
Pagi Hari cuaca cerah memberi semangat pagi untuk semua orang. Termasuk Zevin dan Nazia. Ia masih enggan melonggarkan dekapannya pada tubuh Nazia. Zevin mengabsen tiap sudut wajah calon istrinya itu dengan matanya. Seakan tak pernah puas jika hanya melihatnya sebentar saja. Bulu mata lentik itu perlahan bergerak dan terbuka. Pandangan pertama tertangkap mata Nazia adalah wajah Zevin yang tersenyum menatapnya.
"Selamat pagi, cinta." Zevin mendaratkan kecupan lembut di kening gadisnya.
"Pagi, Zev." Nazia tersipu.
"Aku tidak suka kamu memanggil namaku. Bagaimana pun, aku lebih tua darimu." Protes Zevin.
"Baiklah akan aku ulangi, pagi sayang..."
Zevin tersenyum senang, pipinya merona. Ia melepaskan pelukannya lalu tengkurap membenamkan wajahnya di bantal. Nazia meninggalkan Zevin yang tengah malu itu. Setelah selesai mandi Nazia membangunkan Ivan di kamar tamu.
"Selamat pagi, Nona." Sapa Erik duduk di sofa dengan secangkir kopi hitam.
"Pagi, Rik. Aku akan menyiapkan sarapan terlebih dulu."
"Nona, apa anda sudah tahu, Penyebab tuan, Zev. Babak belur kemarin?" Tanya Erik mengekor pergi ke dapur.
"Dia bertengkar dengan Alby. Aku sudah menyelesaikannya. Al, tidak akan menggangguku lagi." Jawab Nazia bergerak ke sana-kemari menyiapkan bahan masakan.
"Anda bertemu dengannya?" Erik telah menghabiskan kopinya lalu mencuci gelas.
"Iya."
"Katakan jika anda membutuhkan sesuatu, karena saya akan ada untuk anda dan tua Zev." Erik kembali duduk di kursi.
"Terimakasih, Rik ! Kamu sangat baik padaku." Balas Nazia menghentikan sejenak tangannya yang bergerak.
Tidak jauh dari sana, Zevin mendengarkan percakapan Nazia dan Erik tersenyum bahagia dan lega. Kemarin belum sempat menanyakan pertemuan Nazia dan Alby karena cemburu pada bunga yang masih tergeletak di atas meja tamu.
"Sayan teh aku mana?" Zevin menghampiri.
"Sebentar."
" Pagi tuan, Zev . Tuan Ivan." Sapa Erik pada Zevin dan Ivan yang baru bergabung.
"Pagi."
"Kalian belum mandi?" Tanya Nazia melihat kepada Ivan dan Zevin masih memakai baju tidur.
"Sebentar lagi, sayang." Zevin mengambil cangkir teh miliknya.
Nazia menyajikan makanan di atas meja. Zevin dan Ivan sudah membersihkan diri mereka dan bergabung bersama di meja makan.
...----------------...
Alby sudah berada di kantor bersama Jimmy. Wajahnya murung tak bersemangat seperti biasanya. Tiap hari mengoceh dan merengek pada Jimmy. Tapi hari ini, semua hilang begitu saja.
Matanya tak lepas dari layar ponsel miliknya, jempol Alby menggeser foto-foto Nazia di galery. Sedih dirasakannya masih berlanjut hingga detik ini. Walau kemarin malam sudah di luapkan dalam tangisnya.
"Kamu berhak bahagia, Zi. Maafkan aku yang egois ini, sekarang aku mendapatkan balasannya dengan tidak mendapatkan kesempatan kedua darimu." Gumam laki-laki yang tengah patah hati ini.
Jimmy yang mendengarnya ikut merasakan sedih. Tapi juga bersyukur karena Nazia memilih Zevin sebagai pendampingnya. Dengan begitu Nazia tidak akan dapat cibiran dari masyarakat karena saat ini semua orang tahu jika Alby pria beristri.
"Jim, pulang kerja nanti sore kita kembali ke rumah utama."
"Baik tuan muda." Jawab Jimmy.
"Jim, apa Zevin pria yang baik ? Zia mengatakan jika, Zev. Cinta pertamanya."
__ADS_1
"Dokter, Zev. Pria yang baik tuan. Selama ini selalu ada untuk nona Zia. Dokter, Zev. Sangat pandai menempatkan perasaannya saat nona Zia jadi kekasih anda. Dokter, Zev. Juga terluka saat tahu anda dan nona Zia resmi jadi sepasang kekasih tapi dia berusaha menerima semua itu dengan lapang dada." Jawab Jimmy.
Alby tertawa hambar. "Itu yang tidak kumiliki, Jim. Aku tidak bisa melihat Zia bersama orang lain. Hatiku tidak sekuat Zevin, aku tidak bisa menekan rasa cemburuku." Ujarnya kembali merasakan sesak hingga air matanya kembali jatuh di pipinya.
"Tuan, jadilah dewasa. Nanti Tuhan akan mengirimkan pasangan yang terbaik untuk anda." Jimmy melangkah menghampiri Alby lalu mengusap pundak tuannya yang bergetar karena menangis. Ia mengambil botol air mineral dan memberikannya pada Alby. "Minumlah tuan, tenangkan diri anda. Ayo bangkit ! Jangan seperti ini malu pada berkas di depan anda." Jimmy tersenyum mengejek.
Alby menggulung berkas di depannya lalu memukulnya di lengan Jimmy. "Kamu mengejekku !"
Tapi sukses ejekan Jimmy menciptakan senyum tipis bibir Alby.
...----------------...
Selesai praktek. Zevin, Nazia dan Rayya bersiap untuk pergi makan siang. Siang ini mereka akan makan di restoran Vian. Mobil Zevin melaju dengan perlahan meninggalkan rumah sakit.
"Zev, kamu lihat dokter baru itu ? Sering curi-curi pandang pada, Zi." Seru Rayya.
"Aku tahu, dia dalam pengawasanku."
"Tidak perlu berlebihan. Mungkin, dia ingin berteman dengan kita." Sahut Nazia.
Dia menatapmu sama seperti aku melihatmu
Zevin menghembus nafas kasar. Mobilnya berhenti di depan restoran Vian mereka turun bersama dan masuk kedalam.
Vian sudah menunggu istrinya bersama putri mereka Vira. Balita itu mulai lincah dan belajar bicara. Nazia langsung mengambil alih Vira dari gendongan vian.
"Sayang tante, sudah pintar bicara ya." Gemas Nazia menghujani Vira banyak ciuman. Vira tertawa senang lalu mengangkat tangannya untuk minta di gendong oleh Zevin.
"Mau sama om, Zev ! Ya ?" Nazia memberikan Vira pada Zevin.
"Cinta, ayo kita buat adik untuk Vira." Goda Zevin.
"Jangan mengotori pendengaran Vira." Ucap Nazia malu.
"Zev ! Dia putriku. Jadi, minta adiknya padaku dan, Ay." Seru Vian Ikut menggoda.
Rayya dan Nazia sama-sama malu bagaimana tidak pembicaraan mereka di dengar beberapa karyawan restoran.
"Hentikan sayang. Lihatlah karyawan melihat ke arah kita." Ujar Rayya.
"Biarkan saja, bagaimana jika kita mulai mencicilnya malam ini." Vian semakin semangat menggoda istrinya.
"Kamu curang, Vian. Aku belum bisa mencicil. Tapi kalau calon istriku ini bersedia, aku siap mencicilnya dari sekarang." Seru Zevin mengedipkan matanya.
Rayya dan Nazia memilih diam karena dua pria kesayangan mereka ini membahas cicil-mencicil di meja makan depan para karyawan restoran. Pipi mereka sudah semerah tomat yang baru matang.
Setelah bermain bersama Vira. Mereka menyantap makanan yang sudah tersaji. Rayya dan Vian senang melihat perkembangan Vira yang cepat tanggap. Dari sudut meja yang berbeda, seorang wanita tengah hamil memperhatikan Nazia dan kawan-kawan.
Sudut bibirnya tertarik tipis, sebuah penyesalan hinggap di hatinya. Wanita yang dulu ia benci masih bisa tertawa bahagia bersama pria lain. Berbeda dengan dirinya, hidup dalam kemalangan status istri, tapi seperti tidak memiliki suami. Pria yang dicintai mencampakkannya begitu saja setelah tahu sebuah kebenaran yang mengungkap siapa dirinya.
Wanita itu adalah Sherin makan siang seorang diri, menuruti keinginan sang bayi yang ingin mencicipi salah satu menu favorit di restoran Vian. Sherin melangkah menghampiri meja Nazia. "Nazia..." Sapanya berdiri di dekat meja.
Semua orang mengalihkan pandangan kepada asal suara. Raut wajah mereka segera berubah terlebih Zevin sudah siaga satu.
"Sherin, kamu di sini?" Balas Nazia berusaha ramah walau terdengar datar.
"Iya aku makan di meja sana. Zia boleh aku bicara sebentar denganmu ?" Sorot mata Sherin sangat berharap.
"Jangan coba-coba ingin melukainya lagi ! Karena aku akan membalas dengan lebih kejam !" Sahut Zevin dingin.
__ADS_1
"Bukan seperti itu dokter, Zev ! Aku hanya ingin bicara berdua dengannya. Aku berjanji tidak melakukan hal buruk. Kalian bisa mengawasi kami berdua." Kata Sherin.
Nazia melihat ada kesungguhan di mata Sherin, langsung meraih tangan Zevin dan menggenggamnya. "Boleh ya...hanya sebentar." Mohon nya menatap lembut manik mata prianya.
"Tapi sayang, aku tidak mudah percaya begitu saja padanya."
"Zev, ijinkan saja siapa tahu ada hal penting yang ingin disampaikan Sherin. Lagi pula kondisinya sedang hamil maka berisiko untuknya bergerak banyak" Ujar Rayya.
"Benar ! Kamu bisa melihatnya dari sini." Sambung Vian.
Zevin menghela nafas kasar. "Baiklah...hanya sebentar." Ucapnya menepuk-nepuk punggung lengan calon istrinya itu.
Nazia mengangguk. "Ayo kita ke meja mu." Ajaknya berdiri dari kursi melihat ke arah Sherin.
"Baiklah, terimakasih dokter, Zev." Ucap Sherin tulus.
Zevin tak membalas ucapan Sherin, dirinya hanya melihat pada wajah calon istrinya itu mengawasi pergerakkan Sherin. Ia tidak akan membiarkan wanita hamil itu melukai Nazia lagi.
Sherin dan Nazia kini duduk satu meja, wanita hamil ini nampak kurus dari sebelumnya. Cukup lama keduanya terdiam. Nazia dapat melihat perkembangan kehamilan Sherin, sedikit pucat. Nampaknya wanita ini tidak baik-baik saja.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" Tanya Nazia lembut.
Sherin menarik tangan Nazia lalu menggenggamnya hangat. "Maaf...maaf karena aku pernah jahat padamu, maaf...atas sikapku di rumah sakit waktu itu. Sekarang aku menyadari bagaimana mencintai seseorang dengan benar, aku penyebab retaknya hubunganmu dengan Alby. Aku merasakan bagaimana rasanya dicampakkan." Sherin menundukkan kepalanya bahkan air matanya kini menetes di bajunya.
"Sherin...semua sudah berlalu. Dengan atau tidak datangnya dirimu. Alby pasti melepaskanku. Aku dan dia berbeda, kehidupan yang aku jalani ini tak sebanding dengan Alby. Jika kamu memang menyesali kesalahanmu, ayo kita perbaiki sama-sama." Nazia menepuk lembut punggung tangan Sherin.
"Terimakasih Zia, aku banyak belajar darimu. Beberapa bulan ini aku mulai menata hidupku, bayi dalam kandunganku membutuhkan aku."
"Kamu benar ! jalani hidup dengan tenang jadikan calon anakmu ini sebagai penyemangat hidupmu." Nazia mengusap lembut perut Sherin yang sudah membesar.
"Aku dan Alby akan bercerai setelah aku melahirkan. Apa kamu tidak berniat kembali padanya?"
Nazia menggeleng sambil tersenyum manis. "Aku akan menikah. Zevin calon suamiku. Pernikahan kami sudah terdaftar tinggal pelaksanaannya saja."
"Benarkah ? Maaf...maafkan aku. Sungguh, aku tidak tahu mengenai ini" Ucap Sherin merasa bersalah.
"Tidak masalah datanglah ke pernikahan kami nanti."
"Iya, aku akan datang. Terimakasih sudah memaafkan aku. Setidaknya anakku bangga memiliki ibu yang berani mengakui kesalahannya." Kata Sherin tersenyum hangat mengusap perutnya.
"Dia pasti bangga. Sekarang jangan pikirkan apa-apa lagi cukup bersemangat dengan hadirnya anakmu, maka semua beban yang kamu rasakan terlepas begitu saja. Ibu hamil tidak boleh stres dan lelah kalau kamu tidak keberatan datanglah ke rumah praktekku. Wanita hamil tak hanya butuh pikiran tenang tapi juga memerlukan asupan gizi dan vitamin untuk ibu dan juga bayinya."
"Iya terimakasih Zia, aku akan datang nanti . Aku harus kembali mama pasti mencariku."
"Ayo aku juga akan kembali ke rumah sakit." Nazia membantu Sherin berdiri.
Mereka bersama-sama meninggalkan meja itu, tak lupa Sherin juga meminta maaf pada Zevin.
"Apa yang dibicarakan, Sherin?" Tanya Rayya
"Hanya minta maaf."
"Baguslah ! Sekarang dia menyadari kesalahannya." Sahut Zevin.
"Iya, manusia berhak berubah menjadi lebih baik." Ucap Nazia.
"Kamu benar." Sambung Rayya.
"Temani aku nanti ke supermarket." Ucap Nazia pada Zevin.
__ADS_1
"Iya sayang sepulang dari rumah sakit."
Setelah bertemu Nazia. Kini Sherin merasa lebih baik, sekarang hanya menunggu kelahiran buah hatinya. Setelah perceraiannya dengan Alby. Ia berencana kembali bekerja di perusahaan ayahnya sambil menunggu kebebasan Hadi.