
Angin malam menerpa lembut wajah tampan Erik. Ia menatap sang rembulan yang malu menampakkan dirinya malam ini. Tak lama rintik hujan bersenandung mengusik ketenangannya beberapa menit lalu.
Erik berpindah tempat duduk lebih menempel di tepi dinding yang remang. Bahkan alam pun seakan turut bersedih telah mengetahui, jika hatinya masih terkunci rapat bagai tembok berlapis kokok tak mudah dirobohkan begitu saja.
Erik bukan terpaku pada masa lalu cinta yang tak tersampaikan, namun memang hatinya masih belum terbuka untuk menjalin sebuah hubungan.
Ponsel Erik bergerak di atas meja tepat di hadapannya. Ia meraih ponsel itu ternyata ada pesan masuk untuknya.
Bisakah minta waktumu, temui aku besok jam empat sore selepas pulang bekerja di cafe depan kantor.
Erik menghela nafas berat, Maura wanita pintar dan baik hati. Entah kenapa ia tidak merasakan getaran sedikit pun saat wanita cantik itu mendekatinya
"Apa aku sudah mati rasa?" Erik bergumam pelan.
Tanpa disadarinya jika suami manja Nazia berdiri berpangku tangan mengamati air mukanya.
"Jika mati rasa, kamu tidak merasakan lezatnya makanan." Sahut Zevin sambil melangkah dan duduk.
Erik tersenyum tipis. "Aku berusaha memahami perasaanku sendiri, tapi aku tidak merasakan getaran atau debaran." Balasnya seraya menyeruput teh hangat di hadapannya.
Zevin bangkit dari tempatnya duduk lalu menengadahkan tangannya merasakan tiap tetesan air hujan mengenai telapak tangannya.
Ia bisa memahami perasaan Erik saat ini, Zevin pun pernah merasakan situasi seperti itu. Saat wanita yang kini menjadi ibu dari anaknya itu menunjukkan cintanya bertahun lalu dan dia tidak bisa melihat ketulusannya.
"Rik, hatimu milikmu. Jadi kamu tahu apa yang terbaik untuk hidupmu."
Erik mengangguk. "Aku bisa melihat ada ketulusan dari bola matanya. Tapi aku tidak bisa memaksakan hatiku. Karena aku tidak memiliki perasaan padanya. Aku tidak mau dia terluka lebih dalam." Ungkapnya dewasa.
Zevin setuju atas perkataan Erik. Mereka merubah topik pembicaraan mengenai pekerjaan. Hujan mulai reda tapi Zevin dan Erik masih saja berbincang.
Ponsel Erik bergetar kembali di atas meja. Tampil nama Alby di sana, ia segera menjawab telpon kakak iparnya itu.
"Iya Kak."
"Berikan ponselmu pada pria di sampingmu."
Erik memberikan ponselnya pada Zevin. Pria itu heran lalu menempelkan ponsel Erik di kupingnya.
"Ada apa, Al?"
"Lihat ke mari." Alby melambaikan tangannya.
Zevin dan Erik terkejut setelah bersamaan melihat ke balkon kamar Alby. Suami Ralda itu keluar menampakkan wajahnya putih menggunakan masker. Sepertinya ia baru saja memakainya karena masih bisa berbicara di telpon.
__ADS_1
"Kenapa wajahmu?" Tanya Zevin.
"Perawatan !" Jawab Alby santai.
"Jadi hanya ingin pamer padaku?" Zevin mulai kesal.
"Aa tidak, aku ingin minta sesuatu padamu."
"Katakan !" Titah Zevin.
"Besok pagi aku minta ikan di kolam belakang rumahmu. Rara ingin makan ikan yang dipancing dari kolam itu." Jelas Alby.
"Suami tanpa persiapan !" Ejek Zevin.
"Hei, aku suami siaga !" Balas Alby tak mau kalah.
"Buktinya kamu minta ikan di kolamku. Harusnya kamu memelihara sesuatu bermanfaat seperti yang kamu lihat di lingkunganku." Ucap Zevin bangga.
"Ya...ya... Kamu benar ! Sekarang kamu ijinkan tidak aku mengambil ikan di kolammu. Demi calon anakku ini." Rayu Alby.
"Ambil saja dua ekor. Satu untuk Ralda dan satunya untuk calon bayimu." Balas Zevin tersenyum.
"Tidak hanya konyol. Tapi kamu juga pria pelit." Gerutu Alby mematikan telpon. Padahal dia tahu jika suami Nazia itu hanya bercanda.
Zevin mengembalikan ponsel Erik ke atas meja. " Ambil ikan di kolam untuk Ralda besok pakai pancing. Dia ingin makan ikan di kolam belakang. Istirahatlah !" Ia menepuk pundak Erik lalu meninggalkan kamar itu.
"Sayang, sayang. Aku ingin perawatan." Rengeknya manja menggelayut di tangan sang istri.
Nazia menoleh ternyata dia tengah perawatan wajah. Istri Zevin ini selalu memperhatikan kesehatan kulitnya sejak dulu. "Perawatan?"
Zevin mengangguk. "Kenapa tidak mengajakku perawatan sayang. Ayo pakaikan aku masker wajah yang sama denganmu."
"Berbaringlah ! Kenapa mau perawatan tiba-tiba ? Biasanya kamu tidak mau hanya menggunakan sabun wajah." Ucap Nazia sembari menjepit rambut poni suaminya dan membersihkan wajahnya.
"Alby juga perawatan sayang. Nanti wajahnya lebih bersih dariku." Zevin mengatakan alasannya yang tiba-tiba ingin memakai masker wajah.
"Huff, ternyata kamu iri. Kamu akan selalu tampan di mataku meski kamu menua nanti." Tutur Nazia.
Zevin tersenyum membuang wajahnya malu. Tanpa dia tahu jika Alby hanya korban istrinya. Ralda ingin melihat suaminya itu memakai masker wajah. Tak hanya itu Alby juga korban makeup terbaru Ralda.
...----------------...
Kediaman Family Z
__ADS_1
Di kamar utama kediaman besar dan mewah itu. Zevin sedang bercanda pada sang putra. Baby Zayyan hari ini bangun pagi sehingga mengoceh sendiri dan membangunkan papanya.
"Sudah bangun ya, kenapa pagi sekali hari ini ? Biasanya putra papa bangun siang." Zevin bicara pada baby Zayyan. Bayi gembul itu tersenyum ketika papanya bicara. Kakinya di tendang-tendang ke atas.
"Kalian sudah bangun." Nazia tersenyum melihat pemandangan di atas kasur Zevin tengkurap bicara pada baby Zayyan.
"Sudah dari tadi. Hari ini dia bangun pagi."
Nazia melangkah menghampiri dua lelaki itu mengecup kening mereka bergantian. "Mandilah sayang, aku juga memandikan Baby Z di kamarnya. Pakaianmu sudah kusiapkan." Ujarnya seraya menggendong putranya ke kamar sebelah.
Zevin sengaja membuat kamarnya tembusan dengan kamar bayinya. Tapi baby Zayyan tetap tidur bersama mereka. Di kamarnya baby Zayyan hanya menumpang mandi. Dua lelaki kesayangan Nazia telah bersih, rapi dan wangi. Mereka bersiap turun kebawah untuk sarapan.
"Selamat pagi, Kak." Sapa Erik.
"Selamat pagi."
"Rik, bisakah kamu berhenti memanggilku Kakak ? Usiamu lebih tua dariku satu tahun" Seru Nazia.
"Tidak bisa, Kak. Itu aturan dari tuan manja ini." Tolak Erik.
"Benar sayang, kamu sudah jadi kakak iparnya. Jadi dia harus memanggilmu, Kakak. Meskipun usiamu lebih muda dari Ralda dan Erik." Jelas Zevin. Pria ini tidak mau Erik memanggil Nazia dengan namanya. Jadi, ia meminta Ralda dan Erik memanggil istrinya. Kakak ! Nazia hanya mendengus protes yang kesekian kalinya itu, tak pernah dikabulkan oleh Zevin.
"Baby Z. Hari tinggal di mana?" Erik bicara pada baby Zayyan.
"Hari ini jadwalnya ke rumah Kakek Indra." Sahut Zevin.
"Kak, Zev. Hari ini aku ke kantor naik mobil sendiri. Tidak apa-apa, 'kan?" Tanya Erik.
"Tidak apa-apa." Jawab Zevin disela suapannya.
"Aku ada janji bersama Maura. Dia meminta ku bertemu nanti sore."
"Baiklah." Balas Zevin.
Di saat mereka sarapan Alby datang membawa pancing. Pria itu tanpa basa-basi mengambil piring dan ikut sarapan.
Zevin hanya diam memperhatikannya, sungguh miris sekali nasib tetangganya itu. Selama kehamilan istrinya, Alby selalu ditindas oleh Ralda. Dalam artian Alby menjadi kelinci percobaan istrinya.
"Kamu tidak diberi makan, di rumahmu?" Zevin tersenyum mengejek.
Alby mengangguk sambil menyuap nasinya. "Sarapan ada, tapi aku tidak berselera dengan menunya. Maklumlah selera ibu hamil berbeda. Setelah ini aku akan memancing di kolammu."
"Ikannya sudah kupancing, Kak." Sahut Erik.
__ADS_1
"Benarkah ? Wah, terimakasih ! Jadi aku tidak perlu menunda bertemu klienku pagi ini." Ucap Alby girang.
"Lain kali, jika perlu bantuan jangan sungkan."