Suami Manja Dokter Zi

Suami Manja Dokter Zi
Alby Ralda


__ADS_3

Satu Minggu berlalu, usai penangkapan Sherin. perusahaan Pak Toni juga pelan-pelan menurun dengan sendirinya.


Alby telah mengambil cuti karena mendekati hari pernikahannya. Segala persiapan hampir rampung.


...----------------...


Hari Pernikahan  Alby


Sepasang pengantin baru ini, menyambut tamu mereka dengan senyum bahagia. Beberapa jam lalu Alby dan Ralda resmi menyandang status suami dan istri.


Saat ini adalah acara puncak pernikahan mereka, Alby dan Ralda berdiri di atas panggung pelaminan di acara resepsi mereka berdua. Di sudut gedung sana ada sesosok laki-laki menyendiri dari keramaian, menatap penuh haru pada pengantin wanita yang tengah tersenyum berfoto bersama teman-teman kantornya.


Dia adalah Erik, mata dan hidungnya merah sejak tadi, air matanya begitu nakal terus menerus keluar. Bukan ia bersedih, namun karena bahagia. Perjalanan hidup sang Kakak di sayanginya ini akhirnya menemui kebahagiaannya sendiri


"Hei, berhenti menyendiri" Zevin menepuk pundak Erik dan duduk di sebelah nya.


"Aku tak menyangka, akhirnya Kak Ralda bisa hidup bahagia. Andai malam itu kita tidak bertemu, apa mungkin Kakak sekarang tersenyum bahagia di atas sana?" Kata Erik memandang lurus ke arah pelaminan.


"Selanjutnya kamu. Apa tidak penasaran sama fans mu itu? Semenjak dia mengirim hadiah itu, hampir tiap hari kamu dapat kiriman  yang berbeda-beda." Sambung Zevin. Ia sengaja mengalihkan pembicaraan itu, agar Erik melupakan masa tersulitnya.


Erik tersenyum tipis dan berkata


"Penasaran? Ya, aku memang penasaran. Orang ini adalah orang kedua yang sangat tahu aku selain anggota keluarga." Ungkapnya.


"Itu tandanya, dia tidak main-main." Ucap Zevin.


"Entahlah, mungkin dia terlahir sebagai sosok baru." Erik menenggak minumannya di atas meja.


"Sosok Baru?" Zevin penasaran. Untuk pertama kalinya ia penasaran karena selama ini Zevin tipe tidak ingin tahu masalah pribadi orang lain.


Erik menggoyangkan gelasnya sembari berkata. " Dulu ada seorang wanita, dia tidak terlalu cantik. Tapi dia manis tidak bosan jika memandangnya. Dia begitu hangat dan lembut, kami sangat dekat ditahun pertama kuliah. Dia tipe wanita penyabar, sangat tahu tentang aku sekecil apapun padahal kami baru mengenal satu tahun." Cerita Erik.


Zevin tersenyum dan berbinar. "Di mana dia? Ayo aku akan melamarnya untukmu." Ucapnya bersemangat.


Erik tertawa melihat wajah Zevin. "Di tahun kedua aku mulai jarang masuk kuliah, karena harus bekerja. Paman selalu mengancamku jika tidak memberikannya uang maka dia akan menjadikan Kakak sebagai mesin uangnya. Aku bekerja menjadi buruh kasar, mulai saat itu lah aku  tidak pernah bertemu dengannya lagi. Beberapa tahun belakangan, aku mencarinya. Tapi...." Erik menggantung ceritanya berusaha menekan perasaan sedihnya. Namun Erik juga tidak bisa menyimpannya sendiri.


"Tapi apa?" Tanya Zevin.


"Setelah tahu keberadaannya, ternyata dia sudah meninggal dua tahun lalu karena kecelakaan." Sambung Erik.


Zevin menghela nafas berat. "Jadikan kenangan yang indah dan jangan lupa membuka lembaran baru dalam hidup. Jangan jalan di tempat kita harus bergerak maju." Saran Zevin.


"Iya, Kak. Terimakasih atas semuanya." Ucap Erik tulus.


"Satu pesanku, jika saat ini kamu belum bisa membuka hati untuk wanita. Jangan pernah bermain wanita, Karena siapa pun jodohmu nanti dia juga berhak mendapatkan dirimu yang masih suci. Sama seperti kamu yang ingin mendapat istri yang masihsuci." Kata Zevin.

__ADS_1


Erik mengangguk, lama mereka larut dalam perbincangan. Hingga Zevin sadar akan keberadaan istrinya di tengah Ivan dan Yudha.   Zevin segera berdiri menghampiri istrinya, ia tak rela jika Ivan bermanja-manja pada Nazia. Di meja itu Ivan dan Nazia memakan kudapan dalam satu piring di ikuti juga oleh Yudha. Tapi bedanya Nazia dan Ivan saling suap.


"Sayang aku juga mau." Zevin menggeser tubuh Ivan.


"Kamu kemana saja?" Nazia menyuapi kue dengan tangannya ke mulut suaminya.


Zevin tersenyum menang. Jika tadi Ivan mendapatkan suapan dari Nazia hanya dari sendok. Maka Zevin mendapatkan suapan langsung dari tangan lembut sang istri.


"Aku duduk bersama Erik." Balas  Zevin.


Ivan menggerutu karena, kebersamaannya terganggu.


"Zi, minggu depan Mama sama Papa kembali ke sini sepertinya sampai kamu melahirkan. Papa sudah pensiun" Kata Ivan.


"Benarkah? kenapa Mama tidak menelponku?" Balas Nazia.


"Kamu telpon saja nanti." Ucap Ivan.


Yudha hanya menyimak sambil membuka ponselnya. Zevin juga diam menikmati tiap suapan istrinya.


"Sayang kamu sudah makan?" Tanya Zevin.


"Iya," Balas Nazia.


"Aku lapar." Wajah Zevin menggemaskan sekali.


"Jangan sayang, biar Ivan saja." Zevin memberikan tatapan memohon pada pria kemayu itu.


Ivan menoleh pada Zevin.


"Baiklah, akan ku ambilkan. Jangan beralasan karena keponakanku lagi." Ia bergegas berdiri.


Zevin terkekeh, menyuruh Ivan adalah hal yang menyenangkan untuknya.


...----------------...


Kediaman Double Z


Setelah pulang dari pesta Ralda dan Alby. Pak Indra dan Ibu Felisya memutuskan menginap di rumah Zevin dan Nazia.  Mereka berkumpul di halaman belakang rumah Zevin.


"Nak, benar Papamu pensiun? Tanya Pak Indra pada Ivan.


" Iya, Om. Mereka akan menetap di sini sampai Zi melahirkan." Jawab Ivan.


"Syukurlah." Balas Pak Indra.

__ADS_1


Karena malam telah larut. Mereka memasuki kamarnya masing-masing.


"Sayang, kamu sudah bersih-bersih?" Tanya Zevin.


"Iya." Jawab Nazia.


Zevin mendekat meraup bibir istrinya sejenak. Lalu tersenyum dan berkata.


"Luruskan kakimu, sini biar kupijit." Ucapnya lembut.


Nazia menyentuh pipi Zevin menatap lekat bola mata hitam suaminya ini.


"Tidak perlu sayang, kamu juga lelah. Sekarang istirahatlah."


Zevin menggeleng. "Memang lelah tapi tak seberat kamu." Ia menarik kaki Nazia dan mulai memijitnya.


Nazia tersenyum. "Besok kamu ada meeting? Atau bertemu klien?" Tanyanya


"Sepertinya tidak,  kenapa ?" Balas Zevin.


"Temani aku jalan-jalan besok pagi." Ucap Nazia.


"Tentu Cinta, Nah sudah cukup. Ayo tidur !" Zevin menarik selimut dia juga segera berbaring memeluk istrinya.


Jika dikediaman Zevin semua orang berlayar dalam mimpi, maka lain halnya di kamar pengantin Alby dan Ralda.


Mereka baru saja membersihkan diri, Alby tersenyum bahagia melihat Ralda begitu cantik setelah membersihkan riasannya.


"Sayang sini !" Alby menepuk sisinya duduk.


Ralda mendekat. "Ada apa? Kamu lapar?" Tanyanya lembut


"Tidak, setelah kita pulang bulan madu. Kamu mau tinggal sendiri atau satu rumah sama Mama ?" Jawab Alby sekaligus bertanya.


"Kalau aku boleh memilih, aku ingin kita tinggal sendiri. Kita juga bisa mengunjungi rumah Mama atau Om Indra." Jawab Ralda.


"Sesuai kemauan mu, ayo tidur kamu pasti lelah. Kamu harus menyiapkan tenagamu saat kita pergi bulan madu." Alby mengedipkan matanya tersenyum.


Ralda menunduk malu.


"A—ayo tidur." Ucapnya terbata.


Alby menarik tubuh Ralda, ia tersenyum tubuh istrinya nampak kaku dan gemetar di pelukannya.


"Tenanglah, aku tidak akan meminta hakku malam ini. Aku akan membuka segel kepemilikanku itu saat kita tiba di sana." Ucap nya vulgar.

__ADS_1


Ralda menenggelamkan wajahnya di dada suaminya, merasa malu atas ucapan Alby.


__ADS_2