
Tiga bulan kemudian...
Beberapa bulan ini Erik masih belum tahu siapa pengirim paket untuknya. Ia mencoba mencari tahu tapi informasi atau identitas wanita itu seakan tertutup rapat.
Erik mendes@h kesal di dalam ruang kerjanya. "Siapa kamu sebenarnya?" Gumamnya pelan.
Erik tak habis pikir pengirim itu benar-benar tahu tentang dirinya. Hampir setiap minggu selalu menerima paket.
Interkom di meja berbunyi. Lamunannya buyar karena suara interkom itu. "Iya Kak."
"Ayo pulang !" Ajak Zevin menutup panggilan itu.
Erik melihat jam di pergelangan tangannya. Waktu telah menunjuk jam empat sore. Ia segera bersiap tak ingin Zevin lama menunggu.
Mereka bertemu di luar ruangan. Zevin seperti biasa tak ada perubahan setelah menjadi seorang ayah.
"Haris saya pulang lebih dulu ya." Pamit Zevin.
"Iya Tuan. Hati-hati di jalan !" Haris berdiri dari tempatnya duduk.
"Kamu juga hati-hati." Zevin melangkah menuju lift setelah Erik memencet tombolnya.
Tiga bulan ini, Haris resmi menjadi sekretaris Zevin. Awalnya ia gugup dan takut karena berkerja berdampingan langsung dengan pemilik perusahaan itu secara langsung.
Mobil Zevin meninggalkan kantornya. Suasana sore ini nampak sedikit lenggang. Entah kemana para mengemudi dan kendaraan lainnya hingga jalanan nampa sedikit sepi.
"Kamu kenapa?" Pertanyaan Zevin memecahkan kesunyian dalam mobil itu.
Erik menghembus nafas pelan sebelum menjawab. "Aku dapat paket lagi." Jawabnya malas.
Sudut bibir Zevin terangkat, ia bisa menebak jika suasana hati Erik sedang kurang baik. "Kenapa, kamu tidak suka?" Ia bertanya sembari menoleh.
"Iya, aku merasa terbebani. Setiap minggu mendapatkan paket tak tahu siapa pengirimnya." Ungkap Erik tentang isi hatinya.
Zevin mengangguk dan berkata. "Kamu mencurigai seseorang?"
"Tidak, karena aku tidak memperhatikan sekelilingku." Jawab Erik cepat.
Zevin tersenyum tipis. "Itu kelemahanmu ! Aku saja bisa memperhatikan sekelilingku."
Erik menoleh sebentar pada Zevin lalu kembali melihat kedepannya.
__ADS_1
"Apa kakak mencurigai seseorang?" Ia melontarkan pertanyaan.
Zevin mengangguk. " Ya, aku mencurigai Maura resepsionis kita. Aku melihat rasa sukanya padamu, aku juga melihat ada cinta di matanya untukmu."
Erik terdiam tanpa menjawab karena mobil mereka telah sampai di halaman rumah.
Tidak mungkin dia
Zevin turun dari mobil sembari tersenyum, ia melihat istrinya tengah mendorong stroller baby Z di halaman rumah nya.
"Papa sudah pulang !" Nazia mengarahkan stroller itu ke hadapan Zevin.
"Hai jagoan papa, senang ya jalan-jalan sore. Papa mandi dulu ya Nak, banyak kumannya dari luar. Nanti jalan-jalan sama papa ya." Zevin menahan diri agar tidak langsung menggendong dan mencium dua orang kesayangannya itu.
"Mandilah sayang, ayo kita masuk." Ajak Nazia.
Tak lama Erik juga masuk setelah memarkirkan mobilnya. Hingga saat ini ia memilih tinggal bersama Zevin meski, sesekali menginap di rumah Alby dan Ralda. Suasana cukup berbeda karena Ivan telah kembali pindah ke rumah Ibu Mira. Orang tua mereka itu sekarang menetap di kota ini.
"Halo baby Z, om mandi dulu ya ! Nanti kita main." Erik juga menahan diri tidak menyentuh Zayyan sepulang bekerja.
Aturan dari Zevin mereka harus bersih baru boleh menyentuh putranya setelah beraktivitas seharian. Nazia kembali berkerja di rumah sakit, karena cutinya telah habis. Namun kali ini Nazia hanya bekerja sampai jam praktiknya selesai, sementara itu Baby Z akan diasuh oleh ibu Felisya saat ke dua orang tuanya bekerja. Nazia dan Zevin awalnya menolak karena, tidak ingin merepotkan orang tuanya. Namun pak Indra memaksa, kadang juga bergantian dengan Ibu Mira.
Zevin dan Erik selesai membersihkan diri, sekarang mereka duduk di ruang keluarga sembari menikmati teh manis yang di buat oleh Kiki. Sebelumnya Zevin melepas rindu dulu dengan memeluk dan mencium putra dan istrinya.
Tak lama Erik juga menyusul Zevin, pria itu tengah melirik ke atas pohon mangga. Di atas sana buahnya ada yang sudah matang.
"Selamat sore !" Sapa Alby mengejutkan.
"Kenapa kamu mengintip di sana?" Zevin melirik ke arah pintu samping.
Alby tersenyum lebar. "Aku perlu sesuatu " Ucapnya sembari menghampiri.
"Perlu apa?"
Alby melirik ke atas pohon mangga dan berkata. "Apa manggamu, ada yang masih mentah?"
"Ada" Jawab Erik cepat. Kebetulan ia juga melirik ke atas sana.
"Aku minta ya, Rara ngidam mangga muda. Pohon mangga di belakang rumahku tidak berbuah." Jelas Alby atas kedatangannya.
Erik memanjat mengambil buah mangga itu untuk sang kakak yang sedang hamil muda. Zevin tak menghiraukan jika buah mangga nya ludes di ambil Alby, fokusnya hanya pada putranya.
__ADS_1
"Sayang sudah senja bawa babynya masuk !" Panggil Nazia dari teras rumah.
"Oke istri ku sayang, kami akan masuk." Zevin mendorong stroller Zayyan.
Setelah memetik buah untuk Alby. Erik juga menyusul.
...----------------...
Usai makan malam Nazia menidurkan bayi nya. Sementara itu Zevin dan Erik melanjutkan sisa pekerjaan hari ini. Agar tidak menumpuk esok hari.
Cukup lama dua orang ini berkutat dengan pekerjaannya tanpa terasa waktu menunjukkan jam sepuluh malam.
"Akhirnya selesai !" Zevin meregangkan otot jari dan leher, matanya tertuju pada Erik tengah melamun di sofa.
Zevin berpindah ke sofa dan berkata. "Apa yang mengganggu pikiranmu ? Ayo katakan ! Biar kita cari solusinya sama-sama."
Erik menyandarkan tubuh nya di sofa setelah merapikan meja tempat nya bekerja. "Aku kepikiran pengirim hadiah itu. Apa maksud dan tujuannya kita tidak tahu? Meski yang dikirimnya hanya berupa barang. Tapi aku risih."
Zevin mengangguk mengerti andai dia jadi Erik, pasti ia akan merasakan hal yang sama. Karena menerima bermacam hadiah tanpa tahu pengirimnya.
"Kalau begitu besok kita cari pelakunya." Usul Zevin tersenyum.
Erik Menoleh apa mungkin pria di depannya ini bisa menemukan orang itu? Sementara dirinya sudah lama mencari tahu namun belum ada hasil.
"Kakak yakin?" Erik menatap ragu pada suami Nazia ini.
Zevin terkekeh. "Jika curigaku ini benar pengirimnya itu Maura, kamu apakan dia?"
Erik menatap lurus ke depan. "Aku akan memperingatkannya. Karena perlakuannya itu membuatku tidak nyaman."
"Bagaimana jika dia jatuh cinta padamu?" Pancing Zevin.
Erik terkekeh. "Mencintai seseorang adalah dengan menunjukkan rasa perhatian dan peduli menerima segala kelebihan dan kekurangannya. Bukan dengan mengirim paket yang tidak jelas. Dia pikir aku tidak mampu membelinya atau berguling-guling di kasur kesenangan setelah menerimanya"
"Mungkin itu cara dia menunjukkan rasa cintanya." Kata Zevin santai.
"Tetap aku tidak menerimanya, karena dia menunjukkannya dengan cara yang salah." Jawab Erik tegas.
"Baiklah, besok kita akan buktikan apa kecurigaanku ini benar atau salah. Tapi jika memang dia atau orang lain, kamu sikapi dengan dewasa jangan pakai emosi !" Tegas Zevin.
"Iya Kak, aku mengerti."
__ADS_1
Zevin memutuskan menyusul istri dan putranya mungkin telah terlelap. Sementara Erik mulai mengingat saat-saat jika dirinya bertemu dengan Maura.
Wanita itu selalu menyapanya dengan ramah dan tersenyum. Tidak menunjukkan jika dia menyukai Erik.