Suami Manja Dokter Zi

Suami Manja Dokter Zi
Gurauan Sore


__ADS_3

Beberapa hari yang lalu  Zevin dan Nazia sudah menghuni rumah baru mereka, keluarga besar mereka berkumpul di sana. Tak hanya keluarga, teman-teman mereka juga ikut menghadiri acara makan-makan di rumah Zevin.


Nazia meminta ijin pada Zevin untuk mengundang Jimmy dan Alby. Bagaimana pun juga, mereka harus berdamai dengan masa lalu. Suami Nazia itu menyetujui, kini mereka tengah makan bersama di halaman belakang rumah Zevin. Acara sederhana namun ricuh karena adu mulut Zevin dan Ivan yang berebut perhatian Nazia.


Sesekali Alby dan Zevin terlibat perbincangan dan candaan hingga suasana sedikit mencair. Tapi tidak untuk Alby dan Sherin aura ketegangan itu masih terasa di lingkup mereka berdua.


"Apa Tuan Indra kerabatmu?" Tanya Alby. Perlahan laki-laki ini mulai kembali membaik tidak lagi terlalu pendiam.


"Tidak, tapi kakek istriku. Almarhum kakek Heru mantan asisten pribadi Tuan Indra."


"Ah, iya aku juga mendengar cerita itu. Di mana orang tuamu ? Aku tidak melihatnya di sini?" Alby kembali bertanya lagi.


"Orang tuaku memang tidak di sini. Aku mengirim mereka ke luar negeri karena  sering menggangguku dan Zi." Ucap Zevin santai.


Alby terkekeh pelan.


"Anak durhaka !" Ucapnya menyesap kembali minumannya.


"Orang usil seperti papaku harus dikirim ke planet kalau bisa." Kata Zevin tersenyum pada pak Indra yang melotot padanya.


"Anak itu !" Desis Pak Indra geram.


"Terimakasih merelakan, Zi. Untukku !" Ucap Zevin tulus.


"Aku ingin dia bahagia, jangan ulangi kesalahan yang pernah kulakukan. Bahagiakan, Zia." Netra Alby tertuju pada sosok yang masih terpatri di hatinya.


"Itu pasti ! Terlintas di benakku pun, tidak ada niat untuk menyakitinya."


"Kau pemenangnya dokter Zev." Alby menghela nafas panjang melegakan perasaannya untuk bisa merelakan Nazia.


"Kamu benar aku pemenangnya." Zevin tersenyum.


"Saya senang melihat kalian akur seperti ini." Seru Jimmy ikut bergabung.


Zevin mencebik kesal.


"Hei, pria menuju tua ! Jangan memulai lagi."


Jimmy terkekeh.


"Dokter, Zev. Saya hanya tua dua tahun dari anda. Jadi tidak terlalu tua.Tuan Muda, sepertinya sudah sore. Ayo kita pulang !" Ajak Jimmy.


"Ayo, kita ke apartemen saja. Aku malas pulang ke rumah utama." Tutur Alby.


"Baiklah Kalau begitu, dokter Zev ! Kami pamit pulang dulu. Terimakasih jamuannya." Ucap Jimmy tulus.


"Sama-sama, mampir lagi jika ada waktu luang. Asal jangan mampir hanya untuk melihat istriku saja." Mulut Zevin seketika menyindir.


Alby terbahak.


"Ternyata kamu pandai penebak. Dokter !" Ujarnya Tiba-tiba berniat menggoda. "Seperti yang kamu katakan tadi, aku akan sering-sering ke sini untuk melihat mantan kekasihku yang cantik itu."


"Aku orang cerdas tuan muda." Balas Zevin bangga. "Aku akan menyembunyikan istriku."


"Ayo Jim, kita pulang ! Zia kami pulang dulu." Pamit Alby.


Dari jarak yang tidak jauh Nazia mendengar namanya disebut langsung menghampiri suaminya dan Alby.


"Terimakasih sudah datang."


"Jangan jera mengundang kami, ayo tuan !" Balas Jimmy.


Alby dan Jimmy meninggalkan kediaman Zevin, tak lama Sherin juga ikut pamit.


"Zia aku pulang dulu." Ucap Sherin.

__ADS_1


"Hati-hati di jalan ! Apa yang terjadi hari ini jangan dijadikan beban. Mungkin, Alby masih marah." Balas Nazia.


"Aku mengerti. Aku hanya ingin kembali menjadi temannya." Ucap Sherin tersenyum.


"Semoga saat itu datang, dia bisa menerimamu kembali menjadi temannya."


"Aku pulang ya."


"Hati-hati." Nazia mengangguk langsung mengantarkan Sherin ke depan rumahnya.


Di sana juga ada Zevin yang baru saja mengantar Alby dan Jimmy.


"Dokter Zev, terimakasih sudah mengundangku." Ucap Sherin.


"Sama-sama."


Nazia dan Zevin kembali ke halaman belakang. Manjanya kembali lagi. Dirinya memeluk pinggang istrinya posesif.


"Sayang aku lapar, Mau disuap sama kamu." Zevin memasang wajah begitu menggemaskan.


"Ayo." Nazia tersenyum menyikapi kemanjaan suaminya.


Nazia membawa piring penuh isi makanan. Di sana masih ada Rayya, Vian dan Yudha. Suaminya itu berbinar melihat kedatang Nazia.


"Sini cinta." Zevin menyambut piring nasi itu.


Sejak tadi Yudha hanya memperhatikan Nazia. Entah apa maksud dari tatapan itu belum ada yang tahu. Informasi dari Erik tertunda karena dirinya tiba-tiba bertugas ke luar kota beberapa hari yang lalu. Penerbangannya sudah tiba tapi Erik belum juga muncul di rumah itu.


"Zi, aku juga mau disuap sama kamu." Ivan menghampiri sambil merengek.


"Ambil sendiri." Sahut Zevin.


"Tidak mau !" Balas Ivan tak mau mengalah.


"Biar saja kamu kelaparan." Ucap Zevin santai.


Dari kejauhan nampak Erik masuk ke halaman belakang.


"Selamat sore semuanya, maaf saya terlambat." Ucapnya menyapa sambil duduk di samping Zevin.


"Bagaimana kabarmu? Nanti ambil vitamin untukmu di ruang kerjaku." Kata Zevin.


"Kabar saya baik tuan, nanti saya ambil vitaminnya." Erik senang itu lah disukainya dari Zevin selalu memperhatikan kesehatannya.


"Makan dulu Rik." Seru Nazia.


"Iya Nona." Pria ini langsung mengambil makanannya dan kembali duduk di samping Zevin. Sesaat dia menoleh  pada tuannya lalu tersenyum usil. "Apa anda diserang lumpuh lagi tuan?" Tanya Erik.


"Maksudmu?" Zevin balik bertanya


"Apa tangan anda tidak bisa berfungsi lagi, hingga Nona menyuapi anda?"


"Tanganku masih berfungsi ! Ini lihat aku sedang menggenggam tangan istriku." Jawab Zevin tersenyum.


"Sepertinya masa kecil kak Zev kurang bahagia." Celetuk Ivan.


"Sini sayang, aku suap sendiri !" Zevin kesal dan merajuk.


Erik dan Ivan tertawa berhasil menggoda Zevin. Karena hari semakin sore Rayya, Vian dan Yudha pamit untuk pulang.


"Dokter Zi, dokter Zev ! Aku pamit pulang. Terimakasih sudah mengundangku." Ucap Yudha.


"Sama-sama dokter Yudha, terimakasih juga sudah datang." Balas Nazia ramah.


Yudha membalas dengan senyumannya. Disusul oleh Rayya dan Vian.

__ADS_1


"Kami juga pulang sayangku ! Bujuk dulu suamimu yang sedang merajuk itu. Lihat wajahnya sudah ditekuk."


"Kamu benar, nanti aku membujuknya. Hati-hati di jalan." Nazia memeluk sahabatnya itu sambil mengecup singkat pipi putrinya.


"Hei, Zev ! Berhenti memasang wajah masam seperti itu ! Manjamu mengalahkan putriku. Aku jadi penasaran bagaimana nanti kau bersaing dengan anakmu." Seru Vian. Ikut menggoda.


"Pulang sana !"


Vian dan Rayya tertawa bersama merasa puas menggoda Zevin.


...----------------...


Hari sudah malam keluarga besar Nazia dan Zevin memutuskan menginap di sana. Setelah makan malam mereka berkumpul di ruang keluarga. Sambil berbincang membahas kepindahan ibu Mira. Di sofa yang agak panjang, Zevin tak mengenal tempat meski pun di depan keluarganya masih saja menempel pada istrinya.


Suami Nazia ini berbaring di sofa dan menjadikan pangkuan istrinya sebagai bantal. Tak mau kalah Ivan mengambil tempat juga di samping Nazia dan menjatuhkan kepalanya di bahu wanita cantik ini.


Zevin mengubah posisinya telentang, seketika matanya membulat melihat Ivan dengan santainya bersandar di bahu Nazia.


"Van, menyingkir dari dari, Zi."


"Aku juga mau bermanja-manja dengan Zizi." Jawab Ivan santai.


"Tidak boleh ! Dia milikku, hanya aku yang boleh. Sana tidur di bahu Erik !"


"Tidak mau Tuan." Balas Erik cepat. Sontak membuat penghuni ruangan itu tertawa.


"Sudahlah aku mulai mengantuk." Ivan berdiri lalu meninggalkan ruang tengah itu.


"Kalau begitu mari kita semua istirahat, melihat putraku bermanja-manja pada istrinya membuat jiwa mudaku berteriak." Seru pak Indra juga berdiri di ikuti ibu Felisya


"Hai besanku, raga boleh menua. Tapi jiwa tetap muda. Ayo sayang kita bermanja di kamar saja !" Sahut dokter Radit seraya menarik tangan ibu Mira menuju kamar mereka.


"Ya Tuhan, jiwa jombloku meronta minta jodoh." Gumam Erik sedih.


Zevin terbahak senang melihat Erik mengusap dadanya.


"Tunggu aku di ruang kerja. Ayo sayang kamu istirahat dulu ya." Zevin juga menarik tangan Nazia untuk mengantarnya ke kamar.


"Ah, Nona Zi kenapa kamu harus berjodoh dengan dokter setengah aneh itu." Ucap Erik langsung melangkah menuju ruang kerja Zevin.


Setelah mengantarkan istrinya ke kamar, Zevin langsung menemui Erik di ruang kerjanya.


"Bagaimana? Apa yang kamu dapat tentang Yudha."


"Namanya Yudha Prasetyo,  satu fakultas dengan anda. Dia adik tingkat anda lebih tepatnya. Jarang bergaul dengan orang lain, dia tinggal bersama pamannya. Orang tuanya meninggal saat dia duduk di bangku SMP. Dari informan kita dokter Yudha teman masa kecil nona, Zi." Jawab Erik.


"Teman masa kecil istriku ? Apa dia punya tujuan lain datang ke kota ini? Dan sengaja pindah ke rumah sakit milikku?"


"Entahlah tuan, saya belum tahu tentang itu. Tapi menurut informasi dia sebenarnya sudah lama mencari nona."


" Apa dia tidak pernah bertemu istriku di kampus ? Kenapa Ralda tidak mengecek keseluruhan data pribadinya sebelum menerima rekomendasi dari rumah sakit sebelumnya? Jelas saja dia tidak pernah bertemu, Zi. Karena istriku itu selalu menempel padaku dan juga Abel. Mana sempat dia kemana-mana." Zevin sambil terkekeh


"Bukan saya membela Ralda tuan, mungkin dia memang tidak tahu. Kita juga baru tahu karena anda mencurigainya. Saya ralat tuan, bukan nona yang sering menempel pada anda. Tapi sebaliknya anda yang sering menempeli kekasih orang !" Jelas Erik diselingi cibiran untuk sang dokter.


"Ish ! Kamu benar, jadi aku harus apa?"


"Anda tenang saja, saya akan mengawasinya. Selagi Nona tidak mengingat dan mengenalnya tidak masalah. Semoga saja dia tidak ada niat lain, saran saya anda bersikaplah biasa saja seolah anda tidak tahu siapa dirinya. Karena Nona sepertinya lupa dengannya." Kata Erik panjang lebar.


"Jadi selama kuliah dia dan Zi tidak saling mengenal? Apa sekarang Yudha tahu wanita yang dicarinya itu adalah istriku ? Dari mana dia tahu kalau Zi adalah teman masa kecilnya. Bukankah ? Mereka lama tidak bertemu" Gumam Zevin.


"Untuk masalah itu saya kurang tahu tuan. Jangan dijadikan beban di hati anda."


"Baiklah, awasi terus. Jika dia berniat jahat basmi saja ! Istirahatlah kamarmu sudah disiapkan Kiki." Ucap Zevin.


"Baik tuan selamat malam ! Dan mimpi indah."

__ADS_1


"Jelas saja aku mimpi indah, siapa yang mau mimpi buruk !" Sahut Zevin.


Erik menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan masuk ke kamarnya.


__ADS_2