
☘Kafe☘
Nazia baru saja keluar dari taksi tiba-tiba ponselnya bergetar di dalam saku jaketnya.
"Iya sayang, ada apa?" Tanyanya menghentikan langkahnya.
"Kamu di mana?" Zevin kembali bertanya bukan menjawab.
"Aku ada janji, maaf tidak memberitahumu, aku terburu-buru." Jelas Nazia. Ia melirik ke dalam kafe di depannya.
"Tidak masalah untuk hari ini, tapi lain kali kamu harus memberitahuku." Balas Zevin. Ia cemas karena tidak mendapati istrinya di rumah sakit.
"Iya maaf, satu jam lagi aku kembali ke rumah sakit." Ucap Nazia.
"Iya hati-hati." Jawab Zevin. Ia mematikan telpon.
Nazia menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku jaket. Ia melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kafe. Di dalam sana sudah ada pria paru baya yang sedang menunggunya.
Setelah memastikan nomor mejanya. Nazia langsung saja menghampiri orang itu. "Maaf membuat anda menunggu lama." Ucapnya ramah.
"Tidak masalah, saya Reza. Silahkan duduk !" Kata Pak Reza. Ia mengulurkan tangannya memperkenalkan diri.
"Saya Nazia."
"Bagaimana jika kita makan dulu?" Ucap pak Reza basa basi.
"Terimakasih, tapi saya belum lapar."
"Baiklah, langsung pada pembahasan saja. Saya sengaja mengundang anda untuk datang ke sini, karena saya ingin membicarakan masalah tanah kosong di jalan S milik almarhum pak Heru." Kata Pak Reza menjelaskan tujuannya.
"Anda mengenal kakek saya?"
"Tepatnya saya mengenal beliau karena pernah menjadi asisten pak Indra Jaya." Kata pak Reza.
"Kenapa anda tiba-tiba membahas tanah itu. Sepengetahuan saya tanah itu tidak bersengketa pada siapa pun." Ujar Nazia sedikit terkejut dengan tujuan pak Reza.
"Benar, tanah itu memang tidak bersengketa. Karena itu saya berniat membelinya." Ujar pak Reza. Ia memberikan tatapan tegas.
"Tapi kenapa anda langsung menemui saya? Bukankah ? Seharusnya anda menemui pemiliknya?" Tanya Nazia merasa pak Reza sengaja mencari tahu tentang dirinya.
"Sekarang saya sudah menemui pemiliknya." Pak Reza menyandarkan tubuhnya di kursi sambil melipat tangannya di dada.
"Ternyata anda sudah menggali informasi lebih banyak tentang keluarga saya." Balas Nazia datar.
"Tepat sekali ! jadi berapa anda akan menjual tanah itu?"
"Maaf, tanah itu tidak saya jual." Nazia membalas tatapan datar pak Reza.
__ADS_1
"Jangan terburu-buru memutuskannya. Pikirkan dulu, beberapa hari lagi saya akan menemui anda." Pak Reza merasa kesal dengan keputusan Nazia.
Pria itu berdiri meninggalkan Nazia yang terpaku di mejanya. Kenapa tiba-tiba pak Reza ingin membeli tanah itu? Seketika perasaannya gelisah, Nazia butuh udara segar. Ia memesan taksi online, menunggu selama tiga puluh menit taksi itu tiba.
"Dengan Nona Nazia?"
"Benar."
"Baiklah, silahkan masuk." Sopir taksi membuka pintu mobil. Setelah Nazia masuk dirinya pun juga masuk ke dalam mobil.
"Ke mana Nona?" Tanya sopir taksi.
"Ke danau alam biru."
Sopir taksi itu mengangguk seraya melajukan mobilnya menuju danau. Di mobil Nazia nampak berpikir wajah pak Reza begitu mirip seseorang. Dia tahu pak Reza adalah seorang pengusaha. Karena penasaran, Nazia mencoba mencari dikolom pencarian di ponselnya. Dirinya terkejut, ternyata pak Reza adalah ayah dari Alby Syahreza.
"Kita sampai Nona." Suara sopir taksi mengejutkan Nazia.
"Ah iya. Terimakasih, Pak ! Maaf saya melamun."
Sopir itu mengangguk dan tersenyum. Nazia masih berdiri di tepi jalan melihat taksi itu melaju. Ia menghembuskan nafasnya kasar, lalu melangkah kakinya menyusuri jembatan dermaga.
Setelah menikah Nazia tidak pernah lagi datang ke tempat itu. Hari ini, ia merasa rindu untuk berkunjung ke sana. Aroma pepohonan dan hembusan angin danau memberikannya sedikit kenyamanan.
Jujur saja Nazia sedikit terusik dengan tatapan dan kata-kata pak Reza. Untuk apa dia membeli tanah itu? Zaman sekarang Nazia cukup tahu nilai tanah milik kakeknya. Tapi ia belum tahu guna tanah itu untuk pak Reza. Apa mungkin Alby yang memintanya? Walau harganya mahal pun Nazia tidak berniat menjual tanah itu.
...----------------...
Zevin baru saja selesai mengecek laporan bulanan rumah sakitnya. Ia melihat jam di tangannya sudah lewat satu jam, tapi Nazia belum juga menemuinya. Ia pun memutuskan untuk melihat istrinya itu di ruangannya.
Zevin membuka pintu lalu melihat tiap sudut ruangan itu. Hanya ada dokter Yudha di sana.
"Apa Zi sudah datang?" Tanya Zevin pada dokter Yudha.
"Dokter, Zi? Dia tidak terlihat di sini semenjak selesai praktek."
"Benarkah ? Di mana Rayya?" Tanya Zevin lagi.
"Dokter Rayya masih di ruang anak, kemana dokter, Zi? Kenapa kamu tidak menelponnya?" Tanya dokter Yudha terlihat cemas.
Zevin tidak menjawab, ia mengeluarkan ponselnya lalu menelpon istrinya. Tersambung tapi tidak dijawab, Zevin menjadi gelisah takut terjadi sesuatu pada istrinya itu.
Zevin kembali ke ruangannya lalu menelpon Erik.
"Iya tuan."
"Lacak ponsel istriku, satu jam lalu dia keluar sampai saat ini belum kembali ke rumah sakit. Dia juga tidak menjawab teleponku." Jelas Zevin.
__ADS_1
"Baiklah, anda tunggu kabar dari saya."
Zevin mematikan telpon, ia meraih tas kerjanya lalu melangkah menuju basemen. Baru setengah perjalanan ponselnya bergetar kembali.
"Di mana dia?" Tanya Zevin tidak menghentikan langkahnya.
"Di danau alam biru tuan."
"Baiklah, aku akan ke sana ! Terimakasih, Rik." Zevin memutuskan telpon .
Zevin melangkah cepat menuju mobil nya, dengan kecepatan sedang ia melajukan mobilnya. Di dalam hatinya bertanya-tanya. Kenapa istrinya ada di sana? Ada sesuatukah? Menempuh waktu beberapa menit Zevin tiba di danau itu.
Dari dalam mobil, ia dapat melihat istrinya berdiri menghadap laut. Senyum di bibirnya mengembang melihat istrinya baik-baik saja. Zevin keluar dari mobil dan melangkah pelan tak menimbulkan suara sampai di ujung dermaga. Zevin memeluk istrinya itu erat dari belakang.
"Kenapa tidak mengajakku?"
Nazia terkejut dengan kedatangan suaminya. "Maaf sayang, aku hanya butuh udara segar."
"Sepertinya istriku ini terbebani sesuatu, boleh aku tahu cinta?" Tanya Zevin lembut. Ia membalik tubuh Nazia agar berhadapan dengannya.
"Aku ceritakan di rumah saja ya, kamu sudah makan?" Nazia menangkup pipi suaminya dengan telapak tangannya.
Zevin menggeleng lalu menarik tubuh Nazia lebih menempel padanya. "Bagaimana aku bisa makan, jika istriku saja tidak tahu keberadaannya."
"Maafkan aku sayang, aku tidak mendengar getaran ponselku." Nazia merasa bersalah dan menundukkan kepalanya.
"Lain kali aktifkan nada deringnya, kamu tahu aku sangat mencemaskanmu." Kata Zevin mengangkat dagu istrinya dan merapikan anak rambut Nazia.
"Iya maaf, nanti kuaktifkan nada deringnya. Sekarang ayo kita makan !" Nazia menatap lekat bola mata suaminya.
"Jangan ulangi lagi, aku bisa gila." Zevin menarik tengkuk istrinya menyatukan bibir mereka dan menyesapnya lembut.
Cukup lama melepaskan kecemasan, kekesalannya dengan lembut di bibir istrinya, Zevin melepaskan tautan bibir mereka.
"Ayo ke restoran Ivan ! Setelah itu baru kita pulang, Kamu hutang penjelasan padaku." Ucap Zevin.
Nazia mengangguk mereka berdua meninggalkan ujung dermaga.
...----------------...
Di kantornya, pak Reza duduk di kursi kebesarannya. Ia bisa melihat jika Nazia tidak akan menjual tanah itu. Pak Reza mulai berpikir melanjutkan rencana kedua. Ia sudah terobsesi dengan tanah kosong itu, karena beberapa hari yang lalu seorang Investor asing menawarkan kerja sama jika pak Reza memiliki tanah kosong. Kalkulasi keuntungannya juga besar. Hal itu membuatnya bersemangat untuk membeli tanah milik Nazia.
"Bagaimana jika dokter itu tidak mau menjual tanahnya tuan?" Tanya asisten pak Reza.
"Aku akan mencari cara agar tanah itu dapat kumiliki. Kamu tahu keuntungan dari kerja sama dengan investor asing itu sangat besar."
"Jangan macam-macam, Pa !" Seru Alby masuk ke dalam ruangan pak Reza. Ia sudah mendengar percakapan papanya dan asistennya itu.
__ADS_1
"Kamu tenang saja, Al. Jika rencana ini tidak berhasil, maka rencana ke dua papa jalankan. Pasti nanti kamu berterimakasih pada papa." Ucap pak Reza.
"Sudahlah, Pa. Nikmati saja yang papa miliki sekarang ini."