wajah tak percaya. Apa itu kamar inap rumah sakit? Atau kamar tidur di rumah mereka. Alby dan Ralda yang datang bersama Erik juga menggeleng tak percaya. Meski telah menjadi ayah. Tetap saja aksi konyol dan aneh Zevin masih tetap ada.


"Selamat ya, Kak."


"Terimakasih, Ra." Balas Nazia tersenyum.


Alby ikut mengucapkan hal yang sama, ia langsung berpindah ke atas kasur melihat bayi Nazia. "Wah, dia lebih tampan darimu Zev !" Puji Alby senang.


"Tentu saja, tapi aku tetap tidak merasa tersaingi, karena dia lebih mirip istriku." Balas Zevin santai.


Alby menatap kesal. "Masih saja dia iri pada bayinya !" Gerutunya pelan.


"Kalian sudah makan?" Tanya Ralda.


"Sudah, kalau begitu aku mandi dulu ya." Zevin mengambil handuk di dalam koper.


"Kamu belum mandi?" Tanya Alby tak percaya.


"Dia lupa mandi dan makan. Setelah kelahiran putranya." Jawab Nazia tersenyum.


Erik terkekeh. "Mandilah Kak ! Nanti aku menjaga jagoan ini" Ia duduk di atas kasur menatap wajah bayi itu.


Nazia berbincang dengan Ralda. Sementara itu Erik dan Alby tengkurap  memperhatikan wajah mungil bayi Nazia itu, sembari menggibah Zevin di dalam kamar mandi.


"Aku tidak percaya, kamar ini disulapnya seperti ini. Bahkan aku juga ingin ikut menginap di sini." Celetuk Alby.


"Kalian tidak tahu saja dia memerintahku hari ini." Sahut Yudha baru masuk menenteng beberapa kue.


"Ini tidak seberapa, Saat dia kecelakaan waktu itu. Tidur pun tidak mau memakai pakaian rumah sakit. Kiki mengantarkan piyama tidurnya dari  rumah. Tak hanya itu selimut dan seprai juga dibawa dari rumah." Cerita Erik.


"Parahnya, kamu betah saja dengan tingkah konyolnya itu." Balas Alby.


"Aku sudah terbiasa." Kekeh Erik.


Zevin keluar dari kamar mandi, terbelalak melihat Erik dan Alby tengkurap di atas kasur. Tak hanya itu, Yudha dan istrinya berbincang seru bersama Ralda. "Hei, apa yang kalian lakukan?" Pekiknya sambil mengeringkan rambutnya.


Erik dan Alby hanya menoleh, tanpa berniat merubah posisi mereka.


"Kami menjaga nya, Kak."


"Kalian membuatnya sesak, ayo duduk ! Entah Virus apa yang kalian bawa ke atas kasur. Apa tangan kalian steril?" Omel Zevin memberikan handuknya pada Nazia, karena istrinya itu ingin mengeringkan rambutnya.


Alby menatap kesal. "Wah, semenjak menjadi ayah. Kamu juga pandai mengomel. Tubuhku bersih, tanganku juga steril, dokter Zevin !" Ucapnya geram.


"Menyingkirlah ! Aku juga ingin bersama putraku." Zevin tak acuh menghampiri putra nya.


"Baiklah, kalau begitu aku berbincang dengan istrimu saja." Alby duduk dan melangkah ke sisi ranjang.


"Jangan lama-lama ! Hari ini aku izinkan kamu dan Yudha berbincang dengan istriku. Tapi anggota tubuh dikondisikan !" Ucap Zevin.


Yudha dan Alby sama-sama melotot pada Zevin nampak cuek setelah berbicara.


Erik masih tengkurap, memegang tangan bayi itu lembut. "Dia sangat tampan !" Pujinya tersenyum.


"Bagaimana di kantor hari ini?"


"Seperti biasa, kakak fokus saja dengan Kak Zi dan si kecil. Biar aku yang mengurus kantor sementara waktu." Balas Erik.


"Baiklah, terimakasih kamu selalu ada untukku." Ucap Zevin tulus.


Tak lama, datanglah pak Indra dan Ibu Felisya. Mereka terperangah melihat kondisi ruangan Nazia.


"Ya ampun, putraku sangat berlebihan." Gumam pak Indra.

__ADS_1


"Bagaimana kondisimu?" Tanya Ibu Felisya.


"Aku merasa sangat lelah dan pegal." Ucap Nazia.


"Itu efek setelah melahirkan sayang."


"Tante, Om."


"Sering-seringlah bercocok tanam, berikan Om cucu lagi." Bisik Pak Indra pada Alby.


Alby terkekeh. Bapak dan anak sama konyolnya. "Tentu Om." Jawabnya sedikit malu.


"Kamu sudah makan, Zev ?" Tanya Ibu Felisya.


"Sudah, Ma."


"Selamat malam semuanya." Sapa Ibu Mira dan dokter Radit.


"Selamat malam."


Paruh baya itu juga terkejut melihat dalam kamar itu. "Apa Asi-mu sudah keluar?" Tanya Ibu Mira.


"Sudah, Ma."


"Syukurlah. Mama akan menginap disini menemani kamu. Nanti papa pulang dijemput Ivan." Ujar ibu Mira.


"Iya Ma."


"Siapa Namanya?" Tanya pak Indra.


Sekarang mereka duduk lesehan di atas karpet.


Zevin menatap lekat putranya dan berkata. "Zayyan Arkana Vinjaya, kalian boleh memanggilnya Zayyan atau Arka."


Nazia menatap wajah suaminya. "Kamu yakin sayang?"


"Apa papa setuju?"


"Sangat setuju, Nak. Papa akan manggilnya  Zayyan." Jawab Pak Indra.


"Wah, benar-benar keluarga Z. Aku memanggilnya baby Z." Celetuk Ivan yang baru masuk.


"Ternyata kamu pencinta huruf terakhir rupanya." Tutur Alby.


Zevin tersenyum dan berkata. "Zi, Zev dan Za."


Cukup lama berbincang dan menjenguk Nazia, akhirnya jam besuk habis. Semua orang pulang ke rumah masing-masing. Hanya ibu Mira yang bertahan menemani Nazia dan Zevin.


"Zev, sekarang kamu istirahatlah, biar mama menjaga Zayyan."


"Aku belum ngantuk, Ma."


"Sayang biar belum ngantuk, tubuhmu perlu istirahat. Sejak jam empat pagi tadi kamu belum istirahat yang cukup. Sebaiknya kamu istirahat nanti baby Z bisa bangun dan begadang." Bujuk Nazia.


"Baiklah cinta, aku rebahan di kasur sebelahmu ya. Biar mama sama baby Z di kasur satunya." Ujar Zevin.


Nazia mengangguk, Zevin mengambil bantal dan selimut. Benar saja suami Nazia itu sangat lelah, tak butuh lama ia pun tertidur.


"Zi, Zayyan diberi Asi dulu ya. Dia baru saja pipis." Ibu Mira memberikan cucunya itu pada Nazia.


Bayi itu ternyata haus, setelah kenyang. Putra Nazia itu tidur dengan nyenyak.


"Mama juga tidur, mumpung babynya belum begadang."


"Iya, Nak. Kamu juga."


Nazia menoleh sebentar pada suaminya. Nampak Zevin terlelap dengan nyenyak bahkan selimutnya turun dari tubuh. Nazia turun dari kasur dan melangkah pelan. Meski telapak kakinya ngilu, ia tetap memaksakan menghampiri suaminya.

__ADS_1


"Tidur yang nyenyak sayang." Nazia mengecup kening suaminya sembari membenarkan selimut.


...----------------...


Siang Hari, setelah melakukan rangkaian pemeriksaan kini, Nazia dan bayinya diperbolehkan pulang. Zevin baru saja selesai menebus resep yang diberikan dokter Farida.


"Sudah siap ?"


"Sudah sayang." Balas Nazia.


Kondisi kamar itu kembali seperti semula. Hanya bed nya yang bertambah. Ibu Mira bertugas menggendong cucunya. Lalu Zevin mendorong kursi roda Nazia.


Ibu Mira masuk lebih dulu duduk di kursi belakang, sementara itu Zevin membantu Nazia masuk ke dalam mobil bagian depan


"Ada keluhan?"


Nazia menggeleng. "Tidak, rasanya lebih baik dari tadi malam." Jawabnya yakin.


"Baiklah, sekarang kita pulang !" Ucap Zevin semangat


Ia melajukan mobilnya dengan perlahan dan hati-hati. Jarak tempuh rumah sakit dan rumah Zevin tidak terlalu jauh. Kini mereka tiba di halaman rumah.


"Selamat datang di rumahmu baby Z." Ivan menyambangi di depan pintu.


"Terimakasih Van."


Mereka masuk ke dalam ruangan, disana seluruh anggota keluarga sudah ada menunggu mereka dengan berbagai macam hadiah dan makanan.


Syukuran kecil itu langsung dibuat oleh pak Indra sendiri. Tak hanya itu di kantornya juga dilaksanakan acara kecil-kecilan itu bersama karyawannya.


Zevin tak mampu berkata-kata lagi, kebahagiaannya begitu lengkap meski tak sempurna. Kedatangan Vino dari bertugas kali ini membawa suasana haru tersendiri untuk mereka semua.


Jika dulu dengan gagahnya Vino dan Abel datang dengan seragam kebanggaan mereka. Maka kali ini, ibarat kaki pincang sebelah seperti itu lah Vino. Ia datang seorang diri membawa tas ranselnya langsung menuju kediaman adik sepupunya itu. Desas desus perceraiannya dengan sang istri sudah tersebar luas dikalangan keluarga.


"Apa kabar kamu, sayang?" Tanya Vino memberikan pelukan penuh rindunya pada Nazia.


"Kabarku baik Kak. Dan kakak sendiri ?"


"Kabar kakak juga baik, hanya hati yang tidak baik." Vino terkekeh.


"Terimakasih pulang dengan selamat." Ucap Nazia berkaca-kaca.


"Selamat sudah menjadi ibu." Vino tersenyum.


Zevin menghampiri istrinya dan Vino. Ia juga memeluk  sahabat nya itu. "Terlalu lama kamu berpisah dari kami."


Vino tertawa. "Sekarang tidak lagi. Aku bertugas dalam kota sekarang." Ucapnya senang.


"Benarkah ? Syukurlah Kak." Seru Nazia.


"Kak, Vino !" Pekik Ivan girang berlari.


Vino terkekeh membalas pelukan Ivan. "Hei jangan cengeng."


Ivan melonggarkan pelukannya sambil menyeka air mata. Seluruh keluarga bergantian memeluk Vino, terlebih pak Bram dan Ibu Sherly. Tubuh Vino seolah ganti tubuh Abel yang tak terlihat.


Tanpa mereka sadari, di tengah mereka ada sosok putih kasat mata berdiri sembari tersenyum melihat canda tawa mereka.


Terimakasih sudah bahagia sayang, terimakasih hidup dengan baik selama ini. Terimakasih karena mencintai orang tuaku. Terimakasih telah menyimpan namaku sampai saat ini. Aku mencintaimu, meski  CINTA INI TAK TERLIHAT


ABEL


...----------------...


°°° END °°°


ADA BONCHAP BEBERAPA BAB YA KHUSUS ERIK 😊

__ADS_1


__ADS_2