Suami Manja Dokter Zi

Suami Manja Dokter Zi
Shock


__ADS_3

Simpang empat lampu merah seketika ramai, saat mobil Zevin menabrak pembatas jalan. Warga sekitarnya menghampiri mobil itu sambil memaki tak jelas, mereka beranggapan pengemudinya sedang mabuk ada juga menduga ia mengantuk.


Sebagian orang membantu Zevin keluar dari mobil dan ada pula yang menelpon polisi. Zevin tidak sadarkan diri saat ini, alangkah terkejutnya mereka setelah melihat mengemudi mobil itu adalah seorang dokter yang pernah merawat beberapa orang dari mereka.


"Dia dokter, Zev ! Saya pernah berobat dengannya."


"Ayo cepat bawa dia ke rumah sakit."


Mobil Zevin rusak bagian depannya karena menghantam pembatas jalan, demi menghindari kendaraan yang telah berhenti di depannya. Ia membanting setir ke kiri menabrakkan mobilnya ke pembatas jalan.


...----------------...


Rumah Sakit Z.K


Nazia dan Rayya telah selesai bertemu dengan dokter Hendra, mereka kembali keruangan sambil bersiap untuk pulang. Ponsel Nazia bergetar di saku jasnya, ia merogohnya dan melihat panggilan dari UGD.


Nazia segera menjawab telpon itu.


"Iya dengan dokter  Zi di sini."


"(....)"


Tubuh Nazia lemas dan gemetar seketika, matanya merah dan berkaca. Bibirnya pucat pasi dan rongga dadanya terasa sesak. Ia ingin menangis tapi air mata itu tidak mau keluar, ia ingin berteriak tapi suaranya tertahan di tenggorokannya. Ia tidak mampu melakukan apa-apa pasokan oksigennya terasa menipis dan berat, di lehernya  seakan ada tangan yang kasat mata mencekiknya kuat.


"Halo... Dokter Zi anda masih di situ?"


Rayya mengamati Nazia sejak tadi, wanita itu diam membisu di atas sofa dengan tatapan kosong.


"Ada apa, Zi?" Rayya menghampiri Nazia. Namun tidak ada jawaban dari nya. Rayya melihat panggilan di ponsel Nazia masih tersambung dari UGD, Ia meraihnya dan berkata.


"Halo dengan dokter Rayya di sini, ada apa?"


"Dokter, Ay ! Tolong sampaikan pada dokter, Zi. Kalau suaminya dokter, Zev. Mengalami kecelakaan sekarang masih dalam perawatan di ruangan UGD"


"A—apa ?! Zev kecelakaan, baiklah kami segera ke sana." Balas Rayya.


Tanpa terasa air matanya keluar begitu saja tanpa ijin, ia meraih Nazia kedalam pelukannya. "Ayo kita temui, Zev ! Aku di sini jangan takut ! Percayalah Zev baik-baik saja."


Nazia bergeming, hanya diam membisu tanpa air mata atau teriakan histeris. Raga itu seperti kosong tak memiliki roh, bahkan bola matanya menatap lurus ke depan.


Rayya mencari kontak Erik dan ivan di ponsel Nazia untuk menghubungi mereka.


"Iya, Zi." Sahut Ivan seberang sana


"Van, ini aku Rayya, datanglah ke rumah sakit ! Nazia shock setelah mendengar kabar Zev kecelakaan." Balas Rayya.


"Ba—baiklah kak, Ay ! Titi,p Zi."


Rayya mematikan sambungan telpon dan beralih mencari nomor Erik.

__ADS_1


"Iya nona, Zi. Ada yang bisa saya bantu?" Jawab Erik di sebarang sana.


"Ini aku Rayya ! Rik, datanglah ke rumah sakit. Zev mengalami kecelakaan saat perjalanan ke kantor Mm Indra." Jawab Rayya


"KECELAKAAN ? Baiklah saya akan ke sana. Bagaimana dengan nona, Zi ?"


"Di—dia ! Aku sulit menjelaskan kondisinya." Ucap Rayya.


"Tenangkan dia saya mohon, sebentar lagi saya datang bersama Tuan Indra."


Rayya meletakan ponsel Nazia ke dalam saku ja nya dan membawa tubuh Nazia kedalam pelukannya.


"Menangislah !"


Perlahan air mata Nazia meleleh di pipihnya. Rayya memutuskan menunggu Ivan datang, karena sebelum menelpon Erik ia  menghubungi Ivan lebih dulu.


Menunggu hampir tiga puluh lima menit, Ivan datang dengan wajah tegang dan nafas tersengal.


"Zi, ini aku ! Ayo kita lihat Kak Zev, dia membutuhkanmu saat ini." Ucap Ivan pelan. Nafasnya tersengal dengan wajah tegang bercampur sedih.


Bola mata Nazia bergerak mengarah pada Ivan, tapi belum ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Rayya dan Ivan memapah tubuh Nazia untuk datang ke ruang inap VIP karena Informasi dari UGD Zevin sudah dipindahkan. Sampai di sana bertepatan dengan kedatangan Erik, Pak Indra dan ibu Felisya.


Pak Indra langung menghampiri Nazia, ia juga panik dan khawatir tapi lebih cemas dengan kondisi Nazia yang seperti mayat hidup.


"Nak, jangan takut ada Papa dan Mama di sini, percayalah suamimu akan baik-baik saja." Pak Indra menangkup wajah menantunya dengan kedua telapak tangannya.


Ibu Felisya memeluk tubuh menantunya itu sambil terisak.


Tangis Nazia meledak.


"Aku takut !" Hanya dua kata itu yang ke luar dari bibirnya.


"Rik. Cari tahu penyebab  kecelakaan, Zev !" Titah pak Indra.


"Iya tuan." Erik bergegas ke kantor polisi. Karena saat mereka lewat tadi mobil Zevin sudah diderek.


Pintu kamar Zevin terbuka keluarlah dokter Yudha bersama seorang perawat.


"Bagaimana kondisinya?" Tanya pak Indra.


Dokter Yudha melihat pada Nazia terlebih dulu sebelum menjawab, ia iba melihat kondisi Nazia saat ini.


"Dokter, Zev. Tidak mengalami luka seperti patah tulang, tapi bagian dadanya ada memar dan pelipisnya sobek sedikit. Kami akan melakukan pemeriksaan secara menyeluruh beberapa jam lagi setelah observasi. Saat ini kondisi dokter Zev baik."  Jelas dokter Yudha.


"Apa dia sudah sadar?" Tanya Ivan.


Dokter Yudha tersenyum


"Iya, dia mencari dokter, Zi."

__ADS_1


Perasaan Nazia semakin takut. Bahkan dirinya tak mampu menggerakkan tubuhnya. Peristiwa tahun tahun lalu seakan terulang kembali, ia takut bangunnya Zevin hanya pamit untuk pergi lagi seperti yang terjadi pada Abel. Wajahnya semakin pucat kaki dan tangannya juga menjadi sangat dingin.


"Sayang ayo temui suamimu." Ibu Felisya menyentuh lembut tangan menantunya.


Nazia tidak menjawab tatapannya semakin hampa. Ia merasa tak mampu melakukan apa-apa saat ini.


"Zi, ayo ! Jangan takut kamu dengar Zev sudah bangun. DIa mencarimu." Kata Rayya.


Nazia tak merespon. Bahkan buliran air matanya semakin deras ia menangis tanpa suara.


"Van, tenangkan dulu dia. Kami yang akan masuk." Seru pak Indra.


"Baik Om."


Zevin menoleh ke arah pintu terlihat kedua orang tuanya yang masuk, ibu Felisya menangis sambil memeluk putranya itu.


"Kenapa bisa terjadi ? Jika lelah kenapa harus dipaksa?" Cerca ibu Felisya.


"Aku baik-baik saja, Ma. Jangan cemas." Zevin tersenyum.


"Papa hampir mati setelah Rayya mengabari Erik, apa yang terjadi?" Kata pak Indra ikut memeluk anaknya.


"Rem mobilku tidak berfungsi, Pa. Aku juga tidak tahu kenapa bisa blong. Padahal aku dan Zi tadi pagi berangkat baik-baik saja. Syukur aku mengemudi tidak dengan kecepatan tinggi." Jelas Zevin.


"Erik sudah ke kantor polisi mencari tahu masalah ini."


"Di mana istriku?"


Pak Indra menghela nafas berat


"Ada di luar. Sepertinya, Zi shock !"


"APA ?! Bawa aku keluar, Pa ! Zi harus ditenangkan." Kata Zevin panik.


Di luar ruangan.


Nazia tengah bersandar di kursi tunggu, di sana tak hanya ada Rayya dan Ivan tapi juga ada dokter Yudha.


"Dokter, Zi. Percaya padaku. Dokter Zev baik-baik saja tidak mengalami luka yang serius. Ini minumlah !" Dokter Yudha memberikan botol air mineral pada Nazia.


Ivan segera meraih botol itu dan menumpahkannya sedikit demi sedikit ke bibir Nazia. Rayya memahami kondisi Nazia saat ini, kehilangan Abel yang cukup tragis sangat mengguncang sahabatnya itu. Dan hari ini kejadian serupa terulang lagi.


"Aku akan menyiapkan pemeriksaan menyeluruh untuk dokter, Zev." Kata dokter  Yudha berdiri dari tempatnya duduk.


"Terimakasih dokter Yudha"


Pintu terbuka Zevin keluar menggunakan kursi roda didorong oleh pak Indra dan ibu Felisya membawa tiang infusnya.


"Sayang." Panggil Zevin disertai senyum manis nya.

__ADS_1


Nazia menatap lekat wajah suaminya. Zevin menjadi terenyuh melihat kekacauan istrinya itu.


"Sayang kemarilah, aku baik-baik saja." Zevin merentangkan tangannya sedikit gemetar karena tubuhnya juga masih shock setelah mengalami kecelakaan beberapa jam lalu.


__ADS_2