
Kediaman Indra Jaya
Zevin masih terlelap di dalam kamar, ia baru saja tidur jam enam pagi ini. Semalaman Zevin tidak tidur, nampak sekali jika suami Nazia ini sangat lelah.
Di dapur Nazia tengah membantu asisten rumah tangga menyiapkan sarapan.
"Pagi Zi." Sapa Ivan. Pria ini nampak sudah rapi dan segar.
"Pagi, Van. Ayo sarapan !" Ajak Nazia.
"Apa kak Ralda dan kak Erik ketemu?" Tanya Ivan sambil menyeruput teh hangat miliknya.
"Iya, sekarang Ralda sedang tidur. Tolong antarkan sarapan ke rumah sakit ya. Tadi pagi jam 5 Papa dan Mama ke sana menemani Erik." Ujar Nazia.
"Baiklah, kamu siapkan saja nanti kubawa. Ah ! Zi, sini aku ingin mengelus perutmu ! Pasti saat ini dia sedang menendang." Ucap Ivan gemas.
Nazia mendekat dan membiarkan Ivan menempelkan tangannya di perutnya.
Ivan terkekeh. "Selamat pagi keponakan om jangan nakal ya." Ucapnya sambil mengelus-elus.
Tanpa disangka, suami manja Nazia ternyata bangun dan ia mengendap turun langsung memeluk istrinya dari belakang.
"Singkirkan tanganmu ! aku juga ingin merasakan tendangan bayi lku." Zevin melingkarkan tangannya di perut Nazia.
"Iih, Kak Zev ! Aku 'kan jarang menyentuh perut, Zi." Balas Ivan kesal. Tapi dihiraukan Zevin.
"Kenapa bangun? Masih jam tujuh sayang." Ucap Nazia.
"Aku harus ke kantor Cinta, Erik di rumah sakit dan Ralda juga butuh istirahat cukup." Zevin mengecup pipi Nazia.
"Zi, aku sudah selesai. Mana kotak makanannya?" Seru Ivan menyeka mulutnya menggunakan tissue.
"Baiklah nanti kuambil dulu." Nazia melepaskan lingkaran tangan Zevin di tubuhnya.
"Aku berangkat." Pamit Ivan setelah menerima kotak makanan dari Nazia.
"Hati-hati, nanti setelah Ralda bangun aku ke rumah sakit. Ada baju ganti juga buat mama dan papa." ujar Nazia. Ivan hanya mengangguk tanpa menjawab.
"Sayang aku mau mandi dulu." Seru Zevin.
"Baiklah, akan kusiapkan baju kerjamu." Nazia merangkul tangan Zevin untuk naik ke lantai atas. Usai mandi dan bersiap, Zevin dan Nazia turun untuk sarapan.
"Selamat pagi Kak Zev, Kak Zi !" Sapa Ralda terlihat sedikit lebih baik pagi ini.
"Pagi, Ra. Bagaimana luka di lehermu? Apa masih sakit ? Sudah diganti perbannya?" Jawab Nazia sekaligus bertanya.
"Iya sudah diganti, lumayan membaik, Kak." Balas Ralda.
"Syukurlah, sekarang ayo sarapan setelah ini kita ke rumah sakit gantian sama mama dan papa." Ujar Nazia.
"Nanti kamu juga ke kantor polisi untuk memberikan keterangan." Seru Zevin.
"Iya, Kak." Balas Ralda.
Usai sarapan mereka langsung ke rumah sakit di antar oleh Zevin dan Sopir pak Indra.
...----------------...
Alby uring-uringan karena ponsel Ralda tidak bisa dihubungi. Bahkan ia mencoba menelpon kembali pagi ini, namun masih belum juga tersambung. Alby sangat menyesal karena meminta orang suruhannya tidak mengikuti Ralda sampai pulang.
"Anda kenapa, tuan?" Tanya Jimmy. Sejak tadi ia bosan melihat Alby gelisah menggenggam ponsel di tangannya.
"Ponsel Rara tidak bisa dihubungi, sejak tadi malam." Jawab Alby cemas.
"Kenapa tidak telpon, Nona Zia atau dokter Zev saja?" Saran Jimmy.
__ADS_1
"Aku akan telpon Zevin saja, aku tidak mau dipenggal karena menelpon istri kesayangan pria aneh itu." Alby segera mencari kontak Zevin.
Jimmy terkekeh. "Saya juga kadang pusing jika berhadapan dengannya." Ia bergumam sendiri.
Alby menekan nama Zevin di layar ponselnya, cukup lama ia menunggu baru terjawab.
"Pagi Al, "
"Pagi, Zev. Aku hanya ingin bertanya kenapa ponsel Rara tidak bisa dihubungi?" Tanya Alby.
"Di mana ponselmu, Ra?" Tanya Zevin pada Ralda.
"Jatuh di mobil Erik, Kak." Jawab Ralda.
"Al, ponsel Ralda jatuh di mobil Erik. Sepertinya rusak, kamu belikan saja ponsel baru untuknya. Jam makan siang datanglah ke rumah sakit. Erik dirawat di sana." Ujar Zevin. Kapan lagi memeras Alby pikirnya.
"Apa ?! dirawat, kenapa?" Tanya Alby terkejut.
"Nanti kuceritakan." Jawab Zevin.
"Baiklah, aku akan datang." Balas Alby memutuskan telpon.
Di kantornya Alby sangat penasaran apa yang sebenarnya terjadi?
"Ada apa, Tuan?" Tanya Jimmy lagi.
"Erik dirawat di rumah sakit, jam makan siang Zevin memintaku datang ke sana. Sebelumnya kita beli ponsel untuk Rara lebih dulu." Jawab Alby.
"Apa yang terjadi?" Tanya Jimmy sedikit kaget karena sebelum lnya kondisi Erik baik-baik saja.
"Entahlah, Jim. Aku menyesal harusnya Jo tetap mendampingi Rara tadi malam tapi aku malah memintanya pulang bersamaku." Sesal Alby.
"Jangan menyalahkan diri anda tuan, kita tidak tahu apa yang terjadi?" Balas Jimmy.
Alby mengangguk lalu kembali mengerjakan kembali pekerjaannya.
...----------------...
Zevin menyempatkan membesuk Erik terlebih dulu sebelum pergi ke kantor.
"Mama, sama papa istirahat di rumah saja, biar aku yang menemani Erik." Kata Nazia seraya duduk di sofa bergabung bersama mertuanya.
"Kamu sedang hamil, Nak. Jangan lelah." Ujar ibu Felisya.
"Tidak lelah, Ma. Aku juga istirahat di sini. Sekarang sudah jam 8 pagi Mama dan Papa istirahat di rumah saja." Balas Nazia.
"Baiklah, kalau begitu. Nanti Pak Ali akan kemari menjemput Ralda untuk mendampingi ke kantor polisi." Ujar Pak Indra.
"Iya, Om. " Sahut Ralda.
Zevin bergabung bersama keluarganya duduk di sofa setelah melihat kondisi Erik. Sejak dirawat di rumah sakit Erik belum juga bangun.
"Sayang, minta Yudha mengirimkan hasil pemeriksaan Erik nanti ke e-mail ku. Sekarang aku ke kantor dulu ya. Hati-hati jangan bergerak berlebihan." Ucap Zevin mengecup kening Nazia dan memeluknya sebentar lalu mengusap perut istrinya.
"Hati-hati, pakai sopir saja. Jangan menyetir sendiri." Balas Nazia.
"Siap, Nyonya. Jam makan siang aku ke sini lagi." Zevin ke luar ruangan bersama kedua orang tuanya.
Di ruangan itu hanya tersisa Nazia dan Ralda. Mereka duduk dalam diam sejenak sambil memperhatikan wajah Erik yang lebam.
Pintu ruangan terbuka, nampak Rayya melangkah masuk beriringan dengan Yudha.
"Pagi, Zi." Sapa Yudha.
"Pagi kak, Pras." Jawab Nazia ramah.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka, Erik mengalami hal semacam ini." Seru Rayya sedih.
"Iya, Ay. Kasian dia." Balas Nazia.
Yudha langsung melakukan pemeriksaan pada Erik. Ia nampak serius melakukan pekerjaannya.
"Bagaimana denganmu?" Tanya Rayya pada Ralda.
"Aku lumayan membaik. Dokter Ay." Jawab Ralda.
"Apa, luka di lehermu dalam?" Tanya Rayya.
"Tidak, hanya tergores saja."
"Semoga cepat sembuh dan pamanmu itu akan mendapatkan hukumannya." Ujar Rayya sedikit geram.
"Aku berharap begitu. Ah, Kak aku ke luar dulu. Pak Ali telah menunggu di depan." Ucap Ralda mendapatkan pesan dari pak Ali.
"Iya, pergilah. Biar aku yang menjaga Erik." Balas Nazia.
Ralda mengangguk, lalu ke luar dari sana. Nazia dan Rayya, masih menunggu Yudha menyelesaikan pemeriksaannya.
Lima menit kemudian...
"Bagaimana kak, Pras?" Tanya Nazia.
"Sepertinya tangan kirinya terkilir, lihatlah bengkak sekali ! Dadanya memar tapi tulang belabarnya aman tidak ada retak. Dia hanya lelah dan demam tinggi. Sepertinya Erik memiliki ketahanan fisik yang bagus. Jika aku dikeroyok delapan orang itu, mungkin besoknya tinggal nama." Ujar Yudha sembari terkekeh.
"Dia sudah dididik oleh pak Ali, semenjak Zevin bertemu dengannya." Jelas Nazia.
Yudha mengangguk
"Semoga dia cepat sembuh."
"Tadi, Zev minta hasil pemeriksaan Erik di kirim melalui e-mail nya." Ucap Nazia. Di balas anggukan Yudha.
"Zi, aku harus ke ruang anak. Kamu ditinggal sendiri tidak apa-apa?" Seru Rayya.
"Tidak apa-apa. Ay, nanti Ralda juga kembali ke sini." Balas Nazia.
Rayya mengangguk. "Baiklah aku akan ke luar dulu." Pamitnya. Lalu di ikut Yudha.
Nazia duduk seorang diri di dalam ruangan itu, terdengar samar-samar suara Erik merintih di atas ranjang.
Nazia segera menghampirinya.
"Kamu bangun?" Ucapnya lembut.
Erik memperjelas penglihatannya lalu tersenyum pada Nazia. "Saya di mana Nona?"
"Kamu, di rumah sakit. Semalam setelah pembebasan Ralda. Kamu pingsan." Jelas Nazia.
Erik melebarkan penglihatannya. Hanya ada Nazia di sana. "Di mana kakak?" Tanyanya lemah.
"Di ke kantor polisi bersama Pak Ali." Jawab Nazia.
"Apa dia terluka?" Tanya Erik lagi.
"Luka, tapi hanya sedikit tak perlu cemas. Sekarang kamu minum dulu ya." Nazia meninggi kepala ranjang dan meraih gelas di atas nakas.
"Terimakasih Nona." Ucap Erik menerima gelas itu.
"Kamu jangan bergerak banyak. Beruntung tulangmu tidak ada yang patah, hanya terkilir lengan kirimu. Sekarang, kamu makan ya biar aku yang suapi." Ujar Nazia mengambil mangkuk bubur.
"Ta—tapi, Nona. Saya bisa sendiri." Sanggah Erik tidak enak hati.
__ADS_1
"Tubuhmu lemas, memegang gelas pun gemetar. Jadi jangan membantah ! " Balas Nazia tegas.
Erik hanya mengangguk patuh dan membuka mulutnya. Ia sedikit meringis karena bubur itu menyentuh bibirnya yang sobek. Nazia menyuapi Erik dengan telaten. Meski pun Erik canggung, tapi ia tetap menerima suapan dari Nazia. Dia pun tak menyangka jika dirinya akan tumbang setelah aksi pertolongan pada kakaknya.