
Para dokter kembali bekerja setelah hari kemarin menghabiskan waktu akhir pekan bersama keluarga masing-masing, termasuk juga Nazia. Hari ini, ia melangkahkan kaki nya penuh semangat dengan senyum mengembang menyapa OB yang tengah bersih-bersih. Wajah nya berseri memasuki ruangan dokter sebelum menuju poli tempat nya praktek.
"Selamat pagi sayang" Sapa Zevin yang baru tiba setelah Nazia.
"Pagi Zev." Balas Nazia tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.
Zevin nampak lebih bersemangat dari hari-hari sebelumnya. Ia tipe pria peka terhadap sesuatu. Serapi apapun Nazia mencoba menjauhinya tetap saja ia bisa merasakannya. Sikap Nazia yang berubah membuatnya ingin tahu penyebabnya. Maka dari itu Zevin meminta bantuan Erik untuk mengikuti ibunya. Berbekal informasi dari sopir ibu Felisya, Erik bisa mencari tahu apa saja yang dilakukan Nyonya Indra itu.
Zevin menghampiri Nazia lalu mengambil alih ponselnya dan meletakkan di atas meja. Kemudian, Zevin menarik kursi milik Rayya di sebelahnya. Zevin tersenyum manis seraya mendudukkan tubuhnya.
"I love You "
"Haa??" Nazia tercengang.
Zevin terkekeh melihat ekspresi Nazia. Tangannya terangkat mengusap pucuk kepala Nazia dengan lembut. "Maafkan mama. Dia sudah menemui mu dan memaksa mu untuk menjauhiku. Mama salah faham padamu beliau mengira kamu sudah tahu tentangku"
Nazia menghela nafas pendek. "Ibumu hanya ingin yang terbaik untukmu. Kenapa keluargamu menutupi identitasmu selama ini? Boleh aku tahu alasannya?" Nada bicaranya terdengar lembut seperti biasa.
Zevin menarik tangan Nazia ke genggaman nya. "Itu karena permintaanku sendiri dan papa menyetujui nya. Aku hanya ingin hidup bebas tanpa pengawal atau aturan-aturan yang membatasi langkahku. Jika orang lain tidak mengenali aku sebagai putra Indra Jaya, aku bisa bebas bersama siapa saja dan papa tidak khawatir dengan keselamatan ku" Ujarnya menjelaskan sambil menatap intens mata indah di hadapannya.
"Apa Vian dan Rayya juga tahu?"
Zevin menggeleng. "Tidak, jangan memberitahu mereka"
Nazia mengangguk pelan. "Bagaimana perjodohanmu tadi malam, apa berjalan lancar?"
"Aku menolaknya karena ada cinta lain yang ingin aku miliki." Zevin tersenyum.
Nazia memalingkan wajahnya lalu meraih tas kerjanya dan berdiri. "Ayo kita mulai bekerja" Ia mengalihkan topik pembicaraan.
"Kamu tidak penasaran cinta siapa yang aku inginkan?" Zevin menahan pergelangan Nazia.
"Tidak"
"Bisakah, kamu menjadi putri malu peka sedikit !" Gerutu Zevin kesal.
Nazia dapat mendengar walau sangat pelan. "Siapa?" Bertanya tanpa menoleh
Zevin berdiri di samping Nazia sambil tersenyum. "Kamu ! Aku menginginkan cintamu yang telah aku abaikan dulu. Aku menyukaimu. Aku mencintaimu, aku cemburu ketika orang lain bersamamu sejak lama rasa ini tumbuh.Tapi, aku tidak mau egois jadi aku memilih menyimpan rasa itu sendiri" Ucapnya serius
Nazia menghela nafas dalam. "Maafkan aku. Tapi, aku tidak mencintai mu" Ia bicara dengan nada pelan.
"Maka belajarlah mencintaiku. Karena aku tidak akan menikahi wanita lain selain kamu. Mulai saat ini aku akan egois meskipun memaksa kamu. Tentang orang tuaku ? Mereka sudah memberikan dukungan penuh untukku" Balas Zevin meyakinkan.
Nazia dan Zevin saling pandang menyelami perasaannya masing-masing. Suara jarum jam sangat mendominasi di tengah diamnya dua orang ini.
"Ehm ! Sedang apa kalian?" Rayya berdiri di depan pintu mengalihkan perhatian dua orang di dalam sana.
Zevin mendengus kesal karena merasa terganggu. "Hei wanita jahat ! Aku sedang mengungkapkan perasaanku. Tapi, temanmu ini baru saja mengatakan tidak mencintaiku."
"Jangan sedih ! dia pasti mencintaimu jangan biarkan orang lain dekat dengannya lagi" Rayya tersenyum pada Zevin menyemangati.
"Kenapa kalian jahat padaku?" Nazia memasang wajah kesal ekspresi inilah di sukai Zevin.
"Kamu menggemaskan sayangku." Tanpa aba-aba Zevin mencium pucuk kepala Nazia. Hingga membuat dokter cantik itu terperangah.
Rayya ikut terperangah lalu melihat wajah tanpa bersalah Zevin. "Sosor saja terus !"
Zevin tersenyum lalu melenggang pergi meninggalkan ruangan. Sementara itu Nazia masih tidak berkedip, ia teringat saat dirinya sedang tidur karena mabuk berat bersama Ivan. Ia bermimpi ada yang mencium bibirnya. Nazia baru menyadari jika aroma tubuh dalam mimpinya itu sama dengan Zevin.
"Kamu kenapa, Zi?"
"Ay, Aku pernah bermimpi di cium seseorang di bibirku dan anehnya, aroma tubuh orang itu sama dengan aroma parfum, Zev." Ujar Nazia seperti kebingungan.
Rayya terbahak. "Mungkin dia memang Zevin"
"Tidak mungkin ! Aku sedang tidur jelas-jelas itu mimpi, aku juga tidak melihat wajahnya hanya aroma parfumnya saja yang sama. Memang saat aku bangun ada Zev di kamarku. Tapi, di sana juga ada Ivan mana mungkin dia berani menciumku" Sangkal Nazia.
Zevin menguping di depan pintu tertawa senang karena Nazia tidak menyadari jika itu nyata bukan mimpi.
...----------------...
__ADS_1
Kantor A.Z...
Alby memijat ringan pelipisnya. Mempelajari dokumen di atas mejanya. Pria ini sangat lelah setelah berhari-hari menyelesaikan pekerjaannya agar tepat waktu.
"Permisi, tuan"
"Hm, ada apa, Jim?"
"Tuan. Ada penarikan dana di kartu yang anda berikan pada nona Sherin dalam jumlah besar." Jawab Jimmy.
"Nanti aku minta pertanggung jawabannya. Semenjak berhenti bekerja ia selalu berfoya-foya."
"Baiklah kalau begitu. Tadi sekretaris pak Toni kemari mengajukan kerja sama pembangunan hotel di jalan X" Kata Jimmy.
Alby nampak berfikir. "Kamu pelajari dulu dokumennya dan kalkulasikan semua dengan benar. Jika menguntungkan terima saja. Hitung-hitung untuk mengganti uangku yang dihabiskan putrinya itu"
"Iya tuan. Saya akan pesankan makan siang untuk anda" Jawab Jimmy di balas anggukan Alby.
Jimmy keluar dari ruangan presiden direktur. Dari jauh terlihat Sherin datang dengan pakaian sedikit kekurangan bahan. Tanpa menyapa ia langsung menerobos masuk kedalam. Sekretaris Alby dan Jimmy saling pandang lalu menatap tak suka pada pintu yang telah tertutup.
"Jim ada apa lagi ?" Kata Alby tanpa mengalihkan pandangannya.
"Ini aku, Al." Ucap Sherin ingin duduk di pangkuan Alby.
"Jaga kaki tanganmu ! jika tidak ingin aku berbuat kasar !" Kata Alby mendorong tubuh Sherin.
Sherin menjadi kesal lalu menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. "Kamu kenapa kasar sekarang, Al ? Akan aku adukan kamu sama papa Reza" Ancamnya.
"Silahkan saja. Maka akan kuberikan tahu semua orang jika aku menikahi wanita bekas orang !"
"Kamu jahat Al !" pekik Sherin.
"Aku memang jahat ! Kamu tahu Sherin awalnya aku akan menjalani pernikahan ini dengan sungguh-sungguh. Lalu sama-sama membesarkan sayap perusahaan bersama mu. Dan aku akan belajar mencintaimu, tapi setelah malam itu aku tahu seberapa murahnya dirimu. Lalu kamu mengundurkan diri dari perusahaan membuat apa yang aku lakukan terasa sia-sia. Aku tidak berniat lagi pada pernikahan ini dan sepertinya tanpa menikahi kamu pun, perusahaanku mulai membaik secara perlahan. Aku menyesal karena tidak sabar." Balas Alby panjang lebar.
Sherin tertunduk malu. Benar di katakan Alby demi kesenangannya ia telah mengorbankan kehormatannya sebagai seorang wanita. "Lalu aku harus apa Al" Tanyanya terisak.
"Tanyakan pada dirimu sendiri, apa yang harus kamu lakukan ?"
"Kita ke restoran mana, tuan?" Tanya Jimmy di tengah perjalanan.
"Restoran Vian."
Jimmy mengangguk sambil memperhatikan raut wajah tuannya dari kaca. Mobil Alby berhenti di halaman parkir restoran tanpa di duga mobilnya bersebelahan dengan mobil putih milik seseorang yang tengah di rindukannya saat ini.
Zia disini
Alby bergegas keluar dari mobil tanpa menunggu Jimmy membuka pintu terlebih dulu.
Jimmy berlari kecil mengikuti langkah besar Alby masuk kedalam . Sampai di sana Alby disuguhkan dengan pemandangan menyakitkan hatinya. Cemburu di dadanya tiba-tiba muncul melihat dua dari orang yang tengah makan siang di salah satu meja.
Di Sana ada Rayya, Vian, Zevin dan Nazia. Seperti sebelumnya Zevin kembali menempel pada Nazia. Walau beberapa kali dokter cantik itu menolak secara halus.
"Zi ayo suapi aku" Rengek Zevin.
"Kamu bisa makan sendiri, Zev."
Zevin mendengus kesal. Ia mendiamkan makanan di piringnya. Masih tidak berniat menyentuhnya lalu memilih fokus pada ponsel miliknya. Rayya dan Vian tersenyum tipis melihat sikap temannya itu. Seperti Vira saja pikir mereka berdua.
Melihat Zevin berdiam diri dan tidak menyentuh makanan Nazia meletakkan sendok menyudahi makannya. "Aku sudah selesai. Kalian tetap disini atau kembali ke rumah sakit ?" Berusaha tidak memperdulikan Zevin.
"Kembali ke rumah sakit"
"Ayo ke ruanganku sebentar sayang" Ajak Vian pada istrinya.
Pasangan suami istri itu ingin meninggalkan meja dan membiarkan dua orang kekanakan itu menyelesaikan permasalahan mereka.
"Zev makanlah !" Ujar Rayya sambil berdiri.
Zevin tak menggubris ucapan Rayya. Ia benar-benar kesal padahal dirinya sedang lapar. Melihat hal itu Nazia mengalah duduk kembali ke kursinya.
"Buka mulut mu." Nazia mengarahkan sendok.
__ADS_1
Seperti anak kecil di beri permen. Zevin berbinar melihat Nazia. Secepat kilat ia menerima suapan itu dengan senyum mengembang mengunyah makanannya dengan rasa bahagia.
Dengan kesabaran penuh Nazia menyuapi pria menyerupai bayi besar itu sampai menghabiskan makanannya. Rayya yang baru keluar dari ruangan Vian melihat pemandangan itu terkekeh geli.
"Terimakasih, Cinta." Zevin menggenggam hangat tangan Nazia.
"Ayo kita kembali ke rumah sakit" Rayya menghampiri Nazia dan Zevin.
"Kalian saja, aku langsung pulang ke rumah." Tolak Nazia.
Zevin mengalihkan pandangan pada Nazia.
Apa kamu masih ingin menghindari aku, sayang ?
"Aku juga pulang, tapi ke rumah Zi"
Kenapa ikut pulang ke rumah sih? Aku sengaja pulang cepat agar dia tidak menempel padaku. Dia bukan Zev temanku yang dulu, tapi dia Zev sebagai pria menyukaiku. Sikapnya juga sedikit menyebalkan
Nazia mendengus kesal.
"Terserah kalian saja. Aku juga sebenarnya tidak ada pekerjaan lagi. Tapi ada janji dengan orang tua pasienku" Kata Rayya.
"Baiklah ayo pergi.a" Zevin menarik tangan Nazia untuk mengikutinya.
Rayya mengikuti langkah dua orang yang melangkah lebih dulu di depannya. Ada rasa bahagia di hatinya walau Zevin sedikit menyebalkan hari ini.
Di meja lain, Alby menyaksikan semuanya mengeram kesal meremas gelas di tangannya. Matanya menatap nanar pada punggung wanita yang bersikap tidak mengenalinya itu.
Seharusnya aku menggenggam tangan itu. Aku juga seharusnya mendapatkan suapan darinya. Aku masih mencintai mu Zia.
Sorot mata Alby begitu sendu.
...----------------...
Di tengah perjalanan Zevin bukannya mengantar Nazia pulang. Tapi pergi ke perkebunan bunga yang pernah mereka berdua kunjungi.
"Kita kemana, Zev ? Kenapa tidak pulang ?" Tanya Nazia setelah menyadari jalan itu bukan menuju rumahnya.
"Ke suatu tempat yang pernah kita datangi berdua. Waktu itu aku menyenangkan hati calon istri orang dan saat ini aku ingin menyenangkan calon istriku"
"Kalau kamu ingin menyenangkan calon istrimu, kenapa mengajak aku?" Tanya Nazia tiba-tiba kesal. Terlanjur rasanya membiarkan Erik mengantar mobilnya pulang.
Zevin mengamati ekspresi Nazia kesal tapi tidak menunjukkan kecemburuan. "Karena kamu calon istriku" Ujarnya bicara tanpa menoleh.
Nazia menghembus nafas berat. "Zev, kamu dan aku jauh berbeda. Untuk kalian orang kaya, kehadiran kami yang sederhana ini hanya akan jadi benalu"
Mobil terhenti seketika. Zevin menatap tajam pada Nazia. "Zi ! Dengarkan aku, semua orang tidak ada yang sama, jangan kamu samakan aku dengan yang lainnya. Kamu yang aku mau ! Jadi, tidak ada lagi cela padamu yang membuat aku harus melepaskanmu"
Mata Nazia berkaca-kaca mendengar penuturan Zevin. "Maafkan aku. Hatiku masih belajar meyakininya"
Zevin menginjak kembali pedal gas melanjutkan perjalanan mereka. "Tugasmu hanya belajar mencintaiku. Tumbuhkan lagi perasaan yang pernah ada untuk aku dulu"
Nazia menoleh pada Zevin. "Kamu tahu aku pernah menyukaimu?"
Zevin mengangguk. "Maafkan aku. Mulai sekarang tumbuhkan lagi rasa sukamu padaku sebagai pria dewasa bukan kepada teman."
Nazia mengalihkan pandangannya ke depan. Ia pun bingung harus seperti apa menyikapi perkataan Zevin sekarang.
Mobil Zevin berhenti di pinggiran jalan sepi. Ini kali keduanya mereka berkunjung ketempat itu. Nazia menghirup aroma bunga yang semerbak terbawa angin. Sore itu nampak indah dari atas perbukitan yang di tumbuhi banyak bunga.
"Ayo Zev kita ke sana, menunggu sunset" Ajak Nazia bersemangat.
Zevin mengangguk sambil tersenyum. Lalu mengikuti jejak kaki Nazia melangkah menuju kursi yang ada di bawah pohon di dataran tinggi. Mereka berdua duduk di kursi itu menghadap hamparan bunga di dataran rendah. Dari sana mereka juga bisa melihat matahari tenggelam.
Zevin menjatuhkan kepalanya di pundak Nazia. "Biarkan seperti ini sebentar"
Nazia mengangguk pelan. Angin sore menyapu tubuh keduanya. Aroma bunga yang mekar memberi kenangan tersendiri suatu hari nanti.
Zevin mengeluarkan ponselnya lalu berkata. "Cinta lihat Sini" Ia mengarahkan kamera.
Foto Zevin dan Nazia terlihat bagus dengan posisi Kepala Zevin jatuh di pundak Nazia tersenyum di depan kamera.
__ADS_1