
Cuaca cukup baik hari ini, cahaya matahari sudah condong ke barat menandakan jika sore sudah menjemput. Para pekerja kantoran mulai memadati halte bus untuk pulang ke rumah, hal sama juga terjadi pada Zevin. Ia tengah bersiap untuk pulang ke rumah. Selama menjadi pimpinan perusahaan ia tidak pernah memaksakan diri agar bekerja sampai melebihi jam kerja nya, ia harus mengatur pola hidup yang sehat agar tubuhnya juga sehat.
Jika tubuhnya sehat maka otaknya pun ikut sehat dan ia bisa berfikir dengan baik dan bekerja dengan benar bersama karyawan kantornya.
"Sudah siap ?"
"Sudah, Tuan."
"Ayo kita pulang." Ajak Zevin melangkah lebih dulu.
Zevin dan Erik bersamaan keluar dari dalam ruangan presiden direktur. Di luar Ralda juga tengah bersiap untuk pulang.
"Kakak pulang?" Tanya Erik. Ia berhenti di depan meja Ralda.
"Iya, tapi sebelumnya kakak singgah ke supermarket dulu." Jawab Ralda
"Hati-hati, Kak. Apa aku minta pengawal untuk mendampingi kakak?" Erik memberikan penawaran
"Tidak perlu, kakak bisa sendiri." Tolak Ralda lembut.
"Baiklah, kakak hati-hati ! Jika terjadi sesuatu cepat hubungi aku." Ujar Erik.
"Iya, kalian juga hati-hati." Ucap Ralda tersenyum
Erik mengangguk lalu melangkah bersama Zevin menuju lift. Tanpa Erik sadari jika Zevin menangkap raut cemas di wajahnya, namun Zevin belum tahu apa yang membuat Erik begitu cemas tidak seperti sebelumnya.
Di perjalanan, Erik larut dalam lamunannya. Zevin tidak sabar dan langsung bertanya. "Apa yang kamu pikirkan?" Ia melonggarkan dasi di lehernya yang serasa mencekik.
Erik menghela nafas berat lalu berkata. "Dia bebas."
"Pamanmu?" Zevin menoleh kepada Erik.
"Benar tuan, dia sudah bebas. Saya takut jika dia menemui kakak." Jawab Erik merasa kebebasan pamannya adalah ancaman besar untuk Ralda.
Zevin menepuk pundak Erik.
"Jangan cemas, jika dia datang dan mengusik kalian lagi. Kita hadapi sama-sama."
"Terimakasih, Tuan." Balas Erik tulus. Ia merasa sedikit lega setidaknya ada Zevin berdiri di sampingnya.
Tanpa terasa mobil mereka tiba di halaman rumah milik Zevin. Erik memarkirkan mobil setelah Zevin keluar, rasa cemasnya masih ada walau Zevin memberinya kalimat penenang.
"Sudah pulang?" Sapa Nazia lembut. Ia berdiri dari sofa tempatnya duduk.
"Tetap di situ sayang." Zevin menghampiri istrinya.
Nazia tersenyum lalu duduk kembali, Zevin mencium kening Nazia dan duduk di sampingnya.
"Apa sopirmu membawa mobil dengan baik?" Zevin menggenggam tangan istrinya lalu mengecup punggung dan telapak tangannya.
"Sangat baik, dia pintar membawa mobilnya." Nazia melepaskan dasi yang melilit di leher suaminya.
"Syukurlah, dia salah satu orang pilihan papa." Ujar Zevin mengusap lembut perut buncit istrinya.
"Mandilah." Nazia berdiri dari tempatnya duduk seraya meraih tas Jas milik suami nya.
"Ayo ke atas." Ajak Zevin mengambil alih tas kerjanya dari tangan istrinya.
Nazia mengangguk lalu mengandeng lengan Zevin menuju lift rumah mereka. Selama hamil Nazia tidak di ijinkan menggunakan tangga. Zevin segera masuk ke kamar mandi, Nazia menyiapkan pakaian rumahan untuk suaminya. Setelah selesai ia duduk di balkon kamar menerima telpon dari ibu Mira.
Zevin mencari keberadaan istrinya, samar-samar ia mendengar suara istrinya di balkon, setelah memakai baju. Ia langsung menyusul.
"Siapa yang menelpon?" Zevin melingkarkan tangannya di tubuh istrinya.
"Mama sayang."
"Bagaimana di rumah sakit?" Zevin mengecup pucuk kepala istrinya dan menaruh dagunya di pundak Nazia.
"Semua berjalan dengan baik. Kak Pras juga disiplin."
"Aku merindukanmu sayang. Ini yang aku cemaskan jika bekerja kantoran waktuku bersamamu banyak berkurang" Zevin memutar tubuh Nazia lalu menyatukan bibir mereka.
...----------------...
Supermarket
Ralda tengah memilih barang yang diperlukannya dengan teliti, ia diajarkan oleh Nazia untuk memilih barang dengan baik. Hari ini Ralda memakai jasa taksi online karena malas membawa mobil sendiri. Merasa cukup, ia ikut mengantri di depan kasir. Setelah membayarnya Ralda berniat pulang.
"Apa kabar keponakanku?"
Tubuh Ralda membeku, pikirannya tiba-tiba kosong. Suara beberapa tahun ini tak lagi terdengar, hari ini datang menyapanya.
Pria itu tersenyum melihat reaksi Ralda. "Hei, kamu tidak merindukan pamanmu ini Ralda.?"
__ADS_1
Jantung Ralda berdegup kencang, lidahnya kelu dan tubuhnya panas dingin. Anggota tubuhnya lemas hingga tak mampu menjawab sapaan orang itu. Kantong belanjaannya terjatuh begitu saja di atas paving blok halaman supermarket.
Ya, dia adalah paman Ralda yang baru saja bebas dari penjara. Hari ini adalah hari terburuk setelah beberapa tahun ketenangan yang Ralda rasakan.
"Ternyata kamu sekarang sukses, apa pria itu menikahimu ? Dia bak pahlawan datang menyelamatkanmu malam itu." Paman terkekeh
"Pergi atau saya berteriak !" Ancam Ralda berusaha berani walau sekujur tubuhnya gemetar.
"Syut, aku hanya menyapamu." Pria itu tertawa.
Ralda semakin ketakutan, ia tak bergerak dari tempatnya berdiri. Hari semakin menggelap Ralda mengutuk dirinya yang tidak memakai mobil sendiri dan didampingi pengawal. Ia bergegas merogoh ponselnya berusaha menelpon Erik.
"Wah, ponselmu sangat mahal sekali. Ternyata pria itu benar kaya." Pria yang bernama Rudi ini merampas ponsel dari tangan Ralda.
"Kembalikan !" Hardik Ralda.
"Tenang Ralda, aku baru saja bebas dua hari yang lalu. Dan tidak memiliki uang sepeser pun, jika aku menjual ponsel ini cukuplah untuk makan satu bulan." Ucap Rudi mengamati ponsel di tangannya
"Kembal kan ponsel saya ! Jika Erik tahu anda akan dijebloskan ke penjara !" Ucap Ralda. Buliran bening di pipinya mulai mengucur deras.
"Erik, aku merindukan dia. Di mana dia bekerja ? Pasti anak itu bisa menghasilkan uang yang sangat banyak sekarang." Rudi membolak-balik ponsel Ralda di tangannya.
"STOP !! Pergi dari sini dan bawa saja ponsel itu !!" Ralda ingin melangkahkan kakinya. Tapi malang sekali tangannya dicekal oleh Rudi.
"Aku juga butuh uang cash, kamu dan Erik belum membayar biaya hidup kalian selama ini." Rudi berusaha membuka tas milik Ralda.
"Lepaskan !!" Ralda berusaha mempertahankan tasnya.
Satu orang pun tidak ada yang mau mendekat, mereka berfikir jika Ralda dan Rudi sepasang suami istri yang sedang bertengkar. Usia Rudi memang tidak lagi muda tapi wajahnya masih awet muda
Rudi tersungkur, ia mendongakkan kepalanya melihat siapa yang memukulnya hingga bibirnya pecah.
"Ada yang terluka?"
"Ti—tidak ada, terimakasih sudah menolong saya Tuan Alby." Jawab Ralda lemah.
Rudi bertepuk tangan setelah ia berdiri lagi. "Pahlawan yang keberapa lagi sekarang?"
"Jangan pernah mengganggu lnya lagi ! Atau anda berhadapan dengan saya !" Ancam Alby.
"Cukup tuan, bawa Nona Ralda pulang saja. Lihat kondisinya." Ujar Jimmy.
"Ayo aku antar pulang." Alby menarik ponsel Ralda dari tangan Rudi. Sementara Jimmy mengambil belanjaan milik Ralda.
"Kamu diantar kemana?" Alby memecahkan keheningan di dalam mobil.
"Ke rumah tuan, Zev."
Alby mengangguk lalu mengambil botol air mineral di sampingnya.
"Minumlah." Ia membuka tutup botol minuman itu.
Ralda yang memang haus langsung menerima air itu dan meminumnya hingga sisa setengah. "Terimakasih sudah menolong saya."
"Sama-sama, aku tak sengaja ingin mampir ke supermarket karena keponakanku minta dibelikan es krim." Alby tersenyum.
"Maaf merepotkan anda berdua dengan mengantarkan saya pulang." Ucap Ralda tulus.
"Jangan formal begitu kita di luar jam kantor. Jika orang lain di posisimu pasti kami juga melakukan hal yang sama."
Ralda kembali diam, tatapannya kosong dan pikirannya melayang pada kejadian beberapa menit yang lalu. Kenapa pria itu harus muncul lagi? Rudi adalah saudara tiri ayah Ralda. Semenjak kedua orang tua Erik dan Ralda meninggal mereka di asuh oleh Rudi bersama istrinya. Tapi karena memang watak Rudi yang tidak baik. Istri dan anaknya memilik pergi dari rumah.
"Kita sampai Tuan, Nona."
Alby bergegas keluar dan membuka pintu untuk Ralda. Tak lupa ia juga membawa belanjaan milik Ralda. Setelah memencet bel, pintu terbuka dari dalam.
"Silahkan masuk Nona, Tuan." Ucap Kiki.
"Eriknya ada?" Tanya Ralda masih nampak berkaca-kaca.
"Ada Nona, mereka sedang berkumpul di ruang keluarga." Balas Kiki sambil menggiring tamunya ke ruang keluarga.
"Erik !" Panggil Ralda langsung berhamburan memeluk adiknya
Erik langsung berdiri dari tempatnya duduk dan membalas pelukan Ralda.
"Apa yang terjadi? Kenapa menangis?" Ia mengusap punggung kakaknya dengan lembut.
"Di—dia kembali, dia bebas." Tangis Ralda pecah di dada adiknya.
Erik dan Zevin sama-sama geram dan mengepalkan tangan mereka. Tak menyangka jika pergerakkan Rudi begitu cepat. Nazia tak mengerti hanya memberikan tatapan bingung, begitu juga Alby dan Jimmy.
"Silahkan duduk, Al. Kak Jimmy." Nazia mempersilahkan dua orang itu duduk.
__ADS_1
Jimmy mengangguk lalu menuntun Alby untuk duduk. Tuannya itu termenung dalam diam, dada Alby sesak saat melihat Ralda menumpahkan air matanya di pelukan Erik. Ingin rasanya ia bertukar posisi dengan Erik, tapi siapa dirinya untuk Ralda ? Sementara Erik adalah kekasihnya begitu pikir Alby.
"Ini belanjaan Nona Ralda." Jimmy meletakkan kantong plastik milik Ralda di atas meja.
"Terimakasih, Kak. Apa sebenarnya terjadi? Kenapa kalian bisa bertemu Ralda." Tanya Nazia.
"Kami tidak sengaja bertemu di depan supermarket, ia sedang bertengkar dengan seseorang. Pria itu merampas ponsel dan tas milik nona Ralda."
"Terimakasih kalian datang tepat waktu." Ucap Zevin. Ia dapat melihat tatapan luka dari mata Alby, ia tahu jika pria ini memang benar-benar memiliki perasaan pada Ralda.
"Ki, buatkan teh manis."
"Baik Nyonya."
"Sayang kamu telpon mama, katakan jika Ralda menginap di sini malam ini. Dan kamu, Al. Ayo ikut aku ke ruang kerja." Ujar Zevin di balas anggukan oleh Nazia dan Alby.
Ralda mulai tenang, Erik lega karena tidak terjadi hal serius pada kakak nya.
"Terimakasih, Kak Jimmy." Ucap Erik.
"Sama-sama, Rik."
Di ruang kerja, Alby dan Zevin duduk berhadapan di sofa.
" Apa yang ingin kamu bicarakan?" Tanya Alby.
"Begini, Al. Aku tahu kamu memang serius tentang perasaanmu pada Ralda. Dan lebih baik kamu tahu masa lalu Ralda agar kamu bisa menghadapi sesuatu yang kemungkinan akan terjadi." Jelas Zevin.
"Aku serius mencintai Ralda, aku akan menikahinya, tapi aku terlambat ia sudah dimiliki Erik."
Zevin tertawa.
"Erik memang memilikinya namun bukan sebagai kekasihnya tapi sebagai adiknya."
"Maksudmu? Erik dan Ralda adalah saudara kandung?" Tanya Alby berbinar.
"Iya, mereka saudara kandung."
"Terimakasih, Zev. Aku akan mendapatkannya." Alby berdiri dan memeluk Zevin.
"Hei apa yang kau lakukan ?! tubuhku hanya boleh dipeluk istriku !"
"Aku terlalu bahagia." Balas Alby tanpa dosa.
Zevin menceritakan semuanya tentang Ralda dan Erik dari awal pertemuan mereka dan siapa itu Rudi bagi Ralda dan Erik. Alby mengepalkan tangannya kesal, kenapa ada lagi pria jahat lainnya?
"Aku akan menempatkan pengawal untuk Ralda, tanpa sepengetahuannya." Ucap Alby.
" Boleh juga, Erik sudah ingin menempatkan satu orang untuk Ralda tapi dia menolaknya." Kata Zevin.
"Aku juga akan mengawasi Rudi." Ujar Alby
" Aku setuju, tapi aku yakin Erik juga melakukan hal yang sama."
Setelah cukup pembicaraan mereka, Alby dan Zevin keluar dari ruang kerja. Bertepatan dengan Nazia yang datang mengajak mereka makan malam.
"Kamu menyusulku." Zevin mengandeng tubuh istrinya.
"Iya, ayo makan malam dulu."
"Baiklah, ayo Al kita makan malam dulu. Di mana Ralda ? Apa dia sudah tenang?" Tanya Zevin sambil menuntun langkah.
"Dia sudah tenang, sudah mandi juga. Mereka menunggu kita di meja makan."
Benar saja Ralda sudah berganti baju dan terlihat segar, walau matanya merah dan sedikit bengkak tapi tidak mengurangi kecantikan . Tak lama Ivan juga baru sampai di rumah langsung bergabung di meja makan.
"Kamu tidak mandi dulu, Van?" Tanya Zevin.
"Nanti saja kak, aku lapar."
"Kamu pemilik restoran kenapa sampai lapar?" Ejek Jimmy.
"Aku ingin makan bersama Zizi." Ivan mengecup pipi Nazia.
"Hei jangan mencium istriku." Zevin menarik tubuh Nazia ke pelukannya.
"Cuma sedikit, Kak. Yang penting tidak mencuri ciuman nya saat tidur." Balas Ivan santai.
"Kamu pernah mencuri ciumanku?" Tanya Nazia pada Zevin.
"Pernah Zi, saat kalian belum menikah." Sahut Ivan
Zevin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal
__ADS_1
Anak ini masih saja ingat kejadian itu