
Terkurung di dalam ruang kantor gedung bertingkat. Kadang para karyawan tak menyadari jika sore sudah menyambut.
Erik melirik jam di tangannya, ia tersentak waktu telah lewat dari jam janji temunya. Kesibukan telah merenggut fokusnya. Hingga hampir saja melupakan janji yang dibuat Maura.
Erik tergesa-gesa merapikan meja kerjanya, bahkan dirinya tak berpamitan secara langsung pada Zevin. Bukan karena ia antusias dengan janji itu. Tapi memang Erik tidak suka ingkar janji.
Erik berlari kecil menuju basemen. Ia segera memasuki mobilnya dan meninggalkan kantor. Setiba di kafe, Erik melihat ke segala sudut. Matanya menangkap sosok Maura duduk sendiri di pojokan.
Erik menghampirinya dan menarik kursi duduk berhadapan dengan Maura. "Maaf saya terlambat." Ucapnya seraya duduk di kursi.
Maura tersenyum. "Tidak masalah, hanya lima belas menit."
Suasana menjadi canggung. Erik tidak tahu apa yang harus di bahas. Maura sejak tadi hanya memperhatikan wajah tampan di depannya. Bibirnya selalu tersenyum tanpa henti.
"Ehm ! Sudah pesan makanan?" Erik berusaha memecahkan sunyi dan kecanggungan mereka berdua.
"Sudah, aku juga memesan makanan kesukaan mu." Balas Maura. Ia merubah gaya bahasanya agar lebih akrab.
Erik tiba-tiba merasa risih dengan sikap Maura. Ada perbedaan wanita di depannya dan wanita yang telah meninggal dua tahun lalu.
Wanita itu bernama Della, Berhati lembut dan ramah. Tidak terlalu cantik tapi manis. Selalu memberikan dukungan untuk Erik di setiap kesempatan. Meski pertemuan itu hanya satu tahun. Tapi cukup memberi kesan yang mendalam untuk Erik.
"Apa yang ingin anda bahas?" Setelah lama terdiam Erik buka suara.
Senyum Maura meluntur karena Erik belum juga luluh. "Bisakah, kita menggunakan bahasa aku dan kamu ? Biar lebih akrab." Tawarnya
Erik terdiam tanpa menjawab. Dalam hatinya tiba-tiba dongkol. Karena wanita di depannya ini bertele-tele. Tapi ada baiknya juga jika mereka menggunakan bahasa yang di maksud Maura. Jadi Erik tidak seperti bicara pada klien.
"Aku minta maaf jika hadiah yang kuberikan mengganggu mu."
"Makanan datang." Kata Erik, membuyarkan konsentrasi Maura dalam menyusun kata-kata.
Maura mengangguk dan tersenyum masam. Erik meraih sendoknya dan mulai memakan makanannya. Tak tahu jika wanita di depannya itu telah kehilangan semangat.
Setelah makan Maura kembali fokus pada tujuan utamanya. "Erik, aku ingin bicara serius denganmu." Ia memandang lekat
__ADS_1
"Silahkan bicara saja. Aku akan mendengarkanmu." Balas Erik santai. Ia juga menatap lawan bicara itu.
"A—aku benar menyukaimu. Sejak lama perasaan ini kusimpan dan saat ini aku tidak bisa menahannya untuk tidak memberitahumu. Aku mencintaimu Erik." Kata Maura bernafas lega ibarat kulit tertusuk duri dan duri itu bisa keluar.
Erik meletakkan ponselnya di atas meja. Lalu melipat kedua tangannya duduk tegap menghadap Maura. Dia tidak langsung menjawab namun menelisik ke dalam bola mata Maura mencari celah dusta disana. Sayangnya Erik tak menemukannya.
Pria dingin itu menghembus nafas perlahan dan berkata. "Aku tahu kamu tulus padaku. Terimakasih atas keberanianmu hari ini. Terimakasih juga atas perhatian dan rasa perdulimu padaku. Maura... Maaf, aku tidak ingin kamu terluka lebih dalam. Karena aku tidak bisa membalas perasaanmu itu."
Perasaan Maura serasa diremas kuat. Sakit, kecewa bercampur jadi satu. Bola matanya memanas tak menyangka respon seperti ini yang didapatnya. Cukup lama ia terdiam menekan perasaannya agar tidak meluap keluar karena luka yang baru saja tertoreh.
Erik dapat melihat tatapan luka itu. Namun dia juga tidak mau memberikan Maura harapan palsu. Bisa saja Erik menerima Maura saat ini dan belajar mencintainya. Tapi sebuah hubungan bukan ajang coba-coba. Erik percaya pada sebuah kata. Jika memang berjodoh maka akan dipertemukan kembali. Entah dimana dan dalam kondisi apa ? Hanya Tuhan yang tahu rahasia itu.
Lebih baik sekarang Maura merasakan sakitnya ditolak dari pada harus menjalani hubungan dalam kepura-puraan bersama Erik. Karena pria itu tidak bisa bersandiwara untuk pasangannya agar terlihat bahagia.
"Apa yang membuatmu tidak memiliki perasaan yang sama padaku, boleh aku tahu alasannya?" Tanya Maura setelah beberapa menit bungkam.
"Saat ini aku belum terpikir untuk menjalin hubungan dengan seorang wanita." Jawab Erik jujur.
"Apa ada masa lalu yang menyakiti hatimu? Sampai kamu tidak mau membuka hati untuk wanita." Tanya Maura lagi.
Erik terdiam lalu tersenyum tipis. "Aku tidak memiliki masa lalu yang serius tentang wanita." Jawabnya pendek.
"Kenapa tidak mencobanya padaku?" Maura masih berusaha membuka hati pria di depannya ini.
"Aku tidak mau kamu terluka setiap hari. Aku juga tidak bisa memperlakukanmu seperti yang kamu inginkan. Karena perasaanku memang tidak ada." Tutur Erik menatap sendu.
"Apa perhatianku padamu selama ini tidak membekas di hatimu?" Maura menitikkan air matanya.
"Semua yang kamu tunjukkan aku menghargai itu. Aku tahu kamu tulus, Kamu pantas bahagia Maura. Walau tidak bersamaku. Jangan menungguku, karena aku tidak bisa menjanjikanmu apa-apa." Balas Erik lembut.
Maura terdiam, air matanya semakin deras. Beruntung pengunjung tidak ada lagi yang datang. Karena Zevin mengirim seseorang untuk membooking kafe itu tanpa sepengetahuan Erik. Tepat jam empat sore sesuai janji temu Erik dan Maura. Tak tanggung-tanggung Zevin meminta orang suruhannya menunggu hingga Maura dan Erik bertemu disana baru meninggalkan kafe itu.
Keduanya duduk membisu. Erik sengaja menunggu Maura tenang. Erik tahu wanita itu terluka karena penolakannya. Tapi Erik juga tidak mungkin menerimanya karena merasa iba atau hanya karena ingin menyenangkan hati Maura saja. Sementara mereka menjalankan hubungan itu nanti tanpa adanya kenyamanan.
"Maafkan aku." Ucap Erik setelah Maura terlihat tenang.
__ADS_1
"Aku juga minta maaf tidak seharusnya aku memaksakan perasaanku. Sudah hukumnya ketika kita mengungkapkan perasaan mendapatkan jawaban ditolak atau diterima." Maura memberikan sedikit senyuman.
"Kamu benar. Sekali lagi aku minta maaf." Ucap Erik tak enak hati.
Maura mengangguk dan tersenyum meski sakit tapi ia harus menerimanya. "Walau kita tidak menjadi sepasang kekasih, tapi kita masih bisa berteman. Bersikaplah seperti biasa jika kita sedang di kantor. Anggap saja hari ini gurauan senja." Balasnya dewasa dan sedikit dibumbu candaan.
Jika saat ini kamu belum bisa jatuh cinta padaku. Maka biarkan aku serakah sekali ini saja dalam doaku semoga Tuhan memahatkan namaku di hatimu.
"Ya, kita bisa berteman. Anggap juga pria di hadapanmu ini adalah pria terbodoh karena menolakmu. Hari sudah gelap. Ayo kuantar pulang." Ajak Erik.
"Baiklah. Terimakasih telah meluangkan waktu menemuiku." Ucap Maura tulus.
...----------------...
Kediaman Family Z
Sebelum makan malam, Erik sudah tiba di rumah. Wajahnya nampak lelah tapi di balik itu ada kelegaan yang terpancar di wajahnya
"Mandilah, kita akan malam." Kata Nazia
"Iya,"
Beberapa menit menunggu Erik. Kini mereka makan malam bersama. Usai makan malam keluarga kecil itu bersantai di ruang keluarga.
Tanpa disangka, pak Indra dan ibu Felisya datang untuk menginap. Tak mau kalah ibu Mira dan dokter Radit juga ikut hadir. Seperti diundang orang-orang tersayang mereka meramaikan kediaman Zevin.
Canda tawa menggema di ruang keluarga. Selain baby Zayyan yang jadi puncak kebahagiaan mereka, ada juga Ivan dan Alby yang merusuh ketenangan Zevin.
Bahkan suami Nazia itu sejak tadi menempel di sisi istrinya. Karena Yudha selalu menggoda Nazia.
Erik tersenyum haru dan matanya memancarkan kaca-kaca air mata. Keluarga yang tak disangkanya merengkuh dia dan Ralda menjadi sebuah keluarga yang hangat. Meski tak sedarah tapi keluarga Indra memperlakukan mereka sama seperti Zevin putra mereka. Hal sama pun dilakukan Zevin, ia sangat bahagia memiliki Erik sudah dianggap sebagai adik laki-laki.
Mereka berdua saling mendukung layaknya saudara kandung. Dari panggilan Tuan sampai berubah menjadi kakak.
Hari semakin larut tapi canda dan tawa itu belum usai. Erik duduk di ujung sofa memperhatikan tawa yang menghiasi wajah semua orang yang hadir disana.
__ADS_1
Papa. Mama, Tuhan mengirim mereka untuk ku dan kakak. Lihat putri mama sekarang hidup bahagia ! Jangan bersedih lagi kami baik-baik saja di sini. Mereka menghujani kami dengan banyak cinta dan kasih sayang. Diri Mama dan Papa hidup dalam jiwa mereka.
Erik tersenyum lebar tanpa beban.