
Seperti hari-hari sebelumnya, Erik pergi ke kantor bersama Zevin. Namun ada yang berbeda beberapa minggu ini. Setelah pembicaraannya dengan Maura waktu itu. Erik tidak lagi mendapatkan paket hadiah. Tapi mendapatkan perhatian itu secara langsung.
Maura sering mengirim makanan atau camilan untuk Erik. Ia juga tak ragu menunjukkan rasa sukanya pada pria berwajah datar itu. Sifat Zevin dan Erik tertukar. Jika kebanyakan bos berwajah datar maka lain hal nya dengan mereka berdua. Di sini Erik lah berwajah datar dan Zevin berwajah ramah. Namun siapa sangka wajah ramah Zevin hanya pada orang tertentu saja. Dia tipe pria sulit ditebak.
"Selamat pagi Tuan Zev, Tuan Erik." Sapa Maura tersenyum.
"Selamat pagi Maura." Zevin menoleh sebentar.
Erik hanya mengangguk seperti biasa tanpa menjawab dan tersenyum. Ia sudah berusaha membiasakan diri dengan segala perhatian Maura, tapi tetap saja di hatinya masih terkunci rapat.
Maura tak ingin patah semangat, dengan macam cara ia menunjukkan rasa perhatian dan sukanya pada Erik. Meski pria itu tak meresponnya sedikit pun.
"Haris kirim jadwalku !" Titah Zevin berlalu melewati meja sekretaris.
"Baik tuan."
Erik memasuki ruangannya yang berhadapan dengan meja Haris. Mereka rekan yang baik selama bekerja. Apapun kesulitan Zevin mereka cepat tanggap membantu. Hal sebaliknya pun sama jika mereka dalam kesulitan Zevin turun tangan secara langsung membantu mereka.
Seperti saat ini, Zevin menggaji seseorang untuk merawat ibu Haris yang lumpuh di rumah. Agar Haris bekerja maksimal tidak terlalu terpikir dengan ibu yang di tinggalkannya di rumah. Haris sangat terbantu dengan itu semua. Ia dapat bekerja dengan fokus dan mempercayakan ibunya pada perawat yang digaji oleh Zevin.
Haris masuk ke dalam ruangan Zevin setelah mendapatkan izinnya. "Tuan, jam sembilan pertemuan dengan klien dari kota B didampingi oleh tuan Dias. Klien ini ingin melihat rancangan terbaru dari perhiasan anda." Haris menyampaikan email dari kantor sebelah.
Zevin menutup dokumen yang pegang lalu berkata. "Baiklah, saya akan pergi ke sana. Kamu sampaikan pada Dias agar membawa contoh sketsa nya dengan hati-hati. Meski selembar kertas tapi nilainya miliyaran rupiah."
"Baik Tuan."
"Jika ada tamu, katakan saya sedang keluar. Bila tidak terlalu penting putuskan sendiri seperti apa baiknya. Saya percaya padamu." Zevin membenarkan jasnya lalu ke luar dari ruangan di ikuti Haris.
"Baik tuan."
Kepercayaan di embankan pada Haris memang sangat besar. Ia bahkan takut jika tidak bisa melaksanakan tiap amanat yang diberikan padanya. Zevin buka tipe pria ribet dengan segala sesuatu. Jika semua berjalan sesuai dengan porsinya masing-masing dan lancar itu sudah cukup baginya.
...----------------...
Rumah Sakit ZK
Para dokter rumah sakit ini beraktivitas seperti biasa, mereka melayani pasiennya dengan sabar menghadapi berbagai macam keluhan.
"Nyonya Alby." Panggil asisten dokter.
"Kamu sayang."
"Iya, ayo masuk !" Ajak Ralda.
Hari ini jadwal pemeriksaan kandungan Ralda. Usia kehamilannya menginjak ke dua bulan. Alby suami siaga, ia meluangkan waktunya mengantar Ralda ke rumah sakit. Meski bertetangga dengan Nazia, tapi tetap mereka harus ke rumah sakit untuk periksa.
"Selamat siang, silahkan duduk. Harusnya kamu datang lebih pagi biar tidak lama menunggu." Nazia mempersilahkan pasangan suami istri itu untuk duduk.
"Selamat siang Kak. Bulan depan aku akan datang pagi." Ralda tersenyum.
"Ada keluhan?" Tanya Nazia sembari mengecek tensi darah.
"Beberapa hari ini, aku merasa pusing dan cepat lelah. Tiap pagi mualku semakin kuat."
Nazia tersenyum. "Muntah dan mual tidak bisa dihindari ditiga bulan pertama kehamilan. Untuk pusing dan cepat lelah, itu disebabkan tekanan darahmu rendah. Sekarang timbang dulu ya baru USG." Terangnya lembut.
Ralda mengangguk lalu melangkah menuju timbangan dibantu oleh Alby. Setelah timbang badan, Ralda berbaring di atas brankar untuk USG.
Alby berdiri di sisi brankar melihat ke arah monitor. "Di mana bayinya?"
__ADS_1
Nazia terkekeh pelan dan berkata. "Usia kandungannya dua bulan ya, masih janin. Al ! Nanti ketika empat bulan dia mulai belajar cegukan dan bulan ke lima dia sudah berbentuk bayi memiliki kaki dan tangan. Janinnya sehat pertumbuhannya sesuai usia kehamilan ya, Ra ! Cobalah jika pagi hari kamu berbaring lurus di atas kasur dan rasakan di perutmu dia pasti mengeras di situlah letak janinmu. Untuk jantung tunggu usia ke tiga bulan ya biar terdengar jelas. Sejauh ini ibu dan janin sehat."
"Syukurlah, terimakasih Zia." Ucap Alby membantu Ralda duduk kembali.
"Minum vitamin tepat waktu dan susu hamilnya ya." Nazia menyodorkan kertas resep.
"Terimakasih Kak." Ucap Ralda.
Sepasang calon orang tua itu meninggalkan ruangan Nazia. Karena hampir menjelang siang, istri Zevin ini bersiap akan pergi makan siang.
"Sudah selesai Zi ?" Yudha berdiri di depan pintu ruangan praktik Nazia.
"Aa, iya Kak ! Ayo makan siang."
"Kita ajak juga dokter Ay." Yudha menutup pintu ruangan.
Nazia mengangguk. "Iya, di kantin atau keluar?"
"Terserah saja, aku hanya mengikuti." Balas Yudha.
Mereka tiba di ruang praktik Rayya, wanita itu sepertinya sedang merapikan mejanya.
"Ay."
"Eh, kalian berdua." Balas Rayya.
"Ayo makan siang."
"Iya ayo ! Tapi di mana?" Tanya Rayya.
"Terserah memilih." Seru Yudha.
"Baiklah, naik mobilku saja." Ucap Yudha.
Mereka berangkat meninggalkan rumah sakit menuju resto milik suami Rayya itu. Tak disangka ternyata Zevin dan Erik masih berada di sana karena pertemuan mereka masih belum selesai.
Di ruangan tertutup, Zevin melihat GPS istrinya berada di resto yang sama. Semenjak Nazia kembali bekerja Zevin selalu mengecek keberadaan istrinya itu. Setelah Nazia melahirkan dia semakin posesif. Karena aura kecantikan Nazia berkali lipat bertambah setelah melahirkan.
"Sepertinya kesepakatan kita tidak final ya, jika tidak ada yang dibahas lagi saya mohon diri." Zevin berdiri merapikan jasnya.
"Maaf Tuan, jika anda mau mengurangi harganya saya akan ambil sketsa yang ini." Ucap klien itu.
"Tuan, kami memiliki standar harga tersendiri. Kami juga harus memperhitungkan tenaga karyawan kami." Jelas Dias putra pak Ali.
Klien itu mendes@h. "Baiklah, lain kali saja." Putusnya kembali.
"Ayo, Rik." Zevin melangkah keluar lebih dulu.
"Dias kamu ikut makan siang atau kembali ke kantor?" Tanya Erik.
"Aku ke kantor saja, sudah janji makan siang bersama karyawan hari ini di kantin."
"Baiklah kalau begitu, aku akan menyusul tuan Zevin dulu." Pamit Erik.
Zevin sangat kesal menghabiskan waktu berjam-jam. Tapi klien itu mundur. Tidak ada ruginya untuk Zevin. Hanya saja waktunya terbuang percuma. Zevin mengedarkan penglihatan. Matanya terhenti di sudut ruangan di sana istrinya tengah bergurau bersama Yudha dan Rayya.
"Cinta !" Zevin menghampiri meja istrinya.
Nazia sangat mengenali suara itu lalu menoleh pada pemilik suara. "Sayang kamu di sini juga?" Ia berdiri dari kursi menyambut kedatang suami manjanya.
__ADS_1
Zevin memeluk istrinya itu penuh rindu tanpa peduli orang lain melihat mereka. Ia berusaha meredam rasa kesalnya karena membuang waktu di tempat itu bersama kliennya.
"Aku bertemu klien di sini." Zevin meregangkan pelukannya.
"Sudah makan, di mana Erik?" Nazia membawa suaminya duduk di sampingnya.
Zevin menggeleng. "Belum sayang, klien itu membuang waktuku sia -sia." Adunya manja.
"Karena itu kamu kesal?"
"Iya sayang." Zevin mengangguk seperti anak kecil berusia lima tahun.
"Ya ampun Zi ! Bayi besarmu menggemaskan." Seru Rayya kesal.
Zevin terkekeh. "Bagaimana di rumah sakit?" Tanyanya pada Yudha.
"Aman terkendali. Jangan lupa, dua hari lagi kamu ada pasien VVIP." Yudha kembali mengingatkan.
"Iya, aku pasti ingat. Kalian sudah pesan makanan?" Balas Zevin.
"Iya. Aku akan pesan lagi untukmu." Sahut Nazia.
"Iya sayang, untuk Erik juga. Sebentar lagi dia datang." Zevin mengirim pesan untuk Erik.
Makan siang bersama tanpa rencana itu sangat seru, karena Zevin selalu cemburu pada Nazia yang bergurau dengan Yudha.
"Sayang ikut aku ke kantor ya, nanti pulang ke rumah mama aku antar." Ujar Zevin.
"Baiklah."
Yudha dan Rayya kembali ke rumah sakit. Setelah berpamitan pada Vian dan Vira. Sementara itu Zevin dan istrinya kembali ke kantor.
"Kak, aku ke toilet sebentar." Erik melangkah cepat ke toilet.
Zevin dan Nazia menunggu di mobil. Sebelum Erik datang, Zevin mendaratkan ciuman di bibir istrinya itu.
Bibir ini, milikku hanya boleh bergurau padaku
Zevin melum@tnya sedikit rakus. "Aku merindukanmu sayang." Ucapnya meraih tubuh istrinya dalam pelukan.
Erik tiba dari toilet langsung menyalakan mesin mobil dan melaju menuju kantor.
"Kesal kenapa hari ini?"
"Klien itu ingin membeli sketsa perhiasan kita, tapi minta harga rendah. Aku tidak memberinya, kamu tahu para karyawan kita rela lembur membuat sketsa itu." Jelas Zevin.
Nazia mengangguk tanda mengerti. Mobil mereka tiba di kantor mereka turun bersama dan melewati meja resepsionis.
"Selamat siang Tuan, Nyonya."
"Selamat siang Maura." Balas Nazia tersenyum.
Istri Zevin ini menjadi salah satu idola karyawan karena sifatnya yang lembut dan ramah tamah.
"Tuan Erik !"
Erik menghentikan langkahnya. "Ada apa?" Tanyanya datar.
"Ini kue untuk anda." Maura memberikan kotak kue.
__ADS_1
Erik menerimanya karena tidak tega menolak. "Terimakasih." Ucapnya sembari meninggalkan Maura yang tengah tersenyum memandang punggungnya.