
Cuaca agak dingin selepas hujan di malam hari. Bau tanah dan pepohonan sekitar rumah Nazia menyisakan aroma khas tersendiri. Sedikit malas ia membuka kelopak matanya setelah alarm di atas mejanya berbunyi.
Aroma ini membawanya pada kenangan lama. Rasa rindu tiba-tiba bergemuruh begitu saja dalam dadanya. Hari ini ia tiba-tiba lesu dan merasa sedikit hampa. Entah apa penyebabnya Nazia belum tahu.
Kelopak matanya terbuka lebar, iris mata indah itu tertuju pada pigura berwarna emas di atas meja di sisi kasurnya. Mata teduh, senyum lembut dan rahang yang bagus, seolah menatapnya dari dalam kaca pigura itu. Memberikan senyuman yang menghangatkan.
"Apa kabar kamu di sana ? Apa kamu melihatku di sini?" Cukup lama ia memandangi foto Abel, sampai terdengar pintu kamarnya di ketuk.
"Masuk." Jawab Nazia.
"Kamu belum bangun?" Ivan duduk di tepi kasur.
"Sudah, hanya malas duduk."
Ivan tertawa. "Aku akan ke bandara menjemput Papa"
"Hm, hati-hati !"
Ivan keluar dari kamar Nazia karena bersiap ke bandara untuk menunggu kedatangan sang ayah.
...----------------...
Nazia sudah bersiap dengan pakaian kerjanya. Masih belum semangat melangkah menuju meja makan.
"Kamu kenapa, sayang?" Ibu Mira melihat ke wajah putrinya.
"Entahlah, Ma. Sedikit tidak bersemangat hari ini."
"Ada yang kamu pikirkan?" Ibu Mira mengambil nasi dan sayur.
"Tidak ada." Nazia menerima piring dari ibu Mira.
"Makanlah ! Kenapa Keluarga Zevin mengundang kita makan malam?"
"Katanya ingin berkenalan dengan keluarga kita."
Ibu Mira mengangguk. Keluarganya akan di undang di kediaman orang tua Zevin untuk makan malam.
...----------------...
Nazia baru selesai memarkirkan mobilnya, tak jauh darinya Zevin juga baru sampai. Pria itu buru-buru keluar dari mobil setelah melihat Nazia di sana.
"Zi, tunggu " Panggil Zevin berlari kecil.
Nazia menoleh kebelakang. "Kamu juga baru sampai?" Ia tersenyum hangat.
"Ya, apa tante Mira setuju dengan undangan makan malam dari keluargaku ?"
"Iya, tapi kenapa keluarga mu tiba-tiba mengundang kami? Bukankah, Tante Felisya tidak menyukai ku?" Nazia balas bertanya.
Zevin menghentikan langkahnya lalu berdiri menghadap Nazia. Iris matanya menyelami lekat bola mata indah di hadapannya itu. "Zi, maafkan mama. Sebenarnya dia wanita baik mungkin karena pengaruh lingkungan sosialnya merubah sedikit sudut pandang mama."
Nazia tersenyum. "Aku sudah memaafkannya, karena aku juga seorang wanita dan suatu hari nanti, aku juga akan menjadi seorang ibu. Setiap ibu di dunia ini ingin yang terbaik untuk anaknya."
Zevin tersenyum. "Ayo kita masuk ! Keluargaku hanya ingin mengenal keluarga mu lebih dekat."
Sambil berbincang mereka sudah sampai ke dalam, sekeras apa pun Nazia menghindar maka Zevin akan selalu menemukan cara agar bersamanya.
"Selamat pagi, Ay !" Sapa Nazia
"Pagi, Zi."
"Bunga siapa ini ?" Nazia menemukan kiriman bunga di atas mejanya.
"Entahlah, aku datang bunga itu sudah ada di sana."
Zevin mengambil bunga itu dari tangan Nazia dan memperhatikannya dengan teliti. Perasaannya sangat tidak senang. "Mau di ambil?" Tanyanya melihat pada Nazia.
__ADS_1
"Simpan saja di pot pojok sana." Tunjuk Nazia di sudut dinding.
"Kamu yakin ? Ini kiriman bunga untukmu." Zevin meyakinkan.
"Hm, aku tidak mengenal siapa pengirimnya."
Zevin tersenyum senang. "Sesuai permintaan mu, sayangku !"
Nazia merapikan mejanya lalu menghidupkan komputer di depannya. Mulai melihat dan membuka data-data pasiennya sambil mempelajari keluhan yang berbeda-beda.
Setelah menyimpan bunga tadi di pojokan Zevin keluar dari ruangan. Rayya dan Nazia saling pandang melihat pria itu keluar tanpa pamit seperti biasanya.
Cukup lama Zevin pergi sampai terdengar suara langkah seseorang membuka pintu "Cinta, ini bunga untuk mu." Ucapnya tersenyum sambil memberikan bunga.
Dokter cantik itu berdiri menatap heran pada si pembawa bunga. "Jadi kamu tadi keluar membeli bunga ini?" Nazia menghirup aroma bunga yang di berikan.
"Iya, karena kamu tidak menyukai bunga itu." Tunjuk Zevin ke pot bunga.
"Terimakasih, Zev ! Aku suka bunganya." Ucap Nazia masih mencium aroma bunga itu.
"Simpan di sini saja dulu." Balas Zevin tersenyum senang.
Aku tidak membiarkan kamu menyimpan bunga dari orang lain
Rayya ikut senang sebenarnya tahu jika Zevin tengah cemburu karena Nazia dapat kiriman bunga dari orang lain.
...----------------...
Alby tersenyum senang karena toko tempatnya memesan bunga pagi tadi sudah mengatakan jika bunga itu sudah sampai di meja Nazia. Kedatangannya ke rumah gadis itu waktu lalu memberinya sebuah pelajaran. Jika hati yang sudah tersakiti tidak mudah untuk disembuhkan. Alby akan memulai perjuangannya kembali, dengan cara membangkitkan kenangan lamanya bersama Nazia.
"Kamu pasti senang menerima bunga itu Zia, dengan perlahan aku akan membuka kenangan kita lagi yang telah kamu kunci rapat."
Tidak hanya itu, Alby juga mulai memantau aktivitas Nazia lagi, hampir tiap jam stalking akun Nazia. Dia lebih gila dari sebelumnya.
Jika dulu ia dapat dukungan penuh dari Jimmy, maka saat ini Alby harus berjuang sendiri. Karena Jimmy menolak terang-terangan tidak membantu perjuangan kedua nya.
"Jim, apa jadwal ku selanjutnya?"
"Baiklah."
Tangannya mulai menggeser tumpukkan dokumen yang di maksud Jimmy. Alby lebih bersemangat ingin menyelesaikannya, karena dia akan berusaha menemui Nazia lagi. Alby tidak akan berhenti sebelum mendapatkan maaf dari dokter cantik itu.
"Maafkan saya tuan, untuk kali ini saya tidak akan membantu anda memperjuangkan nona Zia lagi. Biarlah anda belajar dari sebuah kesalahan dan merasakan arti memperjuangkan kebahagiaan." Gumam Jimmy di dalam ruangan nya.
...----------------...
Sherin berdiri di atas balkon kamarnya. Merenungi perjalanan hidupnya. Apa saja yang telah dilaluinya hingga mengantarkannya dalam kehancuran.
Air matanya tiba-tiba keluar begitu saja membasahi pipi mulusnya. Kejadian yang baru saja di alami Sherin memberikan tamparan keras padanya. Untuk menjadi lebih dewasa dan bertanggung jawab, tangannya tergerak mengusap lembut perutnya yang masih rata.
Baru beberapa hari lalu Sherin memaki dan memukul janin yang ada di rahimnya. Meluapkan kekesalan dan amarahnya pada si calon bayi. Tapi hari ini, perasaan sayang dan ingin melindungi buah hatinya tumbuh begitu saja.
Kepala Sherin tertunduk ada lengkungan senyum tipis di bibirnya dan ia berkata "Kita lewati ini sama-sama sampai kebahagiaan itu benar-benar menjemput kita."
...----------------...
Nazia, ibu Mira dan Ivan sudah bersiap akan pergi memenuhi undangan makan malam dari keluarga Zevin. Rencana berubah yang awalnya makan malam di kediaman tuan Indra kini beralih di sebuah restoran mewah.
"Van, apa papa mu jadi ikut?" Tanya ibu Mira.
"Seperti nya tidak, Ma. Papa menghadiri undangan temannya"
"Baiklah ayo berangkat." Ajak Ibu Mira.
Nazia dan Ivan bersamaan mengangguk. Mereka berangkat menaiki mobil Ivan. Bersenda gurau di perjalanan akhirnya mereka sampai di restoran tempat janji temu.
Tak jauh dari sana Zevin berlari kecil menghampiri mobil Ivan. Pria itu sengaja menunggu di luar.
__ADS_1
" Zi." Sapa Zevin senang.
Sesaat Nazia terpana, sering melihat Zevin berpakaian kasual tapi untuk malam ini dia berbeda. Zevin begitu tampan dengan pakaian yang dikenakannya.
"I—iya, Zev. Kamu kenapa di luar?" Nazia terbata.
"Menunggu mu ! Selamat malam. Tante. "
"Malam, Zev."
"Ayo masuk ! Papa, mama dan kakek sudah di dalam." Ajak Zevin.
"Ayo."
Zevin menarik tangan Nazia ke genggamannya, pria itu sangat bahagia malam ini. Selain ajakan makan malam. Zevin juga meminta tuan Indra mengatur perjodohan untuknya dan Nazia.
Gadis itu berusaha melepaskan tautan jari Zevin di tangannya. Tapi dokter tampan itu sangat kuat menggenggamnya.
"Zev, lepaskan tanganmu ! Bagaimana jika orang tua mu melihat ?" Bisik Nazia.
"Biarkan saja, cinta."
Ivan menggandeng tangan ibu Mira melangkah di depan Nazia dan Zevin. Sepuluh langkah masuk kedalam, ibu Mira menghentikan langkahnya saat melihat sosok tegap duduk di balik meja.
Raut wajah ibu Mira berubah drastis begitu juga dengan pak Indra, ibu Felisya dan kakek Ardian.
"Kenapa, Tante?" Tanya Zevin bingung.
Pak Indra keluar dari kursinya dengan sorot mata tak bersahabat. Keadaan tiba-tiba hening, cukup lama mereka berada dalam situasi itu. Selain para tetua anak muda yang bersama mereka tidak mengerti kebungkaman para orang tua ini.
Zevin mengalihkan pandangannya pada sang ayah. "Ada apa, Pa ?Kenapa kalian diam seperti ini?" Bingung dengan situasi yang terjadi.
Ibu Mira menarik tangan Nazia dan Ivan. "Ayo Nak kita pulang !" Suaranya terdengar berat dan bergetar.
Dua anak manusia itu mengangguk patuh tanpa bersuara karena mereka menangkap gelagat tak biasa pada ibu mereka.
"Tante jangan pulang ! Jelaskan padaku, kalian kenapa?" Zevin semakin bingung dan penasaran.
Pak Indra melangkah menghampiri Zevin tapi matanya tak berpindah dari wajah ibu Mira. "Sepertinya papa setuju pendapat mama mu, jauhi mereka !"
Zevin tersentak. "Apa ? Jangan bercanda, Pa !" Nada suaranya sedikit meninggi
Ibu Mira berpaling tanpa berniat mengeluarkan kata-kata. Tangannya menarik tangan Nazia dan Ivan keluar dari restoran.
"Tante tunggu !" Zevin mengejar Ibu Mira.
"Mira." Panggil ibu Felisya ikut mengejar.
"Ma, berhenti di situ !" Suara pak Indra menghentikan langkah istrinya.
Ibu Mira tak menggubrisnya terlebih telaga bening di wajahnya tumpah ruah seiring langkah kakinya melangkah.
"Tante" Zevin menghadang langkah.
Ibu Mira melihat ke wajah Zevin lalu tersenyum dalam tangisnya. "Cukup berteman saja pada Zi jangan mengharap lebih ya." Menepuk pundak pria tinggi itu.
Zevin terkejut. "Apa maksud tante ? Aku mencintai, Zi. Dan aku tidak tahu permasalah tante dan orang tuaku."
"Tante sayang padamu, tapi patuhlah pada ayahmu. Tuan Indra bukan orang yang bisa kamu anggap remeh" Ibu Mira melangkah masuk ke dalam mobil.
Ivan juga menyusul tanpa sepatah kata pun. Pikirannya berkecamuk melihat wanita tua separuh nafasnya itu menangis, belum pernah melihat ibu Mira menangis seperti saat ini.
"Zi, jangan pulang. Kita tanyakan pada papa. Ada masalah apa sebenarnya?" Zevin menahan pergelangan Nazia dengan tatapan bingung.
Dokter cantik ini tersenyum lembut. "Tugasmu menanyakan orang tuamu dan aku akan bertanya pada mama, jika memang masalahnya berat belajarlah menerima kenyataan bawah aku dan dirimu berbeda."
Zevin terdiam di tempat nya berdiri melihat hampa mobil Ivan yang meninggalkan halaman restoran. Tanpa terasa buliran air matanya keluar begitu saja, mewakili perasaan sesak di dadanya
__ADS_1
Sesulit itukah mendapatkan wanita pujaan hatinya ? Tangannya mengepal erat meluapkan emosinya.
"Aku tidak perlu persetujuan papa !" Ucapnya geram.