Suami Manja Dokter Zi

Suami Manja Dokter Zi
Air Mata Vian


__ADS_3

Setelah  jalan-jalan malam itu, Alby dan Nazia belum lagi bertemu kembali. Karena Alby ada perjalanan bisnis dua minggu ke luar kota. Selama itu pula mereka jarang berkomunikasi  walau hanya sekedar berkirim pesan. Nazia mencoba berfikir positif pada kekasihnya itu. Bukankah, Ia sudah terbiasa di tinggalkan karena tugas. Ponsel Alby aktif namun jarang menjawab telpon dari Nazia begitu juga Jimmy. Kesibukan mereka di sana sangat menyita waktu dan perhatian.


Selesai bersiap, Nazia mengaitkan tas ke punggungnya lalu keluar dari kamar,  saat membuka pintu. Terdengar deringan ponsel dari dalam tas ranselnya. Dengan cepat ia merogoh tasnya mengambil ponsel tersebut dengan harapan Alby yang menelpon. Namun, setelah dilihat nama Vian  tertera di sana. Sedikit kecewa rasanya, tapi Nazia juga  menduga Vian menelpon pagi sekali pasti berkaitan dengan Rayya


"Halo Vian." Jawab Nazia sambil melangkah menuju meja makan.


"Zi, Rayya kontraksi sekarang akan ke rumah sakit."


"Baiklah." Nazia memutuskan telpon. Kemudian membuka ponselnya lalu melihat laporan Tentang kehamilan Rayya. Benar saja maju satu minggu dari perkiraan. Keputusan Zevin memaksanya cuti waktu itu sangat tepat. Di kehamilan yang memasuki usia sembilan bulan  Rayya masih ingin bekerja.


Nazia menghubungi asistennya untuk menyiapkan segala keperluan untuk persiapan persalinan. Gadis itu menghirup teh hangat di gelasnya  kemudian berpamitan. "Ma, aku berangkat sekarang karena Rayya mau melahirkan. Mereka dalam perjalanan ke rumah sakit." Ucapnya meletakkan kembali gelas tehnya.


"Kamu belum sarapan, sayang." Ibu Mira menggantung sendoknya untuk mengambil makanan untuk putrinya.


"Nanti di kantin rumah sakit saja." Nazia melangkah keluar rumah.


...----------------...


Zevin pagi ini berencana singgah sebentar ke rumah Vian, sudah lama ia tidak merecoki rumah sahabatnya itu. Setelah sampai di sana  bertepatan dengan Rayya mengeluh sakit perutnya. Tidak berfikir lama Vian meminta Zevin membawa mereka ke rumah sakit. Vian menemani Rayya di belakang sambil memijit pelan pinggul istrinya, berharap dengan begitu akan mengurangi rasa sakit saat kontraksi.


Vian seorang pria tangguh jarang bicara. Hari ini ia terlihat menyedihkan menitikkan air matanya melihat wajah Rayya meringis menahan sakit. Tidak ada suara rintihan dan teriakan seperti kebanyakkan orang. Rayya sangat sabar menikmati rasa sakitnya sambil mengatur nafas dengan benar. Vian sosok suami siaga tidak pernah meninggalkan Rayya dalam waktu yang lama saat hamil tua seperti ini. Pria itu penuh cinta mengusap butiran keringat merembes di pelipis istrinya.


Zevin menggelengkan kepala dan tersenyum tipis melihat Vian dari kaca di depannya. Pria itu nampak kacau karena terus menangis tanpa suara disisi istrinya.


"Jangan menangis ! sakit ini hanya sebentar." Rayya tersenyum sambil mengusap air mata Vian.


Laki-laki itu menangkap tangan istrinya dan menciumnya dengan penuh kasih sayang. "Maafkan aku sayang, rasa sakit mu tidak bisa aku rasakan." Suaranya begitu lembut dan bergetar.


"Syutt ! Cukup beri aku semangat agar kuat menghadapi persalinan ini, jangan berkeinginan ikut merasakan sakit nya. Karena rasa sakit ini sangat luar biasa, tapi hanya beberapa jam setelah itu hilang dengan sendiri nya." Rayya tersenyum.


Vian semakin menangis mengusap lembut perut buncit istrinya. Telapak tangannya dapat merasakan pergerakkan bayi di dalam sana, seulas senyum terukir di bibirnya walau bercampur air mata. Mobil Zevin berhenti di depan rumah sakit. Di sana Nazia sudah berdiri dengan seorang perawat membawa kursi roda melangkah menyambangi mobil.


Dokter cantik itu sengaja menunggu di depan karena jam prakteknya masih satu jam lagi. Zevin membuka pintu mobil untuk Vian dan Rayya.


"Kenapa pakai kursi roda, Zi?" Tanya Vian tidak lagi menangis.


"Kalau bisa dia jalan kaki saja keruang bersalin." Jawab Nazia santai.


"Apa ?! Kamu akan membuatnya kesusahan, Zi ! " Vian sedikit membentak.


Zevin sejak tadi menahan tawa akhirnya tertawa juga. "Kamu lihat, Zi ! Wajahnya sudah merah seperti tomat. Sepanjang jalan ia menangisi istrinya." Ucapnya menepuk pundak sahabatnya itu.

__ADS_1


"Jangan menertawakannya, siapa tahu nanti posisi Vian saat ini kamu alami juga suatu hari nanti." Kata Nazia sambil membantu Rayya duduk di kursi roda.Ia memperhatikan wajah Vian, lalu mengulum senyum. Besar sekali rasa cinta Vian untuk Rayya.


Zevin selesai memarkirkan mobil sebelum menyusul yang lainnya. ia singgah sebentar ke kantin rumah sakit, dirinya yakin Nazia belum sarapan.


Di ruang bersalin Nazia memeriksa Rayya secara menyeluruh. Masih ada waktu karena baru pembukaan dua.


"Kamu kuat ? Semakin menuju pembukaan lengkap kontraksinya semakin cepat." Nazia mengusap lembut perut Rayya.


"Aku kuat"


Vian berdiri dengan cemas di depan ruang bersalin setelah mengurus pendaftaran Rayya. Wajah lusuh dan sembabnya sangat menunjukkan adanya ketakutan luar biasa dalam dirinya. Menghadapi persalinan istri sama saja menghadapi ambang kematian.


"Kenapa tidak masuk ?" Suara Zevin mengalihkan perhatian Vian.


"Apa boleh begitu?"


Zevin terkekeh. "Tentu boleh ! Tapi nanti setelah dokter memintanya. Wanita yang akan melahirkan baik normal atau pun operasi kehadiran suaminya adalah semangat untuk istrinya. Jadi, mereka tidak akan takut menghadapi persalinannya sendiri." Jelasnya sambil meletakkan kotak makanan yang baru di belinya.


Pintu terbuka Nazia dan Rayya ingin keluar. Mata mereka tertuju pada Vian dan Zevin yang duduk di kursi tunggu.


"Sayang kenapa kamu keluar dan berdiri ? Nanti kalau anak kita jatuh bagaimana?" Vian segera menghampiri istrinya.


Lagi-lagi Zevin tertawa  tapi tidak untuk Nazia dirinya begitu terharu atas kasih sayang Vian pada Rayya.


Vian mengangguk lalu menuntun istrinya mulai melangkah pelan.


"Zi, makan dulu." Zevin membuka bungkus makanannya.


"Kamu tahu aku belum sarapan ?" Nazia tersenyum.


"Sangat tahu,  Makanlah !" Zevin memberikan sendok yang sudah dibersihkan nya.


Zevin tidak lagi menyuapi Nazia karena Alby pernah menegurnya. Walau hatinya ingin sekali menyendok makanan itu dan menyuapinya ke mulut gadis itu.


Zevin dan Nazia berbincang seperti biasanya. Namun ada yang berbeda, mereka saling menjaga jarak tidak seperti sebelumnya.  Zevin selalu usil jika bersama Nazia.


Tidak jauh dari sana, Rayya dan Vian memperhatikan dua sahabatnya itu, hati mereka serasa di cubit melihat sikap canggung dari keduanya. Kontraksi semakin sering dan panjang. Nazia meminta Rayya masuk kedalam ruangan bersalin begitu juga Vian.


"Kamu bisa menemaninya kedalam?" Tanya Nazia pada Vian.


"Iya, aku bisa."

__ADS_1


"Jika kamu takut bisa keluar." Nazia bisa melihat guratan takut di wajah laki-laki itu.


Mereka masuk kedalam ruangan hanya Zevin dan anggota keluarga Vian dan Rayya yang baru datang tersisa di luar. Sesuai instruksi Nazia, Vian duduk di sebelah kepala Rayya memangku bantal untuk istrinya dan memberikan tangannya untuk di genggam.


...----------------...


Hampir tiga puluh lima menit di ruang bersalin, akhirnya terdengar juga suara bayi menangis di dalam sana. Semua orang di luar mengucap syukur atas kelahiran orang baru yaitu bayi Rayya dan Vian. Senyum di wajah mereka mengembang dengan sempurna menyambut kelahiran cucu pertama.


Beberapa menit kemudian keluarlah Vian bersama salah satu perawat sambil menggendong bayinya. Zevin tercengang bukan karena bayi atau perawat itu tapi kepada Vian.


Pria yang baru saja berubah status itu keluar menggendong bayinya dengan derai air matanya. Vian belum berhenti menangis, ia berhenti hanya beberapa saat lalu sebelum Rayya melahirkan. Matanya merah dan menyipit. Seluruh keluarga Vian dan Rayya menyambut dengan suka cita kehadiran bayi berjenis kelamin perempuan ini.


"Selamat, Nak. Kamu sekarang menjadi ayah dan kami akan menjadi Nenek dan Kakek." Ucap Ibu Vian bahagia.


"Iya, Ma. Aku bahagia." Balas Vian masih terisak.


"Kamu kenapa menangis, Nak?" Tanya ibu Rayya


"Aku hanya terharu, Ma." Jawab Vian. Mungkin tadi ia menangis karena takut dan sekarang ia menangis karena bahagia.


Zevin menahan tawanya bagaimana tidak, pria jangkung itu menghabiskan waktu beberapa jam ini hanya dengan menangis. Bayangan dirinya menemani sang istri melahirkan pun muncul di benaknya. Dan sialnya istri khayalannya itu adalah Nazia. Pria itu menggeleng kepalanya cepat agar bayangan itu buyar.


Zevin merangkul pundak Vian sambil mengamati wajah bayi Rayya. "Selamat, kamu jadi papa.  Aku jadi om yang paling tampan." Ujarnya sambil mengusap pipi lembut bayi itu.


"Dan aku jadi, Tante." Sambung Nazia baru keluar. Sesaat kemudian senyum di wajahnya memudar setelah ingat bagaimana Vian merusak konsentrasinya di dalam ruang bersalin karena pria itu selalu menangis. Parahnya dia tidak mau keluar meninggalkan Rayya berjuang sendiri. "Jika, Ay. Hamil lagi kamu tidak usah ikut ke ruang bersalin" Ucap Nazia kesal.


...----------------...


Nazia berniat pulang setelah menjenguk Rayya di ruang inap. Wajahnya murung saat memeriksa ponselnya, tidak ada pesan atau telpon dari Alby. Ia pun berniat menghubungi Jimmy untuk menanyakan kabar kekasihnya.


"Zia." Suara orang yang dirindukannya itu memenuhi gendang telinga nya.


Nazia membalik tubuh. "Al, kamu kemana saja? Aku mencoba menelpon mu tapi tidak pernah di jawab ! Pesan ku juga tidak pernah kamu balas." Cecarnya meluapkan isi hati yang senang bercampur kesal.


"Maafkan aku Zia, pekerjaan ku banyak dan di kantor cabang ada sedikit masalah kemarin." Jelas Alby meraih tubuh Nazia ke dalam pelukannya.


"Syukurlah."


"Ayo pulang aku sengaja menjemputmu. Nanti sopir yang akan membawa mobilmu." Ucap Alby.


"Baiklah"

__ADS_1


Nazia dan Alby meninggalkan rumah sakit. Dibelakang mereka ada Zevin menatap sendu kepergian dokter cantik itu. Lalu diseberang jalan sebuah mobil hitam pengemudinya mencengkram kuat setir mobil dengan pandangan murka pada Nazia.


__ADS_2