
Rumah Sakit ZK
Sesuai janjinya, Alby datang bersama Jimmy. Ia terkejut bercampur menyesal. Andai ia yang mengantar Ralda mungkin kejadiannya tidak seperti ini.
"Jangan menyalahkan diri sendiri, Kak ! Dengan siapa pun aku pulang, jika ini memang terencana pasti akan terjadi." Ujar Ralda berusaha menenangkan Alby.
"Maafkan aku tidak mengantarkanmu pulang. Mama memang kurang sehat tadi malam." Ucap Alby masih menyesal.
"Yang terpenting sekarang Nona Ralda kembali dengan selamat." Seru Jimmy santai.
Alby mengangguk, di sana tak hanya mereka tapi juga ada Zevin dan Ivan. Mereka berkumpul di ruangan Erik dengan alasan menjenguknya.
"Zi, aku lapar." Seru Ivan manja.
"Tunggu dulu, Vian sebentar lagi sampai." Balas Nazia.
"Salahmu sendiri, kenapa tadi tidak membawa makanan ?" Ketus Zevin tengah berbaring di pangkuan Nazia dan merasakan bayinya menendang wajahnya.
"Aku lupa, Kak." Balas Ivan menjatuhkan kepalanya di bahu Nazia.
Melihat hal itu, Zevin segera duduk lalu berkata. "Sayang, kamu pasti banyak duduk tadi. Sekarang berbaringlah." Zevin menepuk bantal di atas pangkuannya.
"Tapi, aku tidak lelah ." Balas Nazia tidak mengerti.
Aku cemburu sayang dia ikut bermanja-manja padamu
"Sayang ayo sini" Zevin sedikit memaksa.
Nazia tersenyum.
"Baiklah, aku akan berbaring. Van kamu geser ya ?" Ucapnya lembut.
Zevin tersenyum penuh kemenangan melihat Ivan menatapnya kesal. Sementara yang lainnya hanya diam mengamati sifat Zevin memang sulit ditebak.
Pintu terbuka. Vian datang bersama Rayya menenteng beberapa kotak makanan.
"Apa aku terlambat?" Tanya Vian meletakkan kotak makanan di atas meja.
"Tidak, kami juga sedang berbincang." Balas Zevin.
"Ya ampun, Zi ! Kamu kenapa?" Pekik Rayya terkejut melihat Nazia berbaring menghadap ke samping di pangkuan suaminya.
"Tidak kenapa-kenapa, Ay. Zev hanya memintaku rebahan saja." Jelas Nazia.
Zevin tersenyum. "Sayang, ayo makan siang dulu ! Berdua ya kita , aku mau disuapi kamu." Aksi balas dendam karena Nazia menyuapi Erik. Biar adil pikirnya walau pun begitu, Zevin tidak mempermasalahkan perhatian Nazia pada Erik yang memang sakit.
"Iya."
"Bagaimana kondisi Erik?" Tanya Vian setelah membagikan kotak makanan.
__ADS_1
"Lumayan membaik. Sekarang ia tertidur lagi." Jawab Zevin.
Sambil berbincang ringan mereka menikmati makan siangnya di ruangan Erik.
...----------------...
Tiga Hari Kemudian....
Erik telah pulang dari rumah sakit mereka langsung menuju kediaman Zevin dan Nazia. Selama ia dirawat di rumah sakit, keluarga Indra bergantian menemaninya di sana. Jika malam hari maka Zevin dan Ivan, lalu pagi harinya giliran Nazia dan Kiki serta sore harinya Ralda dan Alby. Hatinya cukup tersentuh atas perhatian Alby untuk kakaknya. Ia juga merasa memiliki keluarga dengan hadirnya keluarga Indra. Kadang Yudha juga ikut bergabung sama Nazia dan Kiki jika ia sedang free.
Walau kadang Ralda menolak agar Alby pulang ke rumah, namun pria itu tak menggubrisnya. Kesempatan itu Alby gunakan dengan baik agar lebih dekat pada Ralda.
"Sekarang kamu istirahat ya, kakak keluar dulu." Pamit Ralda. Di balas anggukan Erik.
Sepeninggalan Ralda, Erik sangat heran kenapa barang bawaan mereka banyak sekali ? Di sana ada banyak macam hadiah dan itu tiap hari dibawa oleh Zevin dari kantornya. Entah siapa yang mengirimnya Erik juga belum tahu. Hanya ada tertulis di kotaknya PENGAGUM RAHASIA
Zevin juga sebenarnya tidak mengerti siapa yang menaruh kotak itu di atas meja penjaga basemen, karena setiap Zevin ingin pulang kotak itu selalu diberikan penjaga itu padanya dan dia hanya mengatakan itu titipan untuk Erik.
Zevin juga malas mengecek CCTV, ia berfikir mungkin itu salah satu fansnya Erik. Di kantornya Erik menjadi objek pujaan kaum hawa karena sifatnya yang dingin dan tampan membuat wanita tertarik untuk menaklukkannya. Berbeda dengan Zevin, karyawan banyak segan karena gaya kepemimpinannya yang santai namun tetap tegas.
Zevin bukan sosok pimpinan yang kejam, dingin dan datar. Ia selalu bersikap pada orang sesuai tampilan sifat orang itu sendiri. Ia juga selalu membalas sapaan dari karyawannya meskipun wanita tapi Zevin tetap menjaga jaraknya pada para wanita di kantornya.
"Sayang sekarang kamu istirahat ya, beberapa hari ini kamu kurang tidur." Ujar Nazia membelai lembut rambut suaminya.
"Iya Cinta." Balas Zevin memang sangat mengantuk hari ini, ia sengaja cuti dan mempercayakan kantornya pada pak Ali.
Pak Indra cukup tahu jika putranya kurang istirahat selama tiga hari ini, jadi dia tidak keberatan berpisah pada pak Ali dalam beberapa hari. Asistennya itu sangat cerdas walau usianya tidak lagi muda.
"Al, jangan ke kantor dulu kita makan siang." Ujar Nazia .
"Iya Zia, maaf merepotkan kamu." Balas Alby lembut.
"Kami yang merepotkanmu karena ikut menjemput Erik." Balas Nazia.
"Tidak masalah, hitung-hitung menebus rasa bersalahku karena membiarkan Rara pulang tanpa kuantar malam itu." Ucap Alby.
"Jangan dipikirkan lagi, Kak. Aku baik-baik saja anggap itu musibah." Sahut Ralda.
Alby tersenyum menanggapi ucapan Ralda. Di sana tak hanya dirinya tapi juga ada ibu Felisya.
"Mama istirahat ya, aku bantu Kiki dulu menyiapkan makan siang." Ucap Nazia.
"Iya sayang."
Di ruang tengah Hanya tertinggal Ralda dan Alby. Mereka hening sejenak lalu kemudian Alby membuka mulutnya dan berkata. "Ra, besok sore kamu ada waktu?"
Ralda nampak diam sejenak. "Sepertinya besok jadwal di kantor tidak terlalu padat." Balasnya.
"Aku ingin mengajakmu jalan-jalan." Balas Alby penuh harap.
__ADS_1
"Baiklah, besok jemput saja aku di kantor." Balas Ralda.
Alby tersenyum senang.
...----------------...
Malam Hari....
Kediaman Alby Syahreza. Laki-laki itu baru saja menyelesaikan sedikit pekerjaannya yang tertunda siang hari tadi. Ia memang berniat ikut menjemput Erik di rumah sakit.
Alby melihat ibu Anggi duduk di ruang tengah sambil menonton tv. "Ma." Sapanya sembari duduk di samping ibunya.
"Bagaimana pekerjaanmu hari ini?" Tanya ibu Anggi. Semenjak pak Reza dipenjara sikap ibu Anggi sedikit pendiam.
"Semua lancar, tidak ada kendala apa pun." Jawab Alby menjatuhkan kepalanya dipangkuan ibu Anggi.
"Ada apa, hm?" Ibu Anggi membelai rambut putra nya penuh kasih sayang.
"Ma, maaf belum bisa membahagiakan mama selama ini. Aku banyak mengecewakan mama dan papa, khususnya papa. Aku tidak bisa membantunya." Ujar Alby lembut.
Ibu Anggi menghela nafas panjang. "Mama berusaha menerima ini semua, maafkan mama terlalu membiarkan papa mengaturmu. Hingga menjadikanmu salah langkah." Suaranya sedikit bergetar.
Alby kembali duduk lalu menggenggam kedua tangan ibunya dan berkata. "Aku sudah tidak seperti Alby yang dulu, Ma. Kejadian yang ku alami saat itu merupakan pelajaran berharga untukku. Mencampakkan Nazia adalah tamparan hebat yang menyadarkanku, tidak selamanya ambisi itu membuat kita di atas puncak kejayaan. Karena ambisi yang berlebihan itu bisa saja mengantarkan kita pada kehancuran." Ucapnya panjang lebar.
Ibu Anggi tersenyum. "Putra mama ternyata sudah dewasa."
"Ma, apa mama masih marah karena Zevin menjebloskan papa ke penjara?" Tanya Alby hati-hati.
"Tidak, waktu itu mama hanya terkejut. Mama tidak mengerti permasalahan sebenarnya. Sekarang mama tahu jika Zevin dan Nazia hanya korban dari keserakahan papamu. Mama ingin sekali meminta maaf pada Zevin tapi mama malu." Ucap ibu Anggi.
"Aku akan mempertemukan mama pada mereka secepatnya. Keluarga Zevin sangat baik, Ma. Jadi besok sore mama bersiaplah, aku akan mengenalkan mama pada seseorang." Balas Alby semangat.
"Kamu sering ke sana? Apa dia kekasihmu?" Tanya ibu Anggi.
"Iya, Ma. Aku sering ke sana. Aku akan menceritakan siapa Zevin pada mama. Tapi mama harus berjanji demi aku jangan menceritakan pada siapa pun karena Zevin tidak suka kehidupan pribadinya banyak yang tahu." Ujar Alby tersenyum.
"Ceritakanlah ! Mama janji, tidak akan menceritakannya pada siapa pun." Balas ibu Anggi.
"Zevin adalah putra tunggal Tuan Indra Jaya. Dia sengaja menyembunyikan indentitasnya sejak kecil agar tidak terlalu terbatas dalam langkahnya. Hanya beberapa orang yang tahu itu pun, dari sesama rekan bisnis dan kerabatnya. Ia membiarkan orang mengenalnya sendiri tanpa harus mengumumkan siapa dirinya." Cerita Alby.
"Benarkah ? pantas saja, waktu itu mama dengar dia memanggil tuan Indra dengan sebutan, Pa." Ujar Ibu Anggi.
"Mereka orang baik, Ma. Ibunya juga ramah." Balas Alby.
"Kamu kenal dengan ibunya juga?" Tanya ibu Anggi tak percaya.
"Iya, Ma. Tadi siang kami makan siang bersama di rumah Zev dan Zia." Balas Alby.
"Nak, bertemanlah dengan baik. Jangan seperti papamu !" Nasehat ibu Anggi.
__ADS_1
"Iya, Ma. Sekarang mama tidurlah ! Ini sudah malam." Ujar Alby.
Kini Alby bisa bernafas lega karena ibu Anggi tidak memiliki dendam pada Zevin.