Suami Manja Dokter Zi

Suami Manja Dokter Zi
Ambisi Pak Reza


__ADS_3

Dua Minggu Kemudian...


☘Kantor A.Z☘


Alby tengah bersandar di kursi kebesarannya. Memijit pangkal keningnya karena terasa pusing mendengar permohonan pak Reza. Sejak kemarin ayahnya itu berusaha untuk membujuk Alby membeli tanah kosong yang dimaksudnya itu.


"Untuk apa lagi lahan kosong, Pa? Kita tidak tahu pemiliknya. Lebih baik Papa mengembangkan cabang perusahaanku." Kata Alby.


"Kamu tidak tahu berharganya lahan kosong itu ! Dua tahun kemudian, daerah itu menjadi tempat wisata. Para wisatawan akan membutuhkan tempat menginap. Jadi jika dibangun hotel pasti cepat berkembang pesat." Jelas Pak Reza. Masih tetap pada pendiriannya.


Alby memilih diam ketimbang menuruti kemauan pak Reza. Karena merasa diacuhkan pak Reza pulang dari kantor putranya.


Alby sedikit berubah, ambisi yang menguasainya dulu perlahan memudar. Setelah pernikahan Nazia dua minggu lalu membuat fokus Alby hanya pada pekerjaannya. Tak ingin larut lebih lama dalam patah hatinya. Alby memilih bekerja siang dan malam. Sedikit pendiam dari sebelumnya, Jimmy pun kehabisan cara agar tuan mudanya kembali ceria dan merengek padanya.


"Anda baik-baik saja?" Jimmy   meletakkan botol air mineral  di atas meja.


"Hm !" Alby menjawab singkat lalu membuka botol air minum itu dan meminumnya sampai habis.


Jimmy tersenyum simpul. "Istirahatlah, anda harus menjaga kesehatan. Perusahaan ini butuh pemimpin yang sehat dan segar." Ujarnya duduk bersandar di sofa.


Alby tak menjawab, dirinya masih fokus pada dokumen yang dibacanya. Jimmy menghela nafas panjang. Sepi, sendiri, bosan yang ia rasakan.


Alby melirik sebentar lalu kembali membalik kertas di depannya. Mulutnya seakan terkunci rapat untuk tersenyum. Hatinya terasa kosong dan hampa. Sungguh besar sekali efek kehilangan Nazia.


...----------------...


Kediaman Indra Jaya


Pak Indra, Ibu Felisya dan kakek Ardian sangat senang atas kepulangan Zevin dan Nazia, mereka baru saja tiba di rumah utama. Wajah lelah keduanya sangat nampak sekali.


"Bagaimana kabar kalian?" Ibu Felisya melepas rindu memeluk anak menantunya bergantian.


"Kabar kami baik, Ma." Jawab Nazia.


"Maaf, atas kejadian di Villa waktu itu. Apa kamu terluka, Zi?" Pak Indra lebih dulu menyambangi menantunya. Lihat wajah putranya tertekuk di samping Nazia.


"Tidak masalah, Pa. Aku baik-baik saja. Suamiku menjagaku dengan baik." Balas Nazia.


Zevin tersenyum mengusap lembut pucuk kepala Nazia. "Istriku ini siluman macan tutul, Pa. Dia juga bisa berubah menjadi rubah betina. Aaw !" Meringis mendapat cubit manis di perutnya.


"Ayo masuk kalian pasti lelah." Seru kakek Ardian. Tak ingin ketinggalan melepas rindu pada cucu-cucunya.


Jadwal yang seharusnya hanya satu minggu, dirubah jadi dua minggu. Sesuai keinginan Zevin satu minggu di Villa dan satu minggunya lagi dihabiskan di luar Negeri.


Mereka bercengkrama di ruang keluarga. Tawa, canda menggema di ruangan itu.


"Apa rencana kalian selanjutnya?" Tanya ibu Felisya.


"Kami sudah menyusun jadwal agar adil untuk para orang tua." Jawab Zevin.

__ADS_1


"Maksudmu?" Tanya Pak Indra tak mengerti.


"Aku dan Zi, sepakat untuk tinggal sendiri. Aku sudah menyiapkan rumah untuk kami berdua tiga hari lagi baru pindah. Jadi malam ini kami tidur disini. Lalu besok malam menginap di rumah mama Mira dan malam berikutnya. Kami menginap di rumah papa Bram dan Mama Sherly." Jelas Zevin sumringah.


"Ide yang bagus, kapan kami bisa melihat rumah yang telah kamu beli." Kata kakek Ardian.


"Besok juga boleh, saat istirahat makan siang." Balas Zevin.


"Baiklah sekarang kalian, istirahatlah dulu." Ucap Ibu Felisya.


"Iya ma, kalau begitu kita ke kamar dulu" Balas Nazia.


"Iya Nak." Sahut pak Indra.


Dua minggu menghabiskan waktu, Zevin masih saja manja. Lihatlah wajahnya kumal karena istrinya lupa menarik tangannya.  Nazia tersenyum lalu kembali lagi ke sofa menarik tangan suaminya.


"Ayo sayang kita istirahat." Ucap Nazia.


Zevin tersenyum, wajahnya merona lagi. Sangat patuh ia berdiri dan menggandeng tangan istrinya.


"Ma, aku ingin kembali muda." Seru pak Indra.


"Kalau begitu, Papa kecilkan dulu tubuh Zev." Jawab ibu Felisya.


"Pa, aku masih dengar, nih ! Jangan iri ! Aku tidak mau kembali kecil, Aku sudah tahu nikmatnya bercinta malah disuruh kecil lagi." Sahut Zevin menghentikan langkahnya.


"Sayang sini, aku mau tidur siang." Zevin menarik tangan Nazia naik ke atas kasur.


"Kamu tidur saja dulu ya. Aku mau lihat oleh-oleh untuk Ay dulu." balas Nazia.


"Tidak mau ! Ayo cinta, kamu bisa lihat nanti." Zevin tidak mau mengalah.


"Baiklah, ayo tidur." Nazia mengalah berbaring di sisi Zevin.


Pria ini tersenyum senang, ia menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya. Sambil bergumam-gumam tak jelas ia mulai mengantuk. Hanya butuh lima belas menit nafasnya mulai teratur. Pelukannya juga mulai melonggar. Nazia mendongakkan wajah nya ke atas, sudut bibirnya tertarik melihat wajah damai suaminya.


"Terimakasih Tuhan, dari sekian banyaknya ciptaan Mu. Kau berikan aku makhluk tampan ini, Istirahatlah sayang !" Nazia mengecup kening Zevin penuh cinta.


Nazia tidak mengantuk, ia memilih membuka koper oleh-oleh. Lalu memisah dan membungkusnya. Nazia sengaja membeli tas untuk para wanita dan pria dibelikan jam tangan. Untuk Vira, Nazia membelikan lebih banyak. Semuanya dibeli dengan merek yang berbeda-beda.


Hari menjelang senja Nazia membersihkan tubuhnya terlebih dulu. Ia keluar dari kamar membantu ibu Felisya menyiapkan makam malam.


"Kamu sudah bangun?" Ibu Felisya melihat kedatangan Nazia.


"Aku tidak tidur, Ma." Jawab Nazia.


"Baiklah, ayo kita siapkan untuk makan malam." Ucap ibu Felisya lembut.


Sore ini ia sengaja memasak banyak. Untuk menyambut anak menantunya. Ibu Felisya dan Nazia berkutat di dapur. Saling bercerita dan bertukar pendapat. Sudah tidak ada kecanggungan dari mereka berdua.

__ADS_1


"Kenapa tidak membangunkanku?" Zevin melingkarkan tangannya di tubuh Nazia.


"Lepaskan ada mama disini." Bisik Nazia. Ia terkejut karena Zevin tiba-tiba memeluknya.


"Biarkan saja ! Kamu meninggalkanku sendiri di kamar." Balas Zevin membenamkan wajahnya di ceruk leher istrinya.


"Iya maaf, kamu duduk dulu ya. Biar aku ambilkan air putih. Kamu tidur sangat lama" Ucap Nazia lembut.


Zevin mengecup pipi istrinya sambil berkata "Baiklah, karena kamu memintanya. Aku akan duduk."  Melepaskan tautan tangannya dan pindah duduk di kursi.


Nazia menuangkan air putih lalu memberikannya pada Zevin. Sementara itu Ibu Felisya tersenyum hampir saja ia melukai hati putranya yang begitu sayang pada Nazia.


"Jangan terlalu manja, Zev !" Ucap ibu Felisya tersenyum.


Zevin membalas dengan senyuman lalu menghabiskan air putihnya. Ia memilih bergabung bersama pak Indra dan kakek Ardian di depan televisi


...----------------...


Kediaman Alby


Keluarga Reza baru saja menyelesaikan makan malam mereka. Alby tidak ikut bergabung di ruang keluarga, ia memilih masuk ke dalam kamarnya. Saat ini meja kerja Alby berpindah di dalam kamarnya.


"Masuk !" Seru Alby. Tanpa menoleh ke arah pintu masuk.


Ibu Anggi melihat putranya sibuk dengan pekerjaannya. Ia Merasa sedih. Di mana Alby yang selalu tersenyum? Bercanda dan banyak bicara. Ibu Anggi merindukan semua itu dari putranya. Alby yang sekarang nampak tak bersemangat dan banyak mengurung diri.


"Al, jangan memforsir tenaga terlalu banyak,Nak ! Istirahatlah. " Kata Ibu Anggi.


"Tinggal sedikit lagi, Ma. Nanti jika lelah aku akan istirahat."


"Baiklah, ingat ! jangan menyiksa dirimu sendiri sayang." Ujar ibu Anggi.


Alby melihat ke arah ibunya dan memberikan senyuman tipis meyakinkan. "Aku bisa menjaga diriku sendiri, Ma." Ucapnya menggenggam kedua tangan ibu Anggi.


Andai mama tahu sebesar ini pengaruh kehadiran Nazia untukmu. Biarkan mama melakukan dosa untuk memisahkannya dari dokter itu sebelum pernikahan mereka.


"Mama kembali ke kamar dulu." Ibu Anggi menangkup kedua pipi  putranya.


"Iya, Mama istirahatlah." Alby mencium telapak tangan ibunya.


...----------------...


Di ruang kerjanya, pak Reza tengah menerima telpon dari anak buahnya.


"Bagaimana, apa kalian tahu siapa pemilik tanah itu?" Tanya pak Reza.


"Iya tuan, besok kita bertemu saja. Karena, saya  sulit menjelaskannya melalui telpon."


"Baiklah, datanglah ke kantorku besok pagi." Balas pak Reza. Ia langsung memutuskan telpon. Wajahnya berbinar senang sebentar lagi ia tahu kepemilikan tanah itu.

__ADS_1


__ADS_2