
Zevin masuk ke dalam ruangannya setelah berbincang sebentar dengan Ralda mengenai meeting hari ini.
"Rik, kamu cari tahu siapa wanita itu ! Aku seperti pernah melihatnya." Ucap Zevin seolah berfikir.
"Anda benar, Tuan. Saya juga seperti pernah melihatnya." Timpal Erik berfikiran sama.
"Rik, bisakah ? Kamu berhenti memanggilku, Tuan? Kamu bukan pelayanku." Zevin merasa risih karena panggilan itu.
"Saya akan coba memanggil anda seperti zkak Ralda." Balas Erik tersenyum.
Zevin dan Erik mulai bekerja di ruangan mereka masing-masing. Hampir dua jam bekerja, Ralda mengetuk pintu ruangan Zevin.
"Masuk" Titah Zevin.
Ralda membuka pintu dan masuk ke dalam. "Tuan, sepuluh menit lagi kita meeting." Ujarnya mengingatkan .
"Iya, siapkan saja bahannya." Balas Zevin. Ralda mengangguk lalu ke luar dari ruangan itu.
...----------------...
Alby dan Jimmy juga bergelut dengan pekerjaannya. Karena sebelum pernikahannya, Alby akan ambil cuti menikah selama dua minggu untuk berbulan madu. Kali ini Alby menyiapkannya dengan sempurna.
"Tuan, ada Nona Sherin di luar." Sekretaris Alby mengabari lewat interkom.
"Suruh dia menunggu di ruang sebelah." Balas Alby.
"Baik tuan." Jawab sekretaris itu.
Jimmy menatap Alby dan berkata.
"Kenapa anda tidak memintanya langsung masuk ke sini?"
"Aku tidak mengijinkan orang yang bukan karyawan kantor untuk masuk ke sini. Mulai saat ini hanya istriku dan karyawan kantor saja yang boleh masuk. Jika ada tamu maka kita akan menerimanya di ruang sebelah. " Jelas Alby tak ingin ambil resiko untuk kebebasan orang lain masuk ke dalam ruangannya seperti dulu.
"Begitu cintanya anda pada Nona Ralda, Tuan. Sampai membuat peraturan baru."Jimmy terkekeh.
Alby tersenyum. "Aku belajar dari Zevin. Meski pun konyol dan aneh tapi masuk di akal. Lihatlah dia tidak pernah menerima sembarang orang untuk masuk ke dalam ruangannya selain kita berdua dan dokter Yudha. Zevin selalu menerima tamu kantor di ruang khusus." Jelas Alby langsung berdiri menemui Sherin.
"Hai, Al. " Sapa Sherin tersenyum.
"Apa kabarmu?" Balas Alby basa basi.
"Kabarku baik, bagaimana denganmu ?" Tanya Sherin.
"Kabarku baik, dua minggu lagi aku akan menikah." Ujar Alby mulai risih karena tatapan Sherin berbeda padanya
"Me—menikah ? Dengan siapa?Apa aku mengenalnya?" Tanya Sherin. Ia terkejut bercampur kecewa.
"Iya, kamu tidak mengenalnya, katakan apa maksud kedatanganmu ke sini ?" Alby mulai bosan dengan sikap Sherin.
"Al, aku benar-benar minta maaf atas kesalahanku di masa lalu. Setelah aku berusaha semampuku. Tetap saja perasaanku masih ada untukmu. Aku tidak mencintai Hadi, Al." Ucap Sherin berkaca-kaca. Ia mengungkapkan tujuan kedatangannya.
Alby membuang nafas kasar.
__ADS_1
"Lalu apa maumu?"
Sherin tersenyum senang mendapatkan pertanyaan itu. "Beri aku kesempatan lagi, Al?" Ia berucap penuh harap.
Alby menatap tajam Sherin. "Aku memang memaafkan kesalahanmu. Tapi tidak untuk kembali. Karena dari awal aku tidak mencintaimu. Waktu itu aku hanya ingin belajar mencintaimu. Tapi aku tidak bisa." Jelasnya mulai kesal.
Sherin meremas sisi roknya. "Belajarlah lagi, Al. Putri ku membutuh kan sosok ayah." Ia ingin meluluhkan hati Alby dengan membawa anaknya.
"Aku rasa cukup perbincangan kita, tidak ada yang penting di sini. Aku akan kembali bekerja." Alby meninggalkan Sherin di ruangan itu.
Sherin menatap kesal pada Alby. Entah kapan sifatnya kembali lagi, ia bahkan sangat ingin kembali lagi pada mantan suaminya itu.
Aku akan merebutmu kembali, Al. Aku sangat mencintaimu ! Dan kamu hanya boleh menjadi milikku. Maafkan aku Zia tidak menepati janjiku, aku tidak sanggup melihat Al, menikahi orang lain
...----------------...
Kantor JG Group
Zevin tengah melangsungkan meeting bersama para tiap manejer divisi kantornya dan beberapa staf perusahaan.
Di tengah seriusnya pembahasan, OB masuk ke dalam ruangan itu membawa minuman dan camilan. Zevin tak melirik atau melihat pada empat orang OB yang tengah membagikan minuman dan camilan.
"Aaa" Rintih Zevin mengibaskan tangannya.
Salah satu dari mereka ada OB yang tak sengaja menumpahkan teh di tangan Zevin. Karena cuaca agak dingin Ralda meminta OB membuatkan teh panas. Erik segera berdiri dan menarik lengan OB itu agar menjauh.
"Tuan, tangan anda ruam" Erik meniup tangan Zevin dengan panik.
"Kenapa kamu tidak hati-hati !" Bentak Ralda.
Zevin refleks berdiri dan mundur hingga kursi tempatnya duduk terjungkal ke belakang. Suasana menjadi tegang. Pembahasan meeting seketika terhenti.
Ralda mengambil kertas di atas meja Zevin guna mengamankannya dari tumpahan air. Ia juga mencari salep di ruang kerja Zevin tapi tidak menemukannya. Erik segera meraih ponselnya dan menekan nama Nazia di sana.
"Iya, Rik ada apa?" Jawab Nazia di seberang sana.
"Nona, bisakah ? Anda mengirimkan salep ke kantor, tangan tuan Zevin melepuh kena air hangat." Ujar Erik.
"Apa persediaan di kantor habis?"
"Iya, Nona." Jawab Erik.
"Baiklah."
Zevin masih saja meniup tangannya yang mulai melepuh. Kulit putihnya terasa perih. "Erik ! Pecat OB itu. Masukkan daftar hitam dia tidak becus bekerja karena mencelakakan orang lain. Ini kali keduanya dia melakukannya." Titah Zevin tanpa melihat pada OB itu.
"Baik, Tuan."
OB itu mendekat pada Zevin. "Jangan pecat saya, Tuan. Saya tidak akan mengulangi kesalahan ini lagi." Ucapnya memohon.
Zevin tak menggubrisnya, ia masih saja meniup tangannya yang melepuh walau kecil tapi tetap saja perih. Ralda menghentikan sementara meeting.
"Pending dulu, satu jam lagi kita lanjutkan setelah kondisi tuan Zev membaik. Dan kamu tetap disini." Kata Ralda sekaligus menahan OB itu.
__ADS_1
Semuanya mengangguk lalu meninggalkan ruangan meeting. Di sana hanya tertinggal Ralda, Erik dan Zevin serta beberapa OB yang membersihkan tempat itu. Setelah semua bersih mereka disuruh meninggalkan ruangan meeting.
...----------------...
Menunggu dua puluh lima menit tibalah Nazia ditemani Maura resepsionis. "Sayang, apa yang terjadi?" Tanyanya menghampiri suaminya dan menarik tangannya.
"Kenapa tidak meminta sopir saja mengantar salepnya?" Balas Zevin tak menyangka jika istrinya juga datang.
"Tidak apa-apa aku masih kuat, aku mencemaskanmu, sini kuobati !" Nazia meniup tangan Zevin lalu mengoles salepnya dengan hati-hati dan lembut.
Erik tersenyum jahat setelah menerima telpon dari seseorang. Ia melangkah mendekat pada OB yang duduk di kursi, OB itu sedang memperhatikan interaksi Zevin dan Nazia. OB itu iri karena Zevin hanya menatap wajah istrinya tidak pada yang lain.
Tanpa aba-aba, Erik menarik rambut OB itu dan melepas kaca matanya.
"Penyamaran yang hebat Nona Sania !" Erik melemparkan wig itu di lantai serta mematahkan kacamatanya.
Semua orang terkejut, termasuk Nazia dan Zevin.
"Jadi kamu sengaja menumpahkan air hangat dua kali padaku hari ini ?!" Bentak Zevin.
"Ya, aku sengaja karena aku ingin dekat denganmu dokter Zev ! Aku menyukaimu ! Berbulan-bulan aku mencari informasi tentangmu. Aku sengaja menumpahkan air hari ini padamu agar aku bisa menyentuhmu." Jawab Sania menggebu.
"Anda tidak takut dengan ancaman saya rupanya, Nona !" Kata Erik dingin.
"Aku tidak akan berhenti sebelum dokter Zev jadi milikku. Lihat apa bagusnya istrimu itu ! Tubuh hamil tidak menarik sepertiku." Ucap Sania sinis pada Nazia
Wajah Sania berpaling kesamping. Mendapat tamparan keras dari Nazia
"Saya pernah mengatakan pada anda ! Untuk mengingat wajah saya. Jika anda bertemu dengan pria ini maka sayalah pemiliknya." Tekan Nazia.
Zevin dan Erik terperangah melihat apa yang dilakukan Nazia. Mereka belum pernah melihat hal ini sebelumnya. Wanita lembut seperti Nazia bisa menjadi buas.
"Kau menamparku !!" Sania maju ingin menjambak rambut Nazia. Tapi dengan sigap Erik mendorong tubuh Sania hingga jatuh ke lantai.
Zevin menjadi murka beraninya wanita itu ingin menyentuh istri kesayangannya. "Ra, bawa istriku ke ruangan pribadiku !" Titahnya. Ralda mengangguk, ia menggiring Nazia keluar dari tempat itu.
Zevin mengeluarkan kaos tangan karet dari saku celananya. Ia memasangnya dengan santai serta menatap tajam pada Sania. Wanita itu tersenyum karena Zevin mendekat padanya.
"Anda yang memulainya !!" Zevin mencekik leher Sania semakin lama semakin kuat.
Senyum yang tadi mengembang di bibir Sania hilang seketika. Wajahnya merah dan matanya berair. Erik jadi khawatir takut Zevin lepas kendali. Aura semacam itu pertanda Zevin sangat marah. Siapa sangka pria yang selalu konyol dan hangat ini bisa berbalik mengerikan.
"Le—lepaskan a—aku." Ucap Sania hampir tak terdengar.
"Lepaskan ?!" Tawa Zevin menggelegar " Bukankah ? Anda ingin menyentuh saya ! Mulut ini yang telah lancang menghina istriku !!"
Kedua kalinya sudut bibir Sania berdarah bahkan lebam, karena Zevin menamparnya.
"Sa—saya, mo—mohon, bi—biarkan saya pu—pulang." Sania memegang tangan Zevin yang berlapis kaos karet di lehernya.
"Tuan kendalikan diri anda." Seru Erik. Karena Sania perlahan memejamkan matanya.
Zevin refleks melepaskan tangannya, Sania membuka matanya bersusah payah dan terbatuk-batuk sambil meraba lehernya sendiri. Ia tak menyangka jika akhirnya seperti ini. Disangkanya Zevin akan mudah tergoda. Maka dari itu ia menyamar dan melamar ke kantor Zevin sebagai OB. Ia bermaksud bisa dekat menghabiskan banyak waktu dan membuat Zevin jatuh cinta padanya.
__ADS_1
"Hancurkan karir wanita ini tanpa sisa ! Dia berusaha masuk ke dalam hidupku yang tenang tanpa di undang. Jadi biarkan dia membayar perbuatannya sendiri !!" Titah Zevin meninggalkan ruangan itu. Ia melepaskan kaos tangannya sambil meringis karena menempel pada kulitnya yang melepuh. Zevin tak langsung masuk keruangannya tapi membakar kaos tangan itu lebih dulu.
Ia juga meminta Ralda memanggil pihak HRD untuk ikut meeting lanjutan membahas penerimaan karyawan. Zevin ingin kesalahan ini tidak terjadi lagi, mereka harus menyeleksi karyawan dengan teliti.