Suami Manja Dokter Zi

Suami Manja Dokter Zi
Fakta mengejutkan


__ADS_3

Kilas Balik


Sore itu Alby pulang cepat karena pekerjaannya tidak terlalu banyak. Setelah terbongkarnya kehamilan Sherin. Alby tidak lagi datang ke rumah pak Toni, begitu pun dengan Sherin tidak pernah lagi ia mengunjunginya selama perawatan di rumah sakit.


Alby melewati ruang kerja pak Reza, tanpa sengaja ia mendengar suara keras di dalam ruangan itu. Ia mengurungkan niatnya untuk segera ke kamar. Keadaan rumah nampak sepi karena ibu Anggi mengunjungi rumah Erika.


Alby mendengar dua suara di dalam sana yang tak lain adalah pak Reza dan pak Toni. Alby mengintip dari celah pintu ada seorang wanita yang tengah duduk di sofa sambil menangis.


"Apa maksudnya semua ini Toni ?!!" Bentak pak Reza.


"Aku hanya ingin kamu minta, Al. Untuk mempertimbangkan hubungannya dengan Sherin, usia pernikahan mereka baru dua bulan. Apa yang akan dikatakan orang nanti jika mereka bercerai?" Lirih  pak Toni. Terselip kesedihan yang begitu dalam dinada suaranya.


"Cih, dasar tidak tahu malu ! Putrimu hamil dengan pria lain dan meminta Alby untuk bertanggung jawab ?! Jangan mimpi ! " Sinis pak Reza.


"Aku sudah mengucurkan dana ke perusahaanmu sangat banyak Reza !" Bentak pak Toni.


Pak Reza tersenyum.


"Aku sangat kecewa pada Sherin ! jika aku tahu kondisinya hamil terlebih dulu, pasti aku tidak akan mau mendukungnya untuk mendapatkan Alby."


Alby dan pak Toni sama-sama tersentak, sementara Sherin semakin menangis tanpa bicara. Di depan pintu, Alby mengepalkan tangannya erat.


"Apa maksudmu?!"


"Aku yang mendukung putrimu untuk mengacau proyek Alby, dengan memanfaatkan orang dalam kantornya. Tapi aku tidak mengetahui jika orang itu adalah ayah kekasihnya. Dan Hadi memanfaat keadaan itu untuk memeras ayah angkatnya melalui dana proyek itu. Tapi malangnya pria itu tidak tahu tujuan putrimu agar bisa menikah dengan, Al." Jelas pak Reza.


"A—apa ? Benar itu Sherin ? " Tanya pak Toni tubuhnya terasa lemas seketika.


"I—iya, Pa. Ma—maafkan aku." Ucap Sherin takut bahkan hanya sekedar mengangkat wajahnya.


"Papa sangat kecewa padamu ! Papa memang ingin Alby jadi menantu. Tapi tidak begini caranya. Ayo kita pulang ! Dan untukmu Reza !  Selain uang yang telah kusalurkan ke perusahaanmu aku mendapatkan bukti kecuranganmu dalam kerja sama kita. Untuk itu siaplah beberapa hari lagi kehancuranmu." Pak Toni menarik tangan Sherin.


Alby cepat bergeser ke sisi tembok ia mengirup oksigen sebanyak-banyaknya setelah mengetahui fakta sebenarnya. Ia merasa sesak dan tak bertenaga. Alby membawa tubuhnya dengan sejuta perasaaan menuju kamarnya untuk menenangkan diri.


Rasa kecewanya berlipat ganda, pertama mendapati jika Sherin sudah tidak gadis lagi, yang kedua Sherin dalam keadaan hamil menikah dengannya. Niat hatinya ingin menjalani pernikahan itu sungguh-sungguh pupus begitu saja.  Dan yang ketiga pak Reza sangat tahu penyebab kekacauan proyeknya tapi bersikap seolah tidak tahu.


Kesalahan terbesarnya adalah sudah meninggalkan Nazia demi ambisinya dan menikahi Sherin. Ia bahkan sempat membanding-bandingkan Sherin dan Nazia.


Kilas Balik Selesai


...----------------...


Kediaman Zevin Kavindra


Penghuni rumah itu baru saja menyelesaikan makan malam mereka meski pun, dibumbui drama dari Zevin yang mual dan muntah tapi yang lainnya masih bisa menikmati makan malam dengan baik. Ada beberapa hidangan di atas meja yang merusak penciumannya hingga mengaduk isi dalam perut Zevin.


Sore tadi orang tua mereka telah kembali ke rumah masing-masing. Ivan juga ikut pulang ke rumah ibu Mira, maklumlah pria kemayu itu belum selesai dengan rasa rindunya pada kedua orang tuanya. Dokter Radit dan Ibu Mira tinggal selama dua minggu di kota ini.


"Kamu sudah menyelesaikan urusanmu dengan, Al ?" Tanya Nazia lembut sedang memijit ringan kepala suaminya yang berbaring di pangkuannya.


"Iya, sebenarnya aku tidak tega tapi mengingat perbuatan ayahnya tidak bisa disepelekan. Aku harus melakukannya." Jawab Zevin sangat menikmati pijatan lembut di kulit kepalanya. Muntah beberapa menit lalu membuatnya sedikit lemas.


"Masih mual?"


"Iya sayang, sepertinya calon bayiku itu sengaja mengerjaiku." Kekeh Zevin.


Ia sangat bahagia sekali dengan apa yang dirasakannya saat ini. Kasus semacam ini sangat jarang sekali terjadi dan ia merasa beruntung bisa merasakan itu semua.


"Aku minta Kiki membuatkan teh hangat ya." Kata Nazia enggan meninggalkan suaminya ke dapur karena Zevin nampak nyaman berbaring di pangkuannya.


"Kamu saja sayang, sepertinya aku tidak bisa makan makanan lain selain dibuat olehmu."


"Baiklah, kamu tunggu di sini aku buatkan lebih dulu." Nazia meraih bantal.


"Jangan turun menggunakan tangga sayang." Zevin memindahkan kepalanya ke atas bantal.

__ADS_1


Nazia keluar dari kamar untuk membuat teh. Ia berpapasan dengan Erik di lantai bawah.


"Anda mau kemana, Nona?" Erik membawa segelas air putih menuju kamarnya.


"Mau membuatkan teh untuk Zev kamu mau ? Nanti kubuatkan juga."


"Baiklah, saya akan tunggu di meja makan." Erik mengekor Nazia menuju dapur.


Nazia membuat dua cangkir teh hangat tak lupa menaruh roti milik Zevin ke dalam piring kecil, siapa tahu suaminya itu ingin mengganjal perutnya lagi setelah muntah.


"Ini tehmu." Nazia meletakkan cangkir teh di atas meja untuk Erik.


"Terimakasih Nona, saya ke kamar dulu." Balas Erik lalu mengambil teh miliknya.


Dia seperti anda, Nona. Baik hati lembut dan penyayang


Ada lengkungan tipis di bibir tipis Erik.


Di kamar, Zevin baru saja menerima panggilan dari kantor polisi jika besok mereka akan membawa surat penahanan untuk pak Reza. Zevin juga meminta agar  besok jangan sampai diketahui oleh media bagaimana pun juga perusahaan Alby akan kena dampaknya.


"Siapa yang telpon sayang ?" Nazia meletakkan gelas teh di atas nakas.


"Dari kantor polisi, mereka besok mengeluarkan surat penahanan untuk pak Reza. Aku juga minta jangan sampai media tahu. Bagaimana pun ini akan berdampak nanti pada perusahaan Alby."


"Minum tehnya, aku juga bawa roti untukmu. Semoga tidak muntah lagi." Nazia memberikan gelas teh.


"Iya cinta." Zevin mengambil gelas dari tangan Nazia dengan senang.


Zevin menghabiskan tiga potong roti yang dibawa Nazia, sepertinya roti itu mulus ke dalam perutnya.


"Cinta, kamu istirahatlah ! Aku ingin bicara dengan Erik terlebih dulu." Zevin mencium kening dan perut rata Nazia terlebih dulu sebelum turun dari kasur.


Di kamarnya Erik tengah berbincang ditelpon dengan orang suruhannya. Ia tidak melihat kedatang Zevin karena sedang berdiri di balkon kamarnya.


"Iya Tuan, maaf saya tidak tahu anda kemari." Erik baru saja mematikan telpon.


"Kamu bicara dengan siapa? Wajahmu terlihat serius begitu." Tanya Zevin duduk di samping Erik.


"Dengan orang suruhan saya, Tuan."


"Kamu minta mereka melakukan apa?" Tanya Zevin


"Saya meminta mereka mencari tahu investor asing  yang ingin berinvestasi pada anak cabang yang dipegang pak Reza." Jawab Erik.


"Benarkah.? Aku baru saja ingin membicarakan itu, bagaimana hasilnya?" Tanya Zevin senang.


"Investor asing itu adalah orang yang pernah ditolak pak Reza bekerja sama saat dirinya masih menjadi presiden direktur induk perusahaan miliknya yang diakuisisi pak Toni. Perusahaan itu dalam keadaan hampir gulung tikar, tapi mereka bukannya mendapat bantuan malah mendapat cacian dari pak Reza. Karena kejadian itu presiden direkturnya meninggal dunia disebabkan serangan jantung, sekarang perusahaan itu dikendalikan oleh putranya yang bernama Wildan Renaldi, pelan-pelan mereka bangkit lagi dengan dukungan dari pak Toni." Jelas Erik.


"Wah kamu tahu semuanya." Ucap Zevin kagum.


Erik tersenyum.


"Itu hanya dendam masa lalu mereka tuan yang tidak sengaja menyeret anda dan nona, Zi."


"Kasian Alby, tapi aku yakin pasti dia sudah mencari tahu sekarang. Informasi ini cukup kita saja yang tahu, urusan kita hanya dengan pak Reza. Lebihnya bukan urusan kita, bersikaplah tidak tahu." Zevin menepuk pundak Erik.


"Saya mengerti, Tuan."


"Istirahatlah." Zevin meninggalkan kamar Erik.


...----------------...


Usai sarapan Nazia dan Zevin berangkat ke rumah sakit dan Erik akan berangkat ke kantor pusat. Hari ini Zevin tidak ada jadwal bertemu Alby. Di tengah perjalanan Zevin melihat ada penjual bubur ayam.


"Kenapa berhenti?"

__ADS_1


"Ada penjual bubur ayam sayang, aku kepingin." Zevin tersenyum.


"Baiklah ayo turun."


"Hati-hati sayang perhatikan kakimu." Ucap Zevin.


"Iya."


Zevin membeli dua kotak bubur ayam padahal, ia sudah sarapan meskipun sedikit. Selesai membayarnya mereka melanjutkan perjalanan.


"Kalian baru sampai?" Sapa Rayya bertepatan dengan Zevin dan Nazia keluar dari mobil.


"Iya, Ay. Kami membeli bubur ayam dulu."


Rayya terkekeh.


"Bagaimana rasanya mual dan muntah?" Ia melemparkan pertanyaannya pada Zevin.


"Lelah, tapi aku menikmatinya." Zevin tersenyum seraya merapikan anak rambut istrinya.


Mereka bersama masuk kedalam gedung rumah sakit menuju ruangan tempat mereka praktek. Karena Nazia tidak mengalami mual dan muntah, maka ia tidak memiliki kendala menjalankan aktivitasnya.


Tanpa terasa bergulat dengan aktivitas di rumah sakit waktu sudah menunjukkan jam makan siang. Zevin sudah menghabiskan bubur dua kotak pagi tadi, sekarang ia ingin makan di resto milik Vian.


"Sayang, kita langsung pulang ya sebelumnya kita mampir dulu di resto Vian."


"Iya, kamu yakin makan di sana?" Nazia cemas jika suaminya kembali mual tidak bisa menikmati makanannya.


"Iya sayang."


Mobil Zevin meninggalkan rumah sakit tanpa mereka sadari jika ada yang mengikuti mereka dari belakang. Menempuh perjalan dua puluh menit mereka tiba di tempat tujuan. Zevin dan Nazia langsung masuk dan menuju tempat biasanya mereka duduk. Untuk kali ini mereka tidak datang bersama Rayya. Karena ibu satu anak itu pergi bersama dokter Yudha menghadiri seminar.


"Kamu kenapa?" Zevin merapikan anak rambut istrinya yang menutupi wajah cantik itu.


"Aku ngantuk sayang." Balas Nazia mengerjap-ngerjapkan matanya.


"Manis sekali istriku." Zevin menoel gemas pipi istrinya.


Ia meraih tubuh Nazia untuk bersandar di dadanya. Tak lupa mengusap lembut perutnya. Di belai seperti itu membuat Nazia semakin mengantuk. Di kehamilannya ini, Ia sering merasakan ngantuk walau tidak merasakan seperti mual dan muntah.


"Hei sayang, kamu sudah tidur?" Zevin melihat wajah istrinya yang terlelap di dadanya. Ia tersenyum lalu mengecup lembut kening Nazia. Zevin menelpon Vian agar datang ke mejanya.


"Iya, Zev. Kenapa?"


"Tolong katakan pada pegawaimu untuk membungkus makanan yang tadi kupesan, istriku sudah ketiduran tolong antarkan ke mobil. Aku tunggu di parkiran." Ucap Zevin.


"Tunggu, Zev. Biar Zi bawa masuk ke kamarku saja mungkin dia lelah."


"Terimakasih Vian, tapi lebih baik kami pulang saja karena Zi tidur siang sedikit lama." Ujar Zevin.


"Baiklah , tunggu di meja kalian. Aku akan ke sana membawakan pesananmu kita lewat samping ruang tempatmu duduk agar cepat sampai ke parkiran."


Zevin tersenyum melihat wajah damai istrinya ketika terlelap. Jika berkunjung berdua maka Zevin akan memilih ruang khusus untuk mereka berdua, Ia tidak mau jika banyak mata yang melihat istrinya.


Tak lama, Vian datang membawa pesanan Zevin. "Ayo, biar kuantar kalian ke parkiran."


"Baiklah." Zevin bergegas menggendong Nazia lewat samping.


Vian membuka mobil untuk Zevin lalu menyimpan kotak makanan di kursi belakang. Dengan hati-hati Zevin meletakkan Nazia dalam keadaan tidur. Sebenarnya Nazia Merasakan tubuhnya digendong suaminya, tapi karena mengantuk ia mengabaikannya saja.


"Terimakasih, kami pulang dulu."


"Baiklah, hati-hati. Kapan-kapan kami berkunjung ke rumahmu."


Mobil Zevin melaju dengan santai meninggalkan resto milik Vian, sekali lagi tanpa Zevin sadari jika mobil yang sama mengikuti mereka.

__ADS_1


__ADS_2