
Dokter Muda dan tampan ini sudah kembali masuk bekerja seperti biasanya. Dengan langkah tegap, ia memasuki gedung rumah sakit. Selalu tersenyum itulah ciri khasnya. Ia merupakan sosok yang hangat. Dia adalah Zevin.
"Selamat pagi, Ay." Sapa Zevin meletakkan tas kerjanya di atas meja.
"Pagi, Zev. z kamu pulang?"
Zevin mendudukkan tubuhnya di sofa.
"Tadi malam. Di mana, Zi ? Kenapa belum datang?" Bertanya karena tidak seperti biasa nya Nazia belum juga tiba di rumah sakit.
"Entahlah mungkin terjebak macet."
Zevin mengeluarkan ponselnya mencoba menghubungi.
"Tidak aktif, Ay." Ucapnya cemas.
"Mungkin, dia ijin coba kamu tanya asistennya." Rayya meletakkan map yang di pegang.
Zevin mengangguk lalu menelpon asisten Nazia. "Apa dokter, Zi. Masuk hari ini?" Bertanya setelah panggilan terjawab.
"Belum tahu juga dokter, Zev. Karena ponselnya tidak bisa di hubungi."
"Baiklah kalau begitu liburkan saja pendaftaran hari ini dan tempelkan pemberitahuannya dokter, Zi. Seperti nya tidak akan masuk." Ucap Zevin.
"Tapi beliau belum ijin."
"Aku yang mengurusnya. Lakukan saja apa yang aku minta" Kata Zevin mematikan telpon.
Rayya kembali duduk di sofa "Bagaimana?"
"Belum tahu. Aku akan ke rumahnya." Zevin menarik tas kerjanya lalu meninggalkan ruangan itu.
Hari ini ia tidak praktek masih ada waktu untuk pergi ke rumah Nazia. Ia sengaja datang pagi ada beberapa pekerjaan yang harus di diselesaikannya . Zevin cemas jika terjadi sesuatu yang buruk pada Nazia. Dengan tergesa-gesa ia memasuki mobilnya lalu meninggalkan rumah sakit.
...----------------...
Usai pertemuan keluarga tadi malam. Alby mengambil cuti tidak masuk bekerja hari ini. Ia masih betah berada di dalam kamarnya walau jam sudah menunjuk jam tujuh pagi.
Berakhirnya hubungannya dengan Nazia menyisakan kesedihan juga untuknya. Tapi karena amarah, ketidak percayaan dan ambisi sudah menguasainya. Alby tidak bisa berfikir jernih saat mengambil keputusan.
Pintuk kamarnya di buka dengan keras. Erika berdiri di depan pintu dengan wajah penuh amarah. "Apa maksudmu dengan semua ini, Al?" Tanyanya dengan iris mata yang menuntut jawaban tepat.
Alby mengalihkan pandangannya keluar jendela. "Jangan ikut campur urusanku, kak!"
Erika melangkah mendekat ke sisi kasur "Apa ? Jangan ikut campur ! Sadarlah kamu yang melibatkan aku di dalam urusan pribadi mu!" Tegasnya dengan jari telunjuk ke wajah adiknya.
"Maafkan aku, kak. Mulai saat ini kakak tidak perlu lagi ikut campur"
"Apa maksudmu menyetujui perjodohan ini ? Lalu bagaimana dengan Zia ! Hah !" Bentak Erika.
"Antara kami sudah selesai. Dia mengkhianati ku !" Ujar Alby tak kalah kesalnya.
"Bodoh ! Kamu percaya begitu saja tanpa ingin tahu penjelasannya?" Sarkasme Erika tersenyum sinis.
"Untuk apa sebuah penjelasan jika hanya untuk alibi."
Erika tertawa hambar. "Terimakasih melepaskan Nazia dengan cepat. Setidaknya, dia tidak akan terluka lebih lama jika bersamamu"
Wanita itu meninggalkan kamar Alby. Namun di depan pintu ia dikejutkan dengan adanya ibu Anggi. Ia yakin ibunya telah mendengarkan semua nya.
"Rika, jadi adikmu memiliki kekasih selama ini?" Tanya ibu Anggi.
"Iya, Ma. Dia seorang dokter yang cantik dan juga baik. Tapi Alby telah menyakitinya dengan menyetujui perjodohan ini. Selama Alby di luar kota ia mengabaikan Nazia. Aku berulang kali menawarkan bantuan untuk proyeknya tapi ia menolak." Jelas Erika dengan amarah yang masih menggebu.
"Anak bodoh ! Antar mama bertemu dokter itu"
"Untuk apa, Ma?" Tanya Erika cemas. Takut jika ibunya hanya akan menambah luka Nazia.
Ibu Anggi tersenyum. "Mama hanya ingin berkenalan dengannya. Karena putraku itu tidak pernah mengenalkannya pada mama."
__ADS_1
Erika bernafas lega.
"Setelah makan siang kita ke rumah sakit"
Ibu Anggi mengangguk setuju. Ia penasaran pada mantan kekasih putranya itu.
...----------------...
Mobil Zevin berhenti di depan rumah Nazia. Ia keluar dari mobilnya perlahan sambil mengamati sekitarnya . Nampak sepi namun saat dirinya ingin memencet bel bersamaan itu pula ibu Mira membuka pintu dari dalam.
"Tante." Sapa Zevin tersenyum.
"Zev, kamu disini ? Kenapa tidak memencet bel?"
"Aku baru sampai." Zevin mengikuti langkah Ibu Mira.
"Masuklah ! Zi, masih tidur di kamar"
"Dikamar ? Apa Zi sakit?" Tanya Zevin cemas. Ia meletakkan tas kerjanya di sofa ruang tamu.
"Tante belum melihat nya, masuk saja ke kamarnya lihat sendiri" Ucap ibu Mira sambil melangkah ke dapur.
Seperti biasa, Zevin mengetuk pintu kamar itu terlebih dulu. Dua kali mengetuk tidak ada sahutan dari dalam. Ia perlahan memutar gagang pintu dan melangkah tanpa menimbulkan suara.
Pandangan Zevin tertuju pada barang-barang yang tertata rapi dan seperti bukan milik Nazia. Ia mengedarkan pandangannya lebih luas. kasur Nazia berubah kecil bahkan ada dua kasur disana.Tapi tidak ada yang tidur di kasur satunya.
Ia melangkah mendekat ke sisi kasur lalu membuka selimut tebal milik Nazia. Bibirnya tersenyum mendapati wanita pujaan hatinya itu tertidur pulas di dalam selimut. Wajah cantik alami itu nampak damai dalam tidurnya. Tangan Zevin terulur merapikan anak rambut yang menutupi bagian wajah Nazia.
Zevin menjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi kasur Nazia. Ia menatap satu persatu bagian wajah cantik itu. Bentuk dahi yang bagus, alis rapi seperti di ukir dan bulu mata lentik, serta hidung mancung di tambah lagi bibir merah alami yang mungil serta pipi putih yang mulus
Zevin memberikan ciuman singkat di bibir Nazia. "Apa yang aku lakukan?" Ujarnya meraba bibir dan wajahnya sendiri yang terasa merona. Zevin tertawa. Nazia benar-benar terlelap sampai tidak merasakan apa yang dilakukan pria itu. Zevin merasa tidak puas hanya memberikan ciuman singkat sementara godaan untuk menyesap bibir mungil itu semakin besar. Ada sesuatu yang mendukung keberaniannya untuk mencium Nazia.
Perlahan tapi pasti dengan berdebar ia kembali ******* bibir itu dengan sangat lembut dan berdurasi beberapa detik. Nazia bereaksi dengan sedikit bergerak. Zevin refleks menarik wajahnya sedikit menjauh sambil menahan nafasnya. Ternyata Nazia hanya bergerak tapi tidak bangun. Zevin terkekeh.
"Aku yakin tuan muda itu tidak pernah menyentuh bibir ini. Aku sangat tahu dirimu sayang. Manis dan kenyal kenapa tidak aku lakukan sejak dulu jika rasanya menyenangkan seperti ini." Gumam Zevin sambil mengusap pelan bibir gadis itu.
Zevin refleks menarik tangannya lalu berdiri ketika mendengar suara pintu terbuka. Matanya tertuju pada sosok berdiri di depan kamar mandi yang menatapnya tidak berkedip.
Ia dikejutkan dengan seorang pria tampan berada di samping kasur Nazia.
"Siapa kamu ? Kenapa ada dikamar ini?" Tanya Zevin dengan aura wajah siap menerkam mangsanya.
Ivan mendekat masih tidak berkedip. Ia melangkah mendekat pada Zevin.
"Pangeran." Tangannya terulur ingin menyentuh wajah tampan itu
Zevin mundur beberapa langkah. Sorot mata tajam tadi berubah lunak perlahan ingatannya mulai terbuka pada Vidio yang diberikan oleh orang suruhannya tempo hari. Wajah Zevin berubah panik. Lalu ia melihat pada Nazia yang masih tidur.
"Zi, bangun ! Ayo buka matamu." Zevin menggerakkan tubuh Nazia. Matanya sambil mengawasi pergerakkan Ivan dan pria kemayu itu semakin mendekat.
"Pangeran kamu tampan sekali. Apakah kamu menjemputku?" Ucap Ivan sambil mengedipkan matanya.
Zevin semakin panik tanpa pikir panjang lagi, ia masuk ke dalam selimut Nazia dan memeluknya erat. Melihat hal itu Ivan juga masuk kedalam selimut di belakang Zevin. Lalu memeluk dokter itu dari belakang. Zevin menggeliat geli berusaha melepaskan pelukan Ivan yang semakin kuat. Keringat dingin sudah membasahi wajahnya. Selain panas didalam selimut dan berdesak-desakan di atas kasur ia juga takut pada Ivan.
"Hei lepaskan aku." Ucap Zevin meronta. Ivan tak menghiraukannya ia semakin mengeratkan pelukannya
"Aahh" Ringis Nazia jatuh dari kasur.
Zevin refleks duduk membantu Nazia berdiri. Ivan membuka selimut lalu rebahan miring melihat wajah Zevin dan Nazia bergantian sambil tertawa. Wajah Zevin pucat dengan nafas tersengal. Nazia mengembalikan kesadarannya lalu melihat pada Ivan dan Zevin kemudian ikut tertawa.
"Kepalaku pusing." Nazia menyentuh kepalanya.
"Kamu sakit akan aku periksa"
Nazia menggeleng lalu menunjuk pada Ivan. "Dia yang membuatku pusing. Dia membuat aku minum terlalu banyak"
Mata Zevin terbelalak melihat pada Ivan dan Nazia bergantian. "Jangan lalukan itu lagi, aku mencemaskan mu" Ucapnya menarik tubuh Nazia ke pelukannya.
"Pangeran peluk aku juga." Ucap Ivan merusak suasana
__ADS_1
Zevin berdecak kesal lalu mengajak Nazia berdiri dan duduk di kasur kosong milik Ivan. "Siapa dia jelaskan padaku." Tanya lembut dengan tatapan penuh cinta pada wanita yang dirindukannya.
Ivan mendudukkan tubuhnya. "Aku suka cara mu, Kak! Tidak seperti mantan kekasihnya itu main pukul saja. Lihat wajah dan bibirku lebam serta luka. Dia memutuskan Zizi karena alasan berselingkuh denganku. Cih bahkan aku tidak berselera dengannya." Adu nya sekaligus mencibir.
Zevin menelan saliva nya. Jika pria gemulai ini tidak berselera pada wanita itu tandanya, ia berselera pada pria. Ancaman besar ! Wajah Zevin kembali panik.
Nazia tersenyum. Ia tahu Zevin takut pada Ivan. "Zev, dia Ivan. Adikku, anak asuh mama. Dulu kami bertetangga. Jangan takut dia masih suka wanita hanya saja dia berhati wanita, sangat lembut." Jelasnya tersenyum. Tangannya menarik tissue dan menyeka keringat di wajah Zevin.
Zevin mengalihkan pandangan pada Nazia lalu menatapnya lekat. Ancaman besar itu berpindah pada wanita pujaan hatinya ini. Bagaimana jika Ivan malah menyukai Nazia? dengan tinggal satu kamar bisa saja ia khilaf. "Tapi di—dia tidur di kamar yang sama dengan mu, sayang ?"
"Kamu mengkhawatirkan aku ?Tenanglah, dia tidak akan macam-macam padaku. Ia juga akan pindah kamar setelah kamar miliknya di perbaiki"
Ivan mengangguk. Ia sengaja bercanda dengan Nazia tentang berbagi kamar. Zevin bernafas lega mendengar penjelasan itu.
"Zi, sikut mu berdarah !" Zevin. melihat baju piyama Nazia merah.
"Mungkin karena jatuh dari kasur tadi" Ucap Nazia gugup. Takut jika Zevin tahu luka itu di dapatnya karena Alby.
"Aku obati. Apa benar kamu dan Alby putus?"
Nazia mengangguk lalu menundukkan kepala nya. "Dia akan menikahi Sherin."
Zevin mengepalkan tangannya. "Biarkan saja ! Jangan menangisinya. Aku akan menemuinya untuk mengucapkan terimakasih karena telah melepaskan kamu" Ujarnya sambil mengobati luka.
"Maksud mu?"
"Dia telah memberiku peluang untuk menikahi mu." Kata Zevin.
Nazia memilih diam karena bukan hanya hari ini, ia mendengarkan kalimat itu dari Zevin. Ivan mengangguk setuju. Pria gemulai itu meraih handuk lalu pergi ke kamar mandi.
"Zi, lepaskan kalung itu dan kembalikan pada pemiliknya" Ucap Zevin melihat pada leher Nazia.
"Iya, akan aku kembalikan"
Zevin selesai mengobati luka Nazia. Mereka keluar bersama dari kamar ikut bergabung pada ibu Mira di ruang keluarga.
Nazia sudah menceritakan semuanya tentang Alby dan dirinya. Kini ibu Mira menatap lekat pada Zevin seolah memberi isyarat sembuhkan luka Nazia.
...----------------...
Merasa baikan Nazia dan Ivan pergi berbelanja. Tidak disangkal jika saat ini hatinya terluka. Namun meski ditangisi tidak akan mengembalikan apapun. Karena hari kemarin Nazia sudah meluapkan segala perasaannya bersama Ivan. Hari ini ia sedikit membaik. Anggap saja mereka menggila menghibur diri mereka sendiri.
"Nazia."
"Kak Erika."
Mereka tidak sengaja bertemu di pusat perbelanjaan.
"Kalian disini tadi aku bermaksud menemui mu di rumah sakit"
"Hari ini aku cuti" Nazia tersenyum kaku.
Erika menatap lekat wajah Nazia. Masih tersisa sembab di matanya. Wajah cantik itu terpancar kesedihan.
"Maafkan Alby dan kenalkan ini mamaku." Erika Memperkenalkan sang Ibu pada mantan kekasih adiknya ini.
Nazia mengulurkan tangannya dengan sopan. "Nazia"
"Anggi."
"Sebaiknya kita mampir ke cafe terdekat." Usul Erik.
"Maaf, Kak. Aku tidak memiliki waktu banyak. Karena adikku menunggu di dalam sana "
"Begitu ya. Baiklah lain kali kita minum teh bersama." Erika mengalah meskipun sedikit kecewa. Padahal dia hanya ingin berhubungan baik pada Nazia. Terlepas kandasnya hubungan dokter cantik ini dengan adiknya.
Tante Anggi meraih kedua tangan Nazia menatap lekat iris mata indah itu. "Maafkan kebodohan putraku."
Nazia berusaha tersenyum.
__ADS_1
"Tidak masalah tante ini sudah keputusan Alby. Aku sudah menerimanya. Jika masih ada pilihan kenapa harus menolak ? Memilih yang terbaik adalah keinginan semua orang."
Ibu Anggi meraih tubuh Nazia ke dalam pelukannya. Ada kehangatan dalam hati gadis itu karena wanita paru baya tengah memeluknya ini bisa menerima kehadirannya walaupun Alby sendiri sudah mencampakkannya.