Suami Manja Dokter Zi

Suami Manja Dokter Zi
Telpon Pagi Hari


__ADS_3

Kediaman Zevin Kavindra


Disaat semua terlelap dini hari, ponsel Zevin bergetar bertepatan dengan Nazia baru selesai dari kamar mandi. Tertera nama pak Indra di layar ponsel.


"Halo, Pa." Jawab Nazia.


"Zi, maaf membangunkan kalian sepagi ini."


"Tidak masalah, Pa. Ada apa ? Papa menelpon pagi sekali." Balas Nazia.


"Zi, katakan pada Zevin. Kakek jatuh di kamar mandi sekarang dibawa ke rumah sakit ."


"Baiklah, Pa. Aku akan memberitahu Zev." Jawab Nazia.


Nazia meletakkan  kembali ponsel di atas nakas setelah telpon selesai, ia mengamati wajah damai suaminya saat tidur. Ia sangat tahu suaminya begitu menyayangi kakeknya dan Zevin pasti sangat sedih mendengar berita ini.


"Sayang, ayo bangun." Nazia mengusap pelan pipi suaminya.


Zevin merasakan usapan lembut tangan Nazia kemudian menahannya lalu mencium dengan lembut punggung tangan istrinya. Ia  berkata.


"Jam berapa sekarang ? Kenapa sudah bangun?" Tersenyum pada istrinya.


"Jam empat sayang, ayo bangun cuci muka dulu. Ada yang ingin kusampaikan." Ucap Nazia lembut membelai rambut Zevin penuh cinta.


"Baiklah." Zevin bangun dari kasur lalu pergi ke kamar mandi.


Nazia meraih interkom meminta Kiki menyiapkan teh hangat tak lupa ia juga menelpon Erik  melalui interkom.


"Ada yang bisa saya bantu Tuan?" Jawab Erik serak karena bangun tidur. Ia melihat jam di atas nakas menunjukkan jam empat pagi.


"Rik, bersiaplah kita ke rumah sakit, kakek dirawat karena jatuh di kamar mandi." Balas Nazia.


"Baik Nona saya akan bersiap."


"Bangunkan juga Ivan, aku akan memberitahu Zev dulu." Balas Nazia.


"Iya Nona." Erik Ia menutup sambungan lalu bergegas ke kamar mandi dan membangunkan Ivan.


Di kamar, Nazia sudah menyiapkan beberapa keperluan yang akan dibawa ke rumah sakit. Tak lama Zevin keluar dari kamar mandi nampak wajahnya sudah segar. Ia duduk di tepi kasur menghampiri istrinya yang sedang kemasukkan dompet dan ponsel di dalam tas.


"Apa yang ingin kamu sampaikan sayang?"


Nazia melangkah di sisi kasur lalu meraih kedua tangan suaminya dan berkata. "Sayang, tadi papa telpon memberitahukan kalau kakek sekarang di rumah sakit. Beliau jatuh di kamar mandi." Ia berucap sangat pelan dan lembut.


"Kakek jatuh ?! ayo sayang kita ke rumah sakit." Zevin langsung berdiri menarik tangan Nazia.


"Tunggu, jangan panik di sana kakek pasti sudah dapat penanganan dokter. Jadi tenangkan dirimu." Ucap Nazia menahan pergelangan tangan suaminya.


"Maaf sayang, aku tidak berfikir sampai ke sana." Balas Zevin menyesal.


"Sekarang pakai jaketmu, semua sudah siap. Erik dan Ivan sudah menunggu di bawah."


"Iya sayang." Zevin mengecup kening Nazia.


Mereka keluar dari kamar utama di lantai bawah, Ivan dan Erik menunggu di ruang keluarga. Mereka sedang meminum tehnya masing-masing. Bukan maksud Nazia untuk bersantai, tapi apa gunanya panik dan tergesa-gesa jika hanya menambah masalah baru.


Karena efek dari rasa panik dan tergesa-gesa bisa saja menyebabkan sesuatu yang tidak di inginkan. Lebih baik menghadapi segala sesuatunya dengan tenang dan bisa berpikir jernih, dalam kondisi seperti ini maka hanya bisa menyerahkan semuanya ke pada Tuhan.


Di dalam mobil, Zevin tak henti-hentinya menggenggam tangan Nazia, tak dipungkiri dokter juga manusia yang memiliki perasaan cemas dan takut. Hal sama pun dirasakan mereka  tapi tetap berusaha bersikap tenang. Nazia dan Zevin yakin jika pak Indra membawa kakek Ardian ke rumah sakit tepat waktu.


Langkah Zevin sangat lebar memasuki lorong rumah sakit. Nazia membiarkan Zevin lebih dulu menemui keluarganya, ia tahu perasaan suaminya saat ini.


"Bagaimana kondisi Kakek?" Tanya Zevin setelah sampai di depan ruang ICU .


Pak Indra sedikit kaget melihat kedatangan putranya yang hanya menggunakan piyama dan jaket rajut.


"Kakek kritis, Nak. Saat ini belum sadarkan diri."


"Ma, Pa." Sapa Nazia langsung duduk di sofa di samping ibu Felisya.


"Kakek, Zi ." Ibu Felisya kembali menangis memeluk menantu kesayangannya itu.


"Sabar, Ma." Nazia membalas pelukan ibu mertuanya.

__ADS_1


"Bagaimana bisa ini terjadi tante?" Tanya Ivan. Pertanyaannya ini mewakili Zevin.


"Entahlah, Tante tidak tahu pasti karena Kakek ditemukan sudah tergeletak di kamar mandi." Jelas ibu Felisya.


Zevin menghampiri istrinya kemudian duduk di sampingnya. "Maaf sayang, aku meninggalkanmu tadi." Ucapnya bersalah.


"Tidak apa-apa, aku mengerti." Balas Nazia lembut.


"Aku akan mengabari Mama dan Papa." Seru Ivan.


"Saya ke kantin sebentar." Kata Erik langsung keluar dari ruangan.


"Siapa yang menangani kakek?" Tanya Zevin.


"Dokter Yudha Prasetyo." Jawab pak Indra.


"Sekarang Mama dan Papa istirahatlah, biar aku yang menjaga Kakek." Ucap Zevin.


Pak indra menggeleng.


"Lebih baik Zi dan mama saja yang istirahat."


"Aku baik-baik saja, Pa." Sahut Nazia.


Pak indra dan Ibu Felisya mengalah mereka beristirahat di ruangan khusus samping ruangan direktur. Zevin bersandar di tubuh Nazia seraya menempelkan tangannya diperut istrinya dan tangan satunya menggenggam jemari Nazia.


Dirinya sangat sedih, sang Kakek terbaring koma di atas ranjang itu. Sosok yang selalu menemaninya ketika orang tuanya sedang sibuk, Zevin banyak menghabiskan waktu bermain bersama sang Kakek. Banyak kata-kata penghibur yang Kakek Ardian lontarkan jika Zevin sedang merasa sendiri ketika ibu Felisya bepergian bersama pak Indra.


Setitik air mata mengalir di pipi mulusnya kala mengingat kebersamaannya saat kecil bersama sang Kakek. "Sayang jangan menangis, Kakek pasti sedih jika mengetahuinya." Nazia menghapus air mata di wajah suaminya.


Zevin tersenyum lalu meraih tubuh Nazia kedalam pelukannya. Aroma menenangkan dari tubuh istrinya seolah candu yang wajib dihirupnya, istri yang sangat dicintainya itu seperti vitamin pengembalian semangatnya.


"Aku terbawa kenangan lama, Kakek selalu ada untukku saat Papa dan Mama tidak ada di rumah." Ucap Zevin sendu.


"Papa dan Mama juga melakukan hal yang sama jika nanti anak kita sendiri saat aku dan kamu tidak ada di rumah. Mereka merasakan kebahagiaan sendiri saat bisa menghabiskan waktu bermain bersama cucu mereka."


"Sayang aku masuk dulu ingin melihat kondisi Kakek." Ucap Zevin.


"Iya masuklah, kendalikan emosimu."


Pintu terbuka


Erik datang bersama Ivan, menenteng beberapa cup minuman hangat dan roti. Setelah menelpon ibu Mira dan dokter Radit, Ivan langsung menyusul Erik ke kantin.


"Tuan, Nona. Ini ada minuman hangat, roti serta bubur ayam." Erik meletakkan barang bawaannya di atas meja.


Zevin segera membuka kotak bubur ayam, ia memang menyukai bubur ayam semenjak kehamilan istrinya.


"Sayang suapi aku." Ucapnya manja.


Nazia meraih sendok dan mendinginkan bubur lalu menyuapinya. Zevin tersenyum senang walau hatinya masih sedih.


"Kak, sambil menunggu kakek sadar aku berangkat ke resto dulu mengecek persediaan bahan mentah." Seru Ivan.


"Baiklah."


"Saya juga akan kembali ke rumah, ingin melihat kondisi kakak. Saya juga akan mengantarkannya ke kantor." Ucap Erik.


"Kamu benar, maaf Rik aku lupa jika Ralda menginap di rumah." Sahut Nazia.


"Tidak masalah Nona, jika terjadi sesuatu segera kabari saya."


"Aku percayakan semuanya padamu, aku ingin melihat perkembangan Kakek dulu." Ujar Zevin.


"Baik Tuan, saya akan meminta sopir mengantar mobil anda ke sini." Erik meraih kunci mobil. Ia harus mengantar Ivan lebih dulu baru pulang ke rumah. Ivan malas kembali pulang, ia memilih mandi di resto miliknya


Tanpa terasa hari mulai terang, jam di tembok menunjukkan jam enam pagi, pak Indra dan ibu Felisya sudah bangun lalu bergabung bersama Nazia dan Zevin.


"Ma, ini minuman hangat dan bubur ayam." Kata Nazia.


"Iya sayang, kamu sudah sarapan? Jangan sampai terlambat kasian bayimu."


"Sudah, Ma tadi sama Zevin." Jawab Nazia.

__ADS_1


"Di mana dia?" Tanya pak Indra.


"Keluar sebentar, Pa."


Tak lama datang dua orang utusan dari rumah pak Indra, membawa baju ganti untuk pak Indra dan ibu Felisya serta keperluan lain kakek Ardian. Setelah meletakkan itu mereka kembali pamit pulang ke rumah.


"Kamu dari mana, Zev?" Tanya pak Indra. Ketika putranya berpapasan dengan dua asisten rumah tangganya.


"Aku keruangan direktur, Pa." Jawab Zevin mengeluarkan beberapa peralatan medis.


Zevin keruangan Yudha guna minta ijin untuk memeriksa kondisi kakeknya sendiri pagi ini. Setelahnya ia akan menyerahkan semuanya pada dokter Yudha.


"Bagaimana sayang?" Nazia menghampiri suaminya.


Zevin terdiam lalu menghembuskan nafasnya dan berkata. "Melemah, kondisi kakek tidak baik. Selain karena jatuh, faktor usia juga mempengaruhi, kita lihat nanti hasil CT scan nya. Aku curiga kakek ada pendarahan di otaknya."


Pak Indra terkagum pada kemampuan putranya, selama Zevin menjadi seorang dokter belum pernah, ia melihat Zevin secara langsung menangani pasien.


"Baiklah kita tunggu nanti dokter Yudha  datang, sekarang kamu mandi tadi aku bawa baju gantimu."


Zevin mengangguk dan mematuhi perintah istrinya, Nazia mengeluarkan baju ganti Zevin dan memberikannya. Ibu Felisya mengulas senyum melihat perhatian Nazia untuk putranya. Begitu juga dengan pak Indra.


"Kamu tidak salah pilih istri, Nak." Gumam pak Indra pelan.


"Kamu praktek, Nak?" Tanya ibu Felisya.


"Iya, Ma. Nanti jam delapan." Jawab Nazia.


"Jangan terlalu lelah."


Zevin datang dengan rambut masih basah lalu duduk di sofa, Nazia meraih handuk kecil dan mengeringkan rambut suaminya. Pak indra kembali dibuat iri oleh putranya. Beruntung sekali anak semata wayangnya bisa mendapatkan perhatian seperti itu dari istrinya.


Bukannya pak Indra tidak mendapatkan perhatian dari istrinya, tapi bermanja seperti Zevin pada Nazia sangat jarang ia lakukan karena tipenya pak Indra tidak manja.


"Kamu sudah mandi sayang?" Zevin melingkarkan tangannya di pinggul Nazia lalu mencium bulatan perut istrinya, posisi  Nazia yang berdiri memudahkan Zevin membenamkan wajahnya di perut istrinya.


"Sudah tadi saat kamu keluar, Nah ! Sudah selesai." Nazia menjemur handuk kecil itu lalu duduk di samping Zevin.


Ibu Felisya baru selesai mandi lalu bergiliran dengan pak Indra. Ia masuk kedalam ruangan menghampiri ayahnya dan mengusapkan pelan rambut putih kakek Ardian.


"Ayah, bangunlah ! Lihat calon cicit ayah juga disini menemani ayah." Bisik ibu Felisya.


Air matanya kembali mengalir mengingat perjuangan sang ayah yang menghidupinya dari pekerja serabutan sampai menjadi orang kepercayaan Tuan Jaya dan suaminya pak Indra.


Sejak berusia lima tahun ibu Felisya tidak pernah lagi melihat wajah ibunya yang tega meninggalkan dirinya dan kakek Ardian saat dilanda kesusahan hidup. Beruntung saat itu almarhum Kakek Heru memperkenalkan kakek Ardian dengan Almarhum Pak Jaya ayah dari pak Indra. Akhirnya beliau bisa memperbaiki ekonominya.


"Ma, jangan terlalu larut dalam kesedihan cukup doakan ayah agar disembuhkan oleh Tuhan." Pak Indra mengusap punggung istrinya. Setelah ibu Felisya keluar dari ruangan dan kembali duduk di sofa


"Papa benar, Ma. Aku juga sedih tapi kita harus kuat dan sabar." Sahut Zevin tengah berbaring di pangkuan istrinya. Sementara Nazia sedang berbalas pesan pada Rayya.


...----------------...


Di kediaman Zevin. Ralda tengah bersiap untuk berangkat ke kantor begitu juga dengan Erik.


"Kakak sudah siap?"


"Iya, bagaimana kondisi Kakek Ardian?"


"Masih belum sadarkan diri. Kak, jangan bepergian sendiri lagi. Paman pasti sedang memantau kita." Kata Erik serius.


"Iya, syukur kemarin tuan Alby dan asistennya ada di sana." Ucap Ralda.


"Jangan terlalu dekatnya."


Ralda menoleh pada Erik.


"Kenapa? Dia pria yang baik setahuku."


"Aku belum mempercayainya, setelah dia mencampakkan Nona, Zi. Aku masih belum yakin dia berubah." Jawab Erik.


Ralda kembali diam. Menatap  lurus kedepannya berusaha mencerna ucapan Erik.


Apa dia sengaja mengakrabkan diri karena ada tujuan tertentu

__ADS_1


Maaf Kak aku harus memastikannya lebih dulu, apa tujuannya dekat dengan Tuan, Zev.


__ADS_2