Suami Manja Dokter Zi

Suami Manja Dokter Zi
Bab Kenangan


__ADS_3

Zevin dan pak Indra mengunjungi pak Reza di sel tahanan jaksa sementara menunggu sidang. Rencana kunjungan mereka sengaja di undur, karena Zevin menemani Alby mengunjungi proyek mereka.


Mobil ditumpangi pak Indra dan Zevin telah tiba tempat rumah tahanan jaksa, ayah dan anak itu menjadi pusat perhatian orang sekitar. Tapi masih sampai saat ini belum banyak yang tahu hubungan keduanya. Sebagian orang berpikir jika Zevin adalah dokter pribadi keluarga Indra.


Zevin dan Pak Indra duduk di balik kaca pembatas menunggu pak Reza keluar dari dalam. Ayah dan anak itu mengedarkan pandangan mereka sungguh miris seorang direktur perusahaan cukup besar berakhir di tempat ini.


Pak Reza melangkah gontai menuju ruang temu lalu mendudukkan tubuhnya di kursi. "KAU !!" Ia terbelalak melihat sosok di balik kaca pembatas. Pak Reza tak menyangka dapat kunjungan dari Zevin.


"Bagaimana kabar anda pak Reza?" Tanya Zevin basa basi. Ia menatap iba bagaimana pun juga pak Reza adalah orang tua yang seharusnya menghabiskan waktu bermain bersama cucu dan keluarganya.


Pak Reza tersenyum sinis


"Kau puas menghancurkanku ?! Andai saja istrimu itu tidak keras kepala, aku tidak akan melakukan perencanaan pembunuhan terhadapmu. Dasar wanita rendahan ! Lebih sayang tanah itu ketimbang nyawa suaminya." Ia  meluapkan amarahnya.


"Menantuku wanita terhormat ! Jaga bicaramu Reza ! " Suara pak Indra menyadarkan pak Reza ada sosok lain di sana.


"Ka—kau ! Untuk apa kamu datang kemari ! Ingin menertawakanku juga ?!"


Pak Indra melayangkan tatapan membunuh. "Aku kemari untuk melihat secara langsung wajah orang yang ingin melenyapkan nyawa putraku. Pewaris tunggal keluarga Indra Jaya !" Suaranya terdengar lantang dan tegas.


"A—apa ?! Pu—putra ? Tidak mungkin ! Dia hanya dokter biasa." Pak Reza terkejut tak percaya.


Pak Indra merubah raut wajahnya dengan senyuman tipis. "Aku tekankan sekali lagi ! Sedikit saja kau menyentuh anggota keluargaku. Maka aku akan menghancurkanmu tanpa sisa. Ingat ! Kau terjerat masalah serius denganku ."


"Ma—maksudmu?" Pak Reza tampak pucat dan berkeringat dingin.


"Dua puluh sembilan tahun lalu, seorang tersangka korupsi di perusahaanku dan tentang kebocoran beberapa dokumen penting perusahaanku. Dia, adalah orang suruhanmu bukan?"


Pak Reza tertawa palsu. "Jangan sembarangan menuduh ! Kamu pun tahu pelakunya adalah asisten pribadimu sendiri, pak Heru." Ia berusaha mengubah curiga pak Indra.


Senyum pak Indra melengkung penuh lalu ia mengeluarkan ponselnya dan memutar rekaman yang ada di dalamnya.


📱Tuan Indra, maafkan saya. Sungguh, saya tidak tahu jika perbuatan saya di lemparkan pada Almarhum pak Heru yang tidak tahu apa-apa. Selama didalam sel saya tidak mengetahui pemberitaan luar seolah akses untuk itu tertutup. Saya ingin meluruskan sesuatu agar mengurangi dosa ini, Pak Heru tidak bersalah jika anda ingin membersihkan nama beliau saat ini, saya bersedia menjadi saksi**nya. Sebenarnya orang yang melakukan korupsi itu adalah saya untuk kepentingan pribadi. Dan juga membocorkan informasi  penting perusahaan. Saat itu ibu saya masuk rumah sakit bersamaan dengan putri pak Reza pemilik perusahaan ERIKA. Ibu saya membutuhkan banyak biaya. Di perkenalan singkat kami, Pak Reza menawarkan bantuan untuk membayar seluruh biaya rumah sakit, tanpa pikir panjang saya menyetujuinya karena tidak mungkin saya meminjam uang pada perusahaan sementara saya baru bekerja satu bulan,  ketika saya ingin mencicil uang yang saya pinjam. Pak Reza tidak mau menerimanya, dia meminta salah satu informasi tentang perencanaan atau gebrakan baru dari perusahaan anda. Dengan begitu ia menganggap utang itu lunas, Saya menyetujuinya tapi setelah ia mendapatkannya pak Reza malah meminta uangnya dikembalikan dengan mengancam akan melaporkan saya karena membocorkan informasi perusahaan ! Saya tidak ada pilihan lain selain mengalihkan keuangan perusahaan. Tapi pak Ardian mengetahui itu semua dan melaporkan saya. Hingga mengambing hitamkan Pak Heru. Tolong maafkan saya tuan. Saya juga sudah mendatangi ibu Mira untuk meminta maaf secara langsung**.📱


Pak Indra mematikan rekaman itu. Pak Reza kembali pucat dalam hati pak Indra sangat puas melihat wajah ketakutan rival bisnisnya itu.


" Namanya Rian ! Aku tidak mempermasalahkanmu waktu itu, karena ingin membersihkan nama pak Heru." Kata pak Indra.


Pak Reza diam seribu bahasa, ia memang memanfaatkan Rian saat ibunya masuk rumah sakit kala itu, bertepatan dengan Erika masuk rumah sakit di usia 2 tahun. Setelah perkenalan singkat mereka, niat jahat pak Reza datang begitu saja ingin menyaingi pamor seorang Indra saja di dunia bisnis.


Usai pertemuan itu, Zevin dan pak Indra berniat keluar dari tempat itu tanpa disangka mereka berpapasan dengan ibu Anggi dan Erika.


"Kau puas dokter !! Sudah merebut Zia dari putraku, sekarang kamu jebloskan suamiku di penjara." Ucap ibu Anggi penuh emosi.


"Apa putramu kurang memberikan pengertian padamu?"


"Aku tidak menyangka jika ada orang semacam anda dokter ! Kamu hanya mengalami kecelakaan bukannya mati. Tapi kamu tega menjebloskan papaku. Harusnya kamu bicarakan ini pada kami untuk mencari jalan damai." Ucap Erika juga tersulut emosi.

__ADS_1


"Aku juga tidak menyangka jika ada manusia seperti kalian yang tidak bisa menerima kenyataan ! Kasian Alby bersusah payah memberikan pengertian untuk kalian. Tapi kalian masih tidak faham." Ujar Zevin santai.


" Aku akan membalasmu dokter, Zev !" Ancam Erika.


"Jangan membuang waktumu untuk membalasku Nyonya Erika ! Jika tidak ingin bernasib sama seperti ayahmu. Lebih baik kau cari tahu investor asing yang menjanjikan keuntungan untuk ayahmu." Balas Zevin. Auranya berubah dingin dan datar tidak lagi santai dan hangat seperti tadi.


Erika mematung, Zevin bukan tipe pria yang mudah di ancam, ibu Anggi juga kehabisan kata-kata.


"Ayo, Pa ! Zi sudah menungguku." Kata Zevin melangkahkan kaki.


Erika dan Ibu Anggi melihat punggung Zevin dan Pak Indra yang telah menjauh. Ada rasa penasaran, apa mereka tidak salah dengar Zevin memanggil  pak Indra dengan sebutan 'Pa' ?


Pak Reza masih duduk di kursinya tak lama Ibu Anggi dan Erika juga masuk dan duduk.


"Bagaimana kabar Papa?" Tanya Erika sendu.


"Seperti yang kalian lihat." pak Reza memaksakan senyum.


Ibu Anggi sangat sedih melihat suaminya mengenakan pakaian yang bertuliskan nomor tahanan. Perasaannya teriris menatap wajah tua suaminya tidak lagi rapi.


"Papa sehat? Apa makanan di sini bersih?" Ibu Anggi menitikkan air mata.


"Papa sehat, Ma. Jangan menangis ! Makanannya juga bersih." Pak Reza tersenyum manis.


"Papa tenang saja, aku akan meminta suamiku untuk mencari Pengacara hebat untuk mendampingi papa. Aku akan membalas dokter itu, Pa." Kata Erika menggebu.


"Jangan cari masalah, tidak perlu mencari Pengacara. Biar Pengacara keluarga kita saja. Papa tidak mau perusahaan suamimu mengalami masalah. Jangan membalas dokter Zev dia bukan orang biasa."


Pak Reza menghela nafas panjang lalu berkata. "Dokter Zev memiliki bukti yang kuat dan dia bukan orang biasa. Turutilah kata-kata papa !"


Kita tidak mampu melawannya, dokter Zev adalah putra Indra Jaya. Pengaruh mereka sangat besar


"Tapi aku tidak bisa melihat papa di sini."


"Rika kamu dan mama tenang saja, papa akan urus ini bersama Alby ini memang kesalahan papa. Tak salahnya papa mempertanggung jawabkan semuanya." Pak Reza tersenyum menenangkan.


Erika dan ibu Anggi terdiam, mereka tak tahu harus berbicara apa lagi. Waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore.


"Pa, kami pulang dulu. Jaga kesehatan papa."


"Baiklah, hati-hati di jalan ! Ingat pesan papa jangan menyentuh dokter Zev karena efeknya sangat besar." Sekali lagi pak Reza memperingatkan.


...----------------...


Kediaman Ibu Mira.


Zevin dan Nazia berjanji akan menginap di rumah ibu Mira, karena besok mereka akan kembali lagi keluar kota. Mereka baru saja menyelesaikan makan malam. Tak lupa Nazia meminum susu hamil dan vitamin untuk kebutuhan calon bayinya.

__ADS_1


"Van, aku ingin makan roti bakar selai nanas ya." Kata Zevin secara tidak langsung memerintahkan pria gemulai itu.


"Kak Zev tidak kenyang?"


"Kenyang, tapi kepingin saja." Jawab Zevin tersenyum.


Tidak di mana-mana pria ini selalu menempel pada istrinya. Nazia juga bingung kenapa sekarang Zevin lebih manja dari sebelumnya.


"Sayang aku istirahat lebih dulu ya, kamu tunggu saja Ivan membeli rotinya ." Kata Nazia.


"Iya, aku juga ingin berbicara pada papa Radit."


Nazia masuk ke dalam kamarnya. Tidak langsung berbaring, ia mengitari isi kamarnya sampai pandangannya terhenti pada pigura di atas meja.


Ia meraih bingkai foto itu lalu menatap nya sambil tersenyum.


"Setelah kepergianmu, kukira kebahagiaan itu juga ikut terkubur bersama jasadmu. Tapi aku salah, bahagia itu masih ada tinggal bersamaku. Tuhan menggantikanmu dengan sosok orang lain yang memberikanku kebahagiaan lagi. Aku mencintainya !  Terimakasih ikut andil membahagiakanku. " Nazia meletakkan pigura itu kembali ke atas meja.


Ia membuka jendela kamarnya merasakan hembusan angin malam menerpa tubuhnya. Di atas sana, ada bulan yang bersinar terang. Nazia larut dalam lamunannya sambil menatap ketinggian langit, bukan tidak bisa menerima kenyataan atau tidak bisa melupakan Abel. Tapi Nazia memang tidak melupakannya dan ia juga bukan membagi cinta. 


Nazia memiliki cinta yang baru untuk suami manjanya bahkan rasa cinta itu lebih besar dari sebelumnya. Cinta yang berbeda masa. Cinta masa lalu Abel lah pemiliknya, maka cinta di masa sekarang Zevin pemiliknya. Mereka sama-sama mengisi hati Nazia tapi tetap berada di ruang hati yang berbeda dan menduduki singgasananya masing-masing.


Nazia bukan tak rela, ia sudah merelakan semuanya melepaskan kepergian tentara tampan itu dengan ikhlas. Tapi untuk kenangan dan cintanya masih tersimpan di bab yang lain dalam hidup Nazia, ia tidak ingin memaksa untuk membakar bab  kenangan itu hingga menjadi debu dan menghilang tertiup angin. Ia hanya berjalan dengan alur yang benar.


Lalu apa ada cinta yang sama besarnya untuk Alby sama seperti dua pria lainnya?


Cinta itu ada tapi tidak membekas lama dalam hatinya karena di akhiri dengan pengkhianatan Alby sehingga hati Nazia menolak menyimpan kenangan itu.


"Istriku kenapa melamun?" Zevin memeluk Nazia dari belakang. Ia juga membungkus tubuh istrinya itu dengan selimut tipis.


Nazia tersenyum lalu menyandarkan kepalanya di dada Zevin. Tangannya mendekap lingkaran tangan suaminya.


"Aku suka pemandangan langit malam ini."


Zevin mendongakkan kepalanya ke atas. "Benar sangat indah ! tapi tidak bisa mengalahkan indahnya wanita di pelukanku ini." Ia mengecup lembut pucuk kepala istrinya.


"Apa dia berada di antara ribuan bintang itu ?" Nazia menatap ke atas langit.


"Tentu ! Dia tersenyum menyaksikan kebahagiaan kita. Kamu tahu sayang ? Dalam doaku, selalu aku selipkan terimakasih untuknya karena telah sudi mencintai jodohku ini dengan tulus. Aku juga berterimakasih dia datang membawa banyak cinta untukmu dan merelakanmu untukku di saat terakhirnya." Zevin tersenyum jujur ia sangat bahagia memiliki Nazia saat ini.


"Terimakasih mencintaiku dengan tulus dan mengerti hatiku."


"Terimakasih juga menumbuhkan rasa cinta yang baru untukku. Dulu aku sempat berpikir apa masih ada rasa itu untukku? Atau semua punah terkubur bersamanya." Kata Zevin.


"Memang semua punah sudah terkubur bersamanya. Tapi aku menumbuhkan rasa baru di hatiku hanya untukmu. Bukan membagi cintaku untuknya padamu."


"Aku merasa spesial, pemilik cinta baru dan masa depan yang panjang bersamamu. Terimakasih sayang sudah memilihku dan mencintaiku." Zevin mengusap lembut perut Nazia.

__ADS_1


Kebahagiaanku berkali lipat karena bayiku juga hidup di rahimmu. Aku juga dapat merasakan kasih sayang dan cinta yang luar biasa darimu


Terimakasih buat readers yang masih mau mengikuti cerita ini. sampai bab yang sekarang🙏🙏🙏


__ADS_2