Suami Manja Dokter Zi

Suami Manja Dokter Zi
Zevin Kavindra


__ADS_3

Hujan kembali mengguyur bumi sejak tadi malam tepat pukul tujuh tadi pagi hujan baru berhenti tanpa menyisakan gerimis. Nazia berencana akan pergi belanja bulanan hari ini.


"Ki, kita belanja bulanan dan makan siang di luar saja hari ini" Kata Nazia. Ia membantu Kiki membereskan meja setelah sarapan pagi.


"Iya Nyonya, saya siapkan dulu tasnya. "


"Bawa tiga Ki, belanjaan kita banyak ! Karena semua sudah habis." Seru Nazia sedikit berteriak.


"Baiklah."


Nazia naik ke kamar utama menyiapkan tas dan dompetnya. Zevin melihat kedatangan istrinya lalu tersenyum.


"Mau kemana?" Tanya Zevin menyimpan file lalu mematikan laptopnya.


"Mau belanja bulanan." Nazia berdiri di depan cermin menyisir rambutnya.


"Sama siapa?"


"Sama Kiki." Nazia bicara sambil memasukkan ponsel dan dompetnya ke dalam tas.


"Ayo aku antar ! Kita makan siang di luar atau di rumah mama saja." Kata Zevin. Ia ikut menyiapkan ponsel dan dompetnya.


"Baiklah, aku memang ingin mengajakmu. Karena Kiki tidak masak siang ini. Nanti kamu kelaparan dan juga kasian dia di rumah terus." Ucap Nazia mengambil baju ganti untuk suaminya.


"Ayo cinta ! Aku sudah siap." Zevin mengulurkan tangannya


Nazia tersenyum menyambut tangan suaminya itu. Mereka turun ke lantai satu menggunakan tangga.


"Kamu siap, Ki?"


"Siap Nyonya." Kiki tersenyum.


Semenjak Zevin dan Nazia pindah ke rumah baru mereka. Kiki juga ikut pindah ke sana, mobil mereka melaju menuju pusat perbelanjaan .


"Catatannya kamu bawa, Ki?"


"Ini Nyonya ada di dalam tas." Jawab Kiki.


"Simpan saja dulu."


Beberapa menit menempuh perjalanan, mobil Zevin berhenti di pusat perbelanjaan yang cukup besar milik keluarga Indra.


"Sayang jangan dilepas tangan aku." Zevin kembali menarik tangan istrinya.


"Baiklah, manja sekali kamu."


Ia kembali melingkarkan tangannya di lengan Zevin. Mereka berdua  heran karena tatapan beberapa orang tertuju pada mereka saat memasuki toko bahan dapur.


"Sayang kamu lihat, apa ada yang aneh ? Sebagian mereka melihat pada kita." Bisik Zevin. Ia merasa risih pada tatapan orang-orang.


Nazia menoleh pada suaminya.


"Mungkin kamu terlalu tampan !"


"Tapi ketampananku hanya untuk kamu saja sayang. Jangan-jangan mereka mengira aku pria gemulai" balas Zevin. Ia tiba-tiba teringat pada Ivan.


"Biarkan saja, hanya aku yang tahu keperkasaan suamiku." Goda Nazia. Ia bicara tanpa menoleh pada suaminya.


Zevin memalingkan wajahnya malu lalu mengulum senyum. Syukurlah Kiki tidak mendengar hanya fokus melihat kiri dan kanannya.


"Ki, ayo lihat daftar belanjaan kita." Nazia berhenti di rak bumbu dapur.


"Iya Nyonya." Kiki membuka tasnya untuk mengambil catatan tadi.


Satu persatu Nazia dan Kiki mulai mengambil bahan belanjaan sementara Zevin hanya bertugas menggandeng tangan istrinya.


Zevin sesekali mengambil foto istrinya yang sedang memilih barang. Senyum di bibirnya mengembang setelah mengunggah foto istrinya ke akun miliknya dengan caption 'Mendampingi Nyonya Zev berburu asupan gizi'


"Kamu kenapa sayang?" Tanya Nazia. Ia heran karena suaminya tersenyum sendiri.


"Ini !" Zevin menunjukkan ponselnya.


Nazia tersenyum melihat fotonya sedang fokus memilih barang. Zevin menyimpan kembali ponselnya ke saku celana. Lalu menarik tangan Nazia ke genggamannya.


"Tuan permisi." Ucap seorang wanita di samping Zevin.


Zevin menoleh nampak wanita hamil besar berdiri di sampingnya.


"Anda menyapa saya?"


"Iya benar, saya minta tolong ambilkan susu ibu hamil di atas karena merk yang saya minum ada di rak itu." Kata wanita itu tersenyum sambil menunjuk ke atas.


"Baiklah, berapa kotak?" Balas Zevin. Ia melepaskan tautan tangannya pada jemari Nazia.


"Dua."


Zevin mengambil dua kotak susu lalu memberikannya. "Ini."


"Terimakasih tuan." Ucap wanita hamil itu.


Nazia menoleh pada  Zevin dan tersenyum. Suaminya ini memang sedikit aneh dengan sikap yang tidak bisa ditebak dengan mudah.


"Dokter, Zi. Anda belanja?" Wanita itu tersenyum menghampiri Nazia.


"Ah, iya ! Saya belanja bulanan dan sudah selesai."


"Sudah selesai?" Sahut Zevin.


"Iya sayang." Balas Nazia lembut.


"Jadi tuan ini suami anda? Saya sudah mendengar kabar pernikahan anda." Ucap wanita itu senang.


"Benar dia suami saya."


"Kamu kenal cinta?" Tanya Zevin. Ia melihat wanita hamil itu akrab dengan istrinya.


"Iya ibu Reni, pasienku di rumah praktek."

__ADS_1


"Suami dokter Zi sangat tampan. Semoga putra saya setampan anda tuan." Ucap Reni


"Semoga saja." Zevin tersenyum kaku.


Bagaimana bisa setampan diriku ? Itu bukan Gen ku.


"Semoga cepat hamil dokter, Zi." Doa ibu Reni.


"Terimakasih, Bu."


Pasti cepat hamil, aku sudah menyemai benihku nunggu dia tumbuh dan berdaun saja


Zevin bicara dalam hati.


"Kami duluan ke kasir, jaga kesehatan sampai persalinan." Ucap Nazia. Di balas anggukan oleh ibu Reni.


Mereka ikut mengantri di depan kasir.  Kiki lebih dulu keluar karena Zevin dan Nazia yang akan membayarnya. Ada dua kasir wanita yang bertugas.


Mereka tersenyum manis melihat Zevin, tapi tak disangka Zevin malah mengabaikan mereka. Pria ini berdiri di belakang istrinya kedua tangannya berpegangan di bahu Nazia.


Matanya hanya melihat kaca pembatas yang menghadap keluar, sesekali ia mencium pucuk kepala istrinya lembut. Dua kasir itu mendengus kesal karena tebar pesona yang mereka lakukan gagal.


"Tuan, Nona !"


"Erik ! Kamu disini?" Zevin menoleh ke belakang.


"Iya, saya mengantar Kak Ralda belanja."


Zevin melihat ke dalam keranjang belanjaan Ralda. "Mau ditambah lagi?"


"Tidak tuan, ini sudah cukup." Balas Ralda.


"Sini belanjaanmu, sekalian dihitung sama punya saya."


"Jangan dokter, Zi. Biar saya saja yang membayarnya." Ralda sungkan belanjaannya dibayar oleh istri Zevin itu.


"Biarkan saja istriku yang membayarnya."


Ralda mengangguk lalu memberikan keranjang belanjaannya pada Nazia. Setelah terhitung semua, Nazia membayarnya. Mereka semua keluar dari tempat itu.


"Rik, ayo makan siang !"


"Makan siang di mana tuan?" Tanya Erik.


"Di rumah mama."


"Baiklah ayo." Balas Erik.


Dasar tuan aneh mengajak makan siang tapi di rumah nyonya besar


"Ki, sudah tersusun semua?" Tanya Nazia.


"Sudah Nyonya."


"Ayo kita ke rumah utama." Ajak Nazia.


Erik dan Ralda memasuki mobil mereka lalu mengikuti mobil Zevin di depan.


Ibu Felisya tersenyum senang menyambut kedatangan anak menantunya.


"Papa di mana, Ma?" Tanya Zevin menggandeng tangan istrinya.


"Di ruang kerja, ayo Ralda masuk !" Ajak Ibu Felisya. Ia melihat pada Ralda yang berdiri di ambang pintu.


"Iya Nyonya."


Dirinya merasa sedikit canggung karena jarang bertemu dengan ibu Felisya berbeda dengan Erik terserah memilih ingin tinggal di mana.


"Jangan canggung, Nak. Lihat adikmu itu ! jadi kamu juga sama sepertinya." Ucap Ibu Felisya.


"Iya Nyonya." Ralda terperangah karena Erik bebas memasuki kediaman Indra Jaya.


Selama menjadi direktur rumah sakit dirinya jarang berkunjung ke rumah itu. Setelah menjadi sekretaris pak Indra. Ralda baru beberapa kali datang ke sana. Itu pun hanya di ruang tamu.


Kiki segera membantu kepala asisten rumah tangga untuk menyiapkan makan siang.  Zevin dan Erik entah menghilang kemana hanya menyisakan Ralda dan Nazia di ruang keluarga.


"Ralda kamu istirahat di kamar tamu. Aku akan ke kamar dulu mau mandi. Kulitku rasanya lengket." Ucap Nazia.


"Iya dokter, Zi."


"Panggil aku Zi saja." Ucap Nazia.


"Aku panggil kakak saja."


"Kedengarannya bagus tapi kamu seumuran suami ku." Balas Nazia tersenyum.


"Tidak apa-apa, karena Kakak istri Kak Zevin biar aku panggil kakak saja."


Ralda juga masuk ke kamar tamu sekedar istirahat. Ibu Felisya memantau di dapur saat kedua asisten rumah tangganya menyiapkan makan siang.


Di kamar Nazia sudah segar setelah membersihkan tubuhnya di kamar mandi. Ia membuka gorden balkon kamar Zevin. Tapi dirinya penasaran  ada pintu kecil yang belum pernah dibuka olehnya. Pintu itu terbuat dari kaca tebal tertutup gorden, Nazia membuka pintu lalu melangkah sedikit keluar ternyata pintu itu berhadapan langsung dengan lapangan tembak milik keluarga Indra Jaya.


Mata Nazia menangkap dua sosok pria yang tengah fokus membidik sasaran. Di Sana ada Zevin dan Erik yang tengah memegang senjata Api. Mereka memakai perlengkapan untuk berlatih menembak.


Peluru melesat tepat sasaran. Nazia menutup mulutnya kagum. Sahabat sekaligus suami yang dikenalnya selama ini ternyata pandai menggunakan senjata api.


Peluru Erik juga tepat sasaran . Keduanya tersenyum puas, kemampuan yang mereka miliki tidak memudar.


"Anda masih hebat tuan !" Puji Erik.


"Kamu juga ! "


"Mari tuan kita latihan memanah." Ajak Erik.


"Ayo mumpung cuaca tidak panas."


Mereka berpindah di tempat latihan memanah. Zevin dan Erik mengambil busur dan anak panah. Erik mengambil posisi terlebih dulu, mata pria ini begitu tajam dan penuh konsentrasi menatap papan di depannya. Sangat tampan dan berkarisma seorang Erik mengarahkan anak panah. Anak panah tertancap sempurna dititik tengah. Erik tersenyum senang

__ADS_1


Zevin bertepuk tangan


"Kamu keren !" Tersenyum bangga.


"Sekarang giliran anda tuan !" Kata Erik. Ia belum pernah melihat Zevin menggunakan busur.


Zevin mengambil anak panah dan busur, ia mengatur posisi dan mulai menarik tali busurnya. Matanya  memberikan sorot yang begitu tegas. Wajah santainya menjadi serius dan dingin entah apa yang dipikirkannya hanya dia yang tahu.


Panas tertancap dalam. Erik takjub walau pun bekerja dengan Zevin bertahun-tahun tapi banyak yang belum dia ketahui tentang pria itu.


"Wah, anda hebat tuan ! " Puji Erik kagum.


Raut wajah Zevin kembali seperti semula. "Kamu lebih pandai dariku" Ujarnya meletakkan kembali busur ketempat semula.


"Saya penasaran, sejak usia berapa anda belajar memanah. Menembak, berkuda dan bela diri?" Tanya Erik


Zevin terkekeh.


"Sejak usia 7 tahun. Aku diajarkan papa secara langsung."


"Jadi tuan Indra juga pandai memanah?" Tanya Erik tak percaya.


"Papa pintar bela diri, bisa menggunakan berbagai macam senjata." Jawab Zevin.


"Benarkah ? Saya semakin kagum. Senjata apa lagi yang anda kuasai tuan?" Tanya Erik penasaran.


"Rahasia."


Tak lama, Kiki datang memanggil mereka berdua untuk makan siang. Di atas sana Nazia tersenyum ternyata dirinya tak hanya memiliki suami yang manja, tapi juga tangguh. Dirinya sangat terpesona melihat Zevin begitu berkarisma di lapangan itu.


"Di mana istriku, Ma?" Zevin memasuki dapur.


"Di kamar, mungkin tidur."


"Bersihkan tubuh kalian dulu. Setelah itu makan siang." Ucap pak Indra.


"Baik tuan."


Zevin menaiki tangga perlahan dirinya membuka pintu kamar. Tapi tidak mendapati istrinya di atas kasur. 


"Sayang...." Panggil Zevin. Ia melihat ke sana kemari.


"Aku di sini."


Zevin menghampiri istrinya


"Jadi kamu melihatku di sana?" Bertanya sambil menunjuk lapangan tembak.


Nazia mengangguk


"Iya, aku melihatmu. Aku baru tahu kamu memiliki kemampuan seperti itu." Tersenyum manis pada suaminya.


"Kamu takut ? Maaf aku belum cerita." Zevin memeluk istrinya dari belakang.


Nazia menggeleng.


"Tidak, aku bahkan terpesona ! Kamu sangat gagah saat menggunakan busur." Ia mendongakkan wajahnya melihat Zevin.


"Syukurlah ! Aku mandi dulu papa sudah menunggu di meja makan." Zevin melepaskan pelukkannya


Nazia juga masuk ke dalam lalu menutup pintu itu.  Sepuluh menit kemudian mereka turun dan bergabung di meja makan.


"Ralda bagaimana jika kamu tinggal di sini saja?" Ucap ibu Felisya sebelum makan.


"Benar sekali, kami kesepian disini. Zev dan Zi tinggal sendiri." Sahut pak Indra. Ia juga merasa kesepian.


"Tapi tuan saya tidak mau membebani anda berdua. Kebaikan kalian selama ini tak mampu saya balas."


"Nanti lagi kita bicarakan saatnya makan siang." Seru Zevin.


"Benar ayo makan dulu." Ucap kakek Ardian.


Usai makan siang mereka berkumpul di ruang keluarga. Pak Indra bertanya kembali pada Ralda.


"Bagaimana Ralda? Kamu mau tinggal bersama kami?" Tanya pak Indra.


"Apa saya tidak merepotkan tuan dan Nyonya?" Tanya Ralda tidak enak hati.


"Tidak, Nak. Kami sangat senang jika kamu mau tinggal di sini. Erik juga terserah memilih mau tinggal di sini atau di rumah, Zev." Ucap ibu Felisya.


"Ralda , Erik ! semenjak kalian berdua masuk ke dalam keluarga kami. Jujur saya sangat senang, saya sudah menganggap kalian seperti anak saya sendiri." Kata pak Indra.


Ralda dan Erik terkejut. Sungguh besar rasa sayang pak Indra untuk mereka berdua.


"Saya merasa memiliki anak lagi. Bertahun-tahun saya mengawasi kalian dan selama itu pula kalian tidak pernah mengecewakan kami. Saya rasa memiliki tiga orang anak." Ucap Ibu Felisya.


"Anggap saja kalian saudara Zev ketemu besar. Karena istri saya tidak bisa hamil lagi waktu itu makanya Zev menjadi anak tunggal." Ucap pak Indra.


"Tenang, Pa. Aku sedang menyemai bibit cucu yang banyak untuk papa." Sahut Zevin yang sedang bersandar manja pada istrinya.


"Kamu pikir semacam tumbuhan." Ucap pak Indra memicingkan matanya pada sang putra.


"Itu perumpamaan, Pa." Kata Zevin acuh. Ia semakin menempel pada istrinya. Nazia gemas lalu mencubit pelan lengan Zevin . "Aaww, jangan dicubit sayang dicium aku nya." Jeritnya manja.


"Zi, apa kamu tidak risih ditempeli anak itu ?" Tanya pak Indra. Ia heran putranya tak pernah jauh dari menantunya.


Nazia tertawa.


"Biarkan saja Pa, nanti jika kami sudah memiliki anak semuanya akan diambil alih anaknya."


"Enak saja ! Aku tidak mau berbagi milikku ." Sahut Zevin. Ia merebahkan kepalanya di pundak Nazia


"Bagaimana Ralda kamu bersedia?" Seru ibu Felisya.


Ralda dan Erik saling pandang. Mereka bahagia bercampur terharu karena pak Indra dan ibu Felisya menyayangi mereka.


"Baiklah Nyonya, Tuan ! Saya mau. Besok saya berkemas."

__ADS_1


"Syukurlah, dengan begini Erik tidak terlalu mengkhawatirkan kamu tinggal sendirian." Seru Zevin.


"Terimakasih Tuan, Nyonya karena sudah menerima kami selama ini." Ucap Erik tulus.


__ADS_2